NovelToon NovelToon
Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:431.9k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.

Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.

Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Ruang mediasi di Pengadilan Agama terasa dingin dan formal. Dindingnya dicat krem polos, meja panjang dari kayu gelap membelah ruangan, dan AC yang terlalu dingin membuat udara terasa kaku. Aslan sudah duduk di sisi tergugat sejak lima belas menit yang lalu, didampingi pengacaranya. Jas abu-abu yang dikenakannya rapi, tapi jari-jarinya tidak berhenti mengetuk permukaan meja. Matanya terus melirik ke arah pintu masuk.

Kursi di sisi penggugat masih kosong.

Mediator yang memimpin sidang hari itu, seorang pria paruh baya berpeci hitam, sesekali memeriksa jam tangannya. Ia sudah membuka berkas, sudah menyiapkan catatan, tapi pihak penggugat belum juga muncul.

“Kita tunggu sampai pukul sembilan lewat lima belas,” ujar mediator pelan. “Kalau tetap tidak hadir, mediasi akan dicatat sebagai gagal karena ketidakhadiran penggugat.”

Aslan menghela napas kasar. Ia menoleh ke pengacaranya. “Dia benar-benar tidak datang?” suaranya rendah, tapi penuh kesal. “Sudah saya bilang dari awal dia hanya menggertak. Sekarang malah tidak berani hadir.”

Pengacara itu hanya mengangguk singkat, mencoba tetap profesional. “Kalau memang tidak hadir, kita bisa minta agar proses dilanjutkan ke sidang berikutnya. Tapi tetap saja, ketidakhadiran ini akan dicatat.”

Menit-menit berlalu dengan berat. Bunyi jam dinding terdengar semakin keras di tengah keheningan. Aslan terus melirik ke arah pintu, berharap Naya akan muncul. Ia sudah menyiapkan banyak hal di kepalanya kata-kata untuk membujuk, ancaman halus, bahkan tawaran kompromi supaya wanita itu menarik gugatan. Tapi kursi di seberang tetap kosong.

Faris yang duduk di barisan belakang sempat mengirim pesan ke beberapa kontak, mencoba memastikan apakah Naya terjebak macet atau ada kendala lain. Tidak ada jawaban yang berguna.

Pukul sembilan lewat dua puluh, mediator akhirnya menutup berkas di depannya. “Baik. Karena pihak penggugat tidak hadir tanpa keterangan resmi, mediasi hari ini dinyatakan tidak berhasil. Proses akan dilanjutkan sesuai prosedur persidangan.”

Aslan langsung berdiri. Kursinya bergeser ke belakang hingga berbunyi keras. “Ini tidak masuk akal,” ucapnya, nada suaranya naik. “Saya datang tepat waktu. Saya siap berbicara. Tapi dia tidak hadir? Lalu apa gunanya mediasi?”

Mediator menatapnya tenang. “Itu hak pihak penggugat, pak. Kalau mereka memilih tidak hadir, kami catat sebagai ketidakhadiran. Sidang berikutnya akan dijadwalkan.”

Aslan mengepalkan tangan di sisi tubuh. Ia menatap kursi kosong di seberang meja seolah Naya masih duduk di sana. Di kepalanya, rasa kesal bercampur dengan sesuatu yang lebih panas, rasa difikirkan sepele.

“Dia benar-benar ingin lepas dariku,” geram Aslan pelan, lebih pada diri sendiri.

Pengacaranya segera menepuk bahunya pelan, mengisyaratkan agar tidak membuat suasana semakin tegang di dalam ruangan. “Kita keluar dulu, Pak. Nanti kita bahas langkah berikutnya di luar.”

Aslan masih berdiri beberapa detik, menatap pintu yang tidak pernah dilalui Naya. Lalu ia berbalik dan keluar dari ruang mediasi dengan langkah cepat dan keras. Di koridor pengadilan yang ramai, ia mengusap wajahnya kasar.

Faris menyusul di belakang. “Tuan, mungkin nyonya Naya memang sudah berada di luar negeri. Informasi yang kita dapat kemarin menyebut beliau sudah berangkat ke Australia.”

Aslan berhenti di tengah koridor. Ia menoleh tajam. “Australia?”

“Ya, Tuan. Beberapa hari yang lalu.”

Aslan tertawa pendek, tawa yang pahit dan penuh kejengkelan. “Jadi dia benar-benar pergi. Tidak hanya meninggalkan rumah, tapi juga meninggalkan sidang.” Ia menggelengkan kepala, rahangnya masih mengeras. “Baiklah. Kalau begitu, kita lawan sampai habis. Saya tidak akan membiarkan dia menang begitu saja.”

"Silahkan saja tuan, Aslan. Saya pastikan anda akan menyesal" ucap Adrian tiba-tiba dari arah belakang.

Aslan menoleh, dia menatap Adrian tajam. "katakan pada klien mu itu, aku aka melawan. Dan aku pastikan dia akan mendekam di penjara karena sudah menggelapkan uangku" ucap Aslan.

"Klien saya sedang sibuk. Lebih baik anda buktikan saja nanti di pengadilan" ucap Adrian dan berlalu meninggalkan Aslan dan tim nya.

Aslan menatap punggung Adrian dengan penuh kebencian.

"Kita jangan terpancing tuan. Pengacara Adrian bukan pengacara biasa, dia sudah sering memenangkan kasus seperti ini" pengingatnya kepada Aslan.

"Aku tidak peduli"

Aslan melanjutkan langkah menuju keluar gedung pengadilan, jasnya berkibar di belakang tubuhnya. Di dalam dada, rasa marah semakin membara. Dia tidak perduli siapa lawannya. Dia tetap akan melawan, dan merebut kembali semua uangnya yang sudah di ambil oleh Naya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Dalam perjalanan pulang dari pengadilan, mobil Aslan melaju stabil di jalan tol yang mulai ramai. Faris duduk di bangku kemudi dengan fokus, sementara Aslan di kursi penumpang depan menyandarkan kepala ke sandaran, mencoba merilekskan pikirannya yang terasa pusing. Ia baru saja menutup mata sejenak, tiba-tiba ponsel yang di genggamannya bergetar kencang.

Notifikasi bank masuk secara beruntun.

Aslan membuka ponselnya dengan malas, lalu matanya langsung membelalak. Transaksi demi transaksi muncul jelas di layar, beberapa butik mewah, toko tas branded, dan satu transaksi terakhir yang membuatnya hampir tidak percaya, pembelian tas seharga dua ratus juta rupiah.

Ia menegakkan badan, wajahnya berubah tegang. “Apa-apaan mereka… Belanja sampai dua ratus juta hanya untuk tas saja?!” umpatnya marah, suara mengisi kabin mobil.

Faris yang sejak tadi diam menoleh sebentar ke arahnya. “Kenapa, Tuan?” tanyanya serius, tangan tetap memegang setir dengan stabil.

Aslan tidak langsung menjawab. Ia menggulir riwayat transaksi dengan jari yang gemetar menahan kesal. Sejak kemarin, kartu yang ia berikan kepada Liza sudah digunakan hampir tanpa jeda. Belanja pakaian, sepatu, kosmetik, dan sekarang puncaknya tas seharga selangit. Ia merasa darahnya naik ke kepala.

“Blokir kartu ATM yang ada di tangan Liza!” perintahnya tegas, nada suaranya tidak memberi ruang untuk kompromi. “Sekarang juga. Semua kartu yang terhubung ke rekening saya, kunci semuanya.”

Faris mengangguk cepat. “Baik, Tuan. Saya hubungi pihak bank, nanti”

Aslan menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras. Ia menghela napas kasar, lalu memencet tombol sisi ponsel hingga layar gelap.

Di kepalanya, rasa kesal bercampur dengan penyesalan yang mulai menggerogoti. Naya dulu bahkan jarang meminta uang tambahan. Wanita itu mengelola keuangan rumah dengan sangat hemat, tidak pernah belanja berlebihan, apalagi sampai ratusan juta hanya untuk satu tas.

Sekarang, istri sirinya yang baru saja ia bawa ke rumah sudah menghabiskan uang sebanyak itu dalam waktu singkat, tanpa bertanya, tanpa memberi tahu terlebih dahulu.

Aslan menyandarkan kepala ke jendela mobil, memandang kendaraan yang berlalu di luar. “Keterlaluan,” gumamnya pelan. “Benar-benar keterlaluan.”

Faris menyelesaikan panggilan, lalu melirik ke belakang lewat kaca spion. “saya akan segera menghubungi pihak bank, tuan"

Aslan hanya mengangguk singkat. Ia tidak menjawab. Di dalam dada, amarah masih membara.

1
Rini Maryani
lanjut thoor semangat
Cicih Sophiana
semoga bahagia Naya lupakan masa lalu mu bersama si Aslan... sosong masa depan mu bersama Erlan..
Cicih Sophiana
masih kurang tuh penderitaan Aslan dan si Liza seharus nya anak nya tdk selamat... kan kasian sama anak nya krn dia jd anak haram...
Cicih Sophiana
hak kamu apa Liza? nikah pun nikah siri yg gak punya hak... anak nya pun gak ada hak krn tdk terdaftar di negara... kamu mau nuntut siapa ? gak akan bisa biar kepengadilan pun
Cicih Sophiana
semoga yg jahat mendapat balasan yg setimpal... yg baik kedepan nya bahagia
Cicih Sophiana
yah awasin aja terus....
Cicih Sophiana
nih Aslan Liza..🤛🤛
Sholawat Nariyah
AUTHOR GUOBLOK membiarkan tokohu utamanya tdk tegas, dan tenggelam dlm kebodohan yg berlarut 👎
Cicih Sophiana
knp selamat... dulu Naya di larang punya anak... seharus nya keguguran dong si pelakor nya jgn di kasih bahagia mereka
Cicih Sophiana
terus lah begitu semakin hancur, rumah tdk terbayar, si Liza keguguran 😂 si Aslan bangkrut
Cicih Sophiana
sukur lah akhir nya rumah itu terjual... wah si Liza klo tau langsung stres dan langsung keguguran
Cicih Sophiana
untuk si Aslan cobalah sadar diri... itu emang sdh hak nya Naya... dia bukan merehut tp menganmbi hak nya Aslan..
Cicih Sophiana
hancur kan mereka... mereka yg serakah dan mereka yg zolim sama istri sah tapi mereka sll menyalah kan Naya...
Cicih Sophiana
perempuan yg aneh dia yg merebut kok di tuduhkan Naya yg merebut 😂😂😂😂😂
pake so kuasa pula... Naya bertahun tahun pernikahan nya yg hanya di jadikan pembantu gratisan... dia yg tinggal enak nya doang menikmati... nikah pun hanya nikah siri sekarang so kuasa
Cicih Sophiana
eh pelakor kamu tuh cuma nikah sirih jd gak ada tuh undang undang nya mendapat kan harta gono gini... anak kamu pun gak akan bisa mendapat kan apa apa... sekarang gigit jari aja yah sampe putus 😂😂😂
Cicih Sophiana
wah ternyata aset nya si Aslan banyak... pantesan dia ngamuk gak rela Naya ngambil...
Cicih Sophiana
ayo bahagialah kalian... karena kalian pantas untuk mendapat kan nya...
Cicih Sophiana
susah Nay cari mertua yg langsung baik seperti mama Erlan... mulai sekarang jgn menyia nyiakan nya...
Cicih Sophiana
wah ini sih langsung di terima jadi menantu kesayangan mama...😊😍😍
Cicih Sophiana
aneh banget si pelakor... ya wajar lah Naya dapat 50 % wong yg mendampingi si Arlan selama ini kan Naya... klo kamu siapa? kamu cuma pelakor yg di pungut setelah si Arlan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!