"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."
"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"
Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.
Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.
Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.
Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.
"Via... kita mulai dari awal."
"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Dulu Kau Mengejarku, Kini Aku Menunggumu
Risa sedikit terkejut oleh nada suara Vandra. “Bukan begitu. Aku cuma berpikir... mungkin dia sedang menunggu kamu berubah pikiran.”
Vandra menggeleng pelan. “Entahlah.” Ia terdiam sejenak. “Dulu aku tahu apa yang akan dia lakukan. Sekarang aku gak tahu.”
Jawaban itu membuat senyum Risa perlahan memudar.
Vandra sendiri baru menyadari betapa jujurnya kalimat itu. Ia memang tidak tahu. Tidak tahu apa yang dipikirkan Levia. Tidak tahu kenapa wanita itu berubah. Tidak tahu kenapa Levia tidak lagi mengejarnya. Dan yang paling mengganggu... ia tidak tahu mengapa dirinya mulai ingin tahu.
Risa memerhatikannya beberapa saat. “Kak Vandra...”
“Hm?”
“Kalau memang perceraian itu sudah lama kamu inginkan, bukankah sekarang justru saat yang tepat?”
Vandra terdiam melirik mobil Levia yang telah berbelok dan mulai melaju menjauh. Beberapa saat kemudian ia menjawab pelan, “Harusnya begitu.”
Risa menatapnya. “Harusnya?”
Vandra tidak menjawab.
***
Pagi itu, halaman markas dipenuhi kendaraan dan beberapa keluarga prajurit yang datang mengantar.
Para personel yang akan diberangkatkan sebagai bagian dari Satgas Perdamaian sudah berkumpul. Sebagian masih berbincang dengan rekan, sementara yang lain memeriksa kembali perlengkapan sebelum rombongan bergerak menuju tempat keberangkatan.
Vandra berdiri bersama beberapa rekannya. Seragamnya sudah rapi. Tas perlengkapan berada di dekat kakinya.
Di sampingnya, Ratih berdiri dengan mata yang sesekali memandangi putranya. "Jaga diri baik-baik," pesan Ratih untuk kesekian kalinya.
"Iya, Bu." Vandra tersenyum tipis.
Tidak jauh dari mereka, Risa juga datang. Sebagai putri seorang jenderal, kehadirannya di acara pelepasan seperti ini bukan sesuatu yang aneh. Namun bagi Vandra, kedatangannya tetap sedikit mengejutkan.
"Kak Vandra."
Vandra menoleh.
Risa tersenyum sambil membawa sebuah tas kecil. "Aku bawa sesuatu."
"Apa ini?"
"Beberapa obat dan vitamin," jawab Risa sambil menyerahkannya pada Vandra. "Buat persediaan selama di sana."
Vandra menerima tas itu. "Terima kasih."
"Sama-sama." Risa tersenyum.
Mereka kemudian berbincang sebentar. Namun beberapa kali pandangan Vandra tanpa sadar bergerak melewati kerumunan, ke arah pintu masuk. Lalu ke deretan kendaraan yang baru datang, kemudian kembali lagi.
Ratih memerhatikan gerakan itu. Sekali, dua kali, ketiga kalinya, dan Ratih akhirnya tersenyum tipis. "Van."
Vandra menoleh. "Hm?"
"Kamu nunggu siapa?" tanya Ratih.
Vandra mengernyit. "Enggak nunggu siapa-siapa."
Ratih hanya tersenyum. "Kalau begitu kenapa dari tadi lihat ke sana terus?"
Vandra terdiam. Ia sendiri tidak tahu, seolah ada seseorang yang seharusnya datang, padahal tidak ada janji. Tidak ada pesan, tidak ada alasan bagi Levia untuk mengantarnya. Apalagi selama hampir dua minggu terakhir, wanita itu justru semakin jauh darinya.
Vandra mengalihkan pandangan. "Mungkin cuma lihat orang."
Ratih tidak membalas. Namun dalam hati, ia sudah mengetahui jawabannya.
Sementara itu, Risa yang berdiri tak jauh dari mereka juga sempat memerhatikan arah pandangan Vandra. Ia mengikuti tatapan pria itu. Tetapi tidak ada siapa pun yang sedang dicari. Namun beberapa detik kemudian, sebuah pikiran muncul di benaknya.
"Jangan-jangan... dia menunggu Levia?" Risa segera menepisnya. "Gak mungkin."
Selama ini Vandra justru ingin terbebas dari pernikahan itu. Apalagi Levia sudah lama tinggal di rumah ayahnya. Kalaupun Levia datang, bukankah Vandra seharusnya malah merasa terganggu? Namun entah mengapa, keraguan kecil itu tetap tertinggal di benaknya.
Beberapa menit kemudian, salah seorang petugas memberi tahu bahwa rombongan akan segera diberangkatkan. Para prajurit mulai bersiap.
Vandra mengangkat tasnya.
Ratih mendekat untuk memeluk putranya. "Jaga kesehatan."
"Iya, Bu."
Vandra memeluk ibunya sebentar. Namun ketika melepaskan pelukan, pandangannya kembali bergerak menuju pintu masuk. Kali ini, ia melihat dua orang berjalan mendekat.
Bram Gultom dan Levia.
Vandra menghela napas pelan. Entah mengapa, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Ia bahkan tidak sadar bahwa sejak tadi bahunya yang tegang perlahan mengendur.
"Dia datang."
Hanya dua kata itu yang muncul di kepalanya. Padahal sebelumnya ia sudah berulang kali mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa Levia tidak perlu datang.
Mereka bahkan hampir bercerai. Levia juga sudah berubah dan tidak lagi mengejarnya. Namun saat melihat wanita itu benar-benar muncul di hadapannya, ada rasa lega yang sulit ia jelaskan.
Ratih yang menangkap perubahan ekspresi putranya hanya tersenyum kecil.
Sementara Risa yang berdiri beberapa langkah dari Vandra ikut menoleh. Tatapannya berhenti pada Levia, wanita yang berjalan berdampingan dengan Gultom.
Tidak berlari, menangis, atau memanggil nama Vandra dengan penuh kerinduan seperti yang biasa ia lakukan dulu.
Penampilannya pun berbeda. Tubuhnya memang masih berisi, tetapi pakaian yang dikenakannya terlihat rapi dan sangat cocok dengan bentuk tubuhnya. Wajahnya tampak lebih segar. Dan yang paling membuat Risa tidak nyaman, Levia terlihat tenang.
Begitu sampai di depan mereka, Levia tersenyum. "Pagi."
Vandra menatapnya beberapa detik. "Pagi."
Gultom menepuk pundak Vandra. "Hati-hati selama bertugas, Van."
"Iya, Yah," ucap Vandra. "Terima kasih sudah datang."
Levia berdiri di samping ayahnya. Tatapannya bertemu dengan mata Vandra. Tidak ada sorot mata penuh cinta atau keinginan untuk mendekat seperti dulu. Hanya ada senyum sopan.
"Aku datang karena Ayah mau mengantar," katanya ringan.
Vandra terdiam. Kalimat itu seharusnya biasa saja. Namun entah mengapa, ia justru merasa sedikit kecewa. Seolah-olah diam-diam ia berharap Levia datang untuk dirinya. Padahal dirinya sendiri tidak tahu sejak kapan ia mulai mengharapkan hal seperti itu.
Salah seorang petugas kembali memanggil. “Kapten Vandra, segera bergabung!”
Vandra mengangguk. “Siap!”
Ia menatap Ratih, lalu Gultom, kemudian pandangannya berhenti pada Levia. "Kalau begitu... aku berangkat."
“Semoga tugasnya lancar,” jawab Levia.
Vandra menunggu. Mungkin sebuah pesan lain, atau kalimat yang lebih personal.
Namun Levia hanya tersenyum. "Jaga kesehatan."
Vandra akhirnya mengangguk. "Iya."
Ia berbalik dan mulai berjalan menuju kendaraan. Namun setelah beberapa langkah, tanpa sadar ia menoleh.
Levia masih berdiri di samping Gultom. Wanita itu tidak mengejarnya atau memanggilnya. Hanya mengangkat tangan dan melambaikan tangan kecil. Vandra membalas dengan anggukan, lalu kembali berjalan.
Di belakangnya, Risa memerhatikan semua itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sementara Ratih hanya memandang putranya dengan senyum tipis. Ia semakin yakin, ada sesuatu yang berubah dalam diri Vandra. Dan mungkin... Vandra sendiri belum menyadarinya.
Pintu kendaraan tertutup. Namun sebelum duduk, pandangan Vandra masih sempat tertuju pada kaca jendela.
Levia perlahan berbalik bersama Gultom. Wanita itu benar-benar membiarkannya pergi.
Vandra terdiam beberapa detik. Lalu sebuah pikiran muncul begitu saja.
“Kalau aku pulang satu tahun lagi... apa dia masih akan menungguku?”
...✨“Ada kalanya seseorang harus berhenti memaksakan diri agar orang lain sadar bahwa kehilangan bukan selalu tentang kepergian, tetapi tentang kesempatan yang perlahan tak bisa diulang.”...
...“Perubahan hidup dimulai ketika seseorang berhenti mencari kebahagiaan dari orang lain dan mulai belajar menghargai dirinya sendiri.”...
...“Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari nilai seseorang, karena tidak semua yang pergi akan memilih kembali.”✨...
.
To be continued
ayo Bu Sari ceritakan kalo si Ninis masuk kamar Bu Sari tanpa izin.
baru kenal dengan Levia sudah menawarkan delapan Gerai,itupun penawaran Awal..
maju terus Via...kamu tambah Sukses dan di belakangmu si Ninis tambah iri.
syukurin tuh si Ninis misinya gagal terus😄