【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32- Nandut, Antet, dan Sepasang Sepatu
Masa-masa awal pacaran kami di kelas X IPA 2 diwarnai oleh hal-hal kecil yang manis dan agak konyol. Karena kami berdua punya kepribadian yang bertolak belakang—aku yang konyol dan dia yang pintar serta agak galak—panggilan sayang kami pun terkesan beda dari pasangan anak SMA pada umumnya.
Nara mendadak memberiku panggilan khusus: Nandut. Sampai detik ini, aku tidak pernah tahu pasti apa arti kata itu di kepalanya, tapi setiap kali mulutnya mengucapkannya dengan nada manja, dadaku rasanya hangat. Sebaliknya, aku memanggilnya Antet—singkatan buatanku sendiri yang artinya "pendek bantet", panggilan jahil yang selalu berhasil bikin pipinya merona merah karena gemas.
Suatu hari di pertengahan jam pelajaran Fisika yang membosankan, suasana kelas agak hening. Aku duduk di bangku belakang, sementara Nara yang duduk di barisan depan sempat berputar menyandarkan badannya ke arah mejaku.
Saat Pak Guru sibuk menulis di papan tulis, Nara mengambil pulpen hitamnya. Tanpa suara, dia menarik telapak tanganku yang tergelar di atas meja, lalu perlahan-lahan menggoreskan ujung pulpennya di kulit punggung tanganku.
Dia menuliskan dua huruf kapital dengan rapi: NA.
Aku memandangi dua huruf itu, lalu menatap wajah Nara. "Apaan nih, Ra? 'NA' itu apa?" bisikku berpura-pura polos dan tidak paham.
Nara meremas pulpennya, bibirnya sedikit memanyun gurat ngambek yang lucu. "Masa gak tahu sih, Nandut! Pikir aja sendiri!" bisiknya kesal sambil memutar badannya kembali ke depan.
Aku menyunggingkan senyum lebar di bangku belakang, menatap tulisan "NA" di kulit tanganku dengan perasaan bahagia yang tak terkira.
Memasuki bulan lahirku, ada satu momen yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Di kelas kami, sudah jadi budaya kalau ada anak yang ulang tahun pasti bakal dikerjai habis-habisan dari pagi.
Tapi seharian itu dari jam pertama sampai jam terakhir, suasana kelas tenang-tenang saja. Diko, Riski, dan anak-anak cowok lain bersikap sangat biasa. Bahkan Nara pun tidak mengucapkan apa-apa. Di dalam hati, aku merasa lega dan gembira. Aman, gak ada yang ingat ulang tahunku, pikirku polos saat itu.
Ternyata dugaanku salah besar.
Sore harinya usai jam sekolah tuntas, kelas kami punya agenda pengisian nilai praktik olahraga renang di salah satu kolam renang umum kota. Suasana di area kolam riuh oleh celoteh anak-anak kelas X IPA 2 yang bergantian mengambil nilai gaya bebas.
Begitu sesi pengambilan nilai selesai dan aku berjalan naik ke tepi kolam sambil mengeringkan badan dengan handuk, bencana manis itu dimulai.
Tiba-tiba, Diko dan seluruh anak cowok di kelas mengepungku. Sebelum sempat aku pasang kuda-kuda silat, tubuhku sudah diangkat ramai-ramai oleh mereka!
BYURRR!
Tubuhku dilempar telak ke tengah kolam renang. Begitu aku berenang kembali ke tepi dan mencoba memanjat naik, anak-anak cowok menahanku, mengangkat tubuhku lagi, lalu menghempaskannya kembali ke air! Berulang kali mereka menguntal tubuhku ke dalam kolam sampai napasku terengah-engah dan seluruh tenagaku terkuras habis lemas.
Dalam kondisi lemas berkelelahan dan basah kuyup, Diko dan anak-anak menarikku ke tepi kolam, lalu mengikat kedua tanganku di salah satu tiang peneduh area renang. Aku cuma bisa pasrah sambil tersenyum tipis meratapi nasib.
Saat aku berdiri bersandar lemas di tiang itu, gerombolan anak cewek melangkah mendekat dari arah ruang ganti.
Di barisan paling depan, sosok Nara berjalan pelan. Kedua tangannya memegang sebungkus kue ulang tahun sederhana dengan lilin kecil yang menyala terang di atasnya. Senyum manis mewarnai wajah cantiknya yang diterpa sinar matahari sore.
Nara menghentikan langkahnya tepat di hadapanku. Matanya memancarkan kehangatan yang amat tulus.
"Selamat ulang tahun sayang..." bisik Nara lembut sambil tersenyum paling manis di depan semua teman-teman kelas.
Anak-anak sekelas langsung bersorak dan bertepuk tangan heboh di sekitar kolam renang. Diko melepaskan ikatan tali di tanganku. Dengan napas yang masih agak terengah-engah dan tubuh basah kuyup, aku menatap mata Nara, membalas ucapan itu dengan senyuman paling bahagia yang pernah kukiaskan.
Nara kemudian menyerahkan sebuah kotak kado bertali pita kepadaku. Saat aku membukanya di tempat, mataku berbinar: sepasang sepatu dengan model dan warna yang sudah lama sekali kukagumi dan kuimpikan.
(Catatan: Sepatu itu kelak menjadi saksi bisu perjalanan hidupku. Meskipun bertahun-tahun kemudian sepatunya sudah rusak, bahkan usai aku dan Nara tamat sekolah dan menempuh jalan masing-masing, sepasang sepatu pemberian Antet itu tetap kusimpan rapi sebagai kenangan paling berharga dalam hidupku.)
(Catatan Masa Kini)
Nara... Antet-ku yang dulu...
Kalau waktu bisa diputar kembali, aku cuma ingin menyampaikan satu hal yang tidak pernah sempat terucap secara utuh di masa SMA kita.
Terima kasih untuk panggilan 'Nandut', untuk coretan tulisan 'NA' di punggung tanganku yang bikin aku tersenyum sendiri seharian, dan untuk sepasang sepatu yang sampai detik ini masih tersimpan rapi di sudut kenanganku.
Jauh di masa depan, bahkan saat kita sudah menempuh jalan kuliah dan jarang bertukar kabar, ada satu momen yang tak pernah pudar dari ingatanku. Saat itu, aku memboncengmu naik sepeda motor menyusuri jalanan kota, melintasi depan rumah sederhanaku.
Di balik punggungku, kamu menyandarkan kepalamu pelan sambil berbisik halus: "Itu rumah calon mertuaku, hehehe..."
Kalimat singkat itu, Nara... pernah menjadi alasan terbesarku untuk percaya bahwa cinta pertama anak SMA bisa bertahan selamanya. Walau takdir pada akhirnya menuntun kita ke dermaga yang berbeda, bagian dari hatiku akan selalu bersyukur pernah dicintai oleh cewek sepintar dan sejelita kamu.