Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.
Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.
Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 6
BAB 6
"Industri nyata tidak sedatar atau seaman ruang kelas pameran kampus, Maya. Di dunia profesional yang keras, keindahan karya butuh ekosistem, sokongan kapital, dan perlindungan. Tanpa itu semua, karya seindah apa pun sangat rapuh dan mudah 'dilenyapkan'."
Kata 'dilenyapkan' diucapkan Victor dengan penekanan yang janggal. Napasnya terhenti sejenak, membuat kata itu memantul liar di dinding ruang tunggu. Maya merasakan desiran dingin yang mendadak merayap di tengkuknya. Intimidasi terselubung itu begitu nyata, menyiratkan bahwa persaingan ini bukan lagi sekadar pertarungan estetika di panggung runway. Ancaman itu menyasar pada hal yang paling berharga baginya: keselamatan studionya dan keberlanjutan karya-karyanya.
Tepat saat ketegangan di antara mereka mengental, pintu kaca tebal ruang tunggu terbuka. Rendra melangkah masuk dengan clipboard dan map laporan teknis di tangannya. Sebagai konsultan khusus yang diundang langsung oleh dewan juri untuk menilai kelayakan material, kehadiran dan langkah kakinya yang tenang mendadak memotong hawa panas yang mengepung ruangan.
Pandangan Victor langsung beralih pada Rendra. Ada sorot kejengkelan dan superioritas yang coba disembunyikan oleh investor kaya itu. Bagi Victor, kehadiran Rendra di posisi penting penjurian adalah batu sandungan yang tidak menyenangkan.
"Ah, Rendra," sapa Victor dengan senyum dingin. "Konsultan kerajinan kesayangan dewan juri. Kau masih saja sibuk mengurusi detail teknis dan potongan tempaan logam yang sebenarnya tidak bernilai jual tinggi di pasar global?"
Rendra berhenti, memegang clipboard-nya dengan satu tangan. Ia menatap Victor tanpa riak emosi sedikit pun, lalu melirik sekilas pada Clarissa yang mendadak mengetatkan bibirnya rapat-rapat.
"Bagi seorang spekulan bisnis, keaslian material murni memang tidak berharga dibanding angka-angka dividen," jawab Rendra santai, namun kata-katanya menghantam tepat di jantung ego Victor. "Tapi bagi dewan juri dan seorang kreator sejati, presisi serta kejujuran karya adalah standar mutlak yang tidak bisa ditawar dengan uang."
Clarissa meremas tali tas tangannya erat-erat. Memori pahit masa lalu mendadak berputar kembali di kepalanya. Di tahun akhir kuliah dulu, ketika Clarissa frustrasi karena sketsa proyek tugas kerjasamanya tertinggal jauh dibanding milik Maya, ia pernah mencoba memanfaatkan Rendra—yang saat itu merupakan mahasiswa olahan logam terbaik di jurusan sebelah—untuk membuatkan ornamen eksklusif agar karyanya bisa mendominasi panggung evaluasi akhir. Namun, Rendra menolak tawaran dana besar Clarissa secara mentah-mentah di depan mahasiswa lain, menyebut pendekatannya "transaksional dan manipulatif". Penolakan terbuka Rendra saat itu menjadi salah satu titik pemicu rasa malu terbesarnya, membuat rasa benci Clarissa membakar dua arah: membenci Maya karena bakat alaminya, dan membenci Rendra karena penolakannya yang tak tergoyahkan.
"Kau masih sama kaku dan sombongnya seperti saat di kampus dulu, Rendra," desis Clarissa pelan, suaranya dipenuhi pahitnya kekecewaan yang tak sepenuhnya tertutupi.
"Dan kau tidak banyak berubah, Clarissa," balas Rendra datar, menatap mata Clarissa tanpa gentar sedikit pun. "Masih sibuk meminjam validasi dari pengaruh orang lain."
Ruangan mendadak menjadi sangat hening. Petugas verifikasi di balik meja bahkan terhenti mengetik, menyadari kedudukan Rendra sebagai tim ahli juri yang posisinya berada di atas para peserta.
Maya menatap Rendra dengan pendar mata yang campur aduk. Ada rasa takjub terselubung melihat bagaimana Rendra secara konsisten berdiri tegak memegang prinsipnya—baik sebagai sesama kreator dulu, maupun sebagai pihak independen yang memegang kendali penilain saat ini. Di balik sifat dingin dan kata-katanya yang sering kali mengiris hati, Rendra memiliki benteng integritas yang sangat kokoh.
Rendra memberikan catatan supervisi singkat pada petugas panitia di meja verifikasi. Sebelum berbalik dan melangkah keluar ruang tunggu menuju ruang rekapitulasi juri, pandangannya sekilas tertuju pada Maya yang masih terpaku di tempat duduknya.
"Selesaikan proses verifikasimu, Maya," ucap Rendra pelan, suaranya kembali datar seperti biasa. "Kebuntuan idemu tidak akan terurai kalau kau membuang energi mendengarkan omong kosong di ruangan ini." Rendra berlalu begitu saja, meninggalkan pintu kaca yang mengayun pelan di balik punggungnya.
Maya menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, memegangi dadanya yang berdenyut tidak beraturan. Di dalam ruang interior pikirannya, persaingan bisnis ini mendadak terasa jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan. Mengapa Rendra selalu hadir di setiap titik krisis emosionalnya? Dan mengapa benteng pertahanan dirinya selalu goyah setiap kali mata pria itu menatapnya dengan kedalaman rasa yang seolah menyimpan riwayat waktu yang teramat panjang?.
Nia menepuk pelan bahu Maya, memutus pergolakan batin yang tengah menyelimuti pikiran sahabatnya itu. Menyadari atmosfer ruang tunggu yang sudah terlanjur keruh dan tidak lagi kondusif, Dito bergerak cepat mengambil alih sisa lembar verifikasi dari tangan petugas, memosisikan dirinya sebagai perisai untuk mengakhiri konfrontasi tak berdarah tersebut. Dengan isyarat mata yang tegas, Dito mengajak mereka berdua untuk segera meninggalkan ruangan.
Maya mengangguk samar, memaksakan jemarinya yang dingin untuk merapikan alat tulis dan memasukkan dokumen ke dalam tas. Saat berdiri dari sofa kulit, ia sempat menyapu pandangan ke sudut ruangan. Clarissa masih berdiri kaku di samping Victor dengan wajah menyiratkan rasa puas yang tertahan, seolah-olah gertakan terselubung mereka baru saja memenangkan satu babak pertempuran. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Maya melangkah mantap menyusuri lantai marmer, melewati pintu kaca tebal yang beberapa saat lalu dilewati oleh Rendra.
Langkah kaki mereka bergema pelan di sepanjang koridor eksklusif gedung pameran yang megah. Udara pendingin ruangan yang menusuk seakan tak mampu mengusir rasa hangat dari amarah dan rasa cemas yang berkecamuk di dalam dada Maya. Nia terus berjalan di sampingnya sembari bergumam gusar, mengutuk kelakuan kotor Clarissa dan intimidasi murah yang ditunjukkan oleh Victor. Namun, seluruh ucapan Nia hanya terdengar bagaikan dengung samar di telinga Maya.
Kecemasan mendalam mulai menjalar perlahan dari tengkuk hingga ke ujung jemarinya. Maya tahu betul bahwa kata-kata Victor mengenai rapuhnya sebuah karya tanpa sokongan kapital bukan sekadar ancaman kosong di udara. Dalam dunia profesional yang dingin, idealismenya tengah dipertaruhkan di atas jurang yang sangat curam.
Saat pintu keluar otomatis terbuka dan menyambut mereka dengan hiruk-pikuk suasana kota, Maya memejamkan mata sejenak. Angin siang yang hangat menerpa wajahnya, namun hawa dingin di dalam dadanya tidak juga menguap.Ia tidak pernah menyangka bahwa persaingan menuju panggung Tiga Besar akan menuntut ketahanan mental sejauh ini. Tekanan fisik, beban emosional, serta ketakutan terselubung yang terkumpul hari itu perlahan menyatu—membentuk benih kelumpuhan jiwa yang dalam dua hari ke depan siap melumpuhkan seluruh kreativitasnya dan mengubah ruang kerjanya menjadi kuburan kertas sketsa.
Maya mengepalkan jemarinya di balik saku blazer. Di dalam kepalanya, bayangan lembaran sketsa yang robek, tatapan dingin Victor, dan gaun sutra hitamnya berputar menjadi satu pusaran kelam. Jika ia tidak bisa menemukan kembali pijakan otentik untuk idenya malam ini, maka gaun utamanya untuk babak pembuktian nanti tak akan lebih dari sekadar selembar kain tanpa jiwa yang siap dihancurkan lawan-lawannya,