Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.
Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rutinitas Pacaran Salah Tembak 15.
Pukul 06.30 pagi, suara klakson motor sport Dafa sudah memecah keheningan di depan pagar minimalis rumah Lilis.
Lilis keluar dengan langkah agak pincang yang dipaksakan tampak normal. Dia mengenakan seragam putih abu-abu yang rapi, lengkap dengan tas ransel yang sengaja ditaruh di depan dada untuk menutupi kecanggungannya.
Dafa sudah menunggunya tanpa turun dari motor. Cowok itu hanya membuka kaca helmnya, menatap Lilis dari atas sampai bawah. "Lama bener. Lu dandan dulu atau nyari kunci pagar yang hilang?"
"Gua pakai sepatu susah, Daf. Kaki gua masih agak bengkak," gerutu Lilis, berjalan mendekat sambil menenteng helm bogo putih miliknya.
"Ya udah, buruan naik. Keburu gerbang ditutup Pak Satpam."
Lilis menatap Dafa yang bersikap sok bos.
Sebuah ide jahil 'mulai kumat' mendadak melintas di kepalanya. Lilis tersenyum licik, membelakangi Dafa sebentar, lalu dengan sengaja memakai helm bogonya secara terbalik.
Kaca helm yang seharusnya melindungi wajah kini berada di belakang kepalanya, sementara bagian tempurung belakang menutupi mukanya.
Lilis berbalik, naik ke boncengan motor Dafa dengan posisi super konyol itu. "Dah, yuk jalan!" suaranya teredam dari dalam helm.
Dafa melirik dari spion dan langsung menghela napas panjang. Wajahnya datar, menahan diri untuk tidak memijat pelipisnya sendiri. "Lis, lu sehat? Itu helm lu kebalik, anjir. Lu mau cosplay jadi astronot gagal atau gimana?"
"Biarin! Udah jalan aja, jangan banyak protes. Kan katanya perintah pelatih!" sahut Lilis defensif, menepuk pundak Dafa keras-keras agar cowok itu segera melaju.
Lilis sengaja melakukan ini demi membalas dendam atas gengsi Dafa semalam. Dia ingin melihat Dafa malu dilihat orang-orang di jalan karena membonceng cewek aneh.
Dafa tidak membantah lagi. Dia hanya menggelengkan kepala, menyalakan mesin, dan langsung menarik gas.
Namun, rencana Lilis gagal total. Alih-alih merasa malu, Dafa justru mengendarai motornya dengan santai melintasi jalanan pagi yang mulai padat. Selama perjalanan, Dafa benar-benar menutup mulutnya.
Biasanya, cowok itu akan mengoceh, meledek. Kali ini, Dafa diam seribu bahasa. Dia sengaja tidak mengajak Lilis mengobrol sepatah kata pun.
Atmosfer hening di atas motor sport itu mendadak terasa aneh bagi Lilis.
Angin pagi berembus kencang, menghantam tempurung helmnya yang salah posisi. Lilis yang awalnya merasa menang, lama-lama malah merasa canggung sendiri karena didiamkan.
'Nih anak marah apa gimana, sih?' batin Lilis. Dia ingin membuka obrolan, tapi gengsinya terlalu tinggi. Akhirnya, mereka berdua menembus kemacetan kota dalam keheningan yang sarat akan ketegangan remaja.
Begitu motor Dafa berbelok memasuki gerbang sekolah, perhatian beberapa murid yang berjalan di koridor langsung tersedot pada mereka. Bisikan-bisikan kecil mulai terdengar saat melihat Lilis turun dari motor dengan helm terbalik.
Lilis buru-buru melepas helmnya dengan wajah memerah, bersiap menerima ledakan tawa atau ejekan dari Dafa. Tapi Dafa hanya turun dari motor, standar samping dipasang, lalu menatap Lilis datar.
"Puas main-mainnya?" tanya Dafa tenang, hampir tanpa ekspresi.
Lilis mengerucutkan bibirnya, salah tingkah. "Lu... kok nggak malu sih didepan anak-anak?"
"Ngapain malu? Yang kelihatan bego kan lu, bukan gua," balas Dafa santai sambil mengambil helm dari tangan Lilis dan menggantungnya di setang motor.
Lilis baru saja mau menyemburkan kekesalannya saat Dafa tiba-tiba merogoh tas ranselnya sendiri. Cowok itu mengeluarkan sebuah kotak makan plastik berwarna biru muda dengan stiker gambar beruang kecil di tutupnya. Dafa menyodorkannya tepat di depan dada Lilis.
"Apaan nih?" Lilis menaikkan sebelah alisnya.
"Bekal. Buat lu," jawab Dafa pendek. Dia memalingkan wajahnya ke arah lapangan basket, mendadak enggan menatap mata Lilis. "Anggap aja upah karena kaki lu sakit gara-gara urusan ekskul kemarin. Tadi pagi gua masak kebanyakan."
Lilis mematung. Matanya berkedip beberapa kali, menatap kotak makan itu lalu beralih ke wajah Dafa yang telinganya mulai memerah.
Seorang Dafa—cowok yang biasanya cuma tahu cara oper bola dan bikin rusuh di kantin—membawakannya bekal buatan sendiri? Isu ini kalau sampai ke telinga anak-anak tongkrongannya pasti bakal jadi bahan ledekan selama satu semester.
"Lu... masak sendiri?" tanya Lilis, suaranya melembut tanpa bisa ditahan.
"Keliatannya gua beli di restoran bintang lima pakai kotak makan ginian? Udah, ambil. Gua mau ke kelas, piket," ketus Dafa, menyodorkan kotak itu lebih dekat sampai menyentuh tangan Lilis, lalu berbalik pergi begitu saja dengan langkah lebar yang kentara sekali sedang salah tingkah.
Lilis berdiri di parkiran, memandangi punggung Dafa yang menjauh.
Detak jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Ada rasa hangat yang pelan-pelan menjalar di dadanya, mengalahkan rasa sakit di pergelangan kaki kirinya.
**
Saat jam istirahat tiba, Lilis memilih untuk tidak pergi ke kantin bersama anak-anak cheerleader lainnya. Dia duduk di bangku pojok kelasnya, membuka tas, dan mengeluarkan kotak makan pemberian Dafa.
Di dalamnya ada nasi goreng dengan potongan sosis yang bentuknya tidak beraturan, ditambah telur dadar yang pinggirannya agak gosong. Estetikanya sangat minus, tipikal masakan cowok amatir yang baru belajar memegang sudip.
Lilis tersenyum kecil. Dia menyendok nasi goreng itu dan menyuapkannya ke dalam mulut.
Detik berikutnya, mata Lilis langsung membelalak. Lidahnya mengecap rasa asin yang luar biasa pekat. Rasa gurihnya tenggelam oleh dominasi garam yang tampaknya tumpah saat proses memasak.
"Uhukk!" Lilis terbatuk kecil, buru-buru meneguk air mineral dari botolnya.
"Gila si Dafa... ini nasi goreng apa air laut ditaruh nasi?" dumel Lilis sendirian di kelas yang sepi. Dia menatap nasi goreng itu dengan campur aduk antara ingin tertawa dan menangis.
Meskipun mulutnya terus mengedumel lucu, merutuki kemampuan memasak Dafa yang buruk, tangan Lilis tidak berhenti bergerak.
Dia kembali menyendok nasi goreng asin itu, mengunyahnya pelan-pelan, lalu menelannya. Setiap suapan terasa berat, tapi entah kenapa, Lilis tidak tega untuk membuangnya.
Ada usaha seorang cowok gengsian yang bangun lebih pagi hanya untuk mengorek-ngorek isi kulkas demi dirinya yang sedang cedera.
Setengah jam berlalu, dan kotak makan biru itu benar-benar bersih. Tidak ada satu butir nasi pun yang tersisa.
Lilis menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memegangi perutnya yang mendadak penuh dengan karbohidrat dan natrium berlebih.
Gadis itu tersenyum geli sendiri, membayangkan bagaimana wajah panik Dafa kalau tahu masakannya hampir membuat Lilis darah tinggi seketika.
"Garamnya sekilo ya, Daf? Tapi... makasih ya," bisik Lilis lirih pada ruangan kosong, sementara di luar jendela, langit sekolah terasa jauh lebih cerah dari hari-hari biasanya.
......................
...****************...
Tbc,