NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semua bukti akan bicara

"Ini semua bukti transaksi-transaksi dari rekening lain, Pak Ares, Nona," ucap Dewa, salah satu asisten pribadi Elina, yang hanya diketahui Elina dan Ayahnya.

Elina menatap lembar demi lembar, bukti yang menunjukkan Ares memiliki rekening lain dan mentransfer sejumlah uang ke Maya serta kedua orang tuanya. Tatapannya tajam, tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya.

Jarum jam di ruang privat sebuah kafe berdetak pelan, menambah ketegangan yang sudah memenuhi udara.

"Bagus," ucapnya akhirnya, suaranya lembut namun menusuk.

"Simpan semua ini rapi, Dewa. Jangan sampai ada yang tahu. Apa pun yang terjadi, hanya aku yang boleh tahu."

Dewa mengangguk, wajahnya serius.

"Siap, Nona. Semua data sudah tersimpan di server pribadi Anda. Aman seratus persen."

Elina menarik napas panjang, matanya kembali menatap layar laptop yang menampilkan laporan keuangan perusahaan itu. Tangannya bergerak perlahan membuka beberapa file lain—dokumen kontrak, perjanjian pernikahan, dan bukti-bukti lain yang diam-diam ia kumpulkan selama ini.

"Semua ini," gumamnya sambil menatap tumpukan dokumen, "akan jadi bahan permainan yang sempurna. Mereka pikir mereka bisa bermain licik, tapi mereka tidak tahu... aku sudah melihat setiap gerak-gerik mereka."

Dewa menatapnya, sedikit terpesona sekaligus cemas. "Nona, apa rencana Nona selanjutnya?"

Elina tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak ramah—lebih seperti predator yang baru saja mengendus mangsanya. "Biarkan mereka percaya semuanya secara diam-diam... dan ketika saatnya tiba, semua yang mereka lakukan akan kembali kepada mereka sendiri."

Dewa mengangguk, memahami maksud majikannya. "Siap, Nona. Aku akan mengikuti arahan Nona sepenuhnya."

Elina menatap lembar bukti transaksi terakhir. Tangannya perlahan menyentuh layar, seolah merasakan betapa rapuhnya dunia yang dibangun Ares selama ini.

"Sekarang," bisiknya pelan, "permainan baru dimulai."

Di luar sana, dunia Ares dan Maya tampak normal—tertawa, merencanakan masa depan, tanpa sadar bahwa setiap langkah mereka telah direkam dan diperhatikan.

Elina mencondongkan tubuh ke depan, matanya menyipit.

"Mereka mulai berani... tapi sebentar lagi, mereka akan tahu, aku bukan istri yang mudah ditaklukkan."

"Nona, saya juga baru saja mendapat kebusukan lain Pak Ares," ucap Dewa, memperlihatkan tabletnya kepada Elina.

Elina membaca dengan seksama. "Jadi selama ini dia yang berbuat kekacauan dan mengadu domba karyawan lain," gumamnya miris. "Dewa, bagaimana nasib karyawan yang sudah dipecat itu sekarang?"

"Setelah saya selidiki, mereka menganggur, Nona. Tidak ada perusahaan yang menerima mereka," jawab Dewa. "Padahal mereka tulang punggung keluarga Nona."

"Rekrut mereka di kantor cabang untuk sementara. Setelah semua selesai, bawa mereka kembali lagi," jelas Elina tegas.

Dewa tersenyum senang. "Baik, Nona."

"Oh ya, Dewa, kamu lindungi keluarga Bi Wati yang ada di kampungnya. Ternyata selama ini mertua aku telah mengancamnya," perintah Elina.

"Siap, Nona. Saya akan memerintahkan pasukan bayangan ke kampung Bi Wati," jawab Dewa mantap.

Elina mengangguk. Asisten pribadinya ini sangat bisa diandalkan, dan hatinya kini terasa lebih tenang—setiap langkah telah direncanakan dengan rapi.

♡♡

"Elina..."

Elina menghela napas panjang, baru saja sampai di rumah dan langsung disambut wajah suaminya yang kini terasa sangat menjengkelkan baginya.

"Ada apa, Mas?" tanya Elina sambil tetap melangkah, menahan rasa kesal.

"Elina, berhenti. Mas mau ngomong sama kamu," ucap Ares, berusaha mengimbangi langkahnya.

"Ya udah, ngomong saja, Mas..." jawab Elina tanpa memperlambat langkahnya, sikapnya datar namun penuh penolakan.

"Elina, apa begini kamu memperlakukan suami kamu?" sahut Amelia dari ruang tamu.

Di sampingnya, Maya berdiri, menatap mereka dengan senyum yang terlalu percaya diri.

Elina berhenti sejenak, menatap mertuanya dengan mata dingin. Senyum tipisnya menusuk, penuh arti.

“Begini cara aku memperlakukan siapa pun yang mencoba mengatur hidupku, Ma,” ucapnya pelan, tapi setiap kata seperti pisau yang menancap di udara.

Amelia terkejut, wajahnya memerah antara marah dan tak percaya.

“Bagaimana mungkin kamu…? Elina, kamu itu istri Ares! Seharusnya…”

“Seharusnya apa, Ma?” potong Elina, melangkah lebih dekat, tanpa rasa takut sedikit pun.

"Elina, jaga sikap kamu kepada Mama," ucap Ares, suaranya menahan emosi, tidak terima dengan sikap istrinya.

Elina menghela napas kasar. Seharian ini ia lelah mengurus perusahaan yang nyaris jatuh ke tangan Ares.

"Mas, aku tidak mau memperpanjang. Kamu mau cerita apa sebenarnya?"

"Elina, kenapa kamu bicara seperti kepada suami dan mertuamu, El?" sahut Maya mencoba mencari muka.

Elina menatap ketiganya—suami, mertuanya, dan Maya. Matanya menyipit, senyum tipisnya tetap ada tapi dingin menusuk.

“Maaf, tapi aku bicara sesuai kenyataan,” ucap Elina, setiap kata seperti pisau yang merobek kesombongan mereka.

“Kalau kalian merasa terganggu, itu masalah kalian, bukan aku. Aku bukan wanita yang bisa ditekan, diatur, atau dipermainkan. Kalau kalian tidak terima, silahkan pergi dari rumah aku."

"Elina!" teriak Ares penuh tekanan.

"Apa, hah?" jawab Elina dingin, tak takut sama sekali.

"Kamu sudah kelewatan," tunjuk Ares, wajahnya menahan amarah.

"Turunkan tangan kamu, Mas!" ucap Elina menatap tajam, membuat Ares kembali terkejut dengan perubahan drastis istrinya.

"Aku mau istirahat. Jangan ada yang ganggu aku."

Setelah itu, Elina melangkah cepat menuju kamar di lantai atas, menutup pintu dengan tegas.

Amelia menatap pintu itu, wajahnya memerah campur cemas. "Bagaimana ini, Res? Elina sepertinya sudah benar-benar berubah. Semua asetnya belum ada di tangan kita, termasuk rumah ini."

Ares menatap pintu kamar yang baru saja ditutup Elina, rahangnya menegang.

"Dia... dia benar-benar berbeda sekarang," gumamnya, suaranya penuh kekesalan tapi juga sedikit takut.

Amelia melangkah mendekat, masih merah padam karena malu dan kesal.

“Res… kita harus lakukan sesuatu! Semua aset masih di tangannya! Mansion ini, perusahaan… semuanya!”

Ares menegakkan tubuh, matanya menyipit, penuh perhitungan.

“Tenang, Mah… kita bisa atur semuanya nanti. Aku cuma… belum siap menghadapi Elina yang seperti ini. Dua tahun pernikahan, tapi baru sekarang dia mulai menentang aku.”

Amelia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.

“Tapi kalau dia tetap begini, Res… kita bisa kehilangan semuanya. Dia sudah tahu cara mengendalikan situasi. Mama bisa merasakan itu.”

Ares menunduk sebentar, matanya kosong, lalu menatap Maya yang ada di samping ibunya.

"Sayang, kamu jangan pikirkan masalah ini. Nanti anak kita kenapa-kenapa."

Maya mengangguk dan tersenyum.

"Iya, Mas. Aku paham kok. Aku percaya kamu bisa mengendalikan Elina."

Ares menepuk pundak Maya dengan lembut, senyum tipis tapi meyakinkan.

“Tenang saja, Sayang, semua ini sudah aku pikirkan. Aku tahu Elina sudah berubah, tapi aku masih punya cara untuk mengendalikan semuanya.”

Maya menatap Ares dengan mata berbinar, sedikit lega.

“Benarkah, Mas? Kamu bisa… bisa mengambil alih semuanya?”

Ares mengangguk, matanya menyipit penuh perhitungan.

“Tentu saja. Mansion ini, perusahaan… semua asetnya… sebentar lagi akan menjadi milikku. Aku cuma perlu waktu sedikit… dan strategi yang tepat.”

Amelia menghela napas panjang, tatapannya penuh kekhawatiran.

“Res… kamu yakin? Elina sekarang… dia bukan wanita yang mudah ditaklukkan. Mama bisa merasakan itu. Kalau kita terlalu terburu-buru, dia bisa menghancurkan rencana kita.”

Ares menepuk tangan Maya dengan lembut, lalu menatap ibunya dengan tenang tapi yakin.

“Mah, percayalah… aku tahu apa yang aku lakukan. Elina mungkin berubah, tapi aku masih bisa mengendalikan semuanya. Tinggal tunggu waktunya, semuanya akan jadi milikku.”

Di lantai atas, pintu kamar Elina tertutup rapat. Namun di balik pintu itu, Elina duduk tenang, menatap layar laptopnya. Senyum tipis menghiasi wajahnya, tapi penuh perhitungan.

“Mereka pikir bisa mengendalikan aku… bodoh sekali. Biarkan mereka meremehkanku sebentar lagi… sebentar lagi, aku yang akan benar-benar memegang kendali,” gumamnya pelan, matanya bersinar penuh tekad.

1
Ma Em
Ares pasti akan ngamuk karena sdh dibohongi sama Elina , karena kedudukan CEO yg Ares inginkan ternyata zonk .
tia
lanjut Thor
Nona Jmn: Sabar yah🫶🥰
total 1 replies
Ma Em
Sudah ga sabar nunggu kehancuran Ares dan keluarganya , Elina cepat tendang para benalu yg nempel dirumah mu .
Nona Jmn: Sabar
total 1 replies
Ma Em
Duh sdh ga sabar Ares dan keluarganya diusir dari perusahaan juga rumah Elina
tia
cepat singkirkan benalu
Nona Jmn: Sabar😭😁
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
keterlaluan area
Nona Jmn: Sabar😁
total 1 replies
kaylla salsabella
pasti si maya
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kaylla salsabella
anak buah dewa
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣 res Ares
kaylla salsabella
ayah belum tahu klu Ares selingkuh
kaylla salsabella
nah khawatir kan kamu res 🤣🤣
kaylla salsabella
lanjut thor
Nona Jmn: Besok ya kakak🥰 jangan lupa vote🙏😭🫶🫡
total 1 replies
@Mita🥰
😍😍😍
Nona Jmn
Besok ya kakak🥰
tia
lanjut Thor
kaylla salsabella
ooo ku kira Elina udah yatim piatu 🤭🤭
Ma Em
Semoga Elina selamat dari para benalu yg mau menguasai semua harta kekayaan nya , jgn sampai si mokondo Ares juga keluarganya yg benalu berhasil menguasai semua harta Elina .
kaylla salsabella
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!