NovelToon NovelToon
Ola, Tuan Mafia!

Ola, Tuan Mafia!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Romansa Fantasi
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Pengantin Pengganti Untuk Mafia.

Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.

Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OTM — BAB 33

TENANG KETIKA TIDUR

Udara di ruang ganti terasa sejuk dan hening.

Laura berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang masih terlihat gelisah. Setiap kata, setiap sentuhan, dan setiap tatapan Killian tadi masih terasa begitu nyata, membekas di ingatan seakan baru saja terjadi. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang belum juga melambat.

"Lupakan dia..." bisiknya pelan pada pantulan dirinya sendiri, suaranya nyaris tak terdengar. "Sudah berakhir."

Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, menyisir rambutnya ke belakang dengan jari, lalu bergegas melangkah keluar dari ruangan itu. Namun kakinya seketika terpaku di ambang pintu.

Di sana, Killian berdiri tegak menunggunya, hanya dililitkan handuk putih yang melingkar pas di pinggangnya.

Tubuhnya yang kekar dan berotot terlihat jelas di bawah cahaya lembut — setiap lekuk bahu, garis lengan yang kuat, hingga tato samar di pinggangnya tampak tak dapat disembunyikan. Ia berdiri tenang, seakan kehadirannya di sana adalah hal yang paling wajar di dunia ini.

Laura menelan ludah, berusaha menata kembali ekspresi wajahnya agar terlihat tenang. Ia menunduk sedikit, mengalihkan pandangan, lalu melangkah melewati pria itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Killian diam saja, membiarkannya lewat, lalu melangkah masuk ke ruang ganti itu.

Sesaat sebelum pintu tertutup, Laura menoleh secara tidak sengaja. Matanya melihat punggung lebar pria itu, melintasi bahu kanan hingga ke rusuk kiri, terlihat bekas luka gores yang panjang dan dalam — tampak seperti luka lama yang telah sembuh bertahun-tahun silam, namun tak pernah benar-benar hilang, meninggalkan jejak pucat yang kontras dengan warna kulitnya yang gelap.

("Sangat sulit melupakan masalalu. Me too.")

Dia mengingat ucapan Killian.

Ia ingin memanggilnya, ingin bertanya apa yang pernah menimpanya, namun pintu tertutup pelan, memisahkan mereka. Laura berdiri terpaku, bertanya-tanya luka apa itu, dan kapan hal itu terjadi pada seseorang yang terlihat begitu tak terkalahkan.

Sementara itu. Di ruang perapian yang lebih sepi dan remang, Sandra dan Zoey duduk berhadapan di sofa kulit yang empuk. Suasana di antara mereka terasa berat, bukan lagi sekadar percakapan santai, melainkan sesuatu yang menyangkut masa depan seluruh keluarga ini.

"Kita sudah sepakat, Ibu," ucap Zoey tenang namun tegas, tangannya melipat di pangkuan. "Muchus dan aku tidak menginginkan anak untuk saat ini."

Sandra menyeringai tipis, jemarinya mengetuk tepi cangkir teh pelan, menatap menantang ke arah menantunya.

"Itu pemikiran yang dangkal, Zoey. Tanpa keturunan, tanpa penerus, keluarga ini tidak akan berdiri tegak. Orang yang berpandangan sempit hanya melihat hari ini, bukan hari esok."

Zoey menegakkan punggungnya, tatapannya tak mau kalah.

"Maafkan aku. Namun putra mu sendirilah yang berpikiran dangkal. Dengan akal dan otak mesumnya yang tak terkendali, ia hampir menjerumuskan kita semua ke dalam jurang. Malam itu dia bisa saja kehilangan nyawanya sendiri, dan kau tahu siapa yang hampir mengambilnya."

Alis Sandra bertaut rapat, kerutan muncul di dahinya. "Apa maksudmu?"

Zoey menarik napas panjang, seakan berat untuk melontarkan kata-kata itu.

"Muchus... Dia tertarik pada Laura. Bukan sekadar rasa ingin tahu, bukan sekadar keinginan sesaat. Dia menginginkannya, Ibu. Dan kau tahu persis siapa suaminya."

Wajah Sandra memucat seketika. Ia mengumpat pelan di bawah napas, tidak percaya mendengar hal itu. "Tidak mungkin... Dia tidak sebodoh itu."

"Justru karena dia menganggap dirinya paling pintar, dia melakukannya," jawab Zoey dingin namun tegas.

Sandra bangkit sedikit dari duduknya, mencondongkan tubuh ke depan. "Apa saja yang sudah dia lakukan pada gadis itu? Katakan padaku."

Zoey menggeleng pelan. "Aku tidak tahui secara pasti. Namun aku ingin kau paham — Aku tidak keberatan jika Muchus bermain dengan wanita mana pun. Itu urusannya, itu kesalahannya sendiri. Tapi jika yang dia sentuh adalah Laura..." Ia berhenti sejenak, menatap lurus ke mata ibu mertuanya. "...maka dia sedang membangunkan singa yang sedang tidur. Dan singa itu adalah Killian Marcano."

Keheningan yang panjang menyelimuti ruangan itu. Sandra menghela napas berat, menutup wajahnya dengan tangan sebentar, lalu mengumpat pelan penuh kekesalan.

"Anak bodoh..." gumamnya pelan namun penuh amarah. "Dia tidak tahu seberapa tajam cakar itu jika terbangun."

Ia menatap Zoey kembali, tatapannya tegas.

"Pergilah. Temui dia. Katakan padanya, untuk berhati-hati. Jangan melangkah sembarangan. Jangan sampai membuat kesalahan yang tak dapat diperbaiki. Nyawanya tidak lebih berharga daripada kehormatan keluarga ini, tapi dia tidak boleh jatuh oleh tangannya sendiri."

.

.

.

Kembali ke kamar pribadi yang hening, Laura berdiri beberapa langkah di belakang Killian. Pria itu berdiri membelakanginya, meneguk sebutir obat dari botol kecil yang ia ambil dari laci meja samping tempat tidur.

Gerakannya tenang dan terbiasa, seakan hal itu dilakukan setiap hari tanpa terkecuali. Ia meletakkan botol itu kembali ke tempatnya dengan perlahan, lalu berdiri diam menatap ke luar jendela yang tertutup tirai tebal.

Laura menarik napas pelan, lalu melangkah mendekat sedikit, suaranya masih terdengar ragu.

"Killian..." panggilnya lembut. "Bagaimana keadaan Lily? Bolehkah aku menemuinya? Aku rindu padanya."

Killian tidak langsung menoleh. Ia berdiri diam sesaat, bahunya sedikit mengeras.

"Dia baik-baik saja," jawabnya datar, namun tidak setajam biasanya. "Besok pagi Nico akan menjemputmu dan mengantarmu ke sana."

Mata Laura berbinar sedikit, namun keraguan segera muncul di benaknya.

"Kau.... Kau tidak ikut?" tanyanya pelan.

Killian berbalik perlahan, menatapnya lekat sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu.

"Aku ada urusan lain."

"Urusan apa?" tanyanya tak tahan, melangkah selangkah lebih dekat. "Apakah sesuatu yang berbahaya? Apakah ada masalah?"

Pria itu terdiam, seakan mempertimbangkan apakah harus menjelaskan atau cukup membiarkannya begitu saja. Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di hadapan gadis itu, menatapnya begitu dalam hingga Laura merasa seakan rahasia di hatinya sedang dibaca.

"Khawatirkan dirimu dan adikmu saja," ucapnya pelan namun tegas. "Biarkan urusanku menjadi urusanku."

Laura menatapnya, tidak puas namun tak berani mendesak lebih jauh.

"Baiklah..." ucapnya lirih. "Terima kasih... karena mengizinkanku menemuinya."

Killian mengangguk pelan, lalu menambahkan dengan nada yang lebih lembut namun tetap tegas.

"Berhati-hatilah di sana. Jangan berbicara dengan orang asing, jangan pergi ke mana pun tanpa Nico. Dan istirahatlah malam ini. Kau harus bangun sebelum matahari terbit."

Laura mengangguk pelan, menatapnya saat pria itu berbalik. Ia mengenakan kemeja hitam rapi di hadapan cermin, menyesuaikan kerahnya dengan gerakan yang tenang, lalu melangkah keluar dari kamar itu tanpa menoleh lagi.

Pintu tertutup pelan di belakangnya.

Laura berdiri sendirian di tengah ruangan, bertanya-tanya — entah kapan pria itu beristirahat, apakah ia pernah tidur, atau apakah ia terus berjalan sepanjang malam demi menjaga mereka yang ia lindungi.

1
vnablu
Okeeee thorr akuu ngikut ajaaa🤭🤭🤭... Semangat terus buatt up nyaa yaa 😄
Tiara Bella
jangan² yg marganya vettel mantannya Laura 🤭
Kinara Widya
siap kak...🥰🥰🥰
Mia Camelia
ehmm pasti ini ulah nya Muchus nyerang meraka😂
Four.: yakinnn
total 1 replies
Tiara Bella
cepat pergi dr sana Nico drpd nanti kena serangan....
Four.: ho, oh
total 1 replies
Eci Rahmayati
nahhh udah ada yg ngincer sebaiknyaa pindahh
Four.: cuman tukang tani kok
total 1 replies
Kinara Widya
Nico bawa pergi semuanya...tempat Lily sudah tidak aman.
Four.: harusnya yee
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪🤗
Four.: wokayyy
total 1 replies
vnablu
kapann nih romantis nyaa kalian 😌
Four.: bentar lagi 😌
total 1 replies
vnablu
SEMANGAT terus thorrr up nyaaa😄😄
Four.: wokayyyyy
total 1 replies
Mia Camelia
kiliian dingin banget sih ke laura😔, kapan bisa romantis nya nih😂
Four.: kapan kapan 😁
total 1 replies
Tiara Bella
Laura km bertanya tanya.....aku pun sama😄🤭
Four.: aku pun juga
total 1 replies
Eci Rahmayati
apa mereka pernah bertemu seblm nya dalam keadannnn mabuk atau apalah ya.. 🤔
Four.: mungkin aja sihhh
total 1 replies
Tiara Bella
what happen ya....
Four.: sesuatu yang..... 😮
total 1 replies
Kinara Widya
ada apa dg masalalu Laura atau mungkin masalalu mereka
Four.: gak ada kokkk/Slight/
total 1 replies
Eci Rahmayati
musuhnya kiliannn
Four.: yap, benar
total 1 replies
Tiara Bella
Fiona dibeli sm orng bermarga vattel ternyata....
Four.: ho,oh
total 1 replies
vnablu
🤭🤭🤭anehhh" ajaaa kamu Killian mana mungkin itu racun
Four.: eh mungkin aja lohh/Slight/
total 1 replies
Tiara Bella
Lily aja tw soal Santiago....
Four.: ho,oh
total 1 replies
Kinara Widya
ada hubungan apa keluarga Laura dengan Santiago...lanjut kak
Kinara Widya: ooh...gitu
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!