"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resmi Putus 19.
Pagi itu langit sekolah tidak lantas ikut mendung hanya karena hati Nawang habis runtuh semalam. Matahari justru bersinar terang, agak menyengat, kontras sekali dengan lingkaran hitam di bawah mata Nawang yang coba disamarkan dengan tipisnya bedak tabur.
Nawang melangkah melewati koridor menuju gedung basket. Kepalanya tidak lagi pening, justru terasa kosong.
Kosong yang melegakan. Menangis histeris sampai ketiduran di lantai kamar semalam ternyata punya fungsi tak terduga, menghabiskan seluruh sisa air mata dan drama dalam dirinya.
Dari jarak sepuluh meter, derit sepatu karet yang bergesekan dengan lantai lapangan kayu dan pantulan bola oranye sudah terdengar.
Di sana, Timy sedang melakukan lay-up, keringat membasahi dahi dan seragam latihan basketnya.
Bedanya, hari ini, Nawang melihat Timy bukan lagi sebagai pusat dunianya. Timy cuma seorang cowok biasa yang kebetulan pernah singgah lama.
Nawang berdiri di dekat pintu masuk gedung, menunggu sampai peluit istirahat berbunyi.
Begitu pelatih membubarkan sesi latihan bebas, Timy berjalan ke pinggir lapangan untuk mengambil botol minum.
Saat itulah matanya menangkap sosok Nawang. Timy sempat terkejut, namun senyum santai yang biasa dia pakai langsung terpasang di wajahnya.
"Hei, Neng? Tumben ke sini. Nyariin Aa?" tanya Timy sambil mengusap lehernya dengan handuk kecil.
Nawang tidak membalas senyum itu. Dia juga tidak memasang wajah galak atau menangis menuntut penjelasan. Wajahnya datar, setenang air di dalam gelas.
"Bisa ngomong bentar? Di koridor samping aja yang sepi," kata Nawang, suaranya terdengar renyah tanpa beban.
Timy mengernyitkan alis, merasa ada yang aneh dengan nada bicara pacarnya. Biasanya, kalau Nawang merajuk karena pesannya diabaikan, suaranya akan ketus atau penuh sindiran. Tapi ini tidak. "Oke, bentar Aa taruh botol dulu."
Mereka berjalan ke koridor luar gedung basket yang langsung menghadap ke area taman belakang.
Angin siang berembus pelan, memainkan anak rambut Nawang.
Timy bersandar pada pagar pembatas koridor, melipat tangan di dada. "Mau ngomongin apa? Soal sabtu kemarin ya? Sori banget, Wang, Aa beneran repot bantu mamah di rumah, makanya nggak sempat bales chat neng."
Kebohongan yang meluncur begitu mulus dari bibir Timy hampir membuat Nawang ingin tertawa.
Membantu mamah katanya.
Padahal menyuapi waffle cokelat dan membelikan kalung perak untuk Kanaya di kafe dekat stasiun. Hebatnya, dada Nawang tidak lagi sesak seperti semalam. Akal sehatnya sudah mengambil alih kendali penuh.
Nawang merogoh saku rok abu-abunya. Dia mengeluarkan sebuah benda kecil yang sejak pagi digenggamnya erat.
Sebuah kalung perak berinisial T&N. Kalung yang diberikan Timy padanya saat hari anniversary mereka yang pertama. Nawang meraih tangan kanan Timy, lalu meletakkan kalung itu di atas telapak tangan cowok itu.
Timy tertegun. Matanya menatap kalung itu, lalu beralih ke wajah Nawang dengan dahi berkerut dalam. "Maksudnya apa neng? Kok dikembaliin?"
"Kita selesai ya, Tim," ucap Nawang, tanpa menyebut panggilan Aa lagi.
Kalimat itu keluar begitu lancar, tanpa getaran, tanpa jeda.
Timy tertawa kecil, tawa canggung yang dipaksakan. Dia mencoba meraih pundak Nawang, tapi Nawang dengan halus memundurkan langkahnya, menolak sentuhan itu. "Kamu bercanda kan neng? Cuma gara-gara Aa jarang bales chat beberapa hari ini? Astaga, neng kekanak-kanakan banget deh. Kita udah jalan satu tahun, masa putus cuma karena masalah sepele gini?"
"Ini bukan karena chat, Timy," potong Nawang tenang.
Tatapan matanya mengunci manik mata Timy, membuat cowok itu mendadak menghentikan pembelaannya. "Gue cuma sadar, jiwa lu udah nggak di sini lagi. Dan gue nggak mau buang-buang waktu buat mempertahankan orang yang hatinya udah pindah alamat."
"Pindah alamat gimana sih? Lu nuduh gue selingkuh?" Nada suara Timy mulai naik, egonya sebagai cowok populer dan kapten tim basket terusik. Dia merasa tidak melakukan kesalahan yang tertangkap basah, jadi dia merasa aman untuk defensif.
"Gue nggak perlu nuduh," kata Nawang, tersenyum tipis—senyuman yang membuat Timy justru merinding karena tidak ada kemarahan di sana. "Gue cuma mau lepasin lu, biar lu bisa fokus jadi pahlawannya Naya. Biar lu nggak perlu repot-repot nyari alasan bohong tiap kali mau jalan sama dia."
Nama Naya yang keluar dari mulut Nawang bagaikan hantaman telak di dada Timy.
Ekspresi defensif di wajah cowok itu langsung luruh, digantikan oleh kilat kepanikan yang coba dia sembunyikan dengan cepat. Mulutnya agak terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar. Dia sadar, Nawang sudah tahu semuanya.
Untuk beberapa detik, keheningan yang canggung menyelimuti mereka. Timy menatap kalung di tangannya, lalu menatap Nawang yang berdiri tegak di depannya.
Sebagai cowok yang selalu dipuja di sekolah, ego Timy berbisik keras.
Ada rasa bersalah di sudut hatinya yang paling dalam, tapi harga dirinya melarangnya untuk berlutut atau memohon maaf.
Lagipula, di umurnya yang baru belasan tahun, Timy mengira kehilangan Nawang hanyalah kehilangan satu hal kecil dalam hidupnya.
Dia terlalu gengsi untuk terlihat kalah di depan perempuan yang selama ini selalu mengejarnya.
Timy menarik napas panjang, menegakkan tubuhnya, lalu memasukkan kalung itu ke dalam saku celananya.
"Kalau itu mau lu, ya udah," kata Timy dengan nada sedingin mungkin, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang terluka. "Gue nggak bakal maksa lu buat bertahan kalau lu udah nggak percaya lagi sama gue. Kita putus."
Nawang mengangguk sekali. Tidak ada air mata. Tidak ada makian. "Makasih buat satu tahunnya, Tim. Mulai hari ini, lu bebas."
Nawang berbalik, melangkah pergi meninggalkan koridor gedung basket tanpa sekalipun menoleh ke belakang.
Setiap langkah yang dia ambil terasa jauh lebih ringan daripada langkahnya saat menerobos hujan semalam.
Di ujung koridor, dia melihat Rendy sedang bersandar di dekat mading, memegang dua kotak susu cokelat dingin dengan senyum tipis di wajahnya.
Sementara itu, di koridor yang sepi, Timy masih berdiri mematung.
Dia menatap lurus ke arah tempat Nawang berdiri tadi.
Tangannya merogoh saku celana, meremas kalung inisial T&N yang kini terasa asing di genggamannya.
Ada kekosongan aneh yang mendadak menghantam dadanya, sebuah firasat logis yang terlambat dia sadari, dia baru saja melepaskan perempuan yang mencintainya paling tulus, demi sesuatu yang belum pasti.
Namun ego masa mudanya memaksa Timy untuk berbalik dan kembali ke dalam lapangan, mengabaikan rasa bersalah yang perlahan mulai menggerogoti hatinya.
......................
...****************...
Tbc,