"Woy sampah rendahan."
"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."
Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.
Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.
Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.
Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.
"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Sebuah pukulan telak akhirnya berhasil menghantam bahu Juna, membuat tubuhnya kembali terpental dan membentur dinding arena untuk kedua kalinya. Kali ini benturannya lebih keras, membuat pandangannya berkunang sejenak sebelum akhirnya jatuh tersungkur ke lantai berpasir.
[Kondisi Kritis Terdeteksi]
[Misi Darurat Tersedia]
[Kalahkan Ben "Si Gorila Gunung"]
[Hadiah: Bonus Status + Rp2.000.000 + 3 Ramuan Penyembuh]
Panel biru itu berkedip di sudut pandangannya, cukup jelas terbaca meski dunia di sekelilingnya masih berputar akibat benturan tadi.
'Bagus,' batin Juna, tersenyum getir di tengah rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya. 'Setidaknya sekarang aku tahu ini bukan cuma pertarungan buat gengsi.'
"Tuh kan, baru dua kali kena tembok aja udah kayak binatang mati," salah satu penonton berteriak dari tribun, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah Juna yang masih tersungkur. "Katanya mau patahin leher orang, sekarang lehernya sendiri aja hampir copot."
"Anak baru emang gitu, mulutnya doang yang jalan duluan," yang lain menyahut, melempar bungkus makanan ringan ke arah lantai arena. "Badannya nyusul belakangan, itu pun kalau masih ada yang tersisa."
Ia memaksa dirinya bangkit, darah menetes dari sudut bibirnya yang terluka akibat benturan. Ben sudah melangkah mendekat lagi, tidak memberi kesempatan sedikit pun untuk beristirahat, tangannya kembali terkepal siap melancarkan pukulan berikutnya.
Juna mencoba mengelak, namun tubuhnya yang sudah babak belur bereaksi lebih lambat dari biasanya. Sebuah pukulan berhasil mendarat di perutnya, membuatnya kembali terjungkal, kali ini jatuh berguling beberapa kali di lantai arena sebelum akhirnya berhenti dengan napas tersengal.
"Ayo dong," salah satu penonton berteriak dari tribun, disambut tawa mengejek dari sekitarnya. "Baru segitu doang udah nyerah?"
"Kasihan deh," suara perempuan dari baris belakang ikut menimpali, nada bicaranya dibuat mengejek seolah sedang bicara dengan anak kecil, "nangis aja sana, biar cepet dijemput mama."
"Udah, sini gue kasih tisu," seseorang lain menyahut sambil terbahak, "biar ingus sama darahnya nggak campur aduk gitu."
Gelak tawa memenuhi ruangan bawah tanah itu, membentur dinding beton dan memantul berkali-kali seolah memperbesar volume ejekan itu sendiri. Juna mendengar semuanya samar-samar, namun alih-alih membuatnya marah, justru membuat pikirannya semakin tajam dan dingin. Ia menahan napas, memaksa dirinya untuk tetap sadar penuh meski setiap bagian tubuhnya berteriak minta berhenti.
'Kalau aku terus bertahan seperti ini,' batinnya, mengamati Ben yang kembali melangkah mendekat dengan langkah berat, 'aku bakal kalah sebelum sempat cari celah. Dan aku nggak akan kasih mereka kepuasan itu.'
Ia mulai memperhatikan lebih detail, mengesampingkan rasa sakit yang mendera untuk sesaat, murni fokus pada setiap gerakan tubuh raksasa di hadapannya. Ben menyerang lagi, kali ini dengan pukulan lurus ke arah kepala Juna.
Juna menunduk cepat, menghindar tipis, dan untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, ia memperhatikan sesuatu yang menarik. Setiap kali pukulan Ben meleset, tubuhnya sedikit oleng ke depan, seolah seluruh bobot dan tenaganya benar-benar tercurah penuh ke dalam satu pukulan tanpa sisa.
'Dia nggak menahan tenaga sama sekali,' batin Juna, matanya berbinar tipis di tengah rasa sakit yang masih menyiksa. 'Setiap pukulan yang meleset, dia kehilangan keseimbangan sesaat. Kalau begitu...'
Ben kembali menyerang, kali ini dengan pukulan menyamping yang mengarah ke pelipis Juna. Juna sengaja tidak menghindar sepenuhnya, hanya menggeser kepalanya sedikit, membiarkan pukulan itu lewat tipis di sampingnya.
Kepalan tangan Ben yang meleset melesat lurus ke arah dinding beton di belakang Juna, menghantamnya dengan suara benturan keras yang menggetarkan seluruh arena.
"Duh..." tangan Ben sedikit gemetar akibat benturan keras itu, namun rasa sakitnya sepertinya kalah oleh amarah yang mulai membakar matanya.
Sorakan tribun sempat terhenti sejenak, terkejut melihat pukulan Ben yang biasanya selalu mengenai sasaran kini justru menghantam beton kosong.
"Eh, kok bisa meleset?" salah satu penonton bergumam heran ke temannya, nadanya kali ini kehilangan sedikit rasa percaya dirinya.
"Palingan cuma kebetulan," yang lain menjawab cepat, meski suaranya sendiri terdengar tidak seyakin tadi.
'Bagus,' batin Juna, seringai tipis mulai terbentuk di sudut bibirnya yang berdarah. 'Kalau kamu semarah itu setiap kali pukulanmu meleset, aku tahu persis cara mengalahkanmu. Dan kalian yang tadi ribut di atas sana, tunggu aja sampai kalian lihat apa yang bakal terjadi selanjutnya.'
Ia bangkit berdiri lebih tegak, meski tubuhnya masih terasa seperti diremukkan dari dalam, matanya kini menatap Ben dengan tatapan yang jauh berbeda dari sebelumnya, bukan lagi tatapan seseorang yang sedang bertahan hidup, melainkan tatapan seseorang yang baru saja menemukan jalan menuju kemenangan.