Song Qian adalah keturunan Dewa Leluhur Qing Tian yang lahir dari Menara Qian Kun setelah Tiga Alam diciptakan pada 70 ribu tahun yang lalu. Kelahirannya dianggap sebagai berkah bagi Tiga Alam. Song Qian berguru kepada Qian Gu untuk menguasai tiga elemen kekuatan semesta yang sudah ia miliki sejak lahir.
Namun, Qian Gu dan Song Qian tidak tahu apa saja rintangan yang akan menghampiri mereka di masa depan. Seiring berjalannya waktu, mereka berdua mulai jatuh cinta. Banyaknya rintangan membuat mereka harus berjuang bersama-sama untuk terus bersatu dan melindungi Tiga Alam bersama dengan Dewa Agung lainnya serta melindungi cinta di hati mereka.
Apakah Song Qian dan Qian Gu dapat mencapai tujuan mereka untuk melindungi Tiga Alam sekaligus cinta di hati mereka atau mereka harus mengorbankan segalanya untuk memberikan kedamaian bagi Tiga Alam? Ikuti terus kisahnya!
Dilarang menjiplak novel ini!!!
IG : @bellakristyc_
E-mail : bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cara Menghibur Suku Siluman
Pertarungan Tiga Elemen dan Rahasia Cermin Ilusi Chang Yuan
Hawa dingin Rawa Yuanling makin merayap menusuk tulang seiring larutnya malam. Suara derit pilar kayu pondok sesekali terdengar dihantam hembusan angin berlumpur dari luar.
Gu Long, Sang Raja Siluman Naga Bersisik, melangkah mendekati sebuah lemari kayu tua di sudut ruangan. Ia berbalik menatap tamu agungnya dengan pandangan penuh rasa hormat.
"Dewa Agung, hari ini sudah sangat malam. Suhu rawa di luar bisa membekukan darah dewa muda. Kau bisa beristirahat di atas kasurku," ucap Gu Long seraya menunjuk balai-balai kayu berlapisan kain tipis yang menjadi tempat tidurnya.
Song Qian mendongak, dahinya berkerut cemas. "Tidak boleh. Kalau aku tidur di atas kasurmu, lalu kau sendiri akan tidur di mana?"
Gu Long tersenyum tipis, menggeleng pelan. "Aku ini seekor naga bersisik, Dewa Agung. Tubuhku sudah terbiasa dengan kerasnya alam bawah. Tidak masalah bagiku untuk tidur di atas lantai kayu ini."
Tanpa menunggu perdebatan lebih panjang, Gu Long membuka pintu lemari tua tersebut. Dari dalam, ia mengeluarkan dua helai selimut kain tebal bertumpuk yang masih terawat baik.
"Ngomong-ngomong, Dewa Agung..." Gu Long menyodorkan selembar selimut tebal ke tangan kanan Song Qian. Tangannya berhenti sejenak di udara, matanya memancarkan pendar antusiasme. "...maukah kau berduel denganku besok pagi?"
Song Qian menerima selimut itu, tertegun sejenak sebelum akhirnya menyunggingkan senyuman cerah. "Boleh! Berduel denganku? Sepertinya itu akan sangat menyenangkan!"
"Baiklah. Aku akan menunggumu di halaman depan pondok besok pagi, tepat pukul tujuh saat kabut rawa mulai menipis," ujar Gu Long menyanggupi.
"Sepakat!" sahut Song Qian mantap.
Namun, begitu Song Qian merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menyelimuti dirinya, gejolak cemas merayapi benak pemuda itu. Ia menatap langit-langit pondok yang kusam.
Berduel? batin Song Qian khawatir. Meski aku dianugerahi tiga elemen kekuatan semesta, jujur saja aku belum bisa mengendalikan energi ini dengan sempurna. Semoga saja besok aku tidak melukai Sang Raja Naga Bersisik...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sinar matahari pagi di Alam Siluman memang tak sehangat di Alam Dewa, namun pancarannya sudah cukup terang menembus kabut tipis Rawa Yuanling. Meskipun jarum waktu sudah melewati pukul tujuh pagi, Song Qian masih terlelap menggulung diri di balik selimut tebal.
Gu Long yang sudah siap sejak fajar terpaksa masuk kembali ke dalam pondok. Ia memanggil nama pemuda itu berulang kali dengan sabar.
"Dewa Agung... Dewa Agung Song Qian, bangunlah," panggil Gu Long pelan.
Song Qian mengerjap-ngerjapkan matanya, menguap lebar seraya mengulurkan tangannya secara refleks—kebiasaan uniknya sejak kecil. Gu Long yang memahami isyarat tersebut segera menggenggam tangan Song Qian, membantunya bangkit berdiri dari peraduan, lalu membantunya menyiapkan jubah dan merapikan pakaiannya.
"Dewa Agung, akhirnya kau bangun juga," kekeh Gu Long ramah.
Song Qian menggosok matanya seraya tersenyum lebar. "Aku sudah berjanji akan berduel denganmu hari ini, tentu saja aku harus menepati perkataanku!"
"Bagus sekali!" Gu Long berbalik dan menarik sebilah pedang berukir sisik naga yang sangat tajam dari sarungnya. Kilaunya memantulkan cahaya dingin. "Kau sudah selesai berganti baju. Apakah kau sudah siap untuk berduel sekarang?"
"Tentu saja! Ayo kita pertunjukkan kemampuan kita di luar!" ajak Song Qian bersemangat.
Mereka berdua melangkah ke pelataran berlumpur di depan pondok. Sebelum mengambil aba-aba, Gu Long meneliti tangan kosong Song Qian dengan kening berkerut.
"Dewa Agung, apakah kau tidak membutuhkan senjata? Meskipun kau menguasai tiga elemen kekuatan semesta, rasanya tidak adil jika kau melawanku yang menghunus sebilah pedang tajam."
"Tidak apa-apa, aku punya benda ini," sahut Song Qian santai. Dari balik lipatan jubah putihnya, ia mengeluarkan sebuah pisau kecil bertatahkan giok—benda pemberian Qian Gu sebelum ia turun ke Rawa Yuanling.
Gu Long tersenyum melihat pisau kecil yang tampak tak seimbang dengan pedang naganya. "Baiklah kalau begitu. Mari kita mulai duel hari ini!"
"Ayo!" seru Song Qian penuh antusias.
Kedua sosok itu bertarung di atas tanah rawa. Sesuai kesepakatan awal, pertarungan ini hanyalah uji ketangkasan. Mereka berjanji untuk tidak saling melukai secara mematikan. Siapa pun yang terdorong keluar dari garis lingkaran yang telah digambar Gu Long di atas tanah berlumpur, Dialah yang dinyatakan kalah.
Gu Long mengayunkan pedangnya dengan sabetan-sabetan cepat, namun Song Qian dengan lincah melompat dan menghindar layaknya seekor burung walet.
"Dewa Agung, kenapa kau hanya menghindar dan tidak menggunakan kekuatan langkamu itu?" tanya Gu Long seraya mengernyitkan dahi. Ayunan pedangnya tertahan di udara.
Song Qian menatapnya tulus. "Gu Long, aku tidak ingin melukaimu dengan energi yang belum sepenuhnya terkuasai ini."
Mendengar hal itu, timbul keraguan kecil di dalam dada Gu Long. Lantas, bagaimana aku bisa membuktikan apakah kau benar-benar Dewa Agung yang diramalkan itu, atau hanya seorang musuh yang menyamar untuk mengelabuiku? batin Gu Long penuh tanya.
Gu Long menegakkan posisinya, menatap Song Qian tajam namun penuh rasa hormat. "Dewa Agung, kau tidak perlu mengkhawatirkanku! Suku Naga memiliki daya tahan tubuh yang sangat kuat. Aku justru ingin menyaksikan seberapa hebat kekuatan Tiga Elemen Semesta milikmu! Kerahkanlah seluruh kemampuanmu untuk melawanku!"
Song Qian menatap kesungguhan di mata Gu Long. "Baiklah... kalau kau yang memintanya!"
Seketika, aura di sekitar Song Qian berubah! Pemuda itu menyunggingkan senyum tipis. Dengan satu kibasan tangan kanan, kilatan Petir membubung menyambar pergelangan tangan Gu Long hingga pedang naganya terlepas menancap di tanah!
Belum sempat Gu Long pulih dari rasa terkejutnya, Song Qian menghentakkan kaki. Percikan Api surgawi melesat membakar sedikit ujung jubah hitam Gu Long. Dan sebagai penutup, Song Qian menyemburkan aliran Air murni yang sejuk langsung membasahi seluruh wajah Sang Raja Naga!
"Dewa Agung! Tolong lepaskan aku! Aku mengaku kalah!" seru Gu Long panik seraya mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Ia berlutut di atas tanah rawa, menundukkan kepalanya penuh kepatuhan.
Song Qian menghentikan alir energinya, menatap Gu Long dengan raut sedikit kecewa. "Aku bahkan belum selesai mengeluarkan separuh dari kemampuanku... kenapa kau sudah menyerah duluan?"
"Dewa Agung Song Qian... kelak kau pasti akan menjadi dewa terkuat di seluruh Alam Langit," puji Gu Long tulus dari dasar hatinya. "Gu Long memberi hormat yang setinggi-tingginya kepadamu."
Song Qian melangkah mendekat dan memegang bahu Gu Long. "Berdirilah, Gu Long. Sebenarnya aku ingin meminta bantuan padamu."
Gu Long segera bangkit, mengusap sisa air di wajahnya. "Katakan saja, Dewa Agung. Apa pun itu, aku pasti akan membantumu!"
"Apa yang paling disukai oleh seluruh suku siluman di Rawa Yuanling ini?" tanya Song Qian terus terang. "Bagaimana cara terbaik untuk menghibur mereka semua?"
Gu Long terdiam sejenak, menatap hamparan rawa yang luas. "Sebenarnya, keinginan dan kesukaan kami masing-masing berbeda, Dewa Agung. Hanya saja... selama puluhan ribu tahun ini, Rawa Yuanling selalu dipandang sebelah mata oleh Istana Langit. Mahadewa Semesta juga sudah sangat lama tidak menginjakkan kaki di sini, membuat kami tidak memiliki kesempatan untuk menyampaikan aspirasi dan isi hati kami."
"Sekarang aku ada di sini," potong Song Qian mantap. "Tolong beri tahu aku, bagaimana caraku agar bisa membawa kebahagiaan bagi mereka?"
"Suku siluman memang tidak bisa selalu hidup berdampingan di satu tempat, namun kami memiliki ikatan kesetiaan kawan yang sangat erat," jelas Gu Long lembut. "Aku tidak berani meminta kemewahan apa pun dari Dewa Agung maupun Mahadewa Semesta. Namun jika kau sungguh-sungguh ingin menghibur kami... cukup tunjukkan perasaan dan kasih sayangmu yang paling tulus kepada kami."
"Itu saja?" Song Qian mengangguk paham. "Kalau begitu, bisakah kau memberiku peta wilayah Rawa Yuanling agar aku bisa mengunjungi mereka satu per satu?"
Gu Long menggelengkan kepala seraya tersenyum hangat. "Kau tidak perlu merepotkan dirimu mengelilingi rawa yang berbahaya ini, Dewa Agung. Di Istana Langit, terdapat sebuah cermin tempat ilusi yang merekam seluruh denyut kehidupan suku siluman Rawa Yuanling. Kau hanya perlu menyalurkan perasaan tulusmu melalui tempat ilusi itu... dan kami semua di Rawa Yuanling pasti akan sanggup merasakannya."
Song Qian tertegun. Tempat ilusi di Istana Langit? Sejak lahir hingga detik ini aku dibesarkan di Istana Chang Yuan, tapi kenapa aku tidak pernah tahu ada tempat ilusi seperti itu? Di sebelah mana bangunan itu berada? batin Song Qian heran.
"Baiklah! Terima kasih banyak atas petunjukmu, Gu Long!" sahut Song Qian dengan senyum lebar, melambaikan tangan kanannya. "Kalau begitu, aku harus segera kembali ke Istana Langit sekarang. Sampai jumpa lagi, Gu Long!"
Song Qian berbalik dan melangkah cepat meninggalkan rawa. Di batas perbatasan gerbang Alam Siluman, ia kembali bertemu dengan penjaga berzirah hitam.
"Dewa Agung Song Qian, apakah kau sudah hendak kembali ke Alam Langit?" tanya Qian Long seraya membungkuk hormat.
"Benar. Terima kasih banyak atas bantuanmu, Qian Long. Tolong jaga Rawa Yuanling dan suku siluman di sini baik-baik, ya!" ujar Song Qian hangat seraya menepuk pelan pundak kanan Qian Long.
"Baik, Dewa Agung! Selamat jalan!" balas Qian Long tersenyum bangga.
Dengan satu hentakan energi surgawi, tubuh Song Qian melesat membelah awan, meninggalkan Alam Bawah menuju Istana Langit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pendar cahaya emas menyapa kedatangan Song Qian saat kakinya kembali memijak pelataran Istana Langit. Saat sedang berjalan menyusuri lorong pilar giok, matanya menangkap sosok dewa bergaun keemasan yang berjalan terburu-buru.
"Dewa Agung Zhi Jie!" seru Song Qian seraya berlari cepat mengejar langkah Zhi Jie.
Zhi Jie menghentikan langkahnya, menoleh dengan raut wajah kebingungan. "Song Qian? Kenapa kau bisa berada di luar Istana Chao Sheng sepagi ini?"
Song Qian menetralkan napasnya, lalu menyunggingkan senyuman lebar. "Mahadewa Semesta memberiku tugas untuk menghibur suku siluman di Rawa Yuanling. Setelah aku datang ke sana, Raja Naga Gu Long memberi tahu bahwa di Istana Langit ada sebuah tempat ilusi kehidupan siluman yang bisa kugunakan untuk menyalurkan perasaanku. Apakah Dewa Agung tahu di mana letak ilusi itu?"
Mendengar kata ilusi, perubahan raut wajah Zhi Jie terlihat sangat jelas. Ada keraguan dan ketegangan mendalam yang menyelimuti matanya.
"Tempat ilusi itu... memang ada," tutur Zhi Jie pelan, suaranya terdengar ragu. "Namun... tempat ilusi itu tersembunyi di dalam Istana Chang Yuan."
Song Qian terperanjat hebat. "Apa?! Di dalam Istana Chang Yuan?! Tapi aku tinggal di sana selama lima ratus tahun bersama Kak Bai Yuan, dan aku tidak pernah melihat atau menemukan cermin ilusi itu!"
"Itu karena Bai Yuan sengaja menyembunyikan dan tidak pernah mengaktifkan ilusinya," terang Zhi Jie menjelaskan. "Kau harus meminta izin secara khusus kepadanya jika ingin melihat dan mengaktifkan ilusi itu."
"Baiklah! Terima kasih banyak, Dewa Agung!" tanpa membuang waktu, Song Qian membalikkan badan dan berlari kencang menuju arah Istana Chang Yuan.
Tak lama setelah sosok Song Qian menghilang di balik belokan lorong, sosok dewa berpakaian santai melangkah keluar dari balik pilar emas. Dialah Tian Zi, yang sedari tadi menyimak percakapan tersebut.
"Anak itu langsung berlari begitu saja?" tanya Tian Zi penasaran seraya bersedekap dada. "Zhi Jie... menurutmu, apakah Bai Yuan akan sudi mengabulkan permintaannya untuk mengaktifkan kembali ilusi kelam itu?"
Zhi Jie menatap lurus ke arah lorong kosong tempat Song Qian berlari, lalu menghembuskan napas panjang yang amat berat.
"Entahlah... Namun bagaimanapun juga, ini adalah bagian dari ujian yang diperintahkan oleh Qian Gu. Kemungkinan besar, Bai Yuan akan mempertimbangkan untuk membuka kembali ilusi masa lalu tersebut."
Rahasia kelam apakah yang disembunyikan oleh Dewa Perang Bai Yuan di dalam ruangan ilusi Istana Chang Yuan? Dan bayangan masa lalu mengejutkan seperti apa yang akan disaksikan oleh Song Qian tentang hubungan sejati antara Mahadewa Qian Gu dan Kakak Bai Yuan di masa muda mereka?
Bersambung......
Halo semuanya, terima kasih sudah mampir ke novel ini. Kalau kalian suka dengan ceritanya, boleh kasih like, vote, tips, dan tambahkan novel ini ke favorit ya. Kalau ingin memberikan kritik dan saran, silakan tulis di kolom komentar ya. Ikuti terus kisah Song Qian sampai selesai.