NovelToon NovelToon
Bukan Aku Yang Jahat Mas

Bukan Aku Yang Jahat Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Setiap hari aku difitnah mertuaku.

_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_

Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.

_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_

Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.

_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_

Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.

Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.

Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?


Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌

Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 Restu ibu

Malam sudah larut,tenda pernikahan di rumah Bu Ratna sudah dibongkar, para tamu sudah pulang, dan suasana kembali sepi. Tapi di rumah besar milik Ustadzah Munah, lampu ruang tengah masih menyala terang.

Di ruang tengah itu, Ilham duduk bersila di atas sajadah dengan wajah yang tegang dan kedua tangannya yang saling menggenggam dengan erat. Di depannya duduk Ustadzah Munah dengan mukena putihnya yang masih terpakai setelah sholat Isya, bersama Mbak Zahra dan Mas Fikri yang sengaja dipanggil untuk berkumpul malam itu.

Sejak pulang mengantarkan Alya dari pernikahan Arman tadi sore, hati Ilham terasa sangat bergejolak. Apa yang ia lihat tadi sore di pernikahan Arman benar-benar mengguncang hatinya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Alya, seorang janda yang pernah disakiti, dihina, dan diusir, datang ke pernikahan mantan suaminya bukan dengan amarah dan dendam, tapi dengan doa yang tulus, dengan senyum yang santun, dan dengan keikhlasan yang luar biasa.

Pemahaman itu membuat kekaguman Ilham yang selama ini hanya tumbuh pelan-pelan kini berubah menjadi keyakinan yang sangat kuat. Ia yakin, Alya adalah perempuan yang ingin ia jaga seumur hidupnya.

"Bu, Mbak Zahra, Mas Fikri, Ilham minta waktu sebentar ya, Bu, Mbak, Mas. Ilham ada hal penting yang ingin Ilham sampaikan, tentang keinginan hati Ilham," ucap Ilham dengan suara yang bergetar karena gugup.

Ustadzah Munah yang bijaksana langsung tersenyum dan mengangguk.

"Iya, Nak Ilham, sampaikan saja. Ibu, Mbak Zahra, dan Mas Fikri akan mendengarkan Apa keinginan hati kamu nak?"

Ilham menarik napas panjang, lalu ia menundukkan kepalanya dengan penuh hormat.

"Bu, Mbak, Mas, selama tiga bulan terakhir ini,Ilham sudah berusaha menjaga pandangan dan menjaga hati Ilham sesuai nasehat Ibu, Ilham sudah berusaha tidak mencuri pandang kepada Mbak Alya, karena Mbak Alya masih dalam masa iddah, Bu. Dan Ilham sudah mendoakan Mbak Alya dari jauh setiap malam."

Mbak Zahra dan Mas Fikri saling bertatapan dan tersenyum, mereka sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan adik bungsunya itu.

Ilham melanjutkan dengan suara yang semakin mantap.

"Dan hari ini, setelah masa iddah Mbak Alya selesai dan setelah Ilham melihat sendiri tadi sore bagaimana Mbak Alya datang ke pernikahan Mas Arman dengan membawa doa dan keikhlasan, hati Ilham semakin yakin bu Keyakinan Ilham semakin bulat."

Ustadzah Munah menggenggam tangan Ilham dengan lembut.

"Yakin tentang apa, Nak Ilham?"

Ilham mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca tapi penuh dengan kesungguhan.

"Ilham yakin bu, bahwa Ilham ingin menjadikan Mbak Alya sebagai pendamping hidup Ilham,Ilham ingin meminang Mbak Alya secara resmi, Ilham ingin menikahi Mbak Alya bu bukan hanya sebagai seorang suami untuk mbak Alya,tapi Ilham juga ingin menjadi ayah yang baik untuk Nisa dan Raffi,Itulah keinginan hati Ilham yang paling dalam.Ilham mohon restu dari Ibu,dari Mbak Zahra dan Mas Fikri.

Suasana ruang tengah itu seketika menjadi sangat haru dan hening. Mbak Zahra langsung meneteskan air matanya karena terharu mendengar ketulusan adiknya.

Ustadzah Munah terdiam sejenak, lalu ia mengusap air matanya dan memeluk Ilham dengan erat.

"Alhamdulillah, Nak Ilham, alhamdulillah. Ibu sudah menunggu kalimat itu keluar dari mulut kamu sejak lama nak. Ibu sudah melihat sendiri bagaimana kamu menjaga hati selama tiga bulan ini, Ibu sudah melihat sendiri bagaimana kamu menyayangi Nisa dan Raffi dengan tulus tanpa pamrih, Ibu sangat merestui keinginan hati kamu, Nak. Ibu sangat setuju, seratus persen Ibu setuju."

Mas Fikri yang duduk di samping Ilham langsung menepuk bahu Ilham dengan bangga.

"Ham, Mas Fikri juga merstui.Kamu laki-laki yang hebat, Ham. Kamu tidak melihat status Mbak Alya sebagai janda,kamu hanya melihat kemuliaan hatinya.Mas Fikri bangga sama kamu,Kami semua dukung kamu ham!"

Mbak Zahra juga memeluk Ilham dari samping.

"Ham, Mbak Zahra juga merestui kamu. Mbak Zahra lihat sendiri bagaimana sikap dan kepribadian alya.Dia pantas mendapatkan laki-laki sebaik kamu. Dan Nisa sama Raffi juga sudah sangat dekat sama kamu.Mereka pasti senang kalau kamu jadi ayah mereka, Ham."

Mendapatkan restu dari ibu dan kakak-kakaknya membuat Ilham menangis haru dan langsung bersujud syukur di atas sajadah.

"Terima kasih, Bu, Mbak, Mas, terima kasih banyak. Ilham janji, Bu, Ilham akan menjadi suami yang baik untuk Mbak Alya dan ayah yang baik untuk Nisa dan Raffi. Ilham tidak akan menyakiti mereka seperti yang dilakukan mantan suaminya dulu.

Ustadzah Munah mengangkat Ilham dari sujudnya dan berkata dengan nasehat yang sangat indah dan bijaksana.

"Nak Ilham, Ibu merestui kamu nak,tapi Ibu juga ingin berpesan satu hal lagi sama kamu. Jika kamu ingin meminang Alya,lakukanlah dengan cara yang paling baik,hormati dia sebagai perempuan.Jangan datang sendiri, Ajak Ayah dan Ibu dari pihak kamu, meskipun Ayah sudah tidak ada, ajak paman-paman kamu, bawa rombongan keluarga. Datanglah ke rumah orang tua Alya di kampung dengan membawa hantaran yang baik. Lakukanlah sesuai dengan syariat Islam. Karena Alya itu perempuan yang pernah terluka, dia harus kamu muliakan dengan cara yang paling indah, agar luka lamanya sembuh total.

Ilham mengangguk dengan patuh.

"Baik, Bu, Ilham paham. Ilham akan lakukan sesuai pesan Ibu. Ilham akan ajak Paman Mahmud dan keluarga besar kita untuk datang melamar Mbak Alya ke rumah orang tuanya. Ilham juga akan membawa hantaran terbaik.

Ustadzah Munah tersenyum bahagia.

"Dan satu lagi, Nak Ilham, sebelum kamu melamar, kamu harus istikharah dulu mantapkan hati kamu dengan meminta petunjuk sama Allah, apakah Alya memang jodoh terbaik untuk kamu. Ibu juga akan istikharah. Mbak Zahra dan Mas Fikri juga akan istikharah. Kita semua minta petunjuk sama Allah. Karna langkah yang kamu ambil ini adalah langkah besar yang akan mempengaruhi semua kehidupan kamu."

Malam itu, di rumah besar itu, keempatnya melaksanakan sholat istikharah berjamaah. Mereka meminta petunjuk kepada Allah tentang keinginan hati Ilham yang ingin meminang Alya.

Di rumah kecil di kebun belakang, Alya yang baru saja memandikan Nisa dan Raffi dan menidurkan mereka tidak tahu sama sekali bahwa malam itu di rumah besar sedang ada musyawarah keluarga yang membahas tentang dirinya. Ia hanya bisa menatap langit malam dari teras rumah kecilnya sambil berdoa.

"Ya Allah, jika memang Ilham adalah jodoh hamba yang terbaik, dekatkanlah, Ya Allah. Jika bukan, Ya Allah, jauhkanlah dengan cara yang baik, Ya Allah."

Doa Alya dan doa Ilham malam itu naik bersamaan ke langit yang sama, dengan harapan yang sama.

Keesokan paginya, Ustadzah Munah memanggil Alya ke rumah besar dengan wajah yang berseri-seri.

"Nak Alya, ada kabar baik. Ilham sudah meminta restu dari Ibu tentang keinginan hatinya dan Ibu sudah merestui.

Alya yang mendengar itu wajahnya langsung memerah seperti buah tomat dan ia menunduk dengan malu.

"Bu..."

Ustadzah Munah tertawa lembut dan memeluk Alya.

"Tidak usah malu, Nak. Tunggu saja insyaallah dalam waktu dekat Ilham akan datang ke rumah orang tua kamu dengan rombongan keluarga untuk melamar kamu secara resmi.Siapkan hati kamu ya, Nak."

Hari itu, kebun mangga terasa lebih indah dari biasanya, karena restu seorang ibu telah diberikan untuk cinta suci anak bungsunya.

Bersambung...

1
Atha Diyuta
iya mau balik tapi Alya udah nolak😄
Dewi kunti
sampai ak ngitung disini bilang man sampai 8x🤭
Atha Diyuta: 😅😅😅😅😅😅
total 3 replies
Dewi kunti
balik lagi Man🤭🤭🤭🤭
Dewi kunti
biasanya manggil cm man,sekarang tumben mas
Atha Diyuta: 😄😄😄😄😄😄😄
total 5 replies
Dewi kunti
mending ngekost man ,drpd hidup sama msk Lampir
Atha Diyuta: semoga Arman berkenan 😅
total 9 replies
Dewi kunti
ibu po mama iki🤭🤭🤭🤭🤭
Dewi kunti
lha bukannya nisa sudah paham ya mereka pergi dari rumah karena dimarahi nenek dan ayahnya,bahkan lihat ibunya yg ditampar
Atha Diyuta: yah anak kcil critanya cuman tau pergi dan akan kembali🤭🤭
total 1 replies
Dewi kunti
terlunta2 dijalanan 🤭
Dewi kunti
memperlihatkan kejulidannya mungkin
Atha Diyuta: Aduuh iya k typo lagi , trimakasih nanti direvisii 🙈🙈
total 1 replies
Dewi kunti
nama kamu hrsnya
Atha Diyuta: baik ka trimakasih nnti direvisi ☺️☺️
total 1 replies
Atha Diyuta
Asiap ka trimakasih sudah mampir
senjani jingga
semangat thor!, kalau berkenan mampir juga di novel baruku ya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!