Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.
Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.
Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 — KABAR DARI KEBUN BAMBU
Kabut tebal membungkus perkampungan kami saat fajar menyingsing di ufuk timur.
Aroma bau tanah basah dan daun pisang membusuk berembus dingin menusuk tulang.
Aku berdiri kaku di teras toko, membongkar papan kayu penutup pintu satu per satu.
Tangan kananku sengaja kututupi dengan kain lap lusuh agar bekas noda hitam kuku tak terlihat oleh warga.
Di bawah kuku ibu jari tangan kananku, pendar gaib berbentuk batu nisan masih terasa berdenyut pilu.
Rasa nyeri dingin menusuk hingga ke dalam persendian jariku, seolah ada kepingan es batu yang menancap abadi.
Sreeek!
Suara gersak langkah kaki terburu-buru terdengar mendekati halaman rumah panggung kami.
Pak Karso berlari terengah-engah dengan wajah pucat pasi dan mata terbelalak lebar menatapku.
“Surya! Kamu sudah mendengar kabar mengerikan dari rumah Pak Kasan pagi ini?” seru Pak Karso panik.
“Ada kabar mengerikan apa tentang Pak Kasan, Pak Karso?” tanyaku berbohong menahan degup dada.
“Pak Kasan ditemukan tergeletak kaku di dalam kebun bambu belakang rumahnya tadi subuh!” jerit Pak Karso.
“Apakah Pak Kasan meninggal dunia di dalam kebun bambu itu, Pak Karso?” tanyaku dengan suara bergetar.
“Belum meninggal, tapi kondisinya sungguh mengerikan sekali bagaikan mayat hidup!” jawab Pak Karso terengah.
“Seluruh kulit tubuhnya bersisik hitam membatu dan membusuk mengeluarkan ulat!” lanjutnya gemetar.
“Mulutnya terus memuntahkan segumpalan tanah kuburan merah berbaur darah hitam pekat,” tambah Pak Karso.
Darahku mendadak terasa berhenti mengalir mendengarkan cerita mengerikan dari bibir Pak Karso.
Gambaran fisik Pak Kasan yang sempat mendatangi toko kelontongku kemarin siang kembali membakar benakku.
Lelaki tua itu kemarin memang sudah memperingatkanku soal bahaya tanda nisan gaib di bawah kuku jariku.
Ningsih bergegas melangkah keluar dari dalam rumah panggung membawa nampan kayu.
Mata istriku terbelalak lebar mendengar penuturan cerita tragis tentang nasib Pak Kasan.
“Mbah Kasan memuntahkan tanah kuburan di dalam rumahnya sendiri, Pak Karso?” tanya Ningsih gemetar.
“Iya, Ningsih! Warga desa yang mau menolong sampai lari ketakutan melihat keanehan itu!” sahut Pak Karso.
“Bahkan dari dalam sela-sela kulit hitamnya tercium bau wangi bunga kamboja busuk,” lanjutnya mendesis.
“Ya Allah... kenapa penyakit Mbah Kasan bisa sangat aneh dan mengerikan begitu?” bisik Ningsih histeris.
Istriku merapatkan kedua telapak tangannya ke dada, mengucapkan doa-doa perlindungan dengan air mata menggenang.
Aku cuma bisa berdiri membisu, menggenggam erat kain lap yang membungkus ibu jari tangan kananku.
“Warung Mbah Kasan sekarang sudah ditutup rapat dan dipasang garis tirai bambu,” kata Pak Karso.
“Tidak ada warga yang berani mendekati rumah tua di dalam kebun bambu itu lagi,” tambahnya.
“Lalu bagaimana nasib Pak Kasan sekarang di dalam rumahnya, Pak Karso?” tanyaku berdesis pelan.
“Pak Kasan mengunci pintu rumahnya dari dalam sambil menjerit-jerit kesakitan,” jawab Pak Karso kaku.
“Dia berteriak-teriak minta ampun pada penunggu makam keramat di atas bukit sana,” bisiknya mendekat.
Jantungku melonjak hebat, berdebar kencang serasa mau pecah menghantam rongga dada.
Ningsih membelalakkan matanya, lalu perlahan berpaling menatap wajahku lurus-lurus dengan tatapan penuh selidik.
Aroma ketakutan yang pekat menyelimuti teras depan rumah panggung kami di bawah keremangan pagi.
“Pak Kasan menjerit minta ampun pada penunggu Makam Keramat Panjang, Pak Karso?” tanya Ningsih melengking.
“Iya, Ningsih, orang-orang tua desa berbisik kalau Pak Kasan kena karma pesugihan,” jawab Pak Karso.
“Beliau katanya melanggar janji perjanjian gaib setelah mengambil uang modal di bukit,” tambah Pak Karso.
“Sudahlah, Pak Karso, jangan menyebarkan berita gaib yang belum pasti kebenarannya,” potongku panik.
“Ini gula pasir lima kilo dan minyak goreng yang Bapak pesan kemarin,” ucapku menyodorkan belanjaan.
Pak Karso menerima kantong plastik belanjaan itu, lalu menyerahkan tiga lembar uang kertas dua puluh ribuan.
Begitu jemariku tersenggol lembaran uang kertas itu, hawa dingin membekukan seketika menyengat jariku.
Noda hitam batu nisan di bawah kuku ibu jariku mendadak berdenyut keras menembus daging.
“Terima kasih banyak ya, Surya, saya mau pulang dulu melihat kerumunan warga,” pamit Pak Karso.
Pak Karso berbalik pergi meninggalkan teras toko kami dengan langkah kaki yang terburu-buru.
Suasana di depan toko kelontong kami mendadak berubah menjadi sangat hening mencekam.
Ningsih berjalan mendekatiku, menatap mataku dengan raut wajah penuh kecurigaan dan amarah yang dalam.
Napas istriku memburu tegang, dan kedua tangannya gemetar hebat memegang tepi meja kayu toko.
“Jawab aku dengan jujur sekarang, Mas!” gertak Ningsih dengan suara bergetar menahan tangis.
“Kenapa ciri-ciri penyakit Mbah Kasan persis sama dengan bau dingin di rumah kita?” tanyanya keras.
“Kenapa leher Dedek kemarin juga berbau bunga kamboja busuk seperti raga Mbah Kasan?” lanjut Ningsih.
Aku melangkah mundur menghindari tatapan tajam Ningsih, berusaha menenangkan gejolak dada.
“Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Ningsih, penyakit Pak Kasan itu cuma medis biasa,” kelitku berbohong.
“Jangan membohongi aku lagi, Mas!” jerit Ningsih sambil memukul dadaku dengan kepalan tangan.
“Kamu menyembunyikan ibu jari tangan kananmu di balik kain lap itu kan, Mas?” selidik Ningsih.
“Coba buka kain lap itu sekarang di depanku kalau kamu memang tidak bersalah!” tantang Ningsih.
Ningsih menarik kain lap lusuh di tangan kananku dengan gerakan jemari yang sangat cepat.
Plester kain putih yang membungkus ibu jari tangan kananku terlepas jatuh ke atas lantai semen.
Pemandangan noda hitam berbentuk batu nisan yang menyala kebiruan langsung terpampang jelas di bawah cahaya fajar.
Bentuk nisan gaib itu terukir sangat rinci di bawah jaringan kuku ibu jariku, memancarkan pendar redup.
Garis-garis hitam kebiruan menyerupai akar pohon tua telah menjalar melingkari seluruh kuku dan daging jariku.
Ningsih terperanjat mundur dua langkah, menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil menjerit histeris.
Air mata ketakutan mengalir deras membasahi kedua pipi tirusnya yang pucat tanpa darah.
“Astagfirullahaladzim, Mas! Jempol tanganmu sudah bernoda hitam batu nisan!” jerit Ningsih menangis.
“Tanda iblis pesugihan itu sudah tumbuh melekat di dalam daging tanganmu, Mas!” amuk Ningsih lagi.
“Kamu benar-benar sudah menjual jiwamu pada penunggu Makam Keramat Panjang!” jerit Ningsih terisak.
Aku berlutut di depan kaki Ningsih, memeluk erat kedua lututnya dengan derai air mata penyesalan.
“Maafkan aku, Ningsih... demi Allah aku cuma terdesak utang Pak Leksa minggu lalu,” rintihku pasrah.
“Aku tidak tahu kalau ikatan perjanjian gaib ini akan membawa tanda kematian di ragaku,” tambahku.
“Kembalikan semua sisa uang haram itu ke makam keramat sekarang juga, Mas!” perintah Ningsih tegas.
“Aku dan Dedek lebih baik hidup miskin daripada makan uang pesugihan iblis!” amuk Ningsih lagi.
“Perjanjian gaib ini tidak bisa dibatalkan begitu saja tanpa ritual, Ningsih!” jelasku jujur.
“Kalau aku nekat membuang uang itu, nyawa Dedek yang akan ditarik sebagai gantinya!” ringisku.
Ningsih meremas rambutnya sendiri, terduduk lemas di atas lantai kayu teras sambil menangis histeris.
Kehancuran dan ketakutan kini resmi merayap masuk menghancurkan kebahagiaan rumah tangga kami.
Srik!
Suara raungan mesin motor Ujang yang bising mendadak berhenti di depan halaman rumah kami.
Ujang melompat turun dari atas kendaraannya dengan raut wajah panik luar biasa mendatangi kami.
“Surya! Kamu sudah mendengar berita buruk tentang kondisi Pak Kasan pagi ini?” tanya Ujang berbisik.
“Pak Karso baru saja bercerita tentang raga Pak Kasan yang membusuk di dalam kebun bambu, Jang,” jawabku.
Ujang menarik lenganku keluar teras, menjauh dari jangkauan tangisan Ningsih yang masih histeris.
“Simbah baru saja mengirimkan peringatan gawat padaku lewat burung gagak tadi subuh, Mas!” bisik Ujang.
“Peringatan gawat apa lagi yang dikirimkan oleh Simbah kepadamu, Jang?” tanyaku dengan jantung berdegup.
“Raga Pak Kasan sudah resmi diambil alih oleh penunggu Makam Keramat Panjang pagi ini!” kata Ujang.
“Pak Kasan menjadi bangkai hidup karena dia sengaja melanggar janji membawa namamu!” lanjut Ujang.
“Maksudmu... Pak Kasan disiksa karena menyuruhku menyebutkan namanya saat ritual sajen darah?” tanyaku.
“Iya, Mas! Penunggu makam sangat benci pada peminjam yang mencoba melempar tanggung jawab!” tegas Ujang.
“Sekarang giliran tugas ritualmu yang harus dituntaskan tepat waktu hari Selasa Kliwon lusa!” tambahnya.
Darahku terasa membeku seketika mendengar peringatan tegas dan gawat dari Ujang.
Ancaman kematian itu kini bergeser tepat berada di atas kepala dan keselamatan keluargaku sendiri.
“Selasa Kliwon lusa? Alat dan syarat apa lagi yang wajib kubawa ke makam itu, Jang?” tanyaku.
Ujang mendekatkan posisi berdirinya ke dekat telingaku, menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan sepi.
“Kamu harus membawa satu botol air mawar segar dan tujuh kuntum bunga kantil putih,” jelas Ujang.
“Kamu wajib menyiramkan air mawar itu ke seluruh permukaan nisan batu dari ujung ke ujung,” lanjutnya.
“Setelah itu kamu tancapkan tujuh kuntum bunga kantil di atas tanah gundukan makam,” tambah Ujang.
“Apakah ada mantra khusus yang wajib kuucapkan saat menyiramkan air mawar itu, Jang?” tanyaku.
“Kamu harus menguatkan sumpah setia dan berjanji tidak akan pernah melanggar aturan,” jawab Ujang.
“Ingat baik-baik, jangan pernah mencoba membatalkan atau melarikan diri dari ritual lusa!” gertak Ujang.
“Kalau kamu alpa satu detik saja... tanda nisan di jempolmu akan menjalar menelan dadamu!” ancam Ujang.
Aku menelan ludah yang terasa sangat pahit dan menyiksa tenggorokan mendengarkan konsekuensi gaibnya.
“Aku pasti akan datang menjalankan ritual Selasa Kliwon itu tepat waktu, Jang,” janji pasrahku.
“Baguslah kalau kamu paham, aku cuma tidak ingin nasibmu tragis seperti Pak Kasan,” ujar Ujang.
Ujang menepuk bahuku keras, lalu berbalik jalan melangkah menuju kendaraan sepeda motornya.
Deru mesin motornya meraung pelan sebelum akhirnya menghilang ditelan keheningan jalanan desa.
Siang harinya, suasana di dalam rumah panggung kami terasa sangat dingin dan penuh kecemasan.
Ningsih membisu tanpa mengucapkan satu kata pun saat menyiapkan makan siang di meja kayu.
Suasana meja makan yang biasanya hangat kini berubah membeku oleh rasa saling mencurigai.
Dedek pulang sekolah dengan wajah gembira, memperlihatkan nilai ujian bukunya yang dapat angka sembilan.
“Lihat, Bu! Bapak! Nilai ujian LKS Dedek dapat angka sembilan hari ini!” seru Dedek gembira.
“Anak pintar... Ibu bangga sekali sama kamu, Nak,” puji Ningsih mencium kening Dedek dengan haru.
“Terima kasih ya, Bapak, sudah belikan Dedek buku LKS minggu lalu!” seru Dedek merangkul tanganku.
“Sama-sama, sayang, yang penting Dedek rajin belajar dan selalu patuh pada Ibu,” jawabku lembut.
“Nanti sore Dedek boleh bermain sepeda sama teman-teman di depan lapangan desa kan, Pak?” tanya Dedek.
“Boleh, sayang, tapi sebelum maghrib Dedek harus sudah sampai di rumah ya,” bujukku tersenum kaku.
Dedek merangkul tangan kiriku, sementara tangan kananku tetap tersembunyi rapat di saku kemeja.
Aku tersenum kaku memandangi kepolosan wajah anak kandungku yang tidak tahu menahu soal perjanjian gaib.
Rasa bersalah yang teramat dalam terus membakar perasaanku setiap kali menatap mata bulat anakku.
Malam harinya, hujan gerimis disertai angin dingin berembus menggoyangkan pelepah pohon pisang.
Gumpalan awan hitam pekat menutup rapat sinar rembulan di atas atap rumah panggung kami.
Dedek dan Ningsih sudah tertidur lelap di dalam kamar tidur dengan lampu minyak yang remang.
Aku duduk sendirian di teras depan, mengusap ibu jari tangan kananku yang dibalut kain baru.
Krek...
Suara engsel pintu pagar bambu depan rumah berderit pelan, terbuka sendiri ditiup angin malam.
Bersamaan dengan munculnya deritan itu, aroma bau tanah kuburan basah dan kamboja busuk merebak pekat.
Hawa dingin yang sangat membekukan mendadak menusuk tengkuk leherku dari arah depan halaman.
Gelombang hawa gaib itu membuat seluruh ruang teras rumah terasa seperti berada di dalam kamar mayat.
Bulu kuduk di sekujur tubuhku berdiri tegak, dan detak jantungku berdebar sangat kencang.
Dari balik kegelapan kebun pisang, sesosok bayangan bungkuk melangkah diseret mendekati teras.
Bayangan bungkuk itu berjalan kaku, dengan kulit hitam bersisik yang memancarkan pendar redup.
Wajahnya yang hancur membusuk menatapku lurus-lurus dengan dua titik mata merah menyala tajam.
Itulah sosok Pak Kasan—atau apa pun yang kini telah mengambil alih raga lelaki tua tersebut.
“Surya... Selasa Kliwon lusa... bersihkan rumahku...” bisik suara gaib dari mulut Pak Kasan.
“Siramkan air mawar di batu nisanku sebelum darah anakmu kuisap habis...” lanjut suara gaib itu.
“Kalau kamu alpa... ragamu akan bersisik hitam membatu seperti ragaku ini...” seru suara serak itu.
“Aku tidak akan alpa, Mbah! Aku pasti akan datang lusa!” sahutku gemetar ketakutan di teras.
Sosok Pak Kasan perlahan berbalik jalan, menghilang di dalam kegelapan kebun bambu yang pekat.
Aku terduduk membisu di bangku teras dengan kucuran keringat dingin membahasi seluruh kemejaku.
Ancaman ritual Selasa Kliwon kini telah membayangi langkah hidupku dengan teror yang kian nyata.
---