Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
Dan malam itu, doa Arga terkabul.
Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Melihat Arga yang masih mematung kaku dengan rahang mengeras, Adelia berdecak manja. Wanita itu bangkit, menarik tangan Arga dengan paksa agar duduk di sebelahnya di atas sofa.
"Sini dong, Mas. Kok malah bengong di situ?" Adelia sengaja menyandarkan kepalanya ke bahu Arga, memeluk lengan pria itu erat-erat sambil melirik sinis ke arah Nisa.
Arga tak bereaksi. Otaknya masih lumpuh, gagal mencerna pemandangan di mana istrinya—wanita yang selalu ia bentak namun tak pernah melawan—kini merendahkan diri di bawah kaki selingkuhannya.
Nisa melepaskan sepatu hak tinggi itu, meletakkannya dengan rapi di lantai, lalu berdiri perlahan. Wajahnya sedatar cermin, sama sekali tidak memancarkan kecemburuan melihat kemesraan murahan di depannya.
"Saya permisi sebentar untuk mengambilkan gaun yang lain. Silakan ditunggu," ucap Nisa sangat sopan, menunduk sedikit, lalu membalikkan badan dan keluar dari ruang VIP tersebut.
Begitu pintu tertutup, tawa Adelia meledak. Ia menepuk dada Arga dengan gemas.
"Gimana, Mas? Seneng nggak lihat pertunjukan tadi?" goda Adelia, matanya berbinar licik. "Perempuan jahat yang tega ngerebut kamu dari aku itu, sekarang cuma kerja jadi pelayan toko! Kasihan sekali, ya? Bener-bener menyedihkan."
Reta ikut menimpali, "Iya, Mas Arga! Cocok banget dia jadi babu. Tadi aja Adel suruh-suruh dia kayak jongos, dia nurut aja tuh!"
"Aku udah ngerjain dia dari tadi, Mas," lanjut Adelia bangga. "Aku suruh dia bolak-balik bawa gaun, dan jujur aja... aku masih belum puas. Bentar lagi aku bakal suruh dia berlutut pasangin sepatuku lagi."
Tangan Arga yang berada di atas paha tiba-tiba mengepal kuat. Dadanya bergemuruh hebat, menahan amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun.
"Jangan kelewatan, Del," desis Arga tajam, suaranya terdengar berat dan mengancam. "Cukup."
Adelia mengerucutkan bibirnya, melepaskan pelukannya dari lengan Arga. "Lho? Mas kok malah belain dia sih? Mas nggak usah ikut campur deh. Ini perang antar wanita. Aku cuma ngasih dia pelajaran biar dia sadar diri!"
Tanpa memedulikan rengekan Adelia, Arga berdiri dengan kasar. "Aku mau ke toilet sebentar."
Arga melangkah lebar keluar dari ruang VIP. Matanya menyapu seluruh area butik hingga ia menangkap sosok Nisa yang sedang memilah gaun di dekat ruang penyimpanan. Dengan langkah cepat, Arga menghampiri istrinya, menarik pelan pergelangan tangan Nisa agar wanita itu berbalik.
"Apa-apaan ini, Nis?" desak Arga dengan napas memburu. Matanya menatap nanar wajah tenang Nisa. "Kenapa kamu mau kerja jadi pelayan toko begini? Kenapa kamu membiarkan dirimu dihina oleh Adelia?!"
Nisa melepaskan tangannya dari cengkeraman Arga. "Aku sedang bekerja, Mas. Tolong jangan ganggu."
"Jawab aku, Nisa!" bentak Arga tertahan. Rasa bersalah dan ego lelakinya bercampur aduk menjadi satu. "Kenapa kamu merendahkan dirimu begini? Kamu butuh uang? Kenapa kamu nggak minta uang sama aku?!"
Nisa tersenyum getir, sebuah senyuman yang menyiratkan betapa menyedihkannya pemikiran Arga.
"Aku perlu uang untuk bertahan hidup, Mas," jawab Nisa sangat pelan, namun tegas. "Keluargaku bangkrut. Sementara... Aku harus tetap hidup, makan, dan membayar sewa rumah."
"Lalu kenapa kamu nggak menagih kewajibanku? Aku ini masih berstatus suami kamu, Nis!"
"Calon mantan suami," ralat Nisa dingin, matanya menatap lurus menembus jiwa Arga. "Aku nggak perlu belas kasihan, apalagi uang receh dari pria yang mengkhianatiku. Aku lebih baik melayani orang sombong seperti Adelia, daripada harus merendahkan harga diriku untuk mengemis sama kamu."
Nisa mengambil dua gaun dari gantungan, menatap Arga untuk terakhir kalinya. "Sekarang, kembalilah pada kekasihmu."
Nisa melangkah pergi, meninggalkan Arga yang kembali mematung dengan dada yang terasa seperti dihantam balok es. Perkataan Nisa menghujaninya tanpa ampun.
Beberapa menit kemudian, Arga kembali ke ruang VIP dengan wajah kusut. Di sana, Adelia sudah mencoba beberapa gaun lagi dan membuangnya ke lantai dengan sembarangan.
"Aduh, udah deh!" Adelia melemparkan gaun terakhir ke arah Nisa. Wanita itu menyilangkan tangan di dada dengan angkuh. "Semuanya jelek! Bahannya bikin gatal, modelnya kampungan! Yang paling parah, pelayanannya sangat tidak bagus!"
Nisa memungut gaun itu dengan sabar. "Kalau Mbak Adelia merasa kurang cocok, kami punya katalog lain yang bisa dipesan khusus—"
"Nggak sudi!" potong Adelia melengking. "Aku nggak mau beli apa pun di butik jelek ini! Ayo, Mas, kita pergi! Aku nggak sudi ngeluarin uang sepeser pun buat ngasih komisi ke pelayan norak ini!"
"Mbak Adelia sudah mencoba belasan gaun eksklusif kami," Nisa melontarkan sedikit protes profesional. "Setidaknya—"
"Setidaknya apa?!" Adelia melotot. "Itu hakku sebagai pelanggan! Aku berhak nyoba dan nggak jadi beli! Kenapa? Kamu marah karena nggak dapat bonus, hah?!"
Tiba-tiba, suara gebrakan meja kaca menggema di ruangan itu.
BRAK!
"Cukup, Adelia!"
Arga membentak dengan suara menggelegar, membuat Adelia dan Reta terlonjat kaget di sofa. Wajah Arga memerah, rahangnya mengeras, dan urat-urat di lehernya menonjol keluar. Kesabarannya sudah benar-benar habis.
"Mas... Mas kenapa bentak aku?" cicit Adelia ketakutan, matanya langsung berkaca-kaca.
"Beli semuanya!" perintah Arga mutlak, tak terbantahkan. Matanya menatap tajam ke arah kekasihnya. "Semua gaun yang kamu sentuh, semua yang kamu lemparkan ke lantai hari ini, kamu beli semuanya!"
Adelia membelalak tak percaya. "Mas gila?! Ini ada dua belas gaun malam! Buat apa aku beli sebanyak ini?! Lagipula gaunnya jelek-jelek!"
"Aku nggak peduli!" desis Arga tajam, membuat nyali Adelia menciut seketika. "Kamu pakai, kamu simpan, atau kamu buang ke tempat sampah, aku nggak peduli! Kamu beli semuanya sekarang juga!"
Arga mengabaikan Adelia yang mulai menangis ketakutan. Pria itu menoleh cepat ke arah Nisa. Matanya menatap istrinya dengan sorot yang sulit diartikan—campuran antara penyesalan, amarah, dan rasa iba.
"Nisa," panggil Arga. Suaranya merendah, sedikit bergetar. "Kalau aku beli semua gaun ini, apa kamu dapat bonus penjualannya?"
Nisa terdiam sejenak, menatap Arga dengan kening berkerut. "Ya. Saya dapat bonus komisi."
"Bagus." Arga merogoh dompetnya, mengeluarkan sebuah kartu kredit black card, dan menyodorkannya tepat di depan wajah Nisa. "Gesek ini. Aku beli semua gaun yang dia coba tadi. Dan... kalau ada gaun yang kamu suka di butik ini, ambil aja untuk kamu. Masukkan ke dalam tagihanku."
Adelia langsung menjerit histeris. "Mas Arga! Apa-apaan sih kamu?! Kenapa kamu malah ngasih uang ke perempuan ini?!"
"Diam kamu, Adel!" bentak Arga, tak menoleh sedikit pun. Tangannya masih terulur ke arah Nisa.
Nisa menatap black card itu, lalu menatap Arga. Tidak ada senyum bahagia, tidak ada kilat kemenangan di matanya. Nisa mengambil kartu itu dari tangan Arga.
"Terima kasih atas niat baik Anda, Pak Arga," ucap Nisa dengan nada teramat formal dan dingin. "Tapi saya menolak tawaran gaun untuk saya sendiri. Saya hanya akan menghitung total dua belas gaun yang dicoba oleh Mbak Adelia."
Arga menelan ludah, hatinya mencelos mendengar penolakan halus namun menyakitkan itu.
Dengan cekatan, Nisa menghitung total belanjaan dari mesin tablet di tangannya, menggesek kartu Arga, lalu menyerahkan kembali kartu itu beserta struk pembayaran.
"Pembayaran sukses. Sebentar, saya bantu membawakan gaun-gaun ini ke depan," ucap Nisa, lalu berjalan keluar mendahului mereka.
"Nggak perlu," tolak Arga cepat. "Dia bisa bawa sendiri."
Arga kemudian meraih tangan Adelia dengan kasar, menarik wanita itu berdiri. "Ayo pulang!"
"Mas, sakit!" ringis Adelia sambil terseok-seok mengikuti langkah lebar Arga.
Reta yang sejak tadi diam ketakutan, terpaksa harus membawa tumpukan kantong belanjaan besar berisi dua belas gaun haute couture yang sangat berat. Wanita itu melangkah tertatih-tatih di belakang Adelia sambil menggerutu kepayahan.
Setelah ketiga orang itu benar-benar menghilang dari balik pintu kaca butik, Inayah yang sejak tadi mengawasi dari kasir, langsung berlari menghampiri Nisa. Wajah Inayah pucat pasi karena khawatir.
"Nis! Ya ampun, Nis! Kamu nggak apa-apa, kan? Perempuan gila itu nggak ngapa-ngapain kamu, kan?!" tanya Inayah panik, membolak-balikkan tubuh sahabatnya.
Alih-alih menangis, Nisa justru tersenyum sangat manis. Sebuah senyuman puas yang membuat Inayah terpaku.
"Aku baik-baik aja, kok, Nay," jawab Nisa santai, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia lalu menepuk pundak bosnya itu dengan riang. "Oh ya, tolong catat di pembukuanku hari ini. Aku baru saja berhasil menjual dua belas gaun malam haute couture sekaligus tanpa diskon. Siapkan bonusku akhir bulan ini ya, Bos!"
Tanpa menunggu balasan Inayah yang masih menganga tak percaya, Nisa membalikkan badan, kembali berjalan menuju ruang kerjanya seolah tak ada badai apa pun yang baru saja menerjang perasaannya.
biar kedua orang tuanya thu kelakuannya selama mnjdi suami km nis😡
aku suka karya2 mu thoorrr
semangat berkarya terus ya thorrrr
asyik....
hajar Bu, Pak anakmu perlu dikasih pelajaran klu perlu usir dr rumah , sita semua aset si Arga