NovelToon NovelToon
Kesatria Merah

Kesatria Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: PrinceArslan

Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Kembali ke Desa Rawa

Setiap langkah terasa seperti mencabut akar pohon dari tanah. Lumpur rawa yang kental berbunyi berderak, mencoba menahan kakinya yang terus bergetar.

Arya bertumpu pada dahan kayu patah di tangan kanannya, memaksakan ritme napas yang konstan. Tarik, tahan, hembuskan. Ia mencoba menggunakan pola pernapasan dasar militer untuk mengatur detak jantung dan menghemat stamina. Namun, dengan kapasitas paru-paru tubuh ini yang begitu buruk, rasanya seperti berusaha bernapas melalui sedotan sempit.

Matahari mulai turun menyentuh garis cakrawala, mewarnai langit dengan rona jingga kelabu. Setelah hampir dua jam menyeret kaki menembus vegetasi rawa yang lebat, tanah di bawah kakinya perlahan terasa mengeras. Pemandangan pepohonan rapat perlahan terbuka, digantikan oleh kontur tanah yang menanjak naik menjadi perbukitan kering berumput kasar.

Di lereng dan punggung bukit berbatu itulah, berbatasan langsung dengan hamparan rawa luas yang memblokir sisi utara, pemukiman Baroni Denwick berdiri.

Arya menatap desa di hadapannya dengan tatapan datar. Gubuk-gubuk kayu berukuran kecil berdiri berjejalan di atas tanah perbukitan yang berdebu. Meskipun terhindar dari genangan lumpur rawa, kondisinya tetap memprihatinkan. Atap-atap jeraminya tampak kusam, dinding kayunya lapuk dimakan angin lembap yang terus berhembus dari arah perairan. Aroma kayu bakar bercampur dengan bau khas belerang dan lumut dari hamparan rawa di bawah sana menyengat tajam di udara.

Beberapa penduduk desa yang berpakaian compang-camping tampak menghentikan aktivitas mereka saat melihat sosok Arya tertatih-tatih mendaki jalan setapak bukit. Wajah mereka tirus, sorot mata mereka hampa dan dipenuhi kelelahan akibat kerja keras. Tidak ada sapaan hormat dari mereka. Hanya tatapan bisu, seolah melihat hantu yang salah jalan.

Baroni Denwick benar-benar miskin. Wilayah ini lebih pantas disebut tempat pembuangan daripada tanah kekuasaan seorang bangsawan.

Di tengah jalan setapak yang menanjak, Arya terbatuk keras. Ia menepi sejenak, meludahkan gumpalan darah bercampur air liur ke tanah berpasir. Kepalanya masih berdenyut, memaksanya bersandar pada sebuah tiang kayu pembatas jalan.

Di saat itulah, ia kembali merenung. Ingatan tentang ledakan, drone, dan seragam taktis modern perlahan terasa semakin jauh, seperti mimpi buruk yang mulai memudar saat pagi datang. Alvaro, sang prajurit pasukan khusus, telah hancur menjadi abu di dunia masa lalu. Tidak ada jalan kembali.

Mulai detik ini, tidak ada lagi Alvaro, batinnya dingin, membiarkan gerimis tipis mulai membasahi wajahnya. Pria yang lahir dari baja dan teknologi itu sudah mati. Mulai sekarang, raga yang memijak tanah ini hanya memiliki satu identitas.

Arya Denwick.

Ia menegakkan tubuhnya kembali, melanjutkan langkah menaiki bukit menuju pusat baroni. Tepat di puncak perbukitan kering ini, dikelilingi parit pertahanan buatan yang airnya mengering dan tak terawat, berdirilah jantung wilayah ini. Kastil Denwick.

Atau lebih tepatnya, sisa-sisa dari sebuah kastil.

Bangunan itu hanyalah struktur batu kelabu besar yang sekarat. Dinding luarnya ditumbuhi tanaman rambat kering, menyembunyikan retakan-retakan panjang pada fondasinya. Menara pengawas di sisi kirinya bahkan sudah kehilangan sebagian atap, mempertegas bahwa tempat ini tidak pernah tersentuh biaya perbaikan selama bertahun-tahun. Pajak yang mencekik dari Kerajaan Mossgate jelas telah menyedot wilayah pinggiran ini hingga kering.

Arya menyeret kakinya melewati jembatan kayu lapuk yang berderit keras memprotes berat tubuhnya.

Gerbang besi utama kastil itu terbuka sebelah, engselnya yang berkarat parah berdecit nyaring tertiup angin senja. Arya melangkah masuk ke dalam pelataran berbatu yang ditumbuhi rerumputan liar tinggi.

Tepat saat ia melewati bayangan gerbang, suara kayu yang menghantam batu terdengar keras memecah keheningan.

Di ujung pelataran, seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian usang menjatuhkan keranjang bawaannya. Kayu-kayu bakar berserakan di atas tanah. Pria itu berdiri kaku, matanya terbelalak lebar menatap sosok Arya yang berlumuran darah, lumpur rawa, dengan kain robek yang membalut kepalanya.

Sejenak, pelataran kastil itu hening, sebelum sebuah jeritan tertahan seorang wanita memecah kesunyian dari arah pintu utama.

1
palupi
semangat thor👍🥰
palupi
semakin seru...👍🥰
palupi
❤️
PrinceArslan: halo kak' Jika kaka suka karya ku.. aku akan merekomendasikan karya ku yang lain yaitu "Goblin Emperor" barangkali kaka tertarik terimakasih
total 1 replies
palupi
semakin seru 👍
palupi
👍
palupi
langsung tertarik ceritanya 🥰
👍
PrinceArslan: terima kasih 👍
total 1 replies
marsabat hindom
sangat bagus
PrinceArslan: terima kasih 🙏
total 1 replies
Sung Jin Woo
bagus
Akagami Shanks
suka cerita yg seperti ini 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!