NovelToon NovelToon
Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.

Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).

Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.

"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."

Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 001 - Panggilan Subuh

Lonceng subuh di menara Sekte Lembah Giok Hitam berdentang tiga kali saat Gu Yuan selesai mengencangkan simpul tali sepatu jeraminya. Suara perunggu tua itu merambat lambat di antara kabut lembah, disusul bau belerang basah yang merembes masuk dari celah bilik bambu. Udara pagi terasa dingin menusuk kulit lehernya yang terbuka.

Di atas dipan kayu yang sudah reyot, sehelai jubah murid luar berwarna abu-abu kusam terlipat rapi. Gu Yuan berdiri, menepuk debu tanah di celana kain kasarnya, lalu menyentuhkan jari ke saku dalam sebelah kiri. Di balik lipatan kain tebal, sebuah lempengan logam seukuran telapak tangan terasa menonjol. Permukaannya kasar, dengan tepi kiri yang rompeng dan pecahan lingkaran bergerigi di bagian punggung. Itu adalah cermin perunggu, satu-satunya benda yang ditinggalkan ayah angkatnya tiga tahun lalu sebelum pria tua itu menghilang tanpa kabar dari lereng bukit selatan.

Langkah kaki terdengar dari jalan setapak berbatu di luar barak. Langkahnya terburu-buru, tetapi berat, menandakan pemakainya mengenakan sepatu bot kulit berpaku khas murid penegak disiplin.

Gu Yuan tidak bergerak dari sudut ruangan. Matanya menatap bilah bambu pintu yang bergetar pelan.

“Gu Yuan!” Suara parau membelah keheningan fajar. Palang bambu digedor kasar dari luar hingga debu kapur berjatuhan dari kusen. “Buka pintunya. Ada titah dari balai dalam.”

Gu Yuan melangkah maju dua langkah, membuka kait kayu tanpa bersuara. Pintu berderit membuka separuh.

Dua pria muda berpakaian jubah abu-abu gelap dengan sulaman daun giok di kerah berdiri di ambang pintu. Yang bertubuh jangkung membawa nampan kayu beralas kain merah, di atasnya tergeletak satu set jubah murid dalam berwarna biru langit yang masih mengilat. Di sebelahnya berdiri pria berpipi cekung dengan bekas luka goresan pedang di pelipis kanan—Luo Biao, murid senior pengawas barak timur yang terkenal gemar memeras jatah ransum murid baru.

“Ada apa, Senior Luo?” tanya Gu Yuan dengan nada datar. Pandangannya tetap tertuju ke arah dada pria itu, tidak menantang tetapi juga tidak menunjukkan rasa takut yang dibuat-buat.

Luo Biao tersenyum tipis, memperlihatkan deretan gigi depannya yang kuning bernoda tembakau. “Kabar baik untuk kepalamu yang keras itu. Tetua Mo Cheng sendiri yang memilih namamu dalam daftar berkah musim gugur. Kau terpilih sebagai murid teladan barak luar.”

Pria jangkung di sampingnya menyodorkan nampan kayu. “Ganti bajumu sekarang. Tetua menunggumu di balai obat belakang sebelum kabut lembah naik ke puncak.”

Sebuah pil berkah dari tetua balai obat. Bagi murid luar yang menghabiskan hari-hari mencangkul tanah tambang atau memotong rumput obat liar di jurang beracun, tawaran semacam itu biasanya dianggap anugerah langit. Namun, Gu Yuan tahu persis watak orang-orang di Sekte Lembah Giok Hitam. Sekte ini tidak pernah membagikan remah roti tanpa meminta tumbal sepuluh kali lipat. Dari ratusan anak yatim piatu yang dikumpulkan dari desa-desa fana setiap lima tahun, jarang ada yang bertahan melewati usia dua puluh tanpa kehilangan anggota tubuh atau batuk darah menahun.

Tangan kiri Gu Yuan yang masih berada di balik saku jubah tiba-tiba tersengat rasa panas.

Bukan hangat biasa. Logam cermin perunggu itu mendadak membara seperti arang tungku pandai besi yang baru ditiup bumbung angin. Rasa sakitnya begitu tajam hingga kulit telapak tangannya melepuh seketika, tetapi Gu Yuan menahan rahangnya tetap terkatup rapat tanpa mengubah roman muka.

Niat membunuh. Sangat dekat, sangat pekat, dan dingin menusuk tepat ke arah ubun-ubunnya.

Dunia membeku; garis batas ruang retak menjadi pola perunggu abu-abu.

Suara desau angin fajar lenyap seketika. Debu kapur yang melayang di udara berhenti di tempatnya, menggantung kaku di antara wajah Luo Biao dan daun pintu bambu. Warna hijau lumut di dinding tanah memudar menjadi kelabu perunggu, retak-retak menjadi serpihan ilusi yang menarik kesadaran Gu Yuan masuk ke dalam pusaran ruang gelap.

...****************...

Pemandangan di depannya berubah drastis.

Tidak ada lagi barak bambu atau jalan setapak berlumut. Gu Yuan mendapati dirinya berada di dalam sebuah gua batu kapur yang luas dan lembap. Suara deru air terjun terdengar teredam dari balik dinding batu tebal. Di tengah gua terhampar kolam darah buatan yang dikelilingi tiga puluh enam tiang batu hitam berukir rajahan aneh.

Bau busuk darah yang bercampur minyak dupa belerang begitu menyengat hingga kerongkongan Gu Yuan terasa terbakar.

Ia mencoba menggerakkan lengannya, tetapi pergelangan tangan dan kakinya telah terbelenggu rantai besi tebal di atas lempengan batu marmer yang miring menghadap kolam. Pakaiannya sudah dilucuti, menyisakan celana pendek compang-camping yang basah kuyup oleh cairan merah dingin.

Di depan altar batu, seorang pria tua bertubuh kurus jangkung mengenakan jubah merah tua berdiri membelakanginya. Tetua Mo Cheng menoleh perlahan. Wajah pria tua itu dipenuhi keriput dalam dengan separuh pipi kanan yang menghitam seperti kayu hangus, urat-urat hijau keunguan menonjol mengerikan di lehernya. Matanya yang cekung menatap Gu Yuan dingin, seperti juru jagal yang sedang memeriksa leher unggas di atas talenan.

“Darah murni pemuda tujuh belas tahun tanpa cacat meridian,” bisik Mo Cheng. Suaranya serak dan bergetar, menyerupai gesekan batu asah pada pisau tumpul. “Sayang sekali kau hanya punya akar spiritual fana. Tapi darahmu cukup bersih untuk menelan racun di Dantian-ku selama tiga bulan ke depan.”

Mo Cheng tidak memberi waktu untuk memohon atau menjerit. Tangannya terangkat, menggerakkan sebilah belati bergerigi perak di udara.

Sret!

Sayatan pertama mendarat di pergelangan tangan kiri Gu Yuan, merobek kulit dan urat nadi hingga ke tulang. Rasa sakit yang meledak begitu nyata, begitu membakar, merambat ke seluruh urat darahnya. Darah segar menyembur keluar, ditampung oleh parit kecil di marmer yang mengalirkannya langsung ke mulut ukiran ular di dasar tiang batu.

Sayatan kedua membelah pergelangan kaki kanannya.

Dingin. Rasa dingin yang luar biasa menjalar dari ujung jari-jari kakinya seiring cairan merahnya terkuras habis. Pandangan matanya mulai kabur, napasnya memburu pendek-pendek seperti ikan yang terlempar ke pasir kering. Jantungnya berdegup liar, memompa kehampaan di dalam rongga dadanya sendiri. Di detik-detik terakhir sebelum kesadarannya padam, ia melihat Mo Cheng membuka mulut lebar-lebar, menghirup uap darah yang membubung dari parit marmer sambil tertawa lirih di tengah temaram lentera batu.

Darahnya habis. Tubuhnya mengejang kaku di atas lempengan dingin.

Gelap.

...****************...

Udara kembali berhembus, tetesan keringat dingin jatuh ke tanah tepat di detik yang sama.

Gu Yuan tersentak kecil. Suara debu kapur yang jatuh ke tanah terdengar jelas di telinganya. Di depannya, senyum Luo Biao masih membeku pada sudut bibir yang sama, seolah seluruh siksaan pengurasan darah di gua air terjun tadi hanya terjadi dalam rentang sepersekian kedipan mata.

Namun rasa sakitnya nyata.

Telapak tangan kirinya di dalam saku berdenyut perih luar biasa karena luka bakar dari lempengan cermin. Urat lehernya tegang dan rasa mual yang pekat menggulung di dasar perutnya, menuntutnya untuk memuntahkan cairan lambung saat itu juga. Bau amis darah di gua altar seolah masih menempel di dinding kerongkongannya.

Tiga puluh enam tiang batu hitam. Gua di balik air terjun. Dan pria tua yang separuh wajahnya membusuk.

Itu bukan berkah. Itu adalah meja jagal.

“Hei, Gu Yuan! Kau dengar tidak?” bentak Luo Biao, alisnya berkerut melihat pemuda di depannya sempat mematung menatap lantai. “Ambil jubah ini dan ikut kami sekarang. Tetua tidak suka menunggu bocah lamban.”

Gu Yuan menarik napas panjang melalui hidung, menelan kembali rasa asam di pangkal lidahnya. Matanya menatap nampan berisi jubah biru langit tersebut—kain sutra yang disiapkan untuk membungkus mayat sebelum dibawa ke altar.

“Senior Luo,” kata Gu Yuan pelan, suaranya sengaja dibuat sedikit serak dan bergetar, seolah ia hanya seorang pemuda miskin yang gugup menerima berkah mendadak. “Beri saya waktu mencuci muka dan mengenakan jubah ini dengan benar. Saya tidak berani menghadap Tetua Mo dengan bau lumpur tambang.”

Luo Biao mendengus pendek, matanya melirik ke arah lorong barak yang mulai ramai oleh langkah kaki kuli tambang fajar. “Jangan banyak tingkah. Dua batang dupa lagi kami kembali. Kalau kau belum siap di gerbang barak, aku sendiri yang akan menyeret kakimu ke balai belakang.”

Pria jangkung meletakkan nampan kayu di atas dipan reyot, lalu keduanya berbalik pergi menyusuri jalan setapak berkabut.

Gu Yuan berdiri diam di ambang pintu sampai derap sepatu kulit mereka lenyap di tikungan tebing. Begitu suasana kembali sunyi, ia segera menutup pintu bilik bambu dan memasang palang kayu rapat-rapat.

Ia terduduk di lantai tanah, menyandarkan punggungnya ke tiang penyangga. Tangan kirinya ditarik keluar dari saku. Kulit telapak tangannya melepuh merah kehitaman, membentuk pola retakan melingkar yang persis sama dengan ukiran di punggung cermin perunggu.

Dua batang dupa. Waktu yang tersisa sebelum mereka datang menjemput nyawanya hanya sekitar setengah jam.

1
Shiro Hoshinova
jir jadi kiko
Shiro Hoshinova
Apalagi ini woy
Helios
Hahaha lolos gara-gara botol arak
Ryo Hamada
Misah jalan sendirian mungkin pilihan paling cerdas buat hindarin kejaran sekte
Ryo Hamada
Mo Cheng kuat bgt ya berarti, udh turun ranah tapi masih bisa ancurin lantai
Ryo Hamada
Gas mumpung ada kesempatan
Ryo Hamada
Beneran dingin banget sikap MC kalau udh masalah keselamatannya. Realistis & gak naif, suka aku model MC yg kaya gini
Ryo Hamada
Xiao Wu mungkin ceroboh micu bel alarm, tapi kekacauan sekte justru nutupin langkah Gu Yuan menuju gua air terjun. Momentum pas jir
Ryo Hamada
Mungkin langsung masuk ke aula Mo Cheng itu langkah bunuh diri, tapi jalan mundur udah ketutup total. Harus main peran sampe tuntas.
Helios
Woy tahanan di bilik jangan teriak napa
Shiro Hoshinova: Fix inimah
total 1 replies
Shiro Hoshinova
Hawanya horor kerasa banget, keren thor!
Helios
Hoki seumur hidup kepake tuh pas kuncinya jatuh deket sepatu wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!