Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Zoey berubah menjadi mimpi buruk.
Di depan ratusan tamu undangan, sahabat yang paling ia percaya mengaku tengah mengandung anak calon suaminya.
Tak ingin keluarganya dipermalukan, Zoey melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia menarik tangan seorang pria asing yang kebetulan hadir sebagai tamu.
“Aku akan menikah dengannya.”
Pria itu adalah Damian, konglomerat tampan berusia tiga puluh delapan tahun yang dikenal dingin, berwibawa dan sulit didekati. Demi alasan masing-masing, mereka sepakat menjalani pernikahan tanpa cinta.
Namun, sesaat setelah resmi menjadi suami istri, Zoey dibuat syok oleh kenyataan yang sengaja tidak diberitahukan Damian. Pria itu adalah seorang duda dengan anak kembar berusia enam belas tahun.
Mampukah Zoey menaklukkan sang duda yang menutup hatinya sekaligus memenangkan hati kedua kembar nakalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20
Di balik meja kerja, Damian mengerutkan kening. Pagi ini, ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.
Pikirannya terus saja melayang ke rumah.
Penasaran, Damian akhirnya mengangkat gagang telepon kantornya dan menekan nomor kediaman utama.
“Lukas, ini aku. Apa yang sedang istriku lakukan sekarang?” tanya Damian begitu panggilannya terjawab.
“Saat ini Nyonya Zoey sedang dalam perjalanan menuju sekolah bersama tuan Victor dan nona Victoria.”
Damian nyaris saja tersedak saliva nya sendiri mendengar jawaban tersebut.
“Ke sekolah? Bersama mereka?” tanya Damian tak percaya. “Kau tidak sedang bercanda kan, Lukas? Anak-anak mau satu mobil dengannya? Mereka tidak kabur atau membuat kekacauan?”
“Saya berkata sejujurnya, Tuan. Mereka berangkat bersama. Saya rasa, nyonya Zoey punya cara tersendiri untuk mulai dekat dengan anak-anak anda. Bukankah seharusnya anda merasa senang, Tuan?”
Damian terdiam seribu bahasa. Alisnya bertaut tajam. Ini benar-benar terdengar mustahil. Victor dan Victoria adalah dua remaja yang luar biasa keras kepala dan sangat sulit didekati oleh siapa pun, bahkan oleh dirinya sendiri.
Mengapa dengan Zoey mereka bisa menurut begitu saja?
“Ini tidak masuk akal. Pasti ada yang tidak beres,” batin Damian curiga.
“Tuan? Anda masih di sana?” panggil Lukas khawatir karena tak kunjung mendapat respons.
Damian tersadar dari lamunannya. “Baiklah, kalau begitu. Terus awasi pergerakan mereka selama aku tidak berada di rumah. Hubungi aku jika ada sesuatu yang mencurigakan.”
“Baik, Tuan Besar.”
Sambungan terputus begitu saja.
Damian meletakkan gagang telepon dan menyandarkan punggung tegapnya ke kursi. Ia memijat pangkal hidungnya perlahan sembari terus bertanya-tanya, trik macam apa yang Zoey gunakan sampai-sampai ia bisa menaklukkan si kembar dan pergi ke sekolah bersama mereka?
Tiba-tiba, rasa bersalah muncul bersamaan di benaknya.
Zoey, wanita yang baru beberapa hari menjadi istrinya, sudah berani menginjakkan kaki ke sekolah anak-anaknya.
Sementara dirinya? Sebagai ayah kandung, seumur hidupnya Damian belum pernah sekali pun datang ke acara sekolah, mengambil rapor atau sekadar mengantar mereka ke gerbang.
“Apa aku susul saja ke sana?” gumam Damian pelan pada dirinya sendiri.
Bayangan buruk mendadak melintas di kepalanya. Si kembar itu sangat nakal. Dulu, mereka pernah mempermalukan babysitter dan guru les mereka habis-habisan di depan banyak orang.
Bagaimana jika sekarang mereka sedang merencanakan hal yang sama untuk mempermalukan Zoey di sekolah?
“Sial,” umpat Damian.
Di dorong rasa khawatir, Damian bangkit, menyambar kunci mobil, dan memutuskan untuk menyusul sang istri ke sekolah sebelum si kembar berulah kelewat batas.
****
Sementara itu, di ruangan Kepala Sekolah elit tempat si kembar bersekolah.
Zoey duduk dengan punggung tegak, berhadapan dengan pria paruh baya berkacamata tebal yang menjabat sebagai Kepala Sekolah.
Di saat yang sama, Victor dan Victoria sudah digiring masuk ke kelas masing-masing.
“Selamat pagi, Nyonya. Apakah anda benar ibu dari Victor dan Victoria Alfred?” tanya Kepala Sekolah itu dengan nada sopan.
“Ya, saya ibunya,” jawab Zoey lugas tanpa ragu sedikit pun.
Kepala Sekolah mengangguk-angguk pelan, raut wajahnya tampak sedikit canggung.
“Saya benar-benar tidak menyangka jika ibu dari si kembar ternyata masih sangat muda. Begini, Nyonya, mari kita langsung ke inti masalah. Ini adalah rekap nilai ujian dan absensi mereka selama semester ini.”
Kepala Sekolah mendorong sebuah map biru berisi hasil ujian Victor dan Victoria ke hadapan Zoey.
Zoey menerima map itu dan membukanya. Matanya menyapu deretan angka merah yang mendominasi setiap kolom mata pelajaran.
“Astaga, hancur sekali! Ini bahkan lebih buruk dari nilaiku saat aku malas belajar dulu. Sebenarnya apa yang anak-anak ini lakukan di sekolah selama ini sih? Tidur?” rutuk Zoey dalam hati sambil meringis tipis.
“Seperti yang anda lihat sendiri, Nyonya, nilai mereka sangat jauh dari standar kelulusan sekolah ini,” jelas Kepala Sekolah dengan nada prihatin. “Ujian kelulusan tinggal beberapa bulan lagi. Saya sangat khawatir kalau mereka tidak bisa lulus dan akan kesulitan melanjutkan ke universitas ternama.”
Zoey menutup map itu perlahan. “Nilai akademis memang penting, Pak. Tapi bagaimana dengan sikap mereka sehari-hari? Saya ingin tahu hal itu.”
Kepala Sekolah menghela napas sangat panjang, seolah berat untuk mengatakan kelakuan buruk si kembar yang berasal dari keluarga donatur terbesar sekolah itu.
“Tolong jujur pada saya, saya tidak akan marah atau menuntut pihak sekolah,” desak Zoey meyakinkan.
“Victor dan Victoria sering membolos di jam pelajaran, merundung siswa lain dan sering membuat keributan hampir setiap harinya. Victoria selalu menggunakan kekuasaannya sebagai ketua kelas untuk menghukum siswi yang tidak ia sukai. Sedangkan Victor, dia temperamental. Mungkin saja sekarang mereka sedang—”
Brak!
Pintu ruangan terbuka kasar.
“Gawat, Pak Kepala Sekolah!” potong seorang siswa berseragam olahraga yang masuk dengan napas ngos-ngosan, wajahnya pucat pasi.
Kepala Sekolah langsung berdiri. “Ada apa ini?! Kenapa masuk tanpa mengetuk?”
"Victor, Pak! Victor sedang menghajar Dante dari kelas sebelah di belakang gedung olahraga. Dante sudah babak belur berdarah-darah, tapi Victor tidak mau berhenti!” lapor siswa itu panik.
Wajah Kepala Sekolah menegang. Ia menoleh pada Zoey.
“Nyonya, sebaiknya anda tunggu di ruangan ini saja agar aman. Biar saya dan staf keamanan yang kesana melerai mereka.”
“Tidak bisa. Saya ibunya. Saya ikut ke sana sekarang!” tanpa menunggu persetujuan, Zoey melangkah cepat keluar ruangan, bersiap memberikan pelajaran langsung pada anak sambungnya yang hobi menggunakan otot itu.
Ayo.Zoey taklukan Victoria
ini Baru sarapan pagi
belum nanti malam
tiba tiba ribut lgi 🤣🤣🤭🤭
mulai rebutan perhatian zoey
belum nanti victoria