NovelToon NovelToon
Penemu Rahasia Orang Mati

Penemu Rahasia Orang Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Kasus baru

Kesibukan yang Menunda Penyelidikan

Aroma formalin, alkohol, dan udara bertekanan negatif di Instalasi Kedokteran Kehakiman dan Jenazah (IKKJ) RSUD Bina Husada terasa makin pekat seiring bergantinya minggu.

Ancaman terselubung dari dua pria berbadan tegap utusan Nusantara Utama Group tempo hari masih membayangi pikiran Arya. Namun, kenyataan di lapangan memaksanya menepi sebentar dari penyelidikan kematian Bambang Gunawan.

Seminggu terakhir, gelombang kedatangan jenazah ke IKKJ meningkat drastis. Mulai dari korban kecelakaan lalu lintas di jalan tol, lansia yang meninggal dalam kesendirian, hingga korban tenggelam di sungai kota.

Jam kerja Arya dan Teguh bergeser menjadi maraton fisik yang menguras tenaga.

"Arya, tolong bantu angkat brankar nomor tiga ke ruang pendingin!" seru Teguh dari ujung lorong, sambil menyapu keringat di dahinya dengan lengan baju. "Setelah ini masih ada dua jasad kiriman dari bangsal ICU yang harus kita bersihkan!"

"Siap, Mas Teguh!" sahut Arya seraya mendorong roda brankar besi yang berdecit pelan.

Dalam kesibukan yang membakar fisik tersebut, Arya hanya bisa menyimpan botol kecil berisi tutup ampul racun dan catatan tentang Bambang Gunawan rapat-rapat di dasar tas punggungnya.

Ia sadar, memaksakan diri menyelidiki konspirasi tingkat tinggi di saat tubuhnya letih dan konsentrasinya terpecah hanya akan mengantarkannya ke lubang kubur dengan cepat.

Malam berganti siang, dan jam istirahat Arya kerap habis hanya untuk menyandarkan kepala di atas meja kayu administrasi IKKJ. Namun, meskipun penyelidikan kasus Bambang tertunda, intuisi dan kepekaannya sebagai pemulasara jenazah makin terasah tajam.

Pukul 14.20 WIB, langit di atas kota kembali digelayut mendung kelabu. Gerimis tipis mulai menepis kaca jendela tinggi ruang pemulasaraan.

Arya sedang melipat rapi tumpukan kain kafan baru ketika suara sirine ambulans kepolisian meraung nyaring dari kejauhan, membelah kesunyian area belakang rumah sakit.

Raungan sirine itu tidak tunggal. Di belakang ambulans, terdengar deru mesin beberapa mobil dinas kepolisian yang berhenti mendadak di depan pintu masuk khusus IKKJ.

Teguh yang sedang menikmati kopi hangat langsung meletakkan cangkirnya. "Wah, ada kiriman khusus dari tim reskrim sepertinya. Sirine kepolisian melengking begitu."

Pintu ganda IKKJ terdorong keras. Beberapa petugas berkerumun masuk. Di barisan paling depan, tampak Dr. Reisa, ahli forensik senior RSUD Bina Husada dengan jas laboratorium putih yang dilapisi apron hijau, berjalan terburu-buru bersama seorang pria bertubuh tegap berpakaian preman.

Pria itu adalah Inspektur Satu (Iptu) Farhan, penyidik senior dari Satuan Reserse Kriminal Polresta.

Di belakang mereka, empat anggota polisi dan tim medis mendorong brankar berisi kantong jenazah berwarna oranye tebal yang terkunci rapat dengan garis polisi tersilang di atasnya.

"Mas Teguh, Arya, siap-siap!" seru Dr. Reisa tegas dengan nada suara yang mengisyaratkan urgensi tinggi. "Kita dapat kasus pembunuhan berat. Korban ditemukan di sebuah rumah mewah kawasan Perumahan Permata Indah satu jam lalu. Tim Laboratorium Forensik butuh kita segera membersihkan luka luar agar visum et repertum awal bisa dijalankan."

Iptu Farhan melangkah mendekati meja administrasi, dan mengusap wajahnya yang tampak tegang. "Kondisi jasad sangat buruk. Pembunuhan sadis. Kami butuh penanganan cepat dan steril untuk mengamankan bukti-bukti sekunder sebelum autopsi mendalam dilakukan."

Teguh mengangguk sigap. "Siap, Dok, Pak Iptu. Arya, cepat siapkan meja stainless steel nomor satu, pasang lampu operasi overhead, dan siapkan perlengkapan pemulasaraan tingkat lanjut!"

"Baik, Mas!" jawab Arya tanpa ragu.

Saat kantong jenazah oranye itu didorong melewati Arya, aroma darah yang pekat dan bau amis yang menyengat menembus masker medis yang dikenakannya. Arya bisa merasakan atmosfer di ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat berat dan mencekam.

Sinar lampu operasi overhead berdaya tinggi memancarkan cahaya putih benderang, menyoroti meja stainless steel nomor satu. Arya dan Teguh telah mengenakan perlengkapan pelindung diri (APD) lengkap: apron kedap air tebal, sepatu boot karet, penutup kepala, masker ganda, serta dua lapis sarung tangan latex steril.

Dr. Reisa berdiri di sisi kanan meja bersama dua asisten forensiknya, sementara Iptu Farhan dan seorang detektif muda berdiri agak jauh di dekat pintu, sambil mencatat setiap detail proses di papan jalan medis.

"Buka kantongnya pelan-pelan," perintah Dr. Reisa.

Sleting kantong jenazah ditarik perlahan. Srrripp.

Saat kain parasut oranye itu terbuka lebar, bahkan Teguh yang sudah belasan tahun mengurus berbagai kondisi mayat tak sanggup menahan helaan napas yang tertahan.

Di atas meja, terbaring jasad seorang pria berusia sekitar 35 tahun, mengenakan sisa-sisa kemeja sutra putih yang kini hampir seluruhnya berubah warna menjadi merah pekat berkerak.

Wajah korban membiru dengan mata setengah terbuka dan menatap kosong ke langit-langit, memancarkan rasa terkejut dan ketakutan yang membeku selamanya.

Namun, yang membuat kondisi jasad itu begitu mengenaskan adalah tubuh bagian depannya. Dada, perut, hingga leher almarhum dipenuhi puluhan luka tusuk bersilangan.

Daging di sekitar luka tampak tercabik kasar, menandakan serangan dilakukan dengan histeria, amarah yang sangat hebat, dan pengulangan berkali-kali tanpa belas kasihan.

"Nama korban Rendra Prakasa, 36 tahun," ujar Iptu Farhan sambil membaca lembaran laporan awal. "Pengusaha muda di bidang properti. Ditemukan tewas di ruang tengah rumahnya oleh pembantu rumah tangga yang baru datang siang tadi. Diperkirakan waktu kematian antara pukul 22.00 hingga 01.00 dini hari tadi."

"Berapa banyak estimasi luka tusuknya, Dok?" tanya Teguh seraya menyiapkan selang air dan cairan antiseptik khusus.

Dr. Reisa menunjuk area dada dan perut korban menggunakan pinset medis. "Secara kasat mata, ada lebih dari tiga puluh luka tikaman. Beberapa mengenai organ vital seperti paru-paru dan aorta jantung. Ini luka defensif di telapak tangan kanan dan lengan bawahnya. Almarhum sempat mencoba menangkis benturan bilah pisau sebelum akhirnya tumbang karena kehabisan darah."

Arya menatap jasad Rendra dengan dada sesak. Sebagai manusia, ia merasa ngilu membayangkan penderitaan luar biasa yang dialami korban di detik-detik terakhir hidupnya.

Setiap tikaman bukan sekadar tindakan membunuh, melainkan sebuah bentuk kebiasaan melampiaskan kebencian yang mendalam.

"Sangat sadis," gumam detektif muda di sebelah Farhan. "Pasti dilakukan oleh perampok atau musuh bisnis yang sangat dendam."

Iptu Farhan mengetukkan pulpennya di papan jalan. "Dugaan awal memang ke arah perampokan atau pembunuhan berencana oleh jaringan kriminal. Brankas pribadi di kamar utama ditemukan dalam kondisi terbuka dan acak-acakan. Beberapa perhiasan dan jam tangan mewah almarhum hilang."

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
keren kaya baru ❤️
Aurora: iya kak, semoga bisa menghibur para pembaca 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!