Bagaimana jadinya jika seorang dokter bedah dan ahli toksikologi jenius dari abad ke-21 bertransmigrasi ke tubuh seorang Permaisuri yang lemah dan dibuang?
Anran, seorang dokter genius masa depan, tewas dalam insiden laboratorium dan terbangun di tubuh Permaisuri Kerajaan Great Yan. Tak hanya dibuang ke Istana Dingin karena fitnah kejam, tubuh Permaisuri ini juga diracuni secara perlahan oleh musuh-musuhnya di istana belakang.
Permaisuri lama yang penakut dan mudah menangis telah lenyap. Kini, Anran bangkit membawa kecerdasan medis modern, keahlian racun yang mematikan, dan keberanian tanpa batas!
Satu per satu racun dibongkar, fitnah selir licik dipatahkan, dan intrik politik kerajaan dihancurkan. Seluruh istana dibuat gempar oleh perubahan drastis sang Permaisuri yang kini anggun, cerdas, dan tidak bisa diintimidasi oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 28
yang memikat. "Duri di dalam rumah telah bersih, Yang Mulia. Kini, saatnya kita menyambut kabar kemenangan dari garis depan perbatasan selatan."
Kaisar Tian mengecup lembut kening Anran, membiarkan kehangatan dan rasa lega melingkupi mereka berdua di dalam Aula Persembahyangan yang kini kembali sunyi dan tenang.
Beberapa minggu berlalu dengan cepat. Tanpa adanya ancaman konspirasi dari dalam istana belakang, Anran memimpin Balai Pengobatan Kerajaan dengan tingkat efisiensi yang belum pernah ada sebelumnya. Ia melatih para tabib muda menggunakan protokol kebersihan dan penanganan luka darurat, serta membangun sistem pasokan medis terstruktur yang memperkokoh fondasi kesehatan seluruh negeri.
Hingga pada suatu pagi yang cerah, suara terompet perunggu bergaung nyaring dari puncak benteng ibu kota. Derap langkah kuda pembawa pesan melaju kencang melintasi gerbang utama, membawa panji-panji kemenangan yang berkibar gagah di bawah sinar matahari.
"Laporan kemenangan! Laporan kemenangan dari garis depan selatan!" seru utusan berkuda seraya berlutut bersujud di tengah Aula Keagungan di hadapan Kaisar Tian dan Permaisuri Anran.
Utusan itu menyerahkan gulungan kitab berstempel segel emas milik Jenderal Meng. "Melapor kepada Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri! Berkat salep steril dan penawar racun dari Balai Pengobatan, lima puluh ribu prajurit kita berhasil menerobos rawa beracun tanpa hambatan berarti! Pasukan Kerajaan Selatan telah ditaklukkan sepenuhnya, dan Perdana Menteri pengkhianat telah ditawan!"
Seluruh menteri dan pejabat tinggi di dalam aula seketika bersorak gemuruh. Rasa haru dan kekaguman memenuhi ruangan saat mereka menyadari betapa besarnya kontribusi strategi medis Permaisuri Anran terhadap kemenangan besar ini.
Kaisar Tian bangkit dari Tahta Naga. Dengan wajah berbinar penuh kebanggaan, ia menggenggam erat jemari Anran, mengangkat tangan sang permaisuri tinggi-tinggi di hadapan seluruh sidang istana.
"Kemenangan hari ini adalah bukti nyata kejayaan Kerajaan Great Yan!" seru Kaisar Tian dengan suara menggelegar. "Mulai hari ini, nama Permaisuri Anran akan diukir sebagai Ratu Agung yang membawa kejayaan dan kedamaian abadi bagi negeri ini!"
... "Hamba sekalian mematuhi perintah Yang Mulia Kaisar! Panjang umur Yang Mulia Kaisar! Panjang umur Yang Mulia Permaisuri!"
Gemuruh seruan para menteri dan jenderal perang membalas ucapan sang kaisar, bergaung megah memantul di sepanjang pilar-pilar Aula Keagungan. Sorak-sorai penuh kehormatan itu tak hanya memenuhi aula utama, melainkan bergema hingga ke seluruh sudut istana dan ibu kota Kerajaan Great Yan.
Anran berdiri tegak di samping Kaisar Tian, membiarkan jemarinya yang halus berada rapat dalam genggaman tegap sang kaisar. Di bawah pendar cahaya matahari pagi yang menembus celah-celah jendela kebesaran, mahkota feniks di kepalanya berkilauan memancarkan aura kejayaan mutlak. Tidak ada lagi yang berani memandangnya sebagai sosok wanita lemah; kini seluruh negeri mengenalnya sebagai Ratu Agung yang cerdas, tegas, dan tak tertandingi.
Saat sidang istana perlahan dibubarkan, para menteri dan jenderal membungkuk hormat satu per satu sebelum melangkah mundur keluar aula. Kaisar Tian memutarkan tubuhnya sepenuhnya menghadap Anran. Tatapan mata elangnya yang dulu dipenuhi keangkuhan dan kecurigaan kini sepenuhnya luluh oleh rasa kagum dan kasih sayang yang mendalam.
"Mari kita kembali ke Istana Fengyi, Anran," bisik Kaisar Tian dengan suara bariton yang lembut dan hangat. "Hari ini seluruh negeri merayakan kemenangan, namun bagiku... kemenangan terbesar adalah memiliki dirimu di sisiku."
Anran mengulas senyum tipis yang amat memikat. "Kehormatan bagi Hamba, Yang Mulia."
Keduanya berjalan berdampingan melintasi koridor pualam menuju Istana Fengyi. Di sepanjang jalan, para dayang dan pengawal berlutut bersujud penuh kepatuhan. Lian dan Kasim Zhao berjalan membungkuk di belakang dengan wajah berbinar bahagia, menyaksikan bagaimana keharmonisan dan kejayaan akhirnya menaungi kediaman permaisuri.
Setibanya di paviliun belakang Istana Fengyi yang tenang, di antara semerbak keharuman bunga krisan dan teratai di kolam batu giok, Kaisar Tian membimbing Anran duduk di tepi selasar kayu jati. Angin sepoi-sepoi membelai lembut helai-helai gaun merah keemasan Anran.
Kaisar Tian