Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SENYUM PAKSA
"Kakak dengar berapa banyak?"
Senter ponsel itu masih menyorot wajah Sinta. Ia menyipitkan mata, memaksa suaranya terdengar datar, setenang air yang menyembunyikan arus di bawahnya.
"Aku cuma mau ambil air, Mel. Kamu bicara sama siapa malam-malam begini?"
"Teman lama." Melia melangkah mendekat, sepatunya berbunyi pelan di atas paving. "Kakak yakin cuma mau ambil air? Dapur itu di sisi kiri, sedangkan Kakak berdiri di balik tiang sisi kanan."
"Aku tersesat. Paviliun itu gelap, aku belum hafal jalannya."
"Oh." Melia tersenyum. "Kasihan sekali."
Ia berhenti tepat di depan Sinta, begitu dekat hingga Sinta bisa mencium parfum manis yang menempel di kulitnya. Matanya menelusuri wajah Sinta dari dahi sampai dagu, seperti pedagang yang sedang menimbang barang bekas.
"Aku kasih tahu satu hal ya, Kak. Supaya Kakak tidak salah langkah." Suaranya turun jadi bisikan. "Di rumah ini, yang dipercaya itu yang bisa kasih cucu. Bukan yang paling jujur."
"Aku tidak mengerti maksudmu."
"Bagus. Terus begitu." Melia menepuk bahu Sinta dua kali, pelan, seperti menepuk kepala anak kecil. "Karena kalau Kakak sampai mengerti, lalu bicara macam-macam, Bu Retno akan percaya siapa? Menantu tujuh tahun yang dituduh mandul, atau calon menantu yang sedang mengandung cucunya?"
Sinta menatapnya. Dadanya bergemuruh, tapi wajahnya tetap tenang.
"Kamu bilang kamu mengandung?"
Melia terdiam sepersekian detik. Hanya sepersekian, tapi cukup bagi Sinta untuk melihat kilat panik di matanya. Lalu perempuan itu tertawa kecil, merdu dan palsu.
"Kakak salah dengar. Aku bilang *berharap* mengandung. Cepat-cepat, supaya Ibu senang."
"Begitu."
"Begitu." Melia memiringkan kepala. "Masuklah, Kak. Angin malam tidak baik untuk perempuan yang... ehm, kurang subur."
Ia berbalik dan berjalan pergi, pinggulnya bergoyang puas. Sinta berdiri membatu sampai bayangan itu hilang di balik pintu belakang rumah utama. Barulah lututnya gemetar hebat, hingga ia harus berpegangan pada tiang.
Ia tidak tidur sampai subuh. Di atas kasur tipis paviliun, ia menatap langit-langit sambil menyusun potongan-potongan: amplop di laci, penolakan Damar ke dokter, bisikan Melia tentang *anak ini*, dan telepon dengan seorang lelaki yang tak ia kenal. Semuanya seperti kepingan teka-teki yang belum bisa disatukan, tapi gambarnya sudah mulai terasa busuk.
---
Pagi harinya, Sinta bangun lebih awal dari siapa pun. Ia menyapu halaman, memasak nasi goreng, menggoreng telur, dan menata meja tanpa satu pun keluhan. Tak ada yang curiga. Justru Bu Retno tampak puas melihat menantunya akhirnya "sadar diri".
"Nah, begitu dong," komentar Bu Retno sambil mengunyah. "Dari kemarin kenapa tidak begini? Kan enak dilihat."
"Iya, Bu. Maaf atas kejadian kemarin."
Rini mendengus, tapi tak berkomentar. Melia duduk anggun di sebelah Bu Retno, sesekali melirik Sinta dengan senyum puas yang disamarkan di balik gelas susu.
Damar, di ujung meja, mengangkat wajah. Ia menatap Sinta dengan sorot bingung. Mungkin ia menunggu amarah, tuduhan, atau air mata. Tapi yang ia dapat hanya senyum sopan yang kosong, seperti topeng yang dipasang rapi.
Usai sarapan, Damar menyusul Sinta ke dapur. Ia menutup pintu perlahan.
"Sin, soal laci itu..." Ia berbisik cepat, matanya melirik ke arah pintu. "Kamu jangan bahas lagi di depan Ibu, ya. Tolong."
"Kenapa, Mas?"
"Pokoknya jangan."
"Aku cuma tanya satu hal." Sinta membilas piring tanpa menoleh. Air kran mengalir deras, menutupi getar di suaranya. "Isinya buruk?"
Damar terdiam lama. Hanya suara air yang mengisi jeda di antara mereka.
"Aku akan jelaskan nanti," katanya akhirnya. "Setelah semuanya selesai."
"Setelah pernikahanmu dengan Melia?"
Damar tak menjawab. Ia hanya menatap punggung istrinya dengan wajah yang sulit dibaca, antara bersalah, takut, dan sesuatu yang lebih gelap.
"Mas," Sinta berkata pelan, masih membelakanginya, "kalau suatu hari aku tahu apa isi amplop itu dari orang lain, kamu lebih suka aku mendengarnya dari mulutmu atau dari mulut mereka?"
Gelas di tangan Damar nyaris jatuh.
"Dari *mereka*? Siapa maksudmu, Sin? Kamu sudah bicara dengan siapa?"