NovelToon NovelToon
DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Mengubah Takdir / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamparan Keadilan dari Arah yang Tak Terduga

Mentari pagi perlahan merayap naik, menembus celah-celah atap seng gubuk reot di bantaran rel kereta api. Di atas kasur tipisnya, Dara membuka mata perlahan. Warna kebiruan di bibirnya telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh rona tipis yang menandakan kondisi tubuhnya mulai membaik. Ketika ia menoleh, ia melihat Juwita tertidur lelap di sisi ranjang dengan posisi duduk, kepalanya bersandar pada tepi kasur, sementara tangannya masih menggenggam erat jemari kurus sang ibu. Ada lebam hitam di bawah mata gadis itu, sisa dari malam-malam panjang yang penuh air mata dan ketakutan.

Dara merasakan sesak yang luar biasa di dadanya—bukan karena penyakitnya, melainkan karena rasa cinta dan iba yang tak terperi pada putri tunggalnya. Dengan sangat hati-hati, Dara mengangkat tangannya yang masih terasa lemas, lalu mengusap rambut Juwita penuh kelembutan.

Juwita langsung terbangun. Matanya mengerjap cepat, lalu seketika membelalak kaget saat melihat ibunya menatapnya sambil tersenyum hangat.

"Ibu... Ibu sudah sadar? Ada yang sakit? Mau minum?" tanya Juwita bertubi-tubi dengan nada panik bercampur lega, langsung menegakkan tubuhnya.

Dara menggeleng pelan, senyumnya mengembang meski matanya berkaca-kaca. "Ibu sudah jauh lebih baik, Nduk. Jangan khawatirkan Ibu. Tapi lihat dirimu... matamu bengkak. Kamu begadang lagi menjagaku, ya?"

Juwita langsung menghapus sisa air matanya, lalu memasang senyuman paling ceria yang ia bisa. "Mana ada, Bu! Juwita semalam nyenyak banget tidurnya. Hari ini Juwita harus berangkat ke sekolah, ada ujian praktek penting."

Meskipun dalam hatinya ia tahu bahwa hari ini di sekolah ia akan menghadapi neraka buatan Kevin Aditama dan kepala sekolah, Juwita tidak boleh memperlihatkan sedikit pun kerapuhannya di hadapan ibunya. Setelah menyiapkan air hangat dan memastikan tabung oksigen portabel pinjaman Mak Ijah berfungsi dengan baik, Juwita berpamitan. Ia mencium punggung tangan ibunya lama, lalu melangkah keluar gubuk dengan seragam kusamnya, siap kembali menyongsong badai.

Setibanya di SMA Pelita Bangsa, suasana sekolah terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Begitu Juwita melangkahkan kakinya melewati gerbang utama, bisikan-bisikan tajam langsung menusuk telinganya. Para siswa berkerumun di koridor, menatapnya dengan pandangan sinis, jijik, dan mengejek. Di papan pengumuman utama, sebuah lembaran kertas baru telah dipasang mencolok: Peringatan Terakhir Batas Waktu Drop Out dan Sanksi Indisipliner atas nama Juwita.

Juwita mengabaikannya. Ia menegakkan kepalanya, berjalan lurus menuju kelasnya.

Namun, begitu ia membuka pintu kelas, sebuah jebakan langsung menyambutnya. Brak! Seember air kotor bercampur spidol merah disiramkan dari atas pintu, mengguyur tubuh Juwita hingga basah kuyup dan seragam putihnya ternoda pekat.

Seluruh isi kelas meledak dalam tawa yang riuh rendah. Di barisan depan, Kevin Aditama berdiri sambil bersidekap, tersenyum lebar dengan tatapan penuh kemenangan.

"Ups, sori, enggak sengaja!" seru salah satu teman geng Kevin dengan nada pura-pura terkejut. "Eh, anak pungut kayak lo masih punya muka buat datang ke sekolah elit ini? Beasiswa udah dicabut, uang nggak punya, bentar lagi juga lo bakal diseret keluar sama satpam!"

Juwita berdiri di tengah ruangan yang basah. Air menetes dari rambutnya, menodai lantai kelas. Dadanya naik turun menahan amarah yang hampir meledak menjadi jeritan. Ia mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri. Ia ingin melawan, ia ingin menerkam mereka satu per satu. Tapi ia tahu, di tempat ini, emosi adalah kelemahan terbesar.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, Juwita menyeka wajahnya yang terkena air kotor. Ia menatap tajam satu persatu isi kelas, lalu mengunci pandangannya pada Kevin Aditama. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Juwita berjalan melewati mereka menuju bangkunya di sudut belakang, duduk dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Keheningan mendadak merayap di dalam kelas; ketenangan dingin yang dipancarkan Juwita justru membuat Kevin merasa risih dan terganggu.

Menjelang jam istirahat siang, situasi semakin memuncak. Pintu kelas digedor keras dari luar. Kepala Sekolah Pak Haris melangkah masuk dengan wajah memerah murka, didampingi oleh dua orang petugas keamanan berbadan besar.

"Juwita! Keluar dari kelas sekarang juga!" bentak Pak Haris lantang, suaranya menggema ke seluruh penjuru ruangan.

Juwita bangkit berdiri, berjalan perlahan menghampiri sang Kepala Sekolah.

"Waktu toleransi yang diberikan yayasan sudah habis!" ucap Pak Haris dengan nada penuh kemenangan, melotot tajam ke arah Juwita. "Kamu tidak mampu membayar uang administrasi sebesar tujuh puluh juta rupiah, dan kamu terus membuat kekacauan di sekolah ini! Sebagai kepala sekolah, saya resmi mengeluarkan surat keputusan Drop Out permanen untukmu! Ambil tasmu dan angkat kaki dari sekolah ini sekarang juga!"

Kevin Aditama tersenyum puas di sudut ruangan, merasa misinya telah tercapai sepenuhnya. Para siswa lain bersorak dalam hati, menyaksikan kejatuhan mutlak sang gadis miskin.

Juwita menatap Pak Haris dengan sorot mata yang menyalang. Ia tahu, di titik ini, tidak ada lagi tempat baginya untuk berpijak. Namun, tepat saat ia membuka mulut hendak melontarkan kalimat terakhirnya untuk membela harga dirinya—

Tiba-tiba, suara tepukan tangan yang lambat namun bergema tegas terdengar dari arah koridor luar kelas.

Plok... plok... plok...

"Luar biasa. Sebuah pertunjukan tirani yang sangat memuaskan di atas penderitaan seorang anak remaja."

Semua orang di dalam kelas menoleh serentak ke arah sumber suara. Dari balik pintu kelas yang terbuka lebar, sesosok pria paruh baya berpostur tinggi tegap, mengenakan setelan jas kelir gelap buatan desainer Italia dan jam tangan mewah berharga miliaran rupiah, melangkah masuk dengan tenang. Di belakangnya berjalan seorang wanita berpenampilan eksekutif membawa setumpuk berkas hukum, serta tiga orang pengawal pribadi berjas hitam.

Wajah Pak Haris yang tadinya memerah karena amarah seketika berubah pucat pasi bagaikan mayat hidup. Keringat dingin langsung bercucuran di pelipisnya. Pria paruh baya yang baru datang itu bukanlah orang sembarangan. Ia adalah Baskoro Pratama—pemilik sekaligus CEO dari Pratama Corp, salah satu konglomerat raksasa teknologi terbesar di Asia Tenggara, dan yang paling penting: saingan bisnis terbesar dari Riko Aditama (ayah Kevin).

"P-Pak Baskoro Pratama...?" cicit Pak Haris dengan suara bergetar ketakutan, lututnya nyaris lemas. "A-ada apa... kenapa Bapak bisa datang ke SMA kecil kami...?"

Baskoro sama sekali tidak melirik Pak Haris. Pria berwibawa itu berjalan melewati barisan bangku siswa, matanya menatap tajam ke arah Juwita yang berdiri basah kuyup di dekat meja guru. Ada sorot kekaguman yang mendalam di mata Baskoro saat melihat ketegaran di wajah gadis muda tersebut. Baskoro kemudian menghentikan langkahnya tepat di hadapan Juwita, melepas jas luarnya, dan menyampirkannya dengan lembut ke bahu Juwita yang basah.

Juwita tertegun, menatap pria asing berwibawa itu dengan sejuta kebingungan. "B-Bapak... siapa?"

Baskoro tersenyum hangat, sebuah senyuman ramah yang kontras dengan aura dominannya. "Aku adalah orang yang telah memperhatikan karyamu sejak kompetisi nasional kemarin, Juwita. Dan aku juga adalah orang yang muak melihat bagaimana orang-orang serakah mencoba memadamkan cahaya masa depan bangsa hanya demi ego dan uang."

Baskoro membalikkan tubuhnya, menatap tajam ke arah Pak Haris dan Kevin Aditama yang kini berdiri mematung dengan wajah pucat pasi.

"Kepala Sekolah Haris," suara Baskoro dingin, tajam, dan menusuk langsung ke ulu hati siapa pun yang mendengarnya. "Anda dan yayasan sekolah ini telah melakukan pelanggaran berat atas penyalahgunaan wewenang, diskriminasi sistematis, serta pemerasan terhadap siswi berprestasi penerima hak paten riset."

"T-tapi Pak Baskoro! Ini salah paham! Kami hanya menegakkan aturan sekolah..." bela Pak Haris terbata-bata, suaranya nyaris hilang.

"Aturan?" potong Baskoro tajam. Wanita eksekutif di belakang Baskoro langsung membuka map hitam dan membentangkan beberapa lembar dokumen hukum di atas meja guru. "Ini adalah salinan akta pengalihan utang yayasan, audit forensik aliran dana ilegal dari Riko Aditama, dan surat gugatan perdata resmi atas percobaan sabotase intelektual yang dilakukan oleh putra beliau, Kevin Aditama."

Mendengar nama ayahnya disebut-sebut dalam dokumen hukum tingkat tinggi, Kevin Aditama melangkah maju dengan gemetar, wajahnya sepucat kertas. "N-ngawur! Jangan sembarangan menuduh! Papa saya tidak...!"

"Diam, anak muda," bentak Baskoro dengan suara menggelegar yang membuat Kevin langsung tertegun kaku. "Kalian pikir kalian bisa membeli segalanya dengan uang dan kekuasaan? Kalian pikir kalian bisa menginjak-injak harga diri Juwita sesuka hati kalian?"

Baskoro kembali menoleh ke arah Juwita, merangkul pundak gadis itu dengan penuh penghormatan. "Mulai hari ini, Juwita bukan lagi siswi buangan di sekolah korup ini. Pratama Corp secara resmi mengambil alih seluruh biaya hidup, pengobatan ibunya, dan memberikan beasiswa penuh tanpa batas baginya untuk langsung menempuh pendidikan tinggi di universitas teknologi terbaik di dunia."

Suasana di dalam kelas seketika sunyi senyap bagaikan kuburan. Tidak ada yang berani bernapas terlalu keras.

Juwita berdiri terpaku. Air mata haru yang sedari tadi ia tahan mati-matian akhirnya pecah begitu saja. Di tengah dunia yang berkali-kali mencoba menghancurkan, merendahkan, dan menguburnya hidup-hidup, pertolongan itu datang dari arah yang sama sekali tidak pernah ia duga—sebuah tangan raksasa yang mengangkatnya keluar dari lumpur keputusasaan menuju puncak dunia yang sesungguhnya.

Baskoro menyeka air mata di pipi Juwita dengan lembut. "Mari kita pergi dari tempat kotor ini, Juwita. Saatnya kamu menunjukkan pada dunia, siapa ratu yang sebenarnya."

Juwita mengangguk pelan, menarik napas dalam-dalam, dan melangkah keluar dari kelas itu melewati Kevin Aditama yang terduduk lemas di lantai dengan seluruh keangkuhannya yang telah hancur berkeping-keping.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!