Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Malam hari menyelimuti jalan tol trans-pembatas kota dengan kegelapan yang pekat.
Sebuah truk kontainer besar milik PT Cipta Sentosa melaju kencang membawa muatan elektronik bernilai tinggi.
Brak! Suara hantaman keras terdengar dari bagian ban belakang truk tersebut.
"Ada apa ini, Bang?!" tanya sang sopir kaget sambil mencengkeram erat setir kemudi.
"Ban kita pecah mendadak, pegangan yang kuat!" jawab kernetnya dengan suara panik setengah mati.
Trukk...
Suara decitan rem bergesekan dengan aspal jalan tol berbunyi nyaring.
Kendaraan besar itu akhirnya berhenti di bahu jalan tol yang sepi dan gelap.
Sang sopir segera menyalakan lampu hazard dan turun untuk memeriksa keadaan ban belakang.
"Sialan, bannya robek besar seperti disayat benda tajam," maki sopir itu kesal.
Tiba-tiba dua buah mobil minibus hitam berhenti tepat di belakang truk kontainer mereka.
Pintu mobil terbuka dan empat orang pria berbadan kekar turun membawa tongkat besi.
"Mau apa kalian?!" tanya sopir itu mundur ketakutan melihat kedatangan orang asing.
Bugh!
Salah satu preman langsung melayangkan pukulan keras ke arah perut sang sopir.
"Arghh!"
Rintih sopir itu tersungkur lemas di atas aspal jalan tol. "Jangan bergerak kalau tidak mau bernasib sama!" ancam pemimpin preman itu sambil membawa jerigen bensin.
Mereka menyiramkan bensin ke seluruh bagian depan truk kontainer yang bermuatan mahal itu.
"Bakar semuanya, pesan dari bos besar kita," perintah pemimpin preman dengan senyum kejam.
Wush...
Api langsung berkobar besar melahap bagian depan truk kontainer dalam sekejap.
Para pelaku langsung masuk ke dalam minibus dan kabur meninggalkan tempat kejadian dengan cepat.
Vroom...
Suara deru mesin mobil itu menghilang di tengah kegelapan malam.
Keesokan paginya, kabar buruk tentang sabotase itu sudah sampai di meja kerja Bima.
Rian berdiri dengan wajah pucat pasi melaporkan kejadian tersebut di ruang kerja direktur utama.
"Tuan Bima, truk logistik utama kita dibakar orang tak dikenal di jalan tol tadi malam," lapor Rian gemetar.
Bima menatap layar komputer kerjanya dengan ekspresi wajah yang sangat dingin.
"Dibakar? Apakah muatannya berhasil diselamatkan?" tanya Bima tenang tanpa panik.
"Semua barang musnah terbakar total, kerugian ditaksir mencapai dua miliar rupiah," jawab Rian cemas.
Bima menyandarkan punggungnya di kursi kulit mewah sambil tersenyum tipis.
"Reynard benar-benar mengambil langkah kotor setelah dipermalukan kemarin," batin Bima tajam.
"Apakah kita perlu melapor ke polisi sekarang juga, Tuan?" tanya Rian meminta arahan.
"Polisi saja tidak cukup untuk menghancurkan musuh yang licik seperti dia," jawab Bima santai.
Bima mengambil ponselnya dan menghubungi nomor tim investigasi internal perusahaan.
"Cek rekaman kamera pengawas jalan tol dan lacak mobil minibus yang kabur semalam," perintah Bima tegas.
"Baik, Tuan Bima, kami akan segera melacak pelakunya dalam waktu dua jam," jawab orang di ujung telepon.
Bima menutup panggilannya dan kembali menatap Rian yang masih berdiri cemas.
"Jangan cemas, Rian, setiap tindakan kotor pasti meninggalkan jejak digital yang jelas," ucap Bima menenangkan.
"Tapi kerugian finansial kita cukup besar untuk minggu ini," keluh Rian khawatir.
"Kerugian itu akan kita minta ganti rugi sepuluh kali lipat dari saku Reynard sendiri," balas Bima dingin.
Siang harinya, tim investigasi internal perusahaan berhasil mendapatkan bukti rekaman video yang sangat akurat.
Nomor pelat mobil para pelaku dan identitas preman bayaran itu langsung diserahkan kepada Bima.
Bima membuka file video tersebut di layar laptopnya dengan senyum penuh kemenangan.
"Ternyata mereka adalah kelompok preman sewaan langganan Grup Rajawali," ucap Bima menganalisis.
"Apakah kita akan membawa bukti ini ke meja hijau, Tuan?" tanya Rian antusias.
"Tidak, kita akan bawa bukti ini langsung ke hadapan para pemegang saham Grup Rajawali," jawab Bima licik.
Bima merancang sebuah strategi publikasi media yang sangat masif dan mematikan bagi reputasi musuhnya.
Ia ingin menjatuhkan Reynard bukan lewat jalur kekerasan, melainkan lewat kehancuran nama baik publik.
Sementara itu, di kantor pusat Grup Rajawali, Reynard sedang tertawa puas di ruang kerjanya.
"Bagus sekali! Biar anak ingusan itu tahu rasa akibat berani menentangku!" puji Reynard pada anak buahnya.
"Truk logistik mereka hancur total dan saham mereka pasti akan terguncang hari ini, Tuan," lapor anak buahnya sombong.
"Teruskan sabotase di jalur distribusi lainnya sampai perusahaan mereka bangkrut total," perintah Reynard tanpa belas kasihan.
Sifat buruk Reynard yang menghalalkan segala cara membuatnya merasa tidak tersentuh hukum.
Ia mengira kekayaan keluarganya bisa menutupi setiap kejahatan busuk yang ia lakukan di belakang layar.
Namun keesokan paginya, sebuah kejutan besar menghantam kantor pusat Grup Rajawali secara telak.
Seluruh stasiun televisi nasional dan portal berita bisnis memuat berita utama yang sangat mengejutkan.
Judul berita itu terpampang besar di layar televisi lobi kantor Reynard: SKANDAL SABOTASE BISNIS OLEH PEWARIS GRUP RAJAWALI.
Reynard yang melihat berita itu langsung membelalakkan matanya lebar-lebar penuh kemarahan.
"Apa-apaan ini?!" bentak Reynard melempar remot TV ke arah layar monitor hingga pecah.
Brak!
Pecahan kaca berserakan di atas lantai karpet ruang kerjanya.
Di dalam berita tersebut, rekaman video aksi pembakaran truk dan bukti transfer uang dari rekening pribadi Reynard disiarkan secara transparan.
Semua bukti kuat itu dipublikasikan secara langsung atas instruksi dari PT Cipta Sentosa.
Ponsel di atas meja kerja Reynard berdering tanpa henti menampilkan panggilan dari dewan komisaris utama.
Triliing...
Suara dering telepon itu terdengar sangat memekakkan telinga dan penuh ancaman.
Reynard mengangkat panggilan tersebut dengan tangan yang gemetar hebat karena panik.
"Reynard! Apa yang sudah kamu perbuat sehingga merusak nama baik keluarga besar kita?!" bentak sang komisaris utama marah besar.
"Itu semua fitnah, Ayah! Aku dijebak oleh Bima!" bela Reynard histeris membela diri.
"Fitnah apa kalau rekening pribadimu yang mentransfer uang preman itu tertulis jelas di media?!" hardik ayahnya murka.
Pip...
Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh sang ayah dengan penuh kemarahan.
Reynard terduduk lemas di lantai ruang kerjanya dengan napas memburu dan wajah pucat pasi.
Ia baru sadar bahwa Bima telah memasang perangkap maut yang jauh lebih berbahaya dari sekadar sengketa saham.
Reputasi dan masa depan karier bisnisnya hancur lebur dalam hitungan detik akibat kecerobohannya sendiri.
Di kantor pusat PT Cipta Sentosa, Bima menutup laptopnya dengan senyum kemenangan yang sangat puas.
"Bermain kotor dengan anak yang tepat adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Reynard," batin Bima dingin.