Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Adam menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Tubuhnya berdiri tegak dibalut jubah hitam panjang yang menjuntai hingga betis, sementara bagian dadanya yang kekar terbuka, memperlihatkan guratan otot yang biasanya membuat orang segan mendekatinya. Wajahnya dingin, nyaris tanpa ekspresi, tetapi pikirannya terusik oleh sesuatu yang tidak ingin ia akui.
Di belakangnya, seseorang terbaring lemah di atas ranjang besar, Giana Bianca Conti.
Perempuan yang beberapa hari lalu masih berani menatap matanya sambil bersumpah bahwa dirinya tidak bersalah. Perempuan yang terus memohon agar diizinkan pulang untuk menemui ibunya. Namun, pagi ini, tidak ada lagi suara permohonan yang terdengar dari bibirnya.
Gia hanya berbaring menyamping, membelakangi Adam. Selimut menutupi sebagian tubuhnya, sedangkan wajahnya tampak pucat. Rambut panjangnya berantakan di atas bantal. Setiap kali ia mencoba mengubah posisi, tubuhnya terasa sakit, membuatnya kembali memejamkan mata sambil menahan air mata.
Adam melirik melalui pantulan kaca jendela.
"Sudah bangun?" tanyanya dingin.
Tidak ada jawaban, alis Adam berkerut. Dia membalikkan tubuh, lalu berjalan mendekati ranjang. Langkahnya berhenti ketika melihat Gia tetap diam dengan mata terpejam.
"Gia." Perempuan itu tidak bergerak.
"Jangan berpura-pura tidur ketika aku sedang bicara denganmu!"
Gia perlahan membuka mata. Ia menatap langit-langit kamar tanpa sedikit pun keinginan untuk melihat laki-laki yang berdiri di samping ranjangnya.
"Aku bertanya, sudah bangun atau belum?" suara Adam meninggi.
"Sudah, Tuan Adam," jawab Gia lirih.
"Kalau begitu, lihat aku!"
Gia berusaha mengangkat kepalanya, tetapi rasa sakit yang menjalar di tubuhnya membuat gerakannya terhenti. Ia menggigit bibir, berusaha menahan rintihan yang hampir lolos.
Gia berusaha mengangkat kepalanya, tetapi rasa sakit yang menjalar di tubuhnya membuat gerakannya terhenti. Ia menggigit bibir, berusaha menahan rintihan yang hampir lolos.
Adam memperhatikan gerakan itu. Untuk sesaat, matanya tertuju pada wajah pucat Gia dan jemarinya yang mencengkeram selimut.
"Kau kenapa?" Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Gia terdiam sebelum akhirnya tertawa kecil tanpa kegembiraan.
"Tuan masih perlu bertanya?"
Rahang Adam mengeras, "Apa maksudmu?"
"Tidak ada." Gia kembali memalingkan wajah. "Aku hanya ingin beristirahat."
Adam tidak menyukai cara perempuan itu menjawabnya. Bukan karena Gia membentaknya atau melawannya, melainkan karena suaranya terdengar begitu kosong. Seolah-olah perempuan itu sudah tidak memiliki tenaga untuk membela diri, bahkan untuk membenci dirinya sekalipun.
"Kau pikir dengan bersikap seperti ini aku akan merasa bersalah?" desis Adam.
Gia memejamkan mata, "Aku tidak mengharapkan apa pun dari Tuan."
"Jangan menguji kesabaranku, Gia!"
"Aku juga tidak sedang menguji siapa pun." Suaranya bergetar, tetapi ia tetap berusaha bicara. "Anda merenggut hal yang berharga dalam diriku, atas tuduhan yang tak pernah ku lakukan."
Adam terdiam, sebab Gia tidak memohon agar diizinkan pulang. Tidak meminta Adam memercayainya. Tidak pula menyebut nama ibunya berulang kali seperti yang selalu dilakukannya kemarin.
Namun, Adam terlalu dikuasai amarah untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi pada perempuan itu.
"Kau boleh beristirahat," katanya akhirnya, kembali memasang wajah dingin. "Tapi jangan pernah berpikir bisa keluar dari rumah ini tanpa izinku, selama dendam Veronika tak terbalas."
Gia tidak menjawab. Adam berbalik, hendak meninggalkan kamar. Baru beberapa langkah, suara lirih perempuan itu menghentikannya.
"Tuan Adam."
Ia menoleh dengan tatapan tajam. "Apa lagi?"
Gia membuka mata dan menatap punggungnya dari kejauhan.
"Kalau suatu hari nanti Tuan mengetahui bahwa aku benar-benar tidak bersalah..." Ia berhenti sejenak, menelan sesak yang memenuhi tenggorokannya. "Apakah Tuan akan mengembalikan semua yang sudah Tuan ambil dariku?"
Adam menatapnya tanpa berkedip.
"Aku tidak akan pernah menyesali apa pun yang ku lakukan kepada pembunuh Veronika."
Air mata mengalir dari sudut mata Gia, tetapi tidak lagi berusaha menghapusnya.
"Kalau begitu, aku harap suatu hari nanti Tuan menemukan kebenarannya."
Adam menyipitkan mata, "kamu mengancam?"
"Bukan, Tuan." Gia kembali memejamkan mata. "Itu hanya harapan terakhir aku."
Keheningan menyelimuti kamar. Adam berdiri beberapa detik, menatap perempuan yang kembali membelakanginya. Ada sesuatu dalam ucapan Gia yang membuat dadanya terasa tidak nyaman, tetapi ia segera menepis perasaan itu. Baginya, Gia tetap perempuan yang telah merenggut masa depan Veronika. Ia tidak akan membiarkan rasa iba mengubah keputusannya. Adam melangkah keluar dandan membanting pintu.
Sementara itu, Gia perlahan menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah tanpa suara.
"Bu..." bisiknya di balik selimut. "Gia ingin pulang."
Di luar, hujan kembali turun, membasahi kaca jendela kamar itu.
Baru saja Adam tiba di lantai bawah, seorang pria berpakaian serba hitam berjalan menghampirinya. Pria itu adalah Marco, tangan kanan sekaligus orang kepercayaannya yang selama bertahun-tahun selalu menangani berbagai urusan penting keluarga Maxnore.
Marco berhenti beberapa langkah di hadapan Adam, lalu menundukkan kepala sebagai tanda hormat.
"Tuan."
Adam yang tengah membenarkan ikat pinggang jubah hitamnya melirik sekilas. "Ada apa?"
"Saya telah menemukan sesuatu di tempat kejadian kecelakaan Nona Veronika."
Langkah Adam terhenti. Nama Veronika selalu berhasil membuat sorot matanya berubah. Kesedihan yang belum sepenuhnya pulih segera berganti dengan tatapan tajam dan dingin.
"Apa yang kau temukan?"
Marco melirik ke sekeliling mereka. Beberapa pelayan sedang sibuk membersihkan ruang tengah, sementara dua penjaga berdiri di dekat pintu utama.
"Sebaiknya saya menjelaskannya di tempat yang lebih pribadi, Tuan."
Adam mengangguk singkat, "Ikut aku ke ruang kerja."
Tanpa menunggu jawaban, Adam berjalan menuju ruang kerja di lantai bawah. Marco segera mengikutinya. Sebelum memasuki ruangan, Adam menghentikan seorang pelayan yang kebetulan melintas membawa nampan kosong.
"Siapkan sarapan untukku dan antarkan ke ruang kerja."
"Baik, Tuan."
Adam kemudian menoleh kepada pelayan lainnya yang berdiri tidak jauh dari tangga.
"Antarkan juga sarapan ke kamar Veronika."
Pelayan itu mengangguk, tetapi sebelum sempat beranjak, Adam kembali berbicara dengan suara datar.
"Pastikan perempuan itu makan."
Marco yang mendengar ucapan tersebut sempat mengangkat wajahnya. Ia tahu Adam sedang membicarakan Gia, perempuan yang kini terkurung di kamar pribadi Veronika. Namun, ia tidak berani bertanya lebih jauh.
"Dan jangan biarkan dia keluar dari kamar tanpa izinku," tambah Adam.
"Baik, Tuan," jawab pelayan itu, lalu segera pergi menyiapkan makanan.
Adam melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja. Begitu pintu tertutup, ia melepaskan ikatan jubahnya sedikit, kemudian berjalan menuju meja besar yang dipenuhi dokumen.
"Duduk, Marco."
Marco duduk di kursi di hadapan meja tersebut. Adam tidak langsung berbicara. Ia mengambil kotak rokok dari laci, mengeluarkan sebatang rokok, lalu menyalakannya. Setelah mengembuskan asap perlahan, barulah ia mengangkat wajah.
"Sekarang, jelaskan apa yang kau temukan."
Marco membuka tas hitam yang dibawanya. Dari dalam tas itu, ia mengeluarkan sebuah kantong bukti transparan berisi benda kecil yang tampak seperti aksesori logam, disusul beberapa lembar foto dari lokasi kecelakaan.
"Saya kembali mendatangi tempat kejadian perkara pagi ini, Tuan. Saya meminta orang-orang kita memeriksa area di sekitar lokasi tabrakan dengan lebih teliti."
Adam memandangi foto-foto yang diletakkan di atas meja.
"Lalu?"
"Kami menemukan benda ini tidak jauh dari tempat mobil Nona Veronika berhenti setelah tabrakan."
Marco mendorong kantong bukti itu ke arah Adam. Adam menunduk, memperhatikan benda di dalamnya, dahinya berkerut.
"Apa ini?"
"Sepertinya ini aksesoris seseorang, Tuan. Kami masih memeriksa asalnya."
Adam mengangkat pandangan dengan tatapan tidak sabar.
"Kau datang ke sini hanya untuk menunjukkan benda yang bahkan belum kau ketahui asalnya?"
Marco menunduk sesaat.
"Bukan hanya itu, Tuan. Ada hal lain yang membuat saya merasa perlu melaporkannya langsung kepada Anda."
Adam meletakkan rokoknya di asbak.
"Bicaralah."
Marco menarik napas sebelum melanjutkan.
"Beberapa orang yang berada di sekitar lokasi mengatakan bahwa setelah tabrakan terjadi, ada seorang perempuan yang terlihat meninggalkan tempat kejadian dengan tergesa-gesa. Namun, mereka tidak yakin apakah perempuan itu pengemudi atau penumpang mobil tersebut."
Suasana ruang kerja mendadak terasa lebih dingin.
Adam menyandarkan punggungnya pada kursi. Jemarinya mengetuk permukaan meja beberapa kali, sementara pikirannya kembali tertuju pada rekaman CCTV yang telah ia lihat sebelumnya. Dalam rekaman itu, Gia memang berada di dalam mobil. Namun, ia belum pernah benar-benar memastikan siapa yang memegang kemudi ketika kecelakaan terjadi.
"Jadi, menurutmu perempuan yang pergi itu adalah Gia?" tanyanya tajam.
"Saya belum bisa memastikan, Tuan. Saya yakin anting ini milik wanita itu,"
"Kalau begitu, apa gunanya kau menyampaikan informasi yang belum pasti?"
Marco terdiam sejenak. Ia telah bekerja cukup lama untuk memahami sifat majikannya. Adam tidak menyukai keraguan, terlebih jika hal itu menyangkut kematian Veronika. Namun, Marco juga tahu bahwa menyembunyikan informasi penting dari Adam bisa menjadi kesalahan yang jauh lebih besar.
"Saya hanya ingin memastikan bahwa kita tidak melewatkan sesuatu," jawabnya hati-hati. "Ada kemungkinan orang yang meninggalkan lokasi itu bisa jadi yang mengemudi mobil Nona Gia sebelumnya,"
Adam menatapnya tajam.
"Berhati-hatilah dengan perkataanmu, Marco."
"Saya mengerti, Tuan."
Adam mengambil kembali rokoknya, tetapi tidak segera mengisapnya. Tatapannya terpaku pada foto-foto kecelakaan di atas meja.
Selama ini, ia telah menganggap Gia sebagai orang yang bertanggung jawab atas kematian Veronika. Ia bahkan telah memaksanya menikah, mempermalukannya di hadapan banyak orang, dan mengurungnya di rumah tersebut sebagai bentuk hukuman. Bahkan, menyiksanya menghancurkannya luar dalam.
Namun, perkataan Marco mulai membuka celah kecil dalam keyakinannya.
'Jika Gia bukan pengemudinya, lalu siapa perempuan yang sebenarnya meninggalkan tempat kejadian?' Adam segera menepis pikiran tersebut.
"Periksa kembali rekaman kamera di sekitar lokasi. Cari tahu siapa pemilik kendaraan yang terlibat, dan pastikan identitas perempuan yang meninggalkan tempat itu."
"Baik, Tuan
"Jangan menyimpulkan apa pun sebelum kau mendapatkan bukti yang jelas."
Marco mengangguk. "Saya akan menyelidikinya sampai tuntas."
Adam terdiam sesaat, kemudian menambahkan dengan suara rendah yang mengandung ancaman.
"Dan satu hal lagi. Jangan sampai informasi ini bocor kepada siapa pun."
"Termasuk Nona Gia?"
Adam mengangkat wajahnya, "Terutama perempuan itu."
Marco menunduk. "Baik, Tuan."
Ketukan terdengar dari pintu ruang kerja. Seorang pelayan masuk membawa nampan sarapan dan meletakkannya di meja kecil di sudut ruangan.
"Apakah ada yang Tuan perlukan lagi?"
"Tidak, keluar." Suaranya tegas dan dingin.
Setelah pelayan itu pergi, Marco kembali berdiri sambil membawa tasnya.
"Saya permisi, Tuan."
Adam hanya mengangguk. Ketika pintu tertutup, ia kembali menatap foto kecelakaan di atas meja. Wajah Veronika terbayang dalam ingatannya, disusul suara Gia yang terus memohon bahwa dirinya tidak bersalah.
Rahang Adam mengeras saat mengingat perkataan itu.
"Omong kosong," gumamnya.
Ia mengambil foto tersebut, lalu memasukkannya ke dalam laci meja. Apa pun yang ditemukan Marco nanti, Adam belum berniat mengubah perlakuannya terhadap Gia. Setidaknya, itulah yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri.
Sementara itu, di lantai atas, seorang pelayan mengetuk pintu kamar Veronika yang kini ditempati Gia.
"Nona Gia, saya mengantarkan sarapan."
Tidak terdengar jawaban. Pelayan itu kembali mengetuk, kali ini sedikit lebih keras.
"Nona, apakah Anda sudah bangun?"
Beberapa detik kemudian, terdengar suara lemah dari dalam.
"Masuklah."
Pelayan itu membuka pintu perlahan. Ia mendapati Gia masih berbaring di ranjang, wajahnya pucat dan tubuhnya tampak begitu lemah.
"Nona, Tuan Adam memerintahkan saya mengantarkan sarapan untuk Anda."
Gia melirik nampan di tangan pelayan itu, lalu kembali memalingkan wajah.
"Saya tidak lapar."
"Maaf, Nona. Tuan berpesan agar Anda tetap makan."
Gia memejamkan mata. Ia ingin menolak, tetapi ia tahu penolakan hanya akan mendatangkan masalah baru. Akhirnya, dengan susah payah, ia mencoba bangkit. Pelayan itu segera meletakkan nampan di meja samping ranjang, lalu bergerak membantu Gia duduk.
"Pelan-pelan, Nona."
Gia menahan napas saat rasa sakit kembali menjalar di tubuhnya. Ia menggenggam ujung selimut, berusaha keras agar tidak menangis di hadapan orang lain.
"Terima kasih," bisiknya.
Pelayan itu menatapnya dengan iba, tetapi tidak berani mengatakan apa pun. Gia mengambil sendok dengan tangan gemetar. Matanya menatap makanan di hadapannya tanpa selera.
ngapain nyari amerda dirumah Adam GK langsung tempat mertuanya 🤔
berharap Adam membuka jati diri siapa amerda siih ,,
ayahmu saja menginginkan kematianmu,, tak usah lah jadi orang yang terlalu baik,, karna pada akhirnya hanya akan d injak2 saja .
lngsung ilang ingatan Dy kaki ny kebentur meja ,,
otak ny di kaki sih jdi bgtu sikap ny,, 😒😒😒😒😒😒
Apapun kalian berdua itu,, yg pastinya kalian berdua itu jahat sama Gia.