Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Tak ada ekspresi berlebihan yang diperlihatkan oleh Bima. Karena pria itu memang punya ciri khas minim ekspresi. Namun, wajahnya jelas menunjukkan ketidaksenangan.
Kata-kata itu keluar lagi dari mulut Kinan. Wanita yang dulu mengatakan akan selalu bersamanya sampai rambut mereka memutih bersama, menua berdua.
Bima masih ingat ketika ulang tahun pernikahan mereka yang pertama, Bima mengajaknya ke sebuah kapal pesiar. Di sana Kinan sangat bahagia. Melihat kembang api yang sengaja disiapkan Bima untuknya. Saat itu, Kinan memeluk Bima dan mengatakan kalau dia sangat mencintai Bima. Apapun yang terjadi, Kinan tidak akan pernah meninggalkan Bima. Saat tersulit sekalipun, Kinan akan selalu bersama Bima. Sampai rambut mereka memutih nanti, sampai mereka menua.
Dan sekarang wanita itu sudah tiga kali mengatakan ingin bercerai dari Bima.
"Kamu masih belum berpikir jernih, aku akan tinggalkan kamu sendiri. Nanti kalau pikiran mu sudah tenang..."
"Aku akan tetap minta cerai, aku mau cerai, cerai!" pekik Kinan.
Bima berdiri, dia bangkit berdiri dengan tangan yang gemetaran. Entah kenapa mendengar ucapan Kinan yang menginginkan perceraian membuatnya nyaris kehilangan kendali.
"Wanita hamil tidak diperbolehkan bercerai..."
"Kalau begitu aku akan singkirkan anak ini!" celetuk Kinan.
Kinan sebenarnya tidak benar-benar ingin bicara seperti itu. Hanya saja, amarahnya membuatnya sampai mengeluarkan kata-kata itu. Dan mendengar ucapan Kinan, mata Bima langsung memerah.
"Apa katamu?"
"Aku akan singkirkan anak ini kalau kamu tidak menceraikan aku! aku mau cerai. Aku tidak mau menjadi istri penipu seperti mu, apa kamu bisa tidur nyenyak Bima? apa kamu bisa tidur nyenyak setelah menipu aku, dan kedua orang tuaku. Apa ibuku tidak pernah datang ke mimpimu? apa ayahku tidak pernah datang padamu dan bertanya kenapa kamu membohongi aku selama tiga tahun ini? apa kamu tidak merasa menyesal melakukan ketidakadilan pada ibuku yang sudah meninggal akibat cinta pertama mu itu?"
Air mata Kinan mengalir begitu deras. Dia menumpahkan semua sesak dan duka yang ada di dalam hatinya. Dia ingin melihat bagaimana Bima menjawabnya. Penyesalan itu, rasa bersalah itu, apakah semua itu pernah Bima rasakan.
Bima menatap Kinan, air mata Kinan yang mengalir begitu deras membuat tangannya perlahan terangkat, hasrat di dalam hatinya ingin menyeka air mata itu. Tapi semua yang dikatakan Kinan itu, benar-benar membuatnya merasa tidak pantas.
Bima terduduk lemas di kursi yang ada di dekat jendela. Posisinya tidak jauh dari tempat tidur Kinan. Dimana Kinan saat ini tengah duduk di tepi tempat tidur dan terisak pilu sekali.
Bima menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Terlihat jelas, pria itu sepertinya memang menunjukkan perasaan itu. Entah itu rasa bersalah atau penyesalan yang di sebutkan oleh Kinan tadi.
"Agnes tidak sengaja, Kinan. Ayahnya punya penyakit jantung..."
Mendengar pembelaan Bima untuk Agnes, rasanya dada Kinan benar-benar terbakar.
"Kamu bilang apa? dia tidak sengaja?" tanya Kinan yang perlahan turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah dimana Bima duduk dengan tubuh lemas.
Sejak Kinan tidak makan dan minum, sebenarnya sejak saat itu pula, Bima juga tidak makan dan tidak minum.
"Katakan lagi! katakan lagi!" pekik Kinan yang merasa marah sekali.
Bagaimana bisa Bima bicara seperti itu? sementara pria itu ada di persidangan kala itu, dan melihat dengan jelas penjelasan jaksa penuntut umum yang menjelaskan tentang apa yang terjadi di rekaman kamera pengawas di jalan tempat terjadinya kecelakaan.
Bima menatap Kinan, matanya sudah mulai merah dan berkaca-kaca.
"Kamu sedang hamil, Kinan. Jangan seperti ini, aku mohon kamu jangan emosi seperti ini..."
Duk
Kinan mendorong salah satu bahu Bima, sampai punggung pria itu membentur sandaran kursi di belakangnya.
"Segitu inginkah kamu membelanya? kalau begitu kenapa kamu tidak mau cerai dariku? bukankah itu bagus, kalau kita bercerai. Kamu dan cinta pertama mu itu, kalian bisa menikah, bisa hidup bersama..."
"Kamu bilang apa?" sela Bima menyentuh lengan Kinan.
Namun dengan cepat Kinan menepisnya.
"Kamu munafik, Bima! apa kamu lupa, kamu ada di persidangan saat itu. Bukankah kamu melihat dengan mata kepala mu sendiri. Bagaimana cinta pertama mu itu menabrak ibuku...?"
"Dia tidak sengaja, dia bersumpah kalau dia tidak sengaja..."
"Mana ada tidak sengaja tapi sampai menabrak dua kali!" teriak Kinan.
Sangking tingginya nada suara Kinan, urat lehernya sampai tertarik ke atas, dan air matanya mengalir begitu saja.
Bima terdiam menatap Kinan, dia sungguh belum pernah melihat Kinan seperti itu.
"Mata dan hatimu terlalu berat sebelah, Bima! Dia terbukti mabukk, cinta pertama mu itu terbukti mabukk. Ada surat pemeriksaan medisnya, ibuku sudah menghindar. Dia bahkan berusaha bangkit berdiri setelah cinta pertama mu menabraknya, dia berusaha minggir. Tapi cinta pertama mu itu menabraknya lagi. Apa kamu benar-benar tidak melihat bagaimana ibuku kejang-kejang di rekaman kamera pengawas itu? apa kamu benar tidak melihat dia meminta tolong agar jangan di tabrak lagi ketika dia mau menepi di jalan, apa kamu benar tidak melihatnya?"
Mata Bima semakin merah, bahkan sudah berkaca-kaca. Bohong kalau dia tidak melihat semua yang dikatakan oleh Kinan. Bima sungguh melihatnya, tapi Agnes sambil menangis dan berlutut di depannya mengatakan kalau dia tidak sengaja.
Bima mengusap wajahnya kasar.
"Tapi Kinan, ibumu memang sudah tidak bisa diselamatkan di tempat kejadian dia sudah..." Bima menjeda ucapannya ketika, Kinan menatapnya dengan sangat tajam.
Gigi Kinan sampai beradu satu bagian atas dan bawah. Tangannya terkepal kuat, kebenciannya sungguh bertambah pada Bima. Bicara pada seseorang yang berat sebelah memang sulit. Menjelaskannya sampai kepala mau botak juga tidak akan di dengar dan di mengerti.
Kinan menyeka air matanya,
"Tapi dia berhak mendapatkan keadilan kan? setiap orang juga harus mempertanggung jawabkan apa yang mereka lakukan bukan? kenapa kamu memberikan surat kuasa palsu itu pada petugas? kamu menikahiku hanya supaya bisa menjadi keluarga korban, hanya untuk membebaskan cinta pertama mu! apa kamu masih bisa disebut manusia, Bima. Apa kamu punya hati? demi kebebasan cinta pertama mu, kamu menghancurkan aku, dan keluargaku..."
Bima tidak tahan melihat Kinan histeris, pria itu bangkit dan mendekati Kinan. Berusaha memeluk istrinya itu, tapi Kinan malah mendorongnya sampai tersungkur di lantai.
Brukk
"Aku tidak akan memaafkan mu, Bima. Aku tidak akan pernah memaafkan mu!"
***
Bersambung...
😠