Yurinika tak mengira akan di labrak oleh selingkuhan suaminya. bukan hanya sekali tapi berkali-kali selingkuhannya itu datang dan melabrak dia. memintanya meninggalkan sang Suami Abimana. pria bingung itu justru tak mau meninggalkan keduanya.
hingga akhirnya Yuri benar-benar kecewa kepada Abimana dan saat tahu Sandra adalah anak dari atasannya di kantor membuat Yuri memiliki ide untuk memanfaatkannya.
apa yang akan di lakukan Yuri atas rasa kecewa yang dia dapat dari suami yang sudah dia bersamai dari titik nol sampai mereka menikah dua tahun? ikuti terus ceritanya.
dan jangan lupa baca karya othor lainnya dengan mencari nama pena Yam_zhie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yurinika 17
Belum sempat Yuri memikirkan lebih jauh ucapan Adhiyaksa, suara deru mesin mobil yang agak kasar berhenti tepat di depan kedai. Sebuah sedan putih kusam yang sangat Yuri kenal terparkir canggung di area drop off.
Tak lama, pintu kaca kedai terdorong terbuka. Abimana melangkah masuk dengan senyum terkembang lebar yang sengaja dipamerkan. Penampilannya tampak agak dipaksakan rapi, kemeja kerjanya digulung hingga siku, dasinya sudah dilepas, dan rambutnya tersisir klimis. Pria itu membusungkan dada, memasang gaya bak suami sukses yang datang menjemput istri tercinta.
"Dek!" sapa Abimana dengan suara bass yang sengaja dikeras-keras, seolah ingin menarik perhatian seluruh kedai. Ia berjalan cepat menghampiri meja bar, lalu berniat menggenggam jemari Yuri di atas meja.
Dengan gerakan halus dan natural, Yuri berpura-pura menggeser mesin EDC dan merapikan catatan kasir, menyebab cengkeraman Abimana meleset begitu saja.
"Mas Abi?" respon Yuri dengan nada terkejut yang dibuat-buat, memasang topeng patuh andalannya.
"Datang jam segini? Bukannya katanya masih ada urusan kantor?"
"Urusan kantor bisa menunggu, Dek," jawab Abimana anggun, menyandarkan sikunya di atas meja bar seraya melemparkan kerlingan sok tampan.
"Suami mana yang tega ngebiarin istrinya pulang sendirian kalau lagi ada rezeki? Kan Mas sudah janji tadi di telepon... malam ini kita makan malam romantis, terus lanjut belanja bahan makanan sepuasnya buat isi kulkas rumah!"
Ajeng yang berdiri di samping Yuri mendadak berdehem keras, pura-pura tersedak air liur untuk menutupi rasa mualnya melihat tingkah Abimana.
"Aduh, maaf ya, Mas Abi... tenggorokan saya gatal tiba-tiba," serobot Ajeng dengan senyum sinis yang ditahan mati-matian.
"Wah, Mbak Yuri beruntung banget ya, punya suami yang mendadak loyal dan royal gini."
Abimana terkekeh sombong, sama sekali tidak menyadari sindiran tajam Ajeng. "
Ah, biasa aja, Jeng. Namanya juga memanjakan istri sah. Ya sudah, Dek, kamu ganti baju dulu gih. Mas tunggu di mobil."
"Iya, Mas... aku ambil tas dulu ya di belakang," sahut Yuri penurut.
Saat Yuri berjalan ke ruang belakang, ponsel di saku celananya bergetar pelan. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal, nomor Sandra masuk dengan nada frustrasi yang luar biasa:
[Sandra]: Yurinika! Aku udah di rumah! Aku minta waktu untuk mengirim uangnya padamu! Jangan berani-berani kamu sebar video itu!
Yuri mengulas senyum miring yang begitu dingin di kegelapan ruang staf. Jemarinya bergerak mengetik balasan singkat namun mematikan:
[Yuri]: baiklah... Aku tunggu Sandra!"
"Ngebet sekali dia kepada Mas Abi... Memangnya apa saja yang sudah mereka lakukan sampai Sandra menginginkan Mas Abi?" batin Yuri sakit.
Setelah memencet tombol send, Yuri merapikan penampilannya di depan cermin, menghembuskan napas pelan, lalu berjalan keluar menghampiri Abimana yang sudah menunggu di balik kemudi mobil.
Mobil sedan Abimana membelah kemacetan malam menuju sebuah restoran casual dining ternama. Di sepanjang jalan, Abimana tak henti-hentinya membual tentang betapa kerasnya ia bekerja di kantor demi masa depan mereka.
"Kamu tenang aja, Dek," ujar Abimana menepuk-nepuk paha Yuri seraya menyetir.
"Tahun ini jabatan Mas pasti naik jadi Manajer Utama. Soal KPR rumah itu, nanti begitu bonus tahunan cair, Mas bakal langsung tutup cicilannya sekaligus. Kamu nggak perlu pusing-pusing lagi memikirkan uang."
"Masa sih, Mas? Kok cepet banget kamu bisa naik jabatannya?" tanya Yuri dengan nada polos yang sangat mengagumi.
"Tapi bukannya kata Mas kemarin kartu kredit Mas lagi batas limit?"
Wajah Abimana sempat menegang sekilas, namun dengan cepat ia mengibaskan tangannya santai.
"Ah, masalah kartu kredit? itu cuma salah paham sistem bank aja! Malam ini Mas bayar pakai uang tunai hasil komisi cair. Kamu tinggal duduk manis dan pilih makanan paling mahal di menu."
Di dalam restoran, Abimana benar-benar berakting total. Ia memesan dua porsi ribeye steak kualitas tinggi, minuman segar, dan pencuci mulut mahal. Pria itu tampak begitu menikmati peran sebagai "pria berkuasa dan kaya", tanpa tahu bahwa uang tunai yang tersisa di dompetnya adalah uang operasional terakhir yang ia miliki.
Selesai makan malam, mereka langsung menuju supermarket megah yang terletak di seberang restoran.
Abimana mendorong troli belanjaan dengan dada membusung bangga. "Ayo, Dek! Ambil apa aja yang kamu mau. Daging sapi impor, buah-buahan segar, bumbu-bumbu mahal... pokoknya kulkas kita harus penuh!"
Yuri memainkan perannya dengan sangat sempurna. Ia berpura-pura ragu, sesekali menunjuk bahan makanan mahal sambil berbisik.
"Mas... ini harganya agak mahal lho, yakin boleh diambil?"
"Ambil, Dek! Jangan kayak orang susah!" tawa Abimana keras, sengaja membiarkan pengunjung lain mendengarnya.
"Suami kamu ini sanggup bayar!"
Troli belanjaan makin menggunung. Mulai dari daging wagyu, keju impor, susu segar, hingga perlengkapan dapur mahal bertumpuk tinggi.
Di depan kasir supermarket yang megah, troli belanjaan mereka berdua yang menggunung akhirnya selesai dihitung. Kasir tersenyum ramah seraya menatap layar komputer yang menampilkan angka fantastis.
"Total belanjaannya seluruhnya dua juta delapan ratus ribu rupiah ya, Pak," ucap kasir tersebut sopan.
Abimana mengungkit dagunya sedikit, menikmati tatapan beberapa pengunjung lain di antrean belakang yang memperhatikan betapa banyaknya barang impor yang ia borong. Dengan percaya diri, pria itu merogoh dompet kulitnya. Namun, alih-alih mengeluarkan lembaran uang tunai yang tadi dibanggakannya, jemari Abimana menarik selembar kartu debit berwarna perak elegan dengan aksen platinum, kartu debit yang sama sekali belum pernah dilihat Yuri selama tiga tahun usia pernikahan mereka.
Yuri yang berdiri tepat di sampingnya menyipitkan mata, memperhatikan kartu itu dengan jeli.
'Kartu debit dari bank swasta papan atas. Sejak kapan Abimana punya rekening di bank itu?' batin Yuri, rasa curiganya mendadak melambung tinggi.
"Pakai ini ya, Mbak," ujar Abimana dengan senyum sok berwibawa, menyerahkan kartu platinum tersebut.
Kasir menerima kartu itu, lalu menggesekkannya ke mesin EDC. BEEP! Suara mesin menandakan transaksi berhasil tanpa hambatan sedikit pun.
"Transaksinya berhasil ya, Pak. Silakan masukkan PINnya," kata kasir menyerahkan tombol mesin EDC.
Abimana dengan cekatan menutupi tombol dengan telapak tangannya yang lain, mengetikkan enam angka rahasia secara sembunyi-sembunyi agar Yuri tidak bisa melihatnya.
BEEP! Transaksi Disetujui. Struk panjang tercetak mulus.
"Terima kasih banyak, Pak, selamat berbelanja kembali!"
Abimana menghembuskan napas lega yang coba ia sembunyikan rapat-rapat, lalu mengantongi kembali kartu debit misterius itu ke dalam dompetnya dengan gerakan cepat. Ia membusungkan dadanya, menatap Yuri penuh kebanggaan semu.
km udh gx bisa keluar dr cengkraman nenek lampir berkedok malaikat mu😏
knp km nekat ,, gila gilaan bersama nenek lampir ,, gila gilaan ,, gila gilaan ,,
lama2 km jd gila beneran Abimana😏😏😏