NovelToon NovelToon
TAK TERTANDINGI

TAK TERTANDINGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serly Can

Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.

​Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Embun Pagi

Suara derit pintu besi berkarat di lantai tiga rumah susun kumuh itu berderit pelan tatkala Rian mendorongnya terbuka. Jam dinding menunjuk ke angka sembilan malam lewat seperempat. Di dalam ruangan sempit berukuran tiga kali empat meter itu, bau khas buku-buku tua bercampur aroma kuah kaldu mi instan menyambut penciumannya.

Bi Inah, wanita paruh baya berambut separuh uban yang mengenakan daster kain bermotif bunga kusam, tampak terduduk gelisah di atas kursi plastik usang di dekat meja makan kecil. Di atas meja, sebuah mangkuk berisi nasi dan tumis kangkung dingin tersaji rapi di bawah tudung saji plastik berpola bunga. Begitu mendengar suara kunci bergeser, kepala Bi Inah langsung menoleh cepat ke arah pintu.

"Ya Ampun, Rian... Kenapa baru pulang selarut ini, Nak?" ucap Bi Inah dengan nada suara bergetar, setengah bangkit dari duduknya sambil melangkah tergopoh-gopoh menghampiri Rian. Ada kerutan kekhawatiran yang begitu dalam di sudut matanya yang mulai meredup dimakan usia. "Bibi tadi sempat cemas, takut terjadi sesuatu di jalan. Di berita televisi lokal sore tadi, katanya ada keributan kecil di dekat perempatan distrik utara."

Rian melepas sepatu ketsnya yang sudah agak mengelupas di bagian sol, lalu menyimpannya rapi di rak kayu kecil dekat pintu. Ia tersenyum tipis—senyuman tulus yang tidak pernah ia tunjukkan di hadapan Bara, Reno, ataupun orang-orang sombong di sekolahnya.

"Tidak apa-apa, Bi. Tadi ada sedikit urusan administrasi tambahan di perpustakaan sekolah setelah jam pelajaran selesai, jadi saya harus menunggu agak lama," jawab Rian dengan nada lembut, sengaja menyembunyikan insiden penyergapan preman bayaran di gang gelap tadi agar wanita paruh baya itu tidak perlu menanggung beban pikiran yang tidak perlu.

Bi Inah menghela napas panjang, sebelah tangannya yang keriput terulur merapikan kerah kemeja seragam Rian yang sedikit berdebu. "Lain kali kalau ada urusan sampai malam, tolong kabari Bibi lewat telepon, ya. Jangan buat Bibi khawatir. Kamu tahu kan, cuma kamu satu-satunya keluarga yang Bibi miliki di kota besar ini sejak orang tuamu..." Kalimat itu menggantung di udara, terputus oleh desahan napas berat yang menyaratkan kenangan pahit masa lalu.

"Iya, Bi. Saya mengerti," balas Rian menenangkan, meraih tangan kanan Bi Inah dan menggenggamnya sejenak dengan kehangatan yang mengalirkan ketenangan. "Sudah, Bibi jangan terlalu banyak pikiran. Ayo makan malam dulu, Bibi pasti belum makan dari tadi sore kan?"

Bi Inah menggeleng pelan sambil tersenyum hangat, garis-garis di wajahnya melunak. "Bibi sudah makan tadi jam tujuh, Rian. Itu makananmu masih hangat di bawah tudung saji. Cepat habiskan, lalu istirahat. Besok kamu harus sekolah pagi-pagi lagi."

Setelah menghabiskan makan malamnya dalam kesunyian yang menenangkan, Rian masuk ke dalam kamarnya yang sempit—hanya berisi sebuah kasur lipat busa tipis, meja belajar kayu kecil, dan setumpuk buku pelajaran. Ia duduk bersila di atas kasurnya, menutup kedua matanya, dan membiarkan kesadaran jiwanya menyelami lautan energi Qi di dalam tubuhnya.

Di dalam dimensi spiritual batinnya, inti energi berwarna keemasan berpijar jauh lebih terang dibandingkan malam-malam sebelumnya. Pertarungan singkat melawan preman bayaran di gang tadi ternyata bertindak sebagai katalisator alami, merangsang jalur meridian tubuhnya untuk membuka lapisan energi tingkat berikutnya.

Ting!

[ Pemberitahuan Sistem: Kultivator berhasil menstabilkan Tahap Pembersihan Sumsum tingkat lanjut. ] [ Kapasitas pemrosesan kognitif meningkat sebesar 15%. ] [ Membuka fungsi baru: Analisis Struktur Jaringan Korporasi dan Pelacakan Jejak Digital Terenkripsi. ]

Rian membuka matanya perlahan di dalam kamar yang gelap gulita. Di dalam kegelapan itu, penglihatannya begitu jernih, mampu menangkap butiran debu yang melayang di udara tanpa bantuan cahaya lampu. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis tipis yang dingin.

"Surya mengira ancaman preman jalanan bisa meredam langkahku," gumam Rian pelan pada dirinya sendiri, suaranya hampir tidak terdengar di atas desau angin malam. "Dia tidak tahu bahwa benteng kekuasaan yang dia banggakan sebenarnya dibangun di atas fondasi pasir yang keropos."

Keesokan paginya, matahari pagi bulan September memancarkan cahaya keemasan yang menghangatkan halaman luas SMA Bina Bangsa. Suasana di koridor utama tampak sibuk seperti biasa. Para siswa berlalu-lalang membawa buku catatan, saling bercengkerama di depan loker masing-masing.

Namun, ada yang berbeda dengan atmosfer hari ini. Bisik-bisik rahasia berhembus kencang di antara para siswa begitu sosok Rian melangkah masuk melalui gerbang utama. Berita tentang bagaimana anak beasiswa miskin itu berhasil membalikkan keadaan di ruang kepala sekolah kemarin—membuat seorang tokoh berpengaruh sekelas Kolonel Purnawirawan Surya terdiam pucat—sudah menyebar ke telinga para pengurus OSIS dan siswa elit dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.

Kevin dan Bara, yang duduk di bangku taman dekat air mancur halaman sekolah, menatap tajam ke arah Rian dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Ada kebencian yang mendalam, namun terselip rasa ngeri yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Tangan kanan Bara masih terbalut gips putih, tergantung kaku di dadanya, menjadi pengingat abadi atas kekalahan memalukan yang dideritanya.

"Bar... apa yang harus kita lakukan sekarang?" bisik Kevin dengan suara cemas, menggigit kuku jempolnya sendiri sambil melirik ke arah Rian yang berjalan tenang menuju gedung kelas. "Ayahku tadi malam pulang dengan wajah murka. Dia bilang ponselnya diretas dan seluruh dokumen penting perusahaan hampir bocor ke tangan investigasi publik. Dia melarang kita berbuat macam-macam kepada Rian untuk sementara waktu."

Bara menggebrak meja batu taman dengan tangan kirinya, wajahnya memerah padam menahan amarah yang meluap-luap. "Dilarang?! Sialan, Kevin! Apakah kita akan membiarkan anak sialan itu berjalan bebas di sekolah ini seolah-olah dia adalah pemiliknya?!"

"Bukan membiarkan, bodoh!" balas Kevin dengan nada setengah berbisik penuh frustrasi. "Ayah bilang kita tunggu waktu yang tepat. Ada tamu penting dari pusat yang akan datang berkunjung minggu depan—direktur utama yayasan pendidikan nasional sendiri. Kalau kita bisa melaporkan kelakuan buruk Rian secara formal melalui prosedur dewan direksi, dia bisa dikeluarkan secara sah tanpa perlu melibatkan kekerasan fisik yang justru merugikan kita!"

Bara terdiam sejenak, seringai jahat perlahan kembali merayap di bibirnya yang pucat. "Direktur Utama Pusat? Maksudmu Pak Hartawan yang terkenal sangat disiplin dan membenci siswa pembuat masalah?"

"Tepat sekali," seringai Kevin mengembang lebar. "Kita tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan perangkap yang lebih besar."

Sementara itu, di lantai atas gedung utama, di dalam ruangan kerja Direktur Utama PT Bina Bangsa Corpora—sebuah perusahaan raksasa yang menaungi yayasan sekolah tersebut—suasana terasa sangat kontras dengan hiruk-pikuk di luar.

Ruangan itu sangat luas, berlantai marmer hitam mengkilap dengan dinding kaca panorama besar yang menyuguhkan pemandangan seluruh kota dari ketinggian lantai sepuluh. Di balik meja kerja kayu jati berukir klasik, duduk seorang pria paruh baya berusia sekitar lima puluhan dengan setelan jas hitam potong Italia yang sangat rapi. Rambutnya yang mulai beruban disisir ke belakang dengan sempurna, menyiratkan wibawa dan kekuasaan mutlak seorang pengusaha top.

Pria itu adalah Hartawan Kusuma—pendiri sekaligus pemilik yayasan pendidikan SMA Bina Bangsa, yang juga merupakan atasan langsung dari Kolonel Surya di dewan penyantun.

Di hadapan meja kerja Hartawan, seorang sekretaris pribadinya berdiri membungkuk hormat sambil meletakkan sebuah berkas laporan tebal bersampul merah di atas meja.

"Pak Hartawan, laporan audit triwulanan untuk yayasan sekolah cabang wilayah barat sudah selesai diverifikasi oleh tim internal," lapor sang sekretaris dengan suara tertahan dan sopan. "Namun... ada beberapa kejanggalan administratif yang ditemukan terkait alokasi dana renovasi gedung olahraga yang diajukan oleh Kolonel Surya bulan lalu."

Hartawan mengangkat sebelah alisnya, menghentikan gerakan pena di tangannya. Ia menatap sekretarisnya dengan tatapan tajam nan dingin. "Kejanggalan seperti apa? Bukankah Surya adalah salah satu penyumbang terbesar di yayasan kita?"

"Benar, Pak. Tapi tim auditor menemukan bahwa proposal anggaran tersebut mencantumkan biaya fiktif senilai dua miliar rupiah yang dialihkan ke rekening pribadi atas nama kerabat dekatnya," jelas sekretaris itu sambil membuka halaman berkas di depannya. "Dan yang lebih menarik... berkas bukti digital lengkap beserta rekaman suara rapat tertutup mereka kemarin malam dikirim secara anonim ke sistem pengaduan internal perusahaan kita pagi ini."

Hartawan tertegun sejenak. Ia mengambil berkas laporan itu, membuka lembar demi lembar dengan teliti. Semakin jauh ia membaca, semakin mengeras rahang wajahnya. Sebagai seorang pebisnis yang menjunjung tinggi integritas korporasi, korupsi sekecil apa pun di bawah naungannya adalah sebuah penghinaan besar.

"Kirimkan siapa pengirim anonim berkas ini?" tanya Hartawan dengan suara berat dan dingin.

Sekretaris itu menggeleng pelan dengan ekspresi bingung. "Lacak balik sistem IT kami menunjukkan bahwa data tersebut dienkripsi menggunakan protokol tingkat militer yang tidak dapat dilacak asalnya, Pak. Tapi pengirimnya meninggalkan satu catatan kecil di metadata file tersebut."

"Catatan apa?" desak Hartawan.

"Hanya sebuah kalimat pendek: 'Kekuasaan tanpa keadilan adalah bentuk lain dari kejahatan yang terorganisir. Periksa kembali siapa yang Anda beri wewenang di lembaga pendidikan ini.'"

Hartawan terdiam cukup lama di balik meja kerjanya. Matanya menerawang keluar jendela kaca panorama, menatap langit luas di atas kota tempat ribuan siswa sedang menuntut ilmu, termasuk seorang remaja bernama Rian yang berada di lantai bawah.

"Panggil Kolonel Surya ke ruangan saya sekarang juga," perintah Hartawan dengan nada suara mutlak yang tidak bantah. "Dan cari tahu siapa siswa bernama Rian dari kelas 11-B yang disebut-sebut dalam laporan investigasi tambahan ini. Saya ingin bertemu langsung dengan anak itu jam sepuluh nanti."

"Baik, Pak!" jawab sekretaris itu cepat, lalu berbalik dan melangkah keluar ruangan dengan langkah tergesa-gesa.

1
expant
lanjut
expant
bagus ceritanya
Serly Can
siap kk
Risman Caniago
kemampuan nya udah kaltiivor...... jagoan pasar... orang bayaran pada koit.....masa masih kontra sama anak SMA.... harus nya naik level genster....mafia..... belajar lagi yang lebih ya Thor....
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
Yossi Muliasa Permana
bagus cerita nya cuman cara penulisan nya agak sedikit bikin bingun
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!