NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Hannah

Di Balik Cadar Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Romansa
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

Hannah adalah wanita bercadar yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuannya kembali dengan Faz, lelaki yang pernah menolongnya, membuat cinta tumbuh hingga mereka hampir bertunangan.

Namun sebuah rahasia membuat mereka tak bisa bersama. Saat Hannah harus merelakan cintanya, Arif—lelaki yang diam-diam telah lama mencintainya—datang membawa sebuah lamaran.

Di antara cinta, luka, dan takdir, Hannah harus menentukan jalan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ke Rumah Faz

Pagi harinya, Hannah berdiri di depan cermin sambil memeriksa kembali perlengkapannya.

Kamera. Lensa. Baterai cadangan. Memory card. Laptop.

Semua sudah lengkap.

Ia memasukkan perlengkapan terakhir ke dalam tas, lalu mengembuskan napas panjang.

“Bismillah.”

Hannah hendak beranjak ketika ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk.

Dari Faz.

Datang sekitar jam sepuluh.

Hannah membaca pesan itu dua kali, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah melihatnya.

Kemudian, ia membalas singkat.

Baik. InsyaAllah.

Belum sempat meletakkan ponselnya, sebuah pesan lain masuk.

Dari Farah.

Kak, aku sudah sampai.

Hannah tersenyum tipis. Ia meraih tas kameranya, kemudian keluar kamar.

Hari ini ia akan bertemu Faz.

Bersama Farah.

Dengan membawa kamera dan sebuah konsep pemotretan yang sudah dipersiapkannya sejak semalam.

Ia harus berhasil. Kesempatan yang diberikan Pak David tidak boleh disia-siakan.

Namun, di balik semua persiapan itu, ada satu hal yang terus mengusik pikirannya.

Faz.

Hannah belum tahu bagaimana ia akan bersikap ketika berhadapan langsung dengan laki-laki itu. Ia hanya berharap bisa mengendalikan dirinya sendiri.

Sebab, ada satu rahasia yang selama ini mati-matian ia sembunyikan.

Dan ia tidak ingin Faz mengetahuinya.

---¤‐‐‐

Mobil Farah berhenti di depan sebuah rumah berarsitektur modern.

Bangunannya terdiri dari dua lantai dengan perpaduan warna putih, abu-abu, dan cokelat. Bentuk geometris yang tegas berpadu dengan permainan bidang bertingkat, menciptakan kesan mewah tanpa kehilangan kehangatannya.

Dari luar, rumah itu tampak begitu tenang.

Farah mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke arah Hannah yang sejak tadi lebih banyak diam.

"Kak Hannah gugup?" tanyanya, seolah bisa membaca kegelisahan yang berusaha disembunyikan perempuan itu.

Hannah tersenyum kecil.

"Sedikit. Mungkin karena klien kali ini agak berbeda." Ia terkekeh pelan. "Hehe."

Farah mengangguk penuh pengertian.

"Aku juga, Kak. Deg-degan. Mungkin ini bakal jadi pengalaman kerja lapanganku yang pertama."

Hannah menoleh.

"Kamu yakin mau ikut?"

"Yakin, dong! Lagian, Kak Hannah sendiri yang mengajakku."

"Iya, sih."

"Jadi, jangan sampai aku datang jauh-jauh cuma buat duduk manis di mobil, ya."

Hannah tertawa kecil. Untuk sesaat, ketegangan yang sejak tadi memenuhi dadanya sedikit berkurang.

Namun, begitu pandangannya kembali tertuju pada rumah di hadapan mereka, senyumnya perlahan memudar.

Ia meremas tali tas kamera yang berada di pangkuannya.

Bismillah. Semoga semuanya berjalan lancar.

Hannah dan Farah turun dari mobil.

Mereka berjalan menuju pintu gerbang. Setiap langkah terasa biasa saja bagi Farah, tetapi tidak bagi Hannah. Semakin dekat ia dengan pintu rumah itu, semakin cepat pula detak jantungnya.

Farah menekan tombol bel.

Mereka menunggu.

---¤‐‐-

Di dalam rumah, Faz yang sedang berada di ruang tengah mendengar bunyi bel dari layar interkom.

Ia mengambil ponselnya, lalu membuka tampilan kamera yang terpasang di depan gerbang.

Dua orang perempuan terlihat berdiri di sana.

Salah satunya Farah.

Faz mengenal gadis itu.

Namun, perhatiannya justru tertuju pada perempuan di sebelahnya.

Sosok itu mengenakan cadar dan membawa tas kamera.

Akira?

Faz memperbesar tampilan layar.

Jadi, inikah fotografer yang akan menemuinya?

Ia teringat percakapannya dengan Rozin kemarin. Saat itu, Rozin sempat menyebut perempuan tersebut dengan panggilan ukhti.

Sekarang Faz mulai memahami alasannya.

Perempuan itu bercadar.

Namun, pemahaman tersebut justru memunculkan pertanyaan baru.

Siapa sebenarnya Akira?

Mengapa ia memilih menghubunginya secara langsung? Dan apa yang begitu ingin ditunjukkannya sampai ia begitu yakin Faz akan tertarik?

Faz mengamati layar sekali lagi.

Perempuan bercadar itu berdiri dengan tenang, tetapi kedua tangannya tampak sesekali membetulkan posisi tas kamera.

Gugup, mungkin.

Faz tersenyum tipis.

Menarik.

Ia membuka gerbang dari dalam rumah melalui sistem otomatis, kemudian berjalan menuju pintu utama untuk menyambut kedua tamunya.

Tak lama kemudian, bel kembali berbunyi.

Faz membuka pintu.

"Assalamu'alaikum, Kak Faz!"

Farah menyapa dengan riang.

"Wa'alaikumussalam." Faz tersenyum. "Lho, kamu juga ikut, Far?"

"Hehehe, iya, Kak. Surprise!"

Farah mengangkat kedua tangannya dengan gaya bercanda.

"Aku sekarang jadi asisten Kak Hannah."

"Wah, sekarang kamu sudah mulai bekerja, Far?" Faz mengangguk senang. "Selamat, ya."

"Makasih, Kak!"

Faz menjabat tangan Farah.

Sementara itu, Hannah masih berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Bukan karena tidak ingin menyapa.

Ia hanya sedang berusaha mengatur detak jantungnya yang terasa tidak beraturan.

Suara Faz membuat dadanya kembali sesak.

Suara itu masih sama.

Hannah menundukkan pandangan sesaat, mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya mengangkat wajah.

Faz kemudian mengalihkan perhatiannya kepada perempuan yang sejak tadi diam.

Matanya melirik tas kamera yang dibawa Hannah.

"Kamu Akira?"

Hannah sedikit terkejut.

Akira.

Ia memang menggunakan nama itu untuk urusan pekerjaan. Namun, mendengar Faz menyebutnya secara langsung terasa berbeda.

"Iya," jawabnya singkat.

Faz mengulurkan tangan untuk menyambutnya, tetapi Hannah hanya mengatupkan kedua tangannya di depan dada.

"Maaf."

Faz segera memahami maksudnya.

"Oh, iya. Tidak apa-apa."

Ia menarik kembali tangannya tanpa mempermasalahkan sikap Hannah.

Namun, tatapannya masih tertuju pada perempuan bercadar itu.

Beberapa detik berlalu sebelum Farah akhirnya menyela.

"Kok Kak Faz manggilnya Akira?"

Faz mengalihkan pandangan kepada Farah.

"Memangnya panggilannya siapa?"

"Hannah, Kak."

"Oh." Faz mengangguk. "Baiklah, Hannah."

Hannah sedikit mengangkat wajahnya.

"Sebenarnya, saya tidak masalah dipanggil Akira."

Faz tersenyum tipis.

"Kalau begitu, saya panggil Akira saja. Biar sesuai dengan urusan pekerjaan."

"Terserah anda saja."

"Kalau begitu, silakan masuk."

Faz mempersilakan kedua tamunya masuk ke dalam rumah.

Hannah dan Farah melangkah melewati pintu utama.

---¤---

Ruang keluarga itu terlihat rapi dan nyaman.

Sofa berwarna abu-abu gelap tertata menghadap sebuah meja kecil di tengah ruangan. Di sisi lainnya, sebuah sofa panjang melengkapi area duduk yang cukup luas. Perpaduan warna netral dengan pencahayaan hangat membuat ruangan tersebut terasa elegan tanpa terkesan kaku.

Faz mempersilakan mereka duduk.

Farah langsung memilih tempat di salah satu sisi sofa, sedangkan Hannah duduk sambil meletakkan tas kameranya di dekat kaki.

Belum lama mereka duduk, Hannah sudah mengeluarkan laptop.

Faz memperhatikan gerak-geriknya.

Perempuan itu membuka laptop, menyambungkan perangkatnya, lalu mencari berkas yang sudah dipersiapkan.

Semuanya dilakukan dengan cepat dan teratur.

Sepertinya ia memang datang untuk bekerja.

"Baiklah," Hannah mulai berbicara. "Saya sudah menyiapkan konsep pemotretan yang mungkin menarik untuk anda lihat."

Faz menyandarkan punggungnya pada sofa.

"Sepertinya kamu sudah tidak sabar."

Hannah menghentikan gerakan tangannya.

"Eh?"

"Baru duduk sebentar, kamu sudah membuka laptop."

Wajah Hannah sedikit memanas di balik cadarnya.

"Maaf."

Faz terkekeh pelan.

"Bukan masalah. Saya hanya bertanya."

Farah yang sejak tadi memperhatikan mereka akhirnya ikut berbicara.

"Memang Kak Hannah begitu, Kak. Kalau sudah membahas pekerjaan, dia suka langsung ke intinya. Jarang basa-basi."

Hannah melirik Farah.

"Farah..."

"Apa? Memang benar, kan?"

Faz tertawa kecil.

"Oh, begitu."

Ia kembali menatap Hannah.

"Padahal saya belum bilang setuju untuk melakukan pemotretan."

Hannah mengangguk.

"Betul. Karena itu, saya ingin memperlihatkan konsepnya terlebih dahulu. Siapa tahu anda tertarik."

"Kalau saya tetap tidak tertarik?"

Hannah terdiam sejenak.

Ia sudah memikirkan kemungkinan itu sejak semalam, tetapi mendengar Faz mengatakannya secara langsung tetap membuatnya gugup.

"Setidaknya, saya sudah berusaha."

Jawaban itu membuat Faz mengangkat alis.

"Jadi, kamu tidak akan memaksa saya?"

"Tentu tidak. Saya datang untuk menawarkan, bukan memaksa."

Faz mengangguk pelan.

Kemudian, ia mengajukan pertanyaan yang sejak tadi ingin disampaikannya.

"Kalau boleh tahu, kenapa kamu tidak bertanya lebih dahulu tentang alasan saya berhenti melakukan pemotretan?"

Hannah mengangkat wajahnya.

"Memangnya saya perlu tahu?"

Faz sedikit terkejut.

"Menurutmu tidak?"

Hannah menggeleng pelan.

"Itu urusan pribadi anda. Saya rasa saya tidak perlu mengetahuinya kalau anda sendiri tidak ingin menceritakannya."

Sesaat, Faz tidak memberikan jawaban.

Ia memperhatikan Hannah dengan lebih saksama.

Kebanyakan orang yang berusaha membujuknya kembali ke dunia pemotretan selalu memulai dengan pertanyaan yang sama. Mengapa ia berhenti? Apa masalahnya? Kapan ia akan kembali?

Sebagian bahkan sibuk memberikan nasihat seolah-olah mereka tahu apa yang sedang dihadapinya.

Namun, perempuan di hadapannya justru tidak tertarik menggali urusan pribadinya.

Ia hanya ingin menawarkan sebuah konsep.

Sederhana.

Tetapi entah mengapa, sikap itu membuat Faz semakin penasaran.

"Atau..." Hannah kembali bersuara, membuat Faz mengalihkan perhatiannya. "Anda ingin menjelaskan alasannya?"

Faz menggeleng.

"Tidak."

"Baiklah."

Hannah kembali menunduk, berniat membuka berkas presentasinya.

Namun, sebelum ia sempat melakukannya, Faz bertanya lagi.

"Kalau kamu tidak tahu alasan saya berhenti, bagaimana kamu bisa yakin konsep yang kamu bawa akan membuat saya tertarik?"

Gerakan tangan Hannah terhenti.

Pertanyaan itu membuatnya diam beberapa saat.

Ia bisa saja menjawab dengan alasan profesional. Ia bisa menjelaskan bahwa dirinya telah mempelajari portofolio Faz, memahami karakter visual yang selama ini digunakan, dan menyiapkan pendekatan berbeda untuk menarik kembali minatnya.

Semua itu benar.

Namun, bukan seluruhnya.

Hannah mengetahui lebih banyak daripada yang seharusnya diketahui seorang fotografer yang baru menghubunginya.

Dan ia harus berhati-hati agar tidak menunjukkan hal tersebut.

Akhirnya, Hannah mengangkat wajah.

"Karena saya tidak datang untuk meminta anda kembali menjadi orang yang sama seperti sebelumnya."

Faz terdiam.

Hannah melanjutkan dengan suara tenang.

"Saya hanya ingin menawarkan sesuatu yang berbeda. Kalau Kakak tertarik, kita bisa membicarakannya lebih lanjut. Kalau tidak, saya akan menghormati keputusan anda."

Untuk beberapa saat, ruang keluarga itu terasa sunyi.

Faz menatap perempuan bercadar di hadapannya.

Ia tidak tahu mengapa, tetapi jawaban tersebut terasa berbeda dari apa yang selama ini didengarnya.

Kembali menjadi orang yang sama seperti sebelumnya.

Kalimat itu seolah menyentuh sesuatu yang selama ini berusaha ia hindari.

Faz mengalihkan pandangan ke arah jendela.

Kemudian kembali menatap Hannah.

"Baiklah, Akira."

Hannah menunggu.

"Tunjukkan apa yang sudah kamu siapkan."

Hannah nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

Namun, ia segera membuka presentasinya.

"Baik."

"Oh ya, satu lagi. panggil saya Faz saja. Jangan terlalu formal." pinta Faz.

"Baiklah." Hannah mengangguk.

Ia memutar laptop agar Faz bisa melihat layar dengan jelas.

Farah ikut mendekat, penasaran dengan konsep yang sejak kemarin disiapkan Hannah.

Slide pertama muncul.

Sebuah foto dengan permainan cahaya dan bayangan yang dramatis.

Faz memperhatikan layar itu.

Awalnya, ekspresinya biasa saja.

Namun, ketika Hannah menjelaskan konsep di balik foto tersebut, perlahan-lahan ia menegakkan tubuh.

Ada sesuatu dalam pendekatan visual itu yang tidak biasa.

Bukan sekadar menampilkan seseorang di depan kamera.

Melainkan menangkap sisi yang tidak selalu ingin diperlihatkan seseorang kepada dunia.

Faz menatap layar lebih lama.

Lalu, tanpa mengalihkan pandangan, ia bertanya,

"Akira, boleh saya tahu dari mana kamu mendapatkan ide ini?"

Jantung Hannah kembali berdegup kencang.

Ia sudah memperkirakan Faz akan menanyakan banyak hal tentang konsep tersebut.

Namun, bukan pertanyaan ini yang ia takutkan.

Melainkan kemungkinan pertanyaan berikutnya.

Hannah menarik napas pelan.

"Saya hanya berpikir bahwa setiap orang punya cerita yang tidak selalu bisa disampaikan lewat kata-kata."

Faz akhirnya menoleh kepadanya.

"Termasuk kamu?"

Hannah membeku.

Hanya sesaat.

Namun, cukup lama untuk membuat Faz menyadari perubahan kecil pada sikapnya.

Hannah segera kembali menatap layar laptop.

"Termasuk saya," jawabnya pelan.

1
naar0rrrr
lanjutt yaa kakk, semangatt💪 jangan lupa mampir cs ku yakk/Smile/
naar0rrrr
Hannah kayak nya bingung mau jawab apa ya..
naar0rrrr
kenapa faz nya gak jujur ya?
naar0rrrr
lanjuttt kakk, semngatttt
naar0rrrr
di ingetinn dongg, lanjutt yaa kaaa
naar0rrrr
lanjutttt thorrrrr
Putry Chan
kmu ingin mempertemukan hannna Dengan masa lalu nya apakah mereka ini gak tau
Putry Chan
berdoa dulu insyaallah aman kok
Putry Chan
faz itu masa lalu Hannah btw mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Hannah kamu knp
Putry Chan
Hannah kamu kenal dia
aefpe fp
mampir juga ya...sesama pemula ini😍
jinggaarundari
yahhhh gantung.... lanjut terus kaa😍😍
jinggaarundari
ya ampun Hannah...
jinggaarundari
Faz cek lagi ke RS bikin dejavuu akuu, baru awal udh deep 🫠
semangat terus kaa😍😍
Renjana
pertemuan dengan siapa tu?🤭
R: dengan masa lalu 🤭
total 1 replies
Renjana
bagus kak,
semangat nulis
mampir juga di karyaku Rotinya Manis, Rin😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!