NovelToon NovelToon
PENGANTIN YANG DITUKAR

PENGANTIN YANG DITUKAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:76.5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.

​Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.

​Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGANTIN YANG DITUKAR

​

​Pagi hari di kawasan Dago Atas, Bandung, menyuguhkan udara sejuk yang menusuk tulang. Sinar matahari keemasan perlahan menembus rerimbunan pohon pinus, menyinari halaman depan rumah dinas privat yang ditempati oleh Kalea Mahika.

​Pukul delapan pagi yang tenang itu mendadak terusik oleh suara mesin mobil bertenaga besar yang meraung rendah di depan gerbang.

​Bummm... brrr-rtt.

​Mahika, yang saat itu baru saja selesai merapikan balutan hijab pashmina berwarna pastel kebanggaannya di depan cermin kamar memastikan setiap lipatannya rapi menutupi dada dengan sentuhan elegan mendadak mengerutkan keningnya heran. Ia mendengar suara klakson mobil dari halaman bawah.

​Dengan balutan tunik panjang bernuansa monokrom yang dipadukan dengan blazer kerja kasual, Mahika melangkah turun menghampiri jendela lantai bawah, lalu mengintip melalui celah tirai putih.

​Sebuah SUV hitam berdesain futuristik dan elegan terparkir tepat di depan halaman rumahnya. Tak butuh waktu lama untuk mengenali mobil itu itu adalah kendaraan pribadi milik Reagan Baskara, sang bos besar yang terkenal dingin, efisien, and anti basa-basi.

​Yang membuat Mahika terkejut bukan hanya kehadiran mobil itu, melainkan fakta bahwa Reagan sama sekali tidak memberitahunya lewat pesan ataupun telepon bahwa pria itu akan datang menjemputnya pagi ini untuk pergi bersama ke bandara! Tidak ada angin, tidak ada hujan, tahu-tahu sang kulkas tujuh pintu sudah nongkrong di halaman rumahnya tanpa konfirmasi.

​Klik...

​Pintu pengemudi terbuka, dan sesosok pria berpostur tinggi tegap dengan balutan jas abu-abu arang melangkah turun. Wajah Reagan tampak datar, kaku, and dingin seperti biasa, seolah-olah ia tidak sedang mendatangi rumah seorang wanita di pagi buta tanpa perjanjian apa pun.

​Mahika mendengus pelan, merapikan sedikit ujung hijabnya agar tidak ada helai rambut yang lolos, lalu berjalan membukakan pintu utama. Begitu pintu terbuka, ia mendapati Reagan sudah berdiri di depan teras dengan satu tangan masuk ke dalam saku celana kainnya, sementara tangan satunya lagi memegang ponsel pintar.

​"Pagi, Pak Reagan," sapa Mahika dengan nada ketus, menaikkan sebelah alisnya tajam. "Bisa tolong jelaskan, angin apa yang bawa kamu nyelonong datang ke rumah saya pagi-pagi buta begini? Dan hebatnya lagi, kamu sama sekali tidak memberitahu saya kalau mau jemput! Kalau saya masih pakai baju tidur atau belum siap gimana?."

​Reagan melirik Mahika sekilas terutama pada balutan hijab rapi yang dikenakan wanita itu lalu mendengus dingin tanpa rasa bersalah sedikit pun.

​"Tidak perlu diberitahu lewat chat, toh kenyataannya kamu sudah siap dan rapi sekarang," jawab Reagan datar, suaranya terdengar berat dan tegas tanpa secercah pun rasa penyesalan. "Siapkan tasmu. Kita berangkat ke bandara sekarang."

​Mahika mengerjap, kepalanya dipenuhi tanda tanya besar yang bercampur emosi. "Bandara? Siapa yang mau ke bandara? Hari ini kan jadwal kita penuh di Mahika Atelier, ngecek persiapan logistik sama fitting gaun"

​"Tanteku," potong Reagan cepat tanpa memberi celah Mahika untuk protes. "Pesawat Bu Aura mendarat di Bandara Husein Sastranegara pagi ini. Aku mau jemput beliau."

​Mendengar nama Bu Aura disebut, amarah Mahika seketika melunak, berganti dengan keterkejutan luar biasa. "Hah?! Bukannya jadwal kedatangan Bu Aura itu tiga hari lagi menjelang hari H pembukaan? Kenapa jadi hari ini?."

​Reagan mengedikkan bahunya acuh tak acuh. "Tanya sendiri sana sama orangnya begitu sampai bandara. Beliau tiba-tiba mengubah jadwal penerbangan tadi malam karena urusan mendadak di Bandung selesai lebih cepat, dan kebetulan beliau meneleponku pagi-pagi."

​Mahika mendengus sebal, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap tajam ke arah pria di depannya. "Terus, kalau Ibu Aura mendarat hari ini, kenapa kamu malah repot-repot datang ke rumah saya dan memaksa mengajak saya? Kenapa nggak langsung jemput sendiri pakai mobilmu?"

​Reagan menatap Mahika dengan tatapan seolah-olah wanita di hadapannya baru saja menanyakan pertanyaan paling tidak logis di muka bumi.

​"Daripada nanti aku jemput tanteku pakai mobil sendiri, lalu kamu juga pergi ke bandara atau butik pakai mobil sendiri dan kita ketahuan jalan terpisah..." ucap Reagan datar, menjeda kalimatnya sejenak dengan ekspresi kaku, "...nanti keluarga besar atau rekan bisnis mengira kita sedang perang dingin atau sengaja musuhan di belakang beliau. Repot urusannya. Lebih efisien kalau kita jalan bareng satu mobil."

​Satu mobil.

​Mendengar alasan yang terlampau kaku, arogan, and sok rasional itu, Mahika hampir saja melongo tidak percaya. Pria di hadapannya ini benar-benar mendefinisikan kata 'efisiensi' ke dalam tingkat menyebalkan yang hakiki.

​"Wah, hebat ya alasanmu, Pak Reagan," sindir Mahika dengan senyum dipaksakan, tangannya merapikan lipatan hijabnya yang sedikit tersapu angin pagi. "Takut dikira musuhan, padahal aslinya emang kamu malas nyetir dua kali, kan? Lagian, minimal kalau mau ngajak orang itu chat dulu semalam atau pagi-pagi! Ini aku dikagetkan kayak penagih utang datang ke rumah."

​"Waktu operasional seorang pengusaha sukses itu berharga, Mahika. Mengabari hal sepele lewat chat malam-malam buang kuota dan energi," jawab Reagan tanpa merasa berdosa sedikit pun, lalu berbalik badan menuju mobilnya. "Cepat ambil tasmu. Sisa waktu sepuluh menit sebelum kita kena macet tol Pasteur."

​Mahika mendengus kesal, menghentakkan kakinya pelan ke lantai teras. "Dasar kulkas tujuh pintu! Menyebalkan sekali jadi bos!" gerutunya pelan.

​Meski mengomel di dalam hati dan ingin sekali memukul kepala pria kaku itu dengan gulungan kain perca, Mahika tidak punya pilihan lain. Ia segera kembali ke dalam rumah sebentar untuk menyambar tas tangan dan memastikan penampilannya sudah sempurna, lalu mengunci pintu utama.

​Dengan langkah terpaksa dan wajah tertekuk, Mahika berjalan mendekati SUV hitam milik Reagan dan membuka pintu penumpang bagian depan. Begitu ia masuk, udara sejuk AC langsung menyergap kulitnya benar-benar representasi pas dari kepribadian sang pemilik mobil yang sedingin es.

​Reagan melirik Mahika yang duduk di sebelah kemudi sambil memasang sabuk pengaman dengan wajah cemberut. Pria itu menyalakan mesin mobil, memasukkan gigi transmisi, dan mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah dinas.

​"Jangan pasang muka tertekuk begitu," celetuk Reagan dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan pagi Bandung. "Nanti calon pengantin yang mau fitting baju di butikmu lari ketakutan ngeliat desainer utamanya mirip penagih utang galak."

​Mahika menoleh tajam ke arah Reagan, matanya memicing sebal di balik balutan hijabnya. "Siapa juga yang pasang muka penagih utang! Aku cuma lagi merenungi nasib, kenapa pagi-pagi indah begini harus terjebak di dalam satu mobil sama kulkas berjalan yang nggak punya ekspresi kayak kamu, Pak Reagan. Nggak ngabari, main jemput, sok paling efisien lagi."

​Reagan tidak merespons dengan kemarahan. Pria itu justru menyunggingkan senyum tipis sangat tipis hingga nyaris tak terlihat di sudut bibirnya, sebelum kembali memasang ekspresi kaku andalannya.

​"Baguslah kalau kamu sadar," balas Reagan santai. "Setidaknya di dalam mobil ini, cuma ada satu kulkas yang dingin. Kalau dua-duanya panas emosian kayak kamu, tangki bensin mobil ini bisa meledak."

​Mahika mendengus keras, membuang muka menatap pemandangan jalanan kota yang mulai ramai di luar jendela kaca mobil. Sepanjang perjalanan menuju bandara, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Suasana di dalam kabin mobil terasa begitu kontras: di satu sisi ada Reagan yang fokus menyetir dengan ketenangan luar biasa, dan di sisi lain ada Mahika yang masih sesekali mendengus kesal menahan gemas pada sang bos muda.

​Satu mobil dengan kulkas model Reagan ini benar-benar ujian kesabaran tingkat dewa, batin Mahika mengeluh dalam hati.

​Namun, di balik omelan dan rasa jengkelnya itu, Mahika dalam hati kecilnya mengakui satu hal: kehadiran Bu Aura yang datang lebih cepat hari ini justru membawa kehangatan tersendiri. Di tengah badai hidup yang sempat menghancurkan masa lalunya di Jakarta, dikelilingi oleh orang-orang sibuk nan absurd seperti Reagan dan asistennya yang kocak, membuat Mahika merasa bahwa ia kini berada di tempat yang jauh lebih aman, dihargai dan bermartabat.

​Dan petualangan baru di bawah atap yang sama dengan sang mentor pun siap dimulai hari ini tentunya setelah ia berhasil mendebat si kulkas tujuh pintu sampai puas di sepanjang perjalanan bandara.

1
Heni Setiyaningsih
bapak dan ibunya apa gk bisa kerja ya,,,,kok kayak pasrah gitu
Aidil Kenzie Zie
telpon pengawal atau Reagan Mahika
Aidil Kenzie Zie
lah si Mokondo bukannya sadar diri 🤣🤣🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
kok mantan suami sih Re mereka kan belum nikah 😓😓
untuk makan aja mereka susah ini malah mau neror Mahika 😝😝😝😝
Aidil Kenzie Zie
penasaran suami Bu Aura sama Martha mana y kok nggak nongol 🤔🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
masa nggak ada uang sepersen pun dikantong mereka 🤔🤔🤔
Lucy
huhuyyy bentar lagi kulkas 7pintu akan mencair 😀
Zhafran Althaf
ahhhh so sweet 😍😍😍
Ariany Sudjana
wah selamat menikmati makan siang Mahika and Reagan
Aidil Kenzie Zie
bukannya Mahika berhijab 🤔🤔🤔
kok "tatanan rambut di gulung longgar"🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
penasaran ortunya kerja apa y🤔🤔
posisi Ratu apa yang kamu janjikan Reno 😡😡😡😡toh semuanya Mahika yang biayanya
Aidil Kenzie Zie
Jakarta - Bandung naik pesawat 🤔🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
napa masih 30 hari tor🤫🤫🤫🤫
Aidil Kenzie Zie
mampir
Dokkan Battle
AWOKAWOK MAU MATI LU YA
fatmiatun sahono
koq pada bingung ya. kan Gisela kerja juga bukan. pasti adalah uang nya. pesta nikahan kan sdh di byr kan sama mahika toh....ayo berbagi lah ma orang tua ya....🙏
fatmiatun sahono
datang paket mmg sudah lunas dibayarkan sama Malika ya...😆
Dew666
🍎
sutiasih kasih
lucu sekali... siapa yg berulah... siapa yg hianat.... tpi sll mahika yg km salahkn reno🤣🤣
Triana Destiani
good job mahika
kesuksesan mu sedang menunggu di depan 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!