NovelToon NovelToon
Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 - Menantu pak Danu

Suasana di kompleks pemakaman umum kawasan Bandung pagi ini begitu tenang dan asri. Angin pegunungan berembus sepoi-sepoi, membawa aroma tanah basah dan daun-daun kering. Di salah satu sudut pemakaman, petak makam almarhum Pak Danu tampak sangat bersih dan terawat dengan rumput hijau yang dipotong rapi, jauh dari kesan menyeramkan.

Semua itu tak lepas dari kebaikan hati Adrian Dewangga yang secara rutin membayar biaya perawatan dan kebersihan makam ayah mertuanya setiap bulan.

Bu Dewi Ambarwati dan Tuan Baskoro berjongkok kaku di depan pusara bernisan batu pualam tersebut. Di samping mereka, Nayla didampingi Adrian yang setia merangkul pundaknya, sementara Rio menanti dengan penuh kesigapan sedikit di belakang mereka.

Bu Dewi menatap ukiran nama almarhum mantan suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. Kenangan masa lalu tatkala almarhum Pak Danu begitu tulus mencintai dan merawatnya meski dalam kesederhanaan, mendadak berputar kembali di benaknya. Dengan jemari bergetar, Bu Dewi berlutut, mengusap nisan tersebut seraya meneteskan air mata penyesalan.

"Mas Danu... maafkan aku..." bisik Bu Dewi terisak pelan. "Aku datang hari ini bersama Nayla..."

Tuan Baskoro yang berdiri di sampingnya pun ikut menundukkan kepala, memberikan rasa hormat yang tulus di depan makam pria yang pernah ditinggalkan istrinya demi dirinya.

Nayla yang menyaksikan pemandangan itu dari samping mengusap dada dengan napas lega. Pelupuk matanya hangat, namun ada kedamaian mendalam yang kini merayapi dadanya. Ibunya telah menepati janji untuk datang.

Usai memanjatkan doa bersama, mereka perlahan bangkit berdiri. Masih di area sekitar pemakaman yang teduh, Adrian memberikan isyarat pelan pada asisten pribadinya.

"Rio, serahkan berkasnya," perintah Adrian tenang.

Rio melangkah maju, membuka map kulit hitam yang dibawanya, lalu menyerahkan satu set dokumen resmi kepada Tuan Baskoro.

"Tuan Baskoro, seluruh proses akuisisi dan pembayaran atas tanah milik Anda telah diselesaikan dan ditandatangani secara lunas oleh pihak Dewangga Group," tutur Rio sopan. "Dengan ini, lahan tersebut telah resmi menjadi aset perusahaan kami."

Tuan Baskoro menerima dokumen itu dengan kedua tangan gemetar, matanya membelalak penuh rasa haru dan lega. "T-Terima kasih banyak, Pak Adrian! Terima kasih banyak! Anda benar-benar telah menyelamatkan keluarga dan bisnis saya dari kebangkrutan!"

Tuan Baskoro lalu menoleh menatap Nayla, membungkukkan badannya sedikit. "Nayla... terima kasih banyak ya, Nak. Terima kasih sudah mau membuka pintu maaf dan membantu kami."

Bu Dewi melangkah mendekati anak kandungnya. Wanita paruh baya itu merengkuh tubuh Nayla ke dalam pelukan hangat, sebuah pelukan tulus yang sudah bertahun-tahun tak pernah Nayla rasakan lagi.

"Nayla... terima kasih ya, Sayang... karena kamu sudah menyuruh Ibu datang menemui Bapakmu," bisik Bu Dewi terisak pelan di bahu Nayla.

Nayla membalas pelukan ibunya sebentar, lalu mengelus punggung Bu Dewi. "Sama-sama, Bu... Terima kasih juga karena Ibu sudah bersedia datang menemui Bapak hari ini."

Bu Dewi melepaskan pelukannya, menyapu air mata di pipinya. "Ibu janji, Nayla... Kalau ada waktu luang, Ibu akan sering-sering datang berziarah ke sini."

Tuan Baskoro menyela dengan senyum ramah, "Iya, Nayla. Saya juga tidak keberatan sama sekali untuk menemani ibumu datang ke sini kapan pun dia mau."

"Terima kasih banyak, Pak Baskoro," tutur Nayla tersenyum lega.

Setelah saling bertukar salam dan pamit, Bu Dewi dan Tuan Baskoro melangkah menuju kendaraan mereka lebih dulu untuk kembali ke Jakarta.

Sepeninggal pasangan suami istri itu, angin sejuk kembali berembus lembut. Adrian merangkul pinggang Nayla dengan mesra seraya menuntun istrinya berjalan perlahan menyusuri jalan setapak pemakaman menuju mobil sedan mewah mereka.

"Sayang... kamu sudah merasa lebih lega sekarang?" tanya Adrian lembut, menatap wajah anggun istrinya dari samping.

Nayla mendongak, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu tegap suaminya seraya tersenyum teduh. "Sudah sangat lega, Mas... Beban di dadaku rasanya menguap begitu saja."

Nayla melirik jam di pergelangan tangannya, lalu matanya berbinar-binar penuh ide manis. "Mumpung kita sedang di Bandung, Mas... Ayo aku ajak ke warung mi ayam langgananku sama almarhum Bapak dulu!"

Adrian menaikkan sebelah alisnya, terkekeh renyah melihat binar gembira di mata istrinya. "Warung mi ayam langgananmu? Boleh sekali, Sayang. Ayo!"

.

.

Beberapa saat kemudian, sedan mewah hitam milik Adrian berhenti di tepi sebuah jalan yang tidak terlalu luas. Di sana berdiri sebuah kedai mi ayam sederhana beratap terpal biru dengan spanduk kain bernuansa klasik. Meski tempatnya terbilang sederhana dan bersahaja, suasana di dalam kedai tampak sangat ramai oleh pengunjung yang sedang menikmati mangkuk mi ayam mereka.

Adrian, Nayla, dan Rio melangkah masuk. Kehadiran Adrian yang berbalut setelan pakaian elegan serta postur tubuhnya yang begitu tinggi gagah seketika menarik perhatian beberapa pengunjung. Namun Adrian sama sekali tidak merasa keberatan, ia justru dengan senang hati menarikkan kursi plastik untuk Nayla agar istrinya bisa duduk dengan nyaman.

"Mas dan Mas Rio duduk saja ya, biar aku yang pesan," puji Nayla bersemangat.

Nayla berjalan ke area depan meja racik mi ayam. Dengan senyum manis, ia memesan pada pemilik kedai. "Pak... pesan mi ayamnya tiga mangkuk ya. Tapi yang satu mangkuk jangan pakai mi ya, Pak... Isinya cuma sayur sawi dan daging ayamnya saja."

Pemilik kedai, pria paruh baya berwajah ramah bernama Pak Dedi yang sedang mengocok mi di dalam saringan seketika menghentikan gerakannya. Ia mendongak, mengamati wajah Nayla lekat-lekat.

"Ya ampun... Ini Neng Nayla, kan?! Anak gadisnya almarhum Pak Danu?!" seru Pak Dedi kaget seraya membelalakkan mata gembira. "Aduh, lama banget Neng nggak kelihatan main ke sini!"

Nayla tersenyum hangat seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman. "Iya, Pak Dedi... Ini Nayla. Apa kabar, Pak?"

"Puji syukur, sehat, Neng!" sahut Pak Dedi bersemangat, menyambut uluran tangan Nayla. Pandangan Pak Dedi lalu beralih pada dua pria yang duduk di meja Nayla. "Eh, Neng Nayla datang sama siapa ini?"

Nayla menoleh, memberikan isyarat agar Adrian dan Rio mendekat. Rio dan Adrian pun bangkit melangkah ke meja depan.

"Ini Mas Rio, teman kerja... Dan kalau ini..." Nayla memegang lengan tegap Adrian seraya tersenyum penuh rasa bangga, "...ini suami Nayla, Pak. Mas Adrian."

Mendengar dirinya dikenalkan secara terbuka dan penuh kebanggaan sebagai suami oleh Nayla di depan kenalan lama almarhum ayah mertuanya, dada Adrian seketika berdesir hangat. Senyum paling tampan dan manis terukir lebar di bibir sang CEO.

Adrian mengulurkan tangannya seraya menyapa ramah, "Selamat siang, Pak. Iya, saya Adrian... suaminya Nayla."

Pak Dedi menyambut jabat tangan Adrian dengan mata berbinar-binar heran. "Aduh... Ganteng banget suaminya Neng Nayla ini! Mirip artis-artis di TV! Almarhum Pak Danu pasti senang banget di alam sana lihat anak gadisnya dapat suami seganteng dan se-ramah ini!"

"Terima kasih banyak, Pak," tutur Adrian tersenyum tulus.

Pak Dedi mengangguk-angguk bersemangat. "Ya sudah, silakan duduk dulu Neng, Mas... Saya racikkan dulu mi ayam spesialnya ya!"

Namun, sebelum Pak Dedi kembali memegang mangkuknya, Adrian menyela dengan suara tenang dan berwibawa.

"Eh, tunggu sebentar, Pak Dedi..." tahan Adrian lembut.

Pak Dedi menoleh bingung. "Iya, Mas Adrian? Ada yang kurang?"

Adrian merogoh dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas pecahan ratusan ribu rupiah dalam jumlah yang cukup tebal, lalu meletakkannya dengan sangat sopan di atas meja dekat Pak Dedi.

"Pak... hari ini semua mi ayam di kedai Bapak saya borong ya," tutur Adrian tenang. "Siapa pun warga atau pengunjung yang datang kemari hari ini, selama persediaan masih ada, tolong gratiskan semuanya."

Pak Dedi dan beberapa pengunjung yang tak sengaja mendengar ucapan itu seketika melotot kaget.

"A-Aduh... Beneran ini, Mas?!" tanya Pak Dedi terbata-bata tak percaya melihat tumpukan uang di depannya. "Ini uangnya banyak sekali, Mas!"

Nayla menatap suaminya dengan mata berbinar terharu, sementara Adrian tersenyum teduh seraya mengusap pundak istrinya.

"Iya, benar, Pak Dedi..." sahut Adrian tulus. "Anggap saja ini sedekah dan hadiah doa atas nama almarhum Bapak Danu, ayah mertua saya."

Mendengar ketulusan itu, dada Pak Dedi berdesir haru. Dengan wajah sumringah penuh rasa syukur, Pak Dedi langsung berteriak heboh menyapa seluruh pengunjung di dalam kedai!

"Woy, semuanya! Dengar ya! Hari ini makan mi ayam GRATIS sepuasnya!" seru Pak Dedi riang gembira. "Semua ini ditraktir sama menantunya almarhum Pak Danu... suaminya Neng Nayla!"

"WAAAH! ALHAMDULILLAH! TERIMA KASIH MAS! TERIMA KASIH NENG NAYLA!" sorak para pengunjung kedai bersahut-sahutan riuh dan bahagia.

Suasana di kedai sederhana itu seketika dipenuhi gelak tawa dan doa-doa tulus untuk almarhum Pak Danu serta kebahagiaan rumah tangga Nayla dan Adrian.

Nayla menatap suaminya dengan pelupuk mata yang basah oleh air mata bahagia. Di bawah meja kayu kedai sederhana itu, Nayla menggenggam erat jemari jemari tegap Adrian.

"Mas... terima kasih banyak ya," bisik Nayla tulus dan mesra. "Mas selalu tahu cara membuat hatiku dan almarhum Bapak bahagia."

Adrian membalas genggaman tangan istrinya dengan amat erat, mendekatkan wajahnya lalu berbisik lembut tepat di telinga Nayla. "Apapun untuk senyumanmu dan ketenangan ayahmu, Sayang... Aku akan lakukan dengan sepenuh hatiku."

1
mheldaaa
kenapa ga up thor🥹🥹🥹
Novaa: maap kaka, hari ini double up kok🫰
total 1 replies
sryharty
dasar uget2
Agus Tina
Nah gitu Nayla, semangat untuk hidup sehatny
Yunie Silvia Putri
ha..ha..ha.. untug gak lepas tuh jantung bu dewi 😄😄😄
Yunie Silvia Putri
kalau udah urusan duit..duit...duit..., segala cara d halalkan 😕😕
Ariany Sudjana
terus kenapa kamu harus sewot Anita, kalau Nayla jadi istri Adrian? atau kamu mau coba peruntungan kerja di grup dewangga? siapa tahu jadi istri kedua Adrian?
sryharty: Adrian nya ora Sudi ka beristrikan Anita 🤭🤭
total 1 replies
Ariany Sudjana
hahaha mampus kamu Desi, jangan mentang-mentang kamu karyawan senior, menindas karyawan magang seenaknya 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
kenapa kamu ga ngomong terus terang Dewi, kalau Anita lebih cocok dengan Adrian? kan katanya tinggi, langsing, model papan atas, tapi sayangnya Anita itu pelacur murahan 😂😂🤣🤣 dan kelasnya jauh dibawah Nayla, yang perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, jadi jangan harap yah Anita bisa jadi istri konglomerat
Ariany Sudjana
dasar keluarga yang bodoh, mana mau Adrian membantu kalian, sudah nikmati saja kebangkrutan kalian 😂😂🤣🤣
Agus Tina
Mira turunkan berat badanmu bukan untuk membungkam mulit mereka tapi demi kesehatanmu juga nanti.
Novaa: Terimakasih sudah mampir kaka semoga terhibur🫰 tapi si mbak gemoy itu Nayla kak 😁
total 1 replies
Yunie Silvia Putri
bagusss Nayla, kamu harus tegas sama orang kayak gitu yg sudah meremehkanmu, semangat....💪💪
Ariany Sudjana
eh ada pelacur murahan yang ga tahu diri, sudah ditolong bukannya terima kasih, sama seperti ibu kamu, sama-sama pelacur murahan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ciye pa bos cemburu nih... kenapa ga sekalian informasikan kalau Nayla itu istri bapak?
Yunie Silvia Putri
😄😄😄 orang bucin mah memang gitu Rio, cemburunya kadang suka kelewatan.....😄😄😄😍😍
Yunie Silvia Putri
🖒🖒🖒🖒.....
best suka ama ceritanya
❤❤
Yunie Silvia Putri
waaahhhh parah nih emak nya, malu dia punya anak bertubuh gendut....
Yunie Silvia Putri
wah bakalan ada yg bucin nih sama istri gemoy nya 😄😄😄
Yunie Silvia Putri
waahhh makin seru nihh, lanjut thor...
Yunie Silvia Putri
halo kk author baru mampir baca nih, suka ceritanya, tapi episode ini bacanya nangis terus...😢😢
Yunie Silvia Putri: kk author boleh tanya, kapan up bab selanjutnya uda gak sabar nunggu cerita selanjutnya, jangan lama2 ya up nya 😄😄😄
total 2 replies
Ariany Sudjana
yang pasti istri Adrian itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, bukan seperti kamu yang pelacur murahan 🤣🤣😂😂 maklum yah, mama kamu kan pelacur murahan, yang tega meninggalkan suami dan anaknya demi jadi istri konglomerat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!