Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Tangan Bima terkepal kuat, dia masih duduk dengan tenang. Kelihatannya seperti itu, padahal pikirannya sangat kacau. Garis rahang di wajah yang memang biasanya datar itu mendadak terlihat begitu jelas. Ucapan Bella yang mengatakan dia akan menyesal, sebenarnya cukup mengganggunya.
Tapi yang namanya pria yang berusaha untuk memastikan semua perbuatannya tidak salah. Saat ini Bima masih berpikir kalau apa yang dia lakukan memang sudah benar. Dia tidak kurang memberikan kompensasi untuk Kinan. Menikahinya, memberikannya nama belakang yang sangat baik, menjadi nyonya Dirgantara, Bima merasa itu adalah kompensasi yang sangat menguntungkan bagi Kinan.
Memberikannya rumah yang besar, dengan pelayan yang cukup banyak. Hingga Kinan tidak perlu melakukan pekerjaan rumah yang berat. Memberikan uang setiap bulan, menjaganya, selalu ada untuknya, bahkan menemani Kinan semampunya. Bima masih berpikir, kalau apa yang dia lakukan untuk Kinan itu sebagai kompensasi karena dia sudah membohonginya, dengan menandatangani surat kebebasan Agnes atas nama keluarga Kinan, sebagai pihak korban saat itu.
Sayangnya, kalau Kinan tahu semua yang Bima lakukan adalah untuk membebaskan orang yang telah mencelakai ibunya. Semua kebaikan itu, tidak akan pernah Kinan terima sejak dulu. Penipu tetap saja penipu, alasan apapun, tetap saja tujuannya untuk menutupi kebenaran dan membohongi Kinan. Bima tidak paham, kalah tanggung jawab tidak selalu bisa disetarakan dengan uang.
'Suara ponsel berdering
Begitu mendengar ponselnya berdering, Bima segera meraih ponsel yang ada di atas meja.
"Agnes, ada apa?"
Suara dingin itu berubah melembut. Jika Kinan berada di tempat itu, dan mendengar cara suaminya bicara pada Agnes. Sakit hatinya pasti akan semakin besar.
[Bima, apa kamu sangat sibuk? sejak pagi kamu tidak menghubungi ku. Apa kamu disana baik-baik saja?]
Kata-kata Agnes begitu manis. Ya memang seperti itu, kalau tidak manis seperti itu bagaimana bisa Bima sampai rela melakukan apapun demi kebebasannya.
Bima memijat keningnya. Dia benar-benar tak ingat pada Agnes sama sekali hari ini. Pikirannya penuh dengan Kinan yang sudah tahu perbuatan busuknya. Membuatnya tak bisa memikirkan hal lain.
"Maafkan aku, urusan kantor sangat banyak. Aku tidak sempat menghubungimu. Tapi kamu baik-baik saja kan?"
[Iya aku baik. Hanya saja aku sangat khawatir padamu. Aku takut kamu kenapa-kenapa]
"Jangan khawatirkan aku, kamu jaga diri saja di sana!"
[Aku tahu, oh ya minggu depan aku ulang tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya kamu akan datang kemari kan? kamu akan rayakan ulang tahunku disini kan?]
Bima berpikir sejenak. Tapi pada akhirnya, dia merasa kalau itu masih satu minggu lagi. Mungkin masalahnya dengan Kinan sudah selesai saat itu.
"Aku usahakan..."
[Bima, kamu tahu kan aku sendirian di sini. Kalau tidak ada kamu, aku tidak akan merayakan ulang tahunku]
Bima menghela nafas panjang.
"Baiklah, aku akan datang. Kamu mau hadiah apa?"
[Tidak usah Bima. Kamu datang dan merayakan bersama denganku saja, sudah merupakan hadiah terbaik untukku. Bima kamu yang paling baik padaku. Aku sangat mencintaimu]
"Hem... aku masih ada pekerjaan. Aku tutup dulu!"
[Baiklah, jangan terlalu lelah ya. Jaga kesehatan mu]
Dan panggilan itu berakhir. Bima meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Tapi, kata-kata yang mereka saling lontarkan itu, bukankah itu kata-kata yang terlalu akrab.
Hubungan apa yang mereka miliki sampai mereka bicara saling begitu manis begitu. Dan bagaimana perasaan seorang istri kalau mendengar suaminya bicara dengan suara yang begitu lembut. Dan perhatian yang begitu besar untuk wanita lain seperti itu. Bima memang keterlaluan. Bella benar, kalau Kinan masih bersama Bima, yang ada dia akan semakin menderita karena makan hati pada kelakuan suaminya yang masih menyimpan wanita lain di hati dan kehidupannya.
**
Sementara itu di hotel, Kinan sangat ingin makan. Dia benar-benar merasa perutnya lapar. Tapi bahkan ketika dia memasukkan makanan ke dalam perutnya. Makanan itu seperti tidak mau tertelan.
Dia kembali menangis, padahal Bella sudah mengatakan padanya agar jangan menangisi pria seperti Bima. Tidak baik untuk tubuhnya sendiri dan kandungannya. Tapi bagaimana? tiga tahun kebahagiaan itu ternyata hanya penipuan.
Air mata itu mengalir sendiri, tanpa bisa Kinan kendalikan. Tangannya sampai gemetar ketika meletakkan garpu di atas piring. Entah sudah habis berapa pack tissue untuk menyeka air matanya sejak tadi.
Hatinya patah, perasaannya hancur berkeping-keping. Kepercayaannya pada suaminya terkoyak. Kurang lengkap apa penderitaan Kinan saat ini.
Untung dia tidak mendengar percakapan antara Bima dan Agnes di telepon ketika Bima berada di kantor. Jika dia mendengarnya, mungkin Kinan bisa pingsan. Bukan lemah, tapi siapa yang bisa menahan hal seperti itu. Istri mana? yang akan tahan suaminya bicara begitu manis dan perhatian pada wanita lain. Apalagi itu wanita yang paling dia benci.
'Suara telepon berdering.
Telepon yang ada di kamar Kinan berdering. Kinan perlahan berdiri dan bergegas mengangkat gagang telepon itu.
"Halo..."
[Kinan, ini aku]
"Bella"
Kinan berusaha untuk bersuara biasa. Dia tidak mau Bella khawatir, karena dia menangis lagi.
[Kamu sudah makan?]
Kinan melihat ke arah meja, disana makanannya masih utuh.
"Aku sedang makan"
Suara Kinan benar-benar terdengar pilu.
[Baiklah, makan meski sedikit ya. Setelah itu minum vitamin. Aku tidak bisa menghubungimu lewat ponsel. Si brengsekk itu mengikuti ku]
Mata Kinan melebar.
[Kamu diam saja disana, kalau ada yang mengetuk pintu lihat dulu dari lubang pintu siapa yang datang. Pesan makanan di hotel saja. Lalu...]
"Bella, aku akan baik-baik saja. Aku akan mendengarkan semua perkataan mu"
Terdengar helaan nafas panjang di seberang sana.
[Baiklah Kinan, kamu banyak istirahat ya. Aku tahu, tidak mudah melupakan masalah ini. Aku juga tidak bisa mengatakan padamu untuk tidak memikirkannya. Tapi setidaknya, pikirkan kandungan mu. Kita pasti bisa melewati ini]
Kinan berusaha untuk tidak menimbulkan suara. Padahal dia kembali terisak. Betapa beruntungnya dia punya sahabat baik seperti Bella. Kalau saat ini tidak ada Bella. Entah akan seperti apa dirinya dihadapkan dengan masalah seperti ini.
"Iya, aku mendengarkan mu. Terima kasih banyak Bella"
[Jangan berterima kasih padaku, kita sahabat Kinan. Aku tutup dulu, ada yang ribut menekan bel sejak tadi]
"Mungkin itu Zayn. Bella, Zayn pasti juga tidak bisa berbuat apa-apa, dia mungkin hanya..."
[Jangan membelanya Kinan, Zayn sama salahnya dengan suami kamu yang brengsekk itu. Baiklah, istirahat lah. Sebelum ke kantor besok, aku akan mampir kesana]
"Baiklah"
Dan panggilan telepon itu terputus. Kinan menghela nafas panjang. Dia mengusap perutnya yang masih rata perlahan. Dia menatap perutnya cukup lama, anaknya sungguh datang di waktu yang kurang tepat.
***
Bersambung...