Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: WAJAH DI BALIK KAIN
#
Kain hitam itu terlepas dari wajah Victor, dan dunia Kenzo berhenti berputar.
Uban yang basah menempel di dahi. Bekas luka tipis dari alis sampai pelipis, yang dulu ia lihat di bawah cahaya api. Mata kelabu yang setengah terbuka, redup, dan yang sedang menatap ke arahnya dengan sesuatu yang bahkan dalam sekarat masih terasa seperti kehangatan.
Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Ia hanya menatap, dan tangannya yang memegang kain itu mulai bergetar, lalu seluruh lengannya, lalu bahunya, sampai tubuhnya sendiri terasa bukan miliknya.
"Pa..."
Bunyi itu patah di tengah. Ia mencoba lagi, dan yang keluar hanya napas yang tersedak.
"Pa... Papa?"
Tangannya naik ke wajah sendiri. Ia tidak sadar sudah merenggut topeng porselen itu sampai talinya putus, dan benda putih dengan retak emas itu jatuh ke lantai, menggelinding pelan, berhenti di samping sepatu Victor. Wajah Kenzo telanjang di bawah cahaya senter yang makin dekat, basah, pucat, mata yang terbuka lebar seperti anak tujuh tahun yang baru melihat rumahnya terbakar.
Victor melihatnya.
Kelopaknya bergerak. Sesuatu melintas di matanya, cepat sekali, dan Kenzo yang sepuluh tahun belajar membaca lelaki itu langsung mengenalinya. Bukan marah. Bukan benci. Kekecewaan, dalam, sunyi, seperti orang yang menemukan bahwa mangkuk yang selama ini ia rawat retak sejak awal.
"Kuli... bangunan," bisik Victor. Bibirnya pecah, setiap kata keluar bersama napas basah. "Proyek jalan... di Marenta..."
"Pa, jangan..."
"Papa tanya... kamu makan teratur... kamu jawab iya..." Ia terbatuk, dan darah menetes dari sudut mulutnya ke dagu yang berjanggut putih. "Kamu bohong... Nak. Lagi."
"Papa, aku..." Kenzo menjatuhkan diri berlutut, tangannya menyambar bahu lelaki itu, menekan luka di dada yang terus basah. Darah hangat merembes di sela jarinya, dan ia tahu betul rasanya. Ia sudah menekan luka seperti ini dua kali, di Kota Tua dan di malam ini, dan dua kali tangannya tidak cukup. "Aku nggak tahu. Aku nggak tahu itu Papa. Aku nggak... Demi Tuhan, Pa, aku nggak..."
"Kamu tembak Papa."
"Aku nggak tahu!" Teriakannya pecah, serak, menggema di lorong sempit itu. "Papa pakai topeng! Papa nggak bilang... Papa harusnya bilang... kenapa Papa nggak bilang!"
"Karena Papa..." Victor menutup mata sebentar, mengumpulkan tenaga yang tinggal sedikit. "...Papa mau kamu pergi... tanpa tahu."
Kalimat itu menghantam lebih keras dari peluru mana pun.
Kenzo membuka mulut dan tidak ada apa-apa yang keluar. Dari bawah, langkah-langkah naik tangga makin dekat, suara orang berteriak memanggil nama Budiawan. Ia tidak bergerak. Tangannya masih menekan luka itu seperti anak kecil yang mengira kalau ia menekan cukup keras, darahnya akan masuk kembali.
"Papa..." Air matanya jatuh ke wajah lelaki itu, ke bekas luka tipis di pelipis, menyusuri jalur yang sama seperti air mata Victor sendiri sepuluh tahun lalu di atas atap gudang. "Maafin aku. Papa, aku nggak tahu... aku nggak tahu... aku..." Kalimatnya hancur menjadi isak yang tidak berbentuk. "Maafin aku, Pa... maafin aku..."
---
Victor mengangkat satu tangan. Pelan sekali, jari-jarinya gemetar, seperti mengangkat sesuatu yang berat luar biasa. Kenzo menangkapnya dan menempelkannya ke pipinya sendiri, dan telapak kasar itu, yang dulu mengangkatnya dari bawah akar, yang membalut kakinya dengan bambu, yang mengacak rambutnya di pagi hari, terasa sangat dingin.
"Dengar... Papa," bisik Victor.
"Aku dengar. Aku dengar, Pa."
"Papa marah." Jujur, tanpa hiasan, seperti selalu. "Papa kecewa sekali... kamu bohong... kamu jadi algojo... kamu bunuh Pak Budi... orang paling baik yang Papa kenal..."
Kenzo menunduk sampai dahinya menyentuh dada Victor yang naik turun lemah. Setiap kata menusuk, dan ia tidak membantah satu pun.
"Tapi Papa lebih marah..." Napasnya tersendat. "...pada diri Papa sendiri. Papa yang ngajarin kamu jatuh. Papa yang ngajarin kamu... ngilang. Papa pikir... Papa bikin kamu kuat supaya selamat... Papa nggak sadar... Papa bikin kamu... jadi apa yang mereka mau..."
"Bukan salah Papa."
"Salah Papa." Jari-jari di pipi Kenzo bergerak sedikit, mengusap air mata yang mengalir. "Dari awal. Karena Papa pengecut. Karena Papa... nggak pernah berani bilang semuanya. Siapa Tuan itu. Kenapa... kenapa Papa..." Ia terbatuk, dan kali ini batuknya lama, dan darah yang keluar membuat dada Kenzo seperti dicengkeram.
"Jangan bicara, Pa. Tolong. Aku bawa Papa ke dokter. Axel... Axel bisa... ada rumah sakit... Papa tahan, ya? Papa tahan sebentar..."
"Kenzo."
"Papa janji nggak ke mana-mana! Papa bilang di telepon, Papa nggak ke mana-mana..."
"Kenzo. Lihat Papa."
Ia mengangkat wajah. Mata kelabu itu menatapnya, dan di sana, di balik semua rasa sakit dan kekecewaan itu, ada sesuatu yang tidak pernah hilang sejak malam di bawah jembatan. Sesuatu yang lembut, keras kepala, dan sama sekali tidak bisa dimatikan peluru.
"Papa tetap sayang kamu," kata Victor.
Tiga kata yang tidak pernah ia ucapkan dengan utuh, tidak di bawah jembatan, tidak di ruang makan, tidak di telepon. Kenzo menutup mulutnya dengan tangan yang berlumur darah, dan suara yang keluar dari tenggorokannya bukan tangis orang dewasa. Itu suara anak tujuh tahun yang melolong di balik semak dengan telapak tangan kakaknya di mulutnya.
"Jangan... jangan tinggalin aku. Pa... Papa, aku nggak punya siapa-siapa lagi. Pa, aku mohon, aku nggak akan bohong lagi, aku akan pulang, aku akan makan teratur, aku nggak akan... aku akan berhenti, aku berhenti sekarang juga, Papa..."
"Ssst..." Victor tersenyum. Senyum kecil, miring, dengan darah di giginya, tapi senyum yang sama dengan waktu ia salah menghitung soal pembagian. "Anak bodoh. Papa... nggak pernah mau kamu berhenti... demi Papa. Berhenti... demi dirimu."
Jari-jarinya meraba saku kemejanya dengan susah payah. Kenzo membantu, dan menemukan di sana, basah oleh darah, selembar foto hitam putih yang sudah lembut di tepinya. Perempuan muda di bawah pohon jambu, anak kecil di pangkuannya, seorang lelaki berjas yang wajahnya dicoret tinta. Dan di sudutnya, tulisan tangan yang pernah Victor sembunyikan dari semua orang.
*Dia tidak pernah bilang dia yang menolongku.*
"Orang itu..." Napas Victor makin pendek, makin jarang. "Tuan... dia... Kenzo, dia bukan... bukan musuh..."
"Siapa, Pa? Siapa dia?"
"Dengarkan... dulu... sebelum... benci..."
"Pa. Pa, siapa?"
Mata kelabu itu bergeser pelan, dari wajah Kenzo ke langit-langit, ke tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun. Bibirnya bergerak. Kenzo mendekatkan telinga ke mulut itu, dan yang terdengar bukan nama.
"Papa pulang... cepat ya, Dimas..."
"Pa..."
"Laras... maaf Papa... telat..."
"Papa! Papa, lihat aku! Ini Kenzo! Pa!"
Tangan di pipinya melemas. Jari demi jari melepas, seperti dulu ia melepas ujung kemejanya dari genggaman anak kecil yang tidur. Dada yang tadi naik turun melambat, lalu berhenti di satu tarikan yang tidak pernah dihembuskan lagi.
Mata kelabu itu tetap terbuka. Menatap lorong, hujan, dan seorang pemuda yang memeluk tubuhnya dengan seluruh kekuatan yang tersisa, mengguncangnya, memanggil, memohon, sampai suaranya habis menjadi bisik yang tidak punya kata.
"Papa... Papa, bangun... Pa, jangan tidur di situ..."
Kalimat yang sama. Persis yang ia teriakkan di balik semak, pada seorang lelaki yang jatuh berlutut di lampu kuning ruang tengah dengan senyum terakhir yang sama. Dua kali dalam hidupnya, dua orang ayah, dan dua kali ia berteriak pada tubuh yang tidak bisa mendengar.
Cahaya senter menyapu dinding, makin terang, menyorot punggung seorang pemuda yang sedang menangis di lantai sambil memeluk lelaki tua, dan seseorang di bawah berteriak.
Kenzo tidak mendengar.
---
Ia tidak ingat bagaimana ia keluar dari rumah itu.
Yang ia ingat hanya sepotong-sepotong: tubuh Victor yang berat di punggungnya, lalu di pelukannya, lalu di atas tanah basah di bawah pohon mangga yang cabangnya hampir menyentuh balkon. Pistol yang ia tinggalkan di lantai. Topeng porselen yang tidak ia ambil. Dua penjaga tua yang akhirnya sadar dan menatap dengan mulut ternganga saat ia lewat, wajah telanjang tanpa topeng, berlumur darah yang bukan darahnya, menggendong sahabat mereka yang mati dengan hati-hati seolah takut membangunkannya.
Tidak ada yang menembaknya. Tidak ada yang menahannya. Salah satu dari mereka, lelaki dengan bekas luka di dagu, hanya berdiri kaku dan menurunkan senjatanya pelan-pelan, mulutnya bergerak tanpa suara. *Pradana*, bisiknya. *Itu Pradana.*
Kenzo membaringkan Victor di bawah pohon, merapikan rambut putihnya yang lengket, menutup kelopak matanya dengan dua jari. Ia menarik jaket yang robek di siku itu, tambalan jahitan tangan yang kasar, dan menutup dada lelaki itu sampai dagu. Dari sakunya ia mengeluarkan kertas kecil yang sudah menguning, yang diberikan Victor di ruang makan malam itu, dan menyelipkannya di antara jari-jari yang sudah dingin.
"Aku pulang, Pa," bisiknya. "Janjiku. Aku pulang."
Di tangan lainnya, ia menggenggam foto hitam putih berlumur darah itu. Lelaki berjas dengan wajah yang dicoret tinta. *Tuan.* Orang yang menanggung semuanya, yang menyuruh Victor menjaganya, yang menjatuhkan nama itu di telepon dengan suara hangat setiap tahun, seperti ayah yang mencemaskan anaknya.
Tapi bukan itu yang membuat Kenzo berdiri.
Ia berdiri karena satu hal yang lebih dekat, lebih nyata, lebih mudah dibenci. Kesadaran yang datang dingin dan sangat jelas seperti pisau yang akhirnya menemukan celah di antara dua tulang rusuk.
Kontraknya. Map tipis di ruang rahasia itu. Senyum lebar dan anggur di gelas kristal. *Aku mau dia mati dalam seminggu, dan aku tidak mau tahu caranya.*
Michael Anderson.
Orang yang membayar. Orang yang menyuruhnya datang ke rumah ini. Orang yang, tanpa sepatah kata pun, memasangnya seperti bidak ke dalam satu lorong dengan lelaki yang paling ia cintai di dunia, dan membiarkannya menekan pelatuk.
Entah Anderson tahu atau tidak, tidak penting. Seseorang harus membayar, dan Kenzo, yang malam ini tidak punya topeng, tidak punya nama, dan tidak punya siapa pun, memilih orang itu dengan ketenangan yang lebih mengerikan daripada semua teriakannya tadi.
Tangannya masuk ke saku jaket dan menarik keluar sebuah telepon kecil yang hanya dipakai satu nomor. Jarinya meninggalkan noda merah di layar. Ia mengetik satu baris dengan jari yang tidak lagi gemetar, mengirimnya, lalu menatap layar itu sampai menjadi gelap sendiri.
*Xel. Aku butuh semua yang kamu punya tentang Michael Anderson. Alamat, penjaga, jadwal, kelemahan. Malam ini.*
Tidak ada penjelasan. Tidak ada kata *Papa*. Tidak ada kata *maaf*. Kenzo tahu di ruang server nun jauh itu, Axel akan membaca pesan ini sekali, dua kali, dan merasakan sesuatu di perutnya jatuh, karena dalam sepuluh tahun sandi mereka, Kenzo tidak pernah mengirim pesan tanpa satu pun *tolong*.
Balasan masuk dalam tiga puluh detik, dan hanya itu yang membuat ia menarik napas.
*Kenapa?*
Kenzo menatap satu kata itu sangat lama. Hujan menetes dari ujung rambutnya ke layar. Di bawah pohon mangga, lelaki berambut putih itu berbaring dengan wajah tenang seperti sedang tidur, dan di kejauhan terdengar sirene yang akhirnya bergerak mendekat.
Ia mengetik satu kata. Jempolnya berhenti di atas tombol kirim sedetik terlalu lama, lalu menekannya.
*Nanti.*
Ia memasukkan telepon ke saku, memungut topeng porselen yang tertinggal di dekat kaki mayat, dan memakainya kembali. Retak emas itu terasa lebih dingin daripada tadi, atau mungkin hanya wajah di baliknya yang sudah mati rasa.
Di balik porselen putih tanpa mulut itu, untuk pertama kalinya sejak ia mengenakannya, terdengar suara yang bukan suara siapa pun, bukan Kenzo, bukan The Shadow, nyaris tidak terdengar di tengah hujan.
"Anderson," bisiknya. "Kamu yang bayar... jadi kamu juga yang akan bayar semuanya."
Di Marenta, jauh di atas bukit, di balik jendela kasino dengan lampu kristal yang tidak pernah padam, seorang lelaki bergaun krem menuang anggur sambil menatap telepon di mejanya yang tak kunjung berdering. Ia sedang menunggu kabar bahwa sebuah pekerjaan selesai.
Ia tidak tahu bahwa kabar itu sudah dalam perjalanan. Dan bahwa yang membawanya bukan lagi seorang pembunuh bayaran.
---
*Bersambung ke Bab 16*