NovelToon NovelToon
EFEK MANDAROBA

EFEK MANDAROBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: just Zii

Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.

Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.

​Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.

Alden.

Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.

​BRAAKK!

​Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:

​"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: EFEK MANDAROBA

Malam bergulir makin larut di kediaman perbukitan yang diselimuti keheningan mencekam.

Di dalam kamar tidur utama, Alden tertidur lelap di samping Sesil. Nafas pria itu teratur dan tenang—sebuah ketenangan dari seorang pria yang merasa telah berhasil mengunci seluruh celah pelarian korbannya melalui cincin berlian yang kini melingkar di jari manis Sesil.

Namun, di sampingnya, mata Sesil terbuka lebar menatap langit-langit kamar yang gelap.

Cincin berlian di jari manisnya terasa sangat berat dan dingin, seolah lingkaran logam mulia itu adalah rantai pasak yang mengikat jiwanya.

Meskipun penjelasan mendramatisir Alden tadi siang berhasil menumpulkan amarah dan kepanikannya secara sementara, nurani dan naluri kritis Sesil tidak bisa mati begitu saja.

Ada kejanggalan yang terus berdenyut di dalam otaknya: Jika Alden memberikan obat penenang itu hanya untuk menyembuhkan kerusakan saraf otakku, mengapa ia harus merahasiakan komposisinya? Mengapa ia harus berbohong tentang identitasku sejak awal?

Dengan gerakan yang amat sangat perlahan, Sesil menyingkap selimut beludru yang menutup tubuhnya. Ia menoleh ke arah Alden, memastikan pria itu tidak terganggu oleh gerakannya.

Sesil bergeser ke tepi tempat tidur, melangkah tanpa alas kaki melintasi lantai kayu yang dingin, lalu menyusup keluar melewati pintu kamar yang sedikit terbuka tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Tujuannya malam ini bukanlah ruang kerja rahasia di ujung koridor utara yang kini pasti sudah diperketat kuncinya oleh Alden. Tujuannya adalah perpustakaan pribadi di lantai dua—sebuah ruangan besar berdinding kayu jati yang menyimpan ribuan jilid buku koleksi keluarga Alden.

Sesil menyusup masuk ke dalam perpustakaan, membiarkan ruangan itu tetap gelap dan hanya mengandalkan lampu kilat kecil dari ponsel yang diam-diam diambilnya dari meja kerja bawah.

Cahaya putih redup membelah kegelapan, menerangi rak-rak buku menjulang tinggi yang dipenuhi oleh literatur hukum, sejarah, dan ensiklopedia medis lama.

Ia melangkah ke sudut paling belakang perpustakaan—sektor terisolasi yang menyimpan buku-buku farmakologi dan jurnal kedokteran klasik terbitan laboratorium keluarga Alden.

Naluri jurnalisnya menuntun jemarinya untuk menyusuri deretan punggung buku bersampul kulit tebal.

Matanya terhenti pada sebuah buku besar berdebu dengan huruf emas pudar di punggungnya: Anatomi & Senyawa Neuro-Sintetik: Eksperimen Terlarang Abad 21.

Sesil menarik buku tebal itu dari rak, membawanya ke sebuah meja baca di dekat jendela yang tersamar shadow malam. Dengan tangan yang berguncang halus, ia membuka halaman demi halaman yang sudah menguning, membimbing matanya membaca indeks istilah di bagian belakang buku.

Hingga akhirnya, ibu jarinya terhenti di sebuah halaman dengan judul besar bergaris tebal:

Riset Senyawa Senyawa Alkaloid Sintetis: Efek Mandaroba (Compound-9)

Jantung Sesil berdesir hebat. Sensasi dingin yang menyengat mendadak menjalar dari telapak tangannya ke seluruh tubuh. Kata Mandaroba—nama yang sama persis dengan yang tertera di dokumen rahasia ruang kerja Alden—terpampang nyata di depan matanya.

Sesil mendekatkan cahaya lampu ke permukaan kertas, membaca paragraf demi paragraf deskripsi medis yang tertulis di sana dengan napas tertahan:

"Mandaroba Compound-9 adalah rekayasa neurotoksin sintetis yang diturunkan dari ekstrak tanaman langka genus Mandragora dan alkaloid inhibitor spesifik. Diciptakan bukan sebagai obat penyembuh, melainkan sebagai instrumen manipulasi memori terstruktur."

Tetes air mata dingin menetes dari pelupuk mata Sesil, jatuh meresap ke atas kertas tua itu. Kalimat selanjutnya di dalam literatur itu menghancurkan seluruh sisa-sisa narasi pengorbanan palsu yang dibangun Alden tadi siang:

"Mekanisme Kerja: Senyawa Mandaroba secara agresif memblokir akses ke hippocampus, melumpuhkan rekaman memori jangka panjang dan merusak asosiasi ingatan kognitif secara bertahap (Pembersih Memori). Namun, sifat paling destruktif dari senyawa ini berada pada rekayasa respons emosionalnya.

Penggunaan dosis harian secara konsisten akan memicu fenomena psikologis yang dikenal sebagai 'Efek Mandaroba'—yaitu pelumpuhan total daya kritis subjek, manipulasi produksi hormon oksitosin buatan, dan penanaman ketergantungan psikologis yang mutlak kepada figur dominan yang mengadministrasikan obat tersebut. Subjek akan mengalami sindrom ilusi afeksi, di mana rasa takut, curiga, dan naluri bertahan hidup diretas secara kimiawi menjadi rasa cinta, rasa berutang nyawa, dan kepatuhan total kepada sang pemberi dosis."

Buku itu gemetar di dalam cengkeraman Sesil.

Setiap kata dalam literatur medis itu terasa seperti sembilu yang menyayat jiwanya sampai ke dasar.

Efek Mandaroba.

Romansa manis yang dirasakannya selama ini, rasa haru saat menerima mawar putih, dorongan untuk memeluk Alden, dan kepatuhannya saat menerima lamaran cincin berlian tadi malam... semuanya bukan berasal dari hatinya yang murni.

Semua perasaan cinta dan ketergantungan itu adalah produk dari racun kimia yang dimasukkan Alden ke dalam tubuhnya setiap malam!

Alden tidak pernah menyelamatkan nyawanya dari kerusakan otak; Alden sedang meretas otaknya secara perlahan, membunuh kepribadian aslinya, dan mengubah seorang Sesil Wijaya—seorang jurnalis berani dan independen—menjadi boneka bernyawa yang dipaksa mencintai sang penyiksa!

"Sintetis..." bisik Sesil, suaranya tercekik oleh keputusasaan dan amarah yang luar biasa dahsyat. "Cinta ini... semua perasaan ini... hanyalah racun buatan..."

Kenyataan mengerikan itu membakar habis sisa-sisa kebingungan di kepala Sesil. Efek manipulasi racun yang selama ini membelenggunya pecah berkeping-keping di bawah kebenaran ilmiah yang tak terbantahkan.

Tidak ada lagi rasa berutang nyawa. Tidak ada lagi rasa kasihan pada Alden. Yang tersisa hanyalah kebencian murni dan tekad liar untuk bertahan hidup.

Sesil segera mengambil ponselnya, memotret setiap halaman dari literatur medis Efek Mandaroba itu sebagai bukti tak terbantahkan. Ia menutup buku tebal itu perlahan dan mengembalikannya ke selipan rak kayu dengan sangat hati-hati.

Namun, tepat saat ia berbalik hendak keluar dari perpustakaan, sebuah bayangan tinggi besar memotong kegelapan di ambang pintu masuk.

Sesil menyergap napasnya, menghentikan langkahnya seketika.

Alden berdiri di sana, menyandarkan tubuhnya pada bingkai pintu. Pria itu masih mengenakan celana piyama hitamnya, dadanya yang telanjang naik turun pelan.

Di dalam kegelapan malam, sepasang mata gelap Alden memancarkan kilatan dingin yang tak tertandingi—sebuah pandangan dari seseorang yang telah mengamati pergerakan Sesil sejak wanita itu melangkah keluar dari kamar.

"Kamu tidak bisa tidur, Sayang?" tanya Alden. Suaranya terdengar begitu tenang, begitu datar, namun sarat akan ancaman berbahaya yang merayap di udara.

Sesil menyembunyikan ponselnya di balik lipatan gaun malamnya, mencoba menetralkan raut wajahnya dari kepanikan yang membakar. Naluri berpura-purnyanya bertindak cepat.

"Aku... aku hanya mencari buku bacaan, Alden," jawab Sesil dengan nada suara yang dibuat sedikit lambat dan linglung—meniru efek racun yang biasa diperlihatkannya.

"Kepalaku sedikit berdenyut... jadi aku ingin membaca sebentar."

Alden melangkah masuk ke dalam perpustakaan, mendatangi Sesil dengan langkah pelan dan penuh perhitungan. Pria itu berhenti tepat di depan Sesil, menunduk untuk menatap lurus ke dalam matanya, mencari celah keraguan atau pengkhianatan.

Tangannya mengelus pipi Sesil dengan usapan lembut yang kini terasa bagaikan sentuhan ular berbisa bagi Sesil.

"Membaca di tengah malam tidak baik untuk proses pemulihan sarafmu, Sesil," kata Alden seraya mengecup dahi Sesil dengan bibirnya yang dingin. "Mari kita kembali ke kamar. Dosis obatmu untuk malam ini belum habis sepenuhnya, bukan?"

Sesil menahan jiwanya yang berteriak jijik, memaksa sudut bibirnya membentuk senyuman tipis dan pasrah—sebuah topeng kepatuhan sempurna yang kini digunakannya untuk menyembunyikan dendam yang membara.

"Baik, Alden... bawa aku kembali ke kamar," bisik Sesil pelan.

Saat ia berjalan di samping Alden kembali menyusuri koridor gelap, Sesil tahu bahwa permainan telah berubah secara total.

Ia tidak lagi menjadi mangsa yang kebingungan di dalam sangkar. Di balik topeng kepatuhan Efek Mandaroba yang berpura-pura diterimanya, Sesil Wijaya telah bangkit kembali dari amnesia buatan, siap mengatur strategi untuk menghancurkan Alden dan meloloskan diri dari neraka perbukitan ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!