NovelToon NovelToon
Ampun, Mayor! Istrimu Minta Cerai!

Ampun, Mayor! Istrimu Minta Cerai!

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Romansa
Popularitas:64.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"

Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.

Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Ampun, Mayor! (Revisi)

Terik matahari siang menjelang sore membakar langit kompleks Markas Batalyon dengan sengatan sinarnya yang membabi buta. Pantulan cahaya putih menyilaukan mata dari kaca-kaca jendela gedung utama markas, memancarkan hawa panas yang mematikan ke sekeliling halaman apel yang lengang. Di dalam ruang kerja Komandan Batalyon, keheningan mencekam merayap lambat, beradu dengan suara detak jarum jam dinding kayu yang berputar monoton di sudut ruangan.

Sebuah cangkir porselen putih berisi kopi hitam pekat buatan petugas piket tersaji utuh di atas meja kerja Mayor Yudhana. Uap panasnya sudah lama menguap, menyisakan cairan gelap yang mendingin tanpa pernah disentuh sejak insiden memanas yang terjadi di ruangan itu beberapa jam lalu.

Mayor Yudhana duduk terpaku di kursi kulit komando, namun tubuhnya gelisah tidak tenang. Meski ia tadi sempat meyakinkan diri dengan keangkuhannya bahwa Vina akan pulang dengan sendirinya setelah amarah siangnya mereda, jarum jam di pergelangan tangannya kini menunjukkan pukul dua siang. Seharusnya, pada jam-jam seperti ini, kemarahan di dadanya mereda dan ia bisa kembali fokus penuh pada laporan kesiapan tempur Batalyon. Namun, pikirannya justru terusik oleh bayangan wajah pucat istrinya saat melangkah keluar dari ruangan tadi.

Rasa penasaran bercampur jengkel yang mulai merayap membuat Yudhana meraih ponsel dinasnya yang tergeletak di atas meja. Jemari kekarnya menyentuh layar benda pipih itu, menyalakannya, lalu memeriksa layar utama dengan saksama.

Kosong. Tidak ada satu pun panggilan tak terjawab, tidak ada pesan singkat, dan tidak ada tanda-tanda notifikasi dari nomor Vina.

Yudhana mendengus pelan, meletakkan kembali ponselnya ke atas meja dengan gerakan kasar. Ia menyandarkan punggungnya, mencoba meyakinkan diri bahwa istrinya itu hanya sedang mendinginkan kepala di suatu tempat sebelum akhirnya menyerah dan kembali ke rumah dinas. Namun, waktu terus berputar lambat, dan rasa tidak nyaman di dadanya kian mendesak.

Beberapa menit kemudian, jemari Yudhana kembali terulur secara reflek. Ia meraih ponselnya lagi, membolak-balik layarnya dengan harapan sekecil apa pun—berharap kali saja istrinya menelepon, memakinya kembali atas kejadian tadi, atau melampiaskan kemarahannya lewat sambungan suara. Ia bahkan tidak akan keberatan jika Vina berteriak di ujung telepon, asalkan ia tahu di mana keberadaan wanita itu saat ini. Namun sayang, layar ponsel itu tetap menampilkan keheningan yang membeku; sama sekali tidak ada panggilan telepon dari Vina.

Seketika, dinding pertahanan ego dan kesombongan yang dibangun Yudhana sejak siang tadi mulai retak. Rasa egois sang Mayor yang tadinya begitu dominan perlahan-lahan surut, digantikan oleh debar jantung yang berdetak tidak biasa. Firasat buruk yang tajam merayap naik dari perutnya, menghantam rongga dadanya dengan sensasi dingin yang mencengkeram. Panggilan batin yang aneh dan tidak masuk akal mendadak mendesak kesadarannya, membuat napas Yudhana terasa memburu di tengah ruangan yang ber-AC dingin.

Pria itu berdiri dari kursinya, melangkah gelisah mendekati jendela kaca ruang kerjanya yang menghadap langsung ke arah gerbang luar markas. Matanya memandangi lurus ke arah jalanan aspal kompleks yang membentang sepi di bawah terik mentari, dihantui oleh debar aneh yang menghantam dadanya tanpa ia ketahui alasannya.

***

Sementara itu, beberapa kilometer dari kompleks markas militer, di bawah terik matahari siang yang membakar aspal jalan raya utama kota, Vina terus memacu motor matic merah tuanya seorang diri.

Jiwa gadis itu berada dalam kondisi yang sangat kalut dan hancur lebur. Di dalam kepalanya yang berdengung hebat, bayangan pengkhianatan suaminya di ruang kerja terus berputar menyiksa tanpa henti, bercampur baur dengan rasa sesak akibat hinaan yang menohok hatinya sebagai seorang anak panti asuhan. Vina menangis tersedu-sedu di balik visor helmnya yang terbuka separuh, membiarkan terpaan angin kencang dan debu jalanan menampar wajahnya yang pucat dan basah oleh air mata.

Ia tidak memikirkan ke mana ia akan pergi atau bagaimana ia bertahan hidup setelah ini. Yang ada di dalam benaknya hanya satu keinginan: melarikan diri sejauh mungkin dari pria bernama Yudhana dan rumah dinas yang menyesakkan itu. Rasa sakit yang teramat sangat di dadanya membuat cengkeramannya pada stang motor semakin mengerat, sementara laju kendaraannya meluncur kencang tanpa kendali yang stabil.

Pikiran Vina yang dipenuhi isak tangis dan amarah membuat konsentrasinya buyar total. Laju motor matic-nya sedikit melenceng ke arah tengah jalur aspal yang licin akibat sisa tumpahan oli kendaraan berat di bawah terik mentari siang.

Tanpa Vina sadari, dari arah berlawanan di tikungan jalan raya yang agak menanjak dan dikelilingi rimbunnya pepohonan pinggir jalan, sebuah truk kontainer besar bermuatan berat melaju dengan kecepatan tinggi, roda-rodanya menderu membelah panasnya siang.

Jarak di antara kedua kendaraan itu menyusut dengan cepat dalam hitungan detik. Lampu utama truk menyilaukan pandangan mata Vina yang sembab, sementara raungan klakson peringatan mulai menjerit nyaring memecah keheningan jalan raya.

***

Laju motor matic merah tua itu melesat tanpa arah, membawa sekujur tubuh Vina yang gemetar hebat akibat tangis histeris. Pandangannya benar-benar kabur, tertutup oleh genangan air mata yang terus mendesak keluar, membuat bayangan kendaraan di jalan raya tampak berlapis-lapis dan membingungkan.

Sreeeet!

Suara decit ban bergesekan dengan aspal mendadak menjerit memecah udara panas siang itu.

Vina tersentak hebat saat dari arah gang samping sebuah sepeda motor bebek keluar begitu saja tanpa lampu sein. Refleks tubuhnya menarik tuas rem depan dengan keras secara membabi buta. Motor matic yang dikendarainya bergeser liar, nyaris menghantam bodi samping motor bebek tersebut dengan jarak yang hanya menyisakan beberapa sentimeter saja.

"Woi! Kalau jalan pake mata, Mbak! Mau cari mati?!" bentak pengendara motor bebek itu dengan nada marah sambil mengibaskan tangan kesal, lalu langsung tancap gas meninggalkan lokasi.

Vina terdiam kaku di atas motornya. Jantungnya berdegup kencang menghantam dinding dada, napasnya tersengal-sengal dalam isak tangis yang tertahan. Nyaris saja ia mencelakai orang lain—atau bahkan dirinya sendiri—akibat pikirannya yang melayang jauh.

Menyadari bahaya yang baru saja terjadi, Vina memutuskan untuk menepikan motornya ke pinggir jalan di bawah rindangnya pohon ketapang yang sunyi. Ia mematikan mesin motor matic-nya, lalu berdiri bersandar pada standar samping kendaraan.

Suasana di tepi jalan itu terasa begitu kontras dengan hiruk-pikuk dadanya. Vina melepas helm merah yang terasa menyesakkan kepalanya, meletakkannya begitu saja di atas jok motor.

Udara panas siang hari langsung menyapu wajahnya yang basah kuyup oleh keringat dan air mata. Dengan tangan yang masih bergetar hebat, Vina mengangkat kedua telapak tangannya untuk mengusap wajahnya berkali-kali. Ia menyeka air mata yang terus meleleh di pipinya, berusaha meredakan denyut nyeri di dadanya yang terasa begitu sesak akibat pengkhianatan Yudhana dan hinaan Tanti tadi siang.

"Hah ... hah..." Vina mengambil napas dalam-dalam, berusaha mengisi paru-parunya yang terasa hampa.

Ia kemudian memejamkan matanya sejenak. Kegelapan di balik kelopak matanya yang terpejam perlahan-lahan meredam riuh rendah suara kendaraan yang berlalu-lalang. Dalam keheningan singkat itu, ia mencoba menenangkan gemetar di sekujur tubuhnya, menghimpun sisa-sisa keberanian seorang gadis panti yang harus bertahan hidup seorang diri di dunia yang begitu kejam ini.

"Aku harus kuat," batin Vina dalam pejam matanya. 'Aku nggak boleh selemah ini cuma gara-gara laki-laki brengsek kayak dia.'

Setelah beberapa detik menarik napas dan meredakan isakannya, Vina membuka kembali matanya. Sorot mata cokelat beningnya kini tampak lebih tenang, meskipun sisa-sisa luka dan kepedihan masih membayang jelas di sana. Ia kembali mengenakan helmnya, menghidupkan mesin motor matic merah tuanya, dan bersiap melanjutkan perjalanan—tanpa pernah tahu bahwa takdir maut telah bersiap menyambutnya di tikungan jalan raya berikutnya.

bersambung...

1
Nur Cahaya
semangat Vina 💪
Daneen
Wkwkwkk
Daneen
Duh bahaya kali Vina kalau bersuara
Mulaini
Jangan-jangan opa Gema sudah tahu atau memang belum tahu ya kalau cucunya Yudhana telah mengabaikan Vina sebelum kecelakaan.
Daneen
Alhamdulillah ikut senang thor
Mulaini
Vina katakan aja ke kakek Gema kalau kamu tidak mengenalnya dan kita lihat gimana reaksi Yudhana.
Teh Euis Tea
alhamdulilah akhirnya lolos jg, srmangat mommy
Mulaini
Yudhana jadi nikmati aja hasil dari keegoisan mu.
Esther
Kapok kamu Yudhana, hadapi tuh Opa Gema yang datang disaat yang tepat saat Vina tidak ada dirumah
Mulaini
Yudhana kamu jadi panik kan secara kakek mu datang berkunjung dan Vina gak ada di rumah.
Mulaini
Yudhana pelihara aja tuh gengsi mu.
Mulaini
waalaikumsalam...
Alhamdulillah 🤲
Daneen
Semoga thor
Hesty
cepetan thor bikin mereka pisah aku ga setuju vina sama yuda jijik, buat opa gema tau agar yuda di beri pelajaran👍
Hesty
cepetan thor bikin mereka pisah aku ga setuju vina sama yuda jijik, buat opa gema tau agar yuda di beri pelajaran👍
merry
Vina jjur np si ksh pljrann buat lakimu, dan si Tanti itu biar kapok,, gmn kelakuannya kmu di abaikan minta cerai trss,, trs msk RS siumann br dtgg di kiriin kmu cm akting ,, kuasin kmr gede kmu dpt kmr kcil,,, ceritaiin biar cerai cpt kmu fokus sm hdpmu klo jdoh kembali versi terbaik ajj vin,, tentara ko gk bs hargai istri ya heran jg 🤔🤔🤔🤭🤭
merry
asik dtg jg opa gema,, Vina gk drmh ceritaiin Vina kelakuan laki mu biar di tempeleng tu 😆😆😆😆
Kar Genjreng
kurang setuju' mommy kenapa Vina main sandiwara. biar saja untuk apa menutupi aib orang yang tidak perduli dan menyakiti,,, harusnya biar yudhayana merasakan sakit seperti yang Vina rasakan
Mommy Ghina: nanti bakal ketahuan kok
total 1 replies
Kar Genjreng
🤭🤭wah bisa gaswat nihh,,,Vina bingung yudhayana kecut dan pucat pasi mana Vina bau keringat seharian jualan Es coklat dan mampir pasar tradisional,,,kontras dengan peran istri rasa babu nya mayor jossss semoga lekas terbongkar,,👍
Kar Genjreng
rasano sebabagus bagus nya mengemas bangkai lambat laun pasti akan tercium aromanya busuk' nya,,,mamcussss 🤣🤣 sedang kan cucu menantu nya sedang mengais rezeki ,,, karena tidak sudi hidup nya menggantung kepada Pria ,,kaku dan mengabaikan bagus Kakek datang selamat datang Kek dan selamat sore 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!