NovelToon NovelToon
Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Lari Saat Hamil / Teen Angst / Mafia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:41.8k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.

Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.

Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.

Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Belas

Setelah percakapan di ruang kerja Arka, Alana keluar dengan langkah pelan. Wajahnya masih pucat, pikirannya penuh, dadanya sesak oleh campuran rasa takut dan lega yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kata-kata Arka terus terngiang di kepalanya.

Semua biar aku yang urus.

Kalimat itu terdengar seperti janji. Tapi dari pria seperti Arka, janji selalu punya harga.

Alana kembali ke kamar Revan. Bocah itu sudah setengah tertidur, tubuh kecilnya meringkuk di balik selimut. Begitu Alana duduk di tepi ranjang, Revan membuka mata setengah.

“Mbak …,” gumamnya mengantuk. “Om marah ya sama Mbak?”

Alana tersenyum tipis dan menggeleng. Ia mengusap rambut Revan dengan lembut. “Nggak. Om cuma tanya-tanya.”

Revan menguap. “Om baik hari ini.”

Alana terdiam sejenak. “Iya … Om baik.”

Revan kembali terlelap. Alana duduk beberapa menit lagi, memastikan napasnya teratur. Setelah itu, ia bangkit dan keluar kamar. Koridor rumah besar itu sunyi, hanya lampu-lampu dinding yang menyala redup.

Di lantai bawah, di ruang kerja yang sama, Arka belum tidur. Dia berdiri di depan meja besar, jasnya sudah dilepas, kemeja hitamnya terbuka satu kancing di bagian atas. Ponsel di tangannya menyala.

“Masuk,” ucapnya tanpa menoleh.

Pintu terbuka. Seorang pria bertubuh besar masuk, langkahnya senyap. Rambutnya cepak, wajahnya keras. Namanya Reno. Tangan kanan Arka. Orang yang mengurus hal-hal yang tak pernah tercatat di kertas.

“Orang itu muncul pagi ini,” lapor Reno “Sesuai dugaan.”

“Lokasi?” tanya Arka.

“Di luar pagar. Tidak berani masuk. Tapi dia sempat memastikan.”

Arka mendengus pelan. “Berani juga.”

“Dia tidak datang sendiri, Boss. Kami ikuti dari jauh. Ada dua anak buahnya mengawasi dari mobil.”

Mata Arka menyipit. “Nama?”

“Handoko Wijaya. Usaha properti, tapi sebagian besar uangnya berasal dari pinjaman berbunga tinggi. Dia biasa ‘menyelesaikan’ hutang dengan cara … tidak bersih.”

Arka tersenyum miring. “Bandot tua.”

Reno mengangguk. “Soal ayah Alana, hutangnya cukup besar. Tapi tidak mustahil untuk dilunasi.”

“Aku tidak berniat melunasi,” potong Arka dingin.

Reno terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. Ia sudah mengenal bosnya cukup lama untuk tahu arti kalimat itu.

“Apa perintah Boss?”

Arka berjalan ke jendela. Menatap gelap. “Aku ingin dia datang padaku. Bukan ke gadis itu.”

“Baik.”

“Dan pastikan,” lanjut Arka, suaranya turun satu oktaf, “Dia tahu wilayahnya.”

Reno menunduk. “Dimengerti.”

Keesokan paginya, Alana bangun dengan perasaan aneh. Tidak sepenuhnya tenang, tapi juga tidak sepenuhnya takut. Ia turun ke dapur, membantu Bi Marni menyiapkan sarapan.

“Non kelihatan pucat,” kata Bi Marni sambil memotong buah. “Kurang tidur, ya?”

Alana tersenyum kecil. “Sedikit, Bi.”

Bi Marni meliriknya penuh arti, lalu berbisik, “Tapi kemarin Tuan baik sekali. Jarang-jarang.”

Alana hanya mengangguk. Dia tak bisa mengatakan ya atau tidak karena tak tahu pasti sikap Arka sebenarnya.

Arka muncul tak lama kemudian. Pagi ini wajahnya kembali datar, dingin, seperti Arka yang dikenal semua orang. Namun, saat Revan berlari menghampirinya, dia menunduk sedikit dan mengusap kepala bocah itu.

“Pagi,” ucap Arka singkat.

“Pagi, Om!”

Alana memperhatikan dari jauh. Hatinya bergetar. Ia tahu, di balik sikap dingin itu, ada sesuatu yang sedang bergerak. Dan pusatnya adalah dirinya.

Setelah sarapan, Arka berangkat lebih awal dari biasanya. Mobil hitamnya meluncur keluar gerbang, diikuti dua mobil lain.

Hari itu terasa berjalan lambat bagi Alana. Ia berusaha mengalihkan pikiran dengan menemani Revan belajar dan bermain. Tapi setiap suara dari luar membuatnya menegang. Setiap bayangan membuatnya menoleh.

Sore menjelang ketika sebuah mobil asing berhenti di seberang rumah.

Alana melihatnya dari balik jendela. Jantungnya berdebar. Mobil itu diam cukup lama, lalu pergi.

Malamnya, Arka pulang lebih larut. Wajahnya tetap tenang, tapi ada aura berbeda yang menempel di tubuhnya. Seperti bau mesiu setelah tembakan.

Makan malam berlangsung singkat. Revan sudah mengantuk dan dibawa Bi Marni ke kamar. Tinggal Alana dan Arka di ruang makan.

Arka menyeka tangannya dengan serbet. “Besok, kamu jangan keluar rumah.”

Alana terkejut. “Kenapa, Tuan?”

“Untuk sementara,” jawab Arka datar.

“Ada masalah?”

Arka menatapnya. Lama. “Aku tidak mau ada risiko.”

Alana menunduk. “Baik.”

“Dan Alana,” lanjut Arka, “kalau kamu melihat orang itu lagi … lapor padaku. Jangan bertindak sendiri.”

“Iya, Tuan.”

Di tempat lain, suasana jauh dari kata tenang.

Pak Handoko melempar gelas ke dinding ruang kerjanya. Pecah berkeping-keping.

“Kurang ajar!” bentaknya. “Berani-beraninya dia!”

Dua pria berdiri di depannya, menunduk. “Bos, kita cuma dikasih peringatan. Mobil kita diikuti. Gudang di Pelabuhan Timur … disegel mendadak.”

Handoko terengah. Ia bukan orang bodoh. Ia tahu siapa Arka. Nama itu bukan legenda kosong. Banyak orang hilang setelah berurusan dengannya.

“Tapi gadis itu ...,” geram Handoko.

“Bos,” sela anak buahnya hati-hati. “Kalau kita teruskan … risikonya besar.”

Handoko terdiam. Tangannya mengepal. Harga dirinya terluka. Tapi nyawanya lebih penting.

“Aku mau bicara,” ucap Handoko akhirnya. “Atur pertemuan.”

Permintaan itu sampai ke Arka malam berikutnya. Dia membaca pesan di tabletnya, lalu menutupnya perlahan. “Dia cerdas.”

Reno berdiri di sampingnya. “Lokasi netral?”

Arka menggeleng. “Di tempatku.”

Reno tersenyum tipis. “Pesan sudah disampaikan.”

Alana tidak tahu apa yang sedang terjadi sampai pagi itu, ketika Arka memanggilnya ke ruang kerja.

Ia masuk dengan jantung berdebar. “Tuan?”

“Duduk!" perintah Arka. Alana menuruti dan duduk.

“Ada seseorang yang ingin bertemu,” ucap Arka.

Alana menegang. “Siapa?”

Arka menatapnya. “Handoko.”

Wajah Alana langsung pucat. Dia takut Arka akan membiarkan dia pergi dengan orang itu.

“Tenang,” ujar Arka tenang. “Dia datang ke sini. Bukan kamu yang ke sana.”

“Tuan … aku ....”

“Kamu tidak perlu bicara apa pun,” potong Arka. “Cukup duduk dan dengarkan.”

Alana menelan ludah. “Kenapa saya harus ada?”

“Supaya dia tahu,” jawab Arka dingin, “Apa yang tidak boleh disentuh.”

Siang itu, mobil Handoko masuk ke halaman rumah Arka dengan pengawalan. Pria tua itu turun dengan wajah tegang. Langkahnya ragu saat memasuki rumah besar itu.

Di ruang tamu, Arka sudah duduk menunggu. Alana duduk sedikit di belakangnya. Reno berdiri di sisi lain.

Handoko menelan ludah. “Tuan Arka,” sapanya, berusaha tersenyum.

Arka tidak berdiri. “Duduk.”

Handoko duduk. Walau dalam hatinya memberontak.

“Aku dengar,” kata Arka tanpa basa-basi, “Kamu mencari barang milikku.”

Handoko terkesiap. “Saya … hanya ingin menyelesaikan urusan lama.”

“Dengan caramu?” Arka tersenyum tipis. “Menukar hutang dengan manusia?”

Handoko melirik Alana. Wajahnya berubah. “Alana .…”

Alana menggigil. Dia tampak sangat ketakutan.

“Jangan sebut namanya,” suara Arka langsung berubah dingin. “Kamu datang ke sini untuk mendengar. Bukan bicara.”

Handoko menunduk. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

“Hutang ayah gadis ini,” lanjut Arka, “Sudah aku ambil alih.”

Handoko terbelalak. “Tuan Arka ....”

“Sebagai gantinya,” ucap Arka, suaranya rendah dan berbahaya, “Kamu harus meninggalkan hidupnya. Selamanya.”

“Dan kalau saya menolak?”

Arka berdiri. Perlahan. Aura ruangan berubah.

“Kamu tidak akan menolak.”

Sunyi mencekam menyelimuti ruangan. Handoko akhirnya mengangguk. “Saya mengerti.”

“Bagus,” ucap Arka dingin. “Karena ini peringatan pertama dan terakhir.”

Handoko berdiri dengan kaki gemetar. “Terima kasih, Tuan Arka.”

“Keluar.”

Begitu Handoko pergi, Alana masih duduk membeku.

Arka menoleh padanya. “Selesai.”

Alana menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Tuan … kenapa melakukan semua ini?”

Arka menatapnya lama. Lalu berkata pelan, “Karena aku benci orang yang memperdagangkan ketakutan.”

Alana menunduk. Air matanya jatuh. Di luar, mobil Handoko melaju menjauh. Di dalam rumah Arka, satu masalah telah dipotong akarnya.

1
ElHi
semogaaa si Revan tantrum sampe sakit mikirin Alana biar keluarga sombong itu tau rasa!!! cerai aja Alana...sama Rafael ajaah...*)ngarep mode on
Tiara Bella
si Arkan kemana dia sampe gk tw klu Alana diusir sm mmhnya dia.....
Patrick Khan
emak arka jahat bgt . 🔥
muhammad ihsan
jangan pisahkan alana dan arka thor
Maria Kibtiyah
semoga si arka tau alana di usir emaknya
Suanti
semoga aja berjodoh sm rafael
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭
astr.id_est 🌻
mewek 😢
astr.id_est 🌻
alana yang malang
Kasih Bonda
next Thor semangat
Ida Nur Hidayati
semoga Alana ditolong orang baik dan iklas
Cindy
lanjut kak
Radya Arynda
Dasar wanita somboh,angkuh dan jahat,,,,saat revan sudah mulai bahagia malah alana di usir,,,,si pecu dang arka juga habis merkosa peegi dasar iblis,,,,semogah revan sakit parah biar nenek sihir tau rasa....
dyah EkaPratiwi
ditunggu tantrumnya Revan biar arka n mama Ratna pusing
Oma Gavin
rasakan kamu arka dan ratna Revan tantrum ditinggal alana
Salim ah
semoga yg menolong Alana Rafael dan dibawa kerumahnya🙄
Patrick Khan
pasti Rafael itu..
Ilfa Yarni
siapa yg menolong Alana apakah rafael
Radya Arynda
semogah kamu di tolong orang baik,,dan mau merubah mu lebih kuat dan berani jangan lembek lagi
Valen Angelina
alama hamil anak arka...tapi giliran rafael yg jaga wkkwwkkw....biar impaskan 🤣🤣🤣
MomRea
Rafael yg nolong, tapi jodohnya tetap Arka ya Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!