Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.
Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.
Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Masakan Bellona
Bellona mendesis pelan, meletakkan kembali sendoknya ke piring dengan berdenting halus. Dengan wajah berlipat kesal, ia bangkit dari kursi dan melangkah menuju pintu depan.
KLIK.
Gagang pintu diputar kasar. Pintu terbuka memperlihatkan Devan yang berdiri di teras dengan kaus oblong yang lehernya makin melar, kaus kakinya bolong sebelah, dan sekantong plastik bening berisi token listrik yang sudah dicetak di tangannya.
Devan baru saja hendak membuka mulut untuk memamerkan kemenangan besarnya—bahwa ia berhasil mengutang uang pada Raka—tetapi langkahnya mendadak terhenti di ambang pintu.
Hidung Devan kembang-kempis menghirup udara di dalam rumah yang mendadak berubah aroma. Pria itu membelalakkan mata.
"Buset..." Devan meraup udara dengan kedua tangannya, memandu bau harum itu ke hidungnya. "Bau apaan nih? Rumah gue kemasukan jin sarang tumis bawang apa gimana?"
"Berisik," cetus Bellona ketus, memutar tubuhnya dan kembali melangkah ke dapur tanpa memedulikan Devan.
Devan melepas jaket kulitnya, melangkah masuk seraya mengunci pintu. Matanya berbinar-binar saat kakinya menuntunnya sampai ke area dapur. Di atas meja semen yang biasanya cuma dihiasi abu rokok dan kaleng bekas, kini terhidang piring berisi tempe goreng tepung yang kuning keemasan, tumis telur cabai yang masih mengasap gurih, dan secentong nasi hangat di dalam panci.
Devan melongo. Ia menunjuk piring-piring itu dengan telunjuknya yang gemetar, menatap Bellona yang sudah kembali duduk di kursi kayu.
"Lo... lo nyolong lauk warung mana, Bocah?!" seru Devan panik. "Jangan bilang lo ngerampok warung Bu RT?! Duit dari mana lo?!"
Bellona menatap Devan dengan tatapan tajam nan mematikan. "Gue beli pake duit gue sendiri, Bego! Lo kira gue sudi kelaparan di rumah sampah lo ini?!"
Devan mengelus dadanya yang berdesir kaget gara-gara bentakan itu. Namun, rasa terkejutnya seketika kalah oleh rasa lapar yang amat sangat dan aroma gurih yang memanggil-manggil cacing di perutnya.
Pria itu buru-buru mencuci tangannya di keran dapur dengan asal-asalan, menyambar satu piring kosong melamin lainnya, lalu menyendok nasi hangat dan mengeruk setengah porsi tumis telur cabai serta tiga potong tempe goreng tanpa rasa malu sedikit pun.
"Gue emang kagak salah nampung lo," gumam Devan berbinar-binar, menyuap sendok pertamanya penuh-penuh ke dalam mulut.
Mata Devan seketika membelalak lebar. Srrrpp. Suara kecapan nikmat keluar dari mulutnya tanpa rem.
"ANJIR! ENAK BANGET!" Devan menepuk meja semen sampai berbunyi nyaring. "Lo pake pesugihan apa gimana?! Ini tumis telur rasanya lebih enak dari nasi goreng Bang Romli di depan gang!"
Bellona yang baru saja mau menyuap makanan ke mulutnya mendadak menghentikan tangannya. Mukanya memerah—bukan karena malu, melainkan menahan jengkel dan geli yang campur aduk mendengar pujian absurd dari pria di depannya.
"Mulut lo bisa diam gak?" desis Bellona ketus, meski sudut bibirnya sempat terangkat tipis tanpa ia sadari. "Kalau mau makan, makan aja. Gak usah lebay."
"Gak lebay, demi tuhan!" Devan makin menggebu-gebu menyuap nasinya, mengunyah seperti orang yang kagak makan tiga hari. "Umur segini gue baru ngerasain masakan rumahan wangi begini di rumah sendiri. Mulai esok lo gue angkat jadi koki tetap rumah ini!"
"Gue bukan pembantu lo!" bentak Bellona sambil menendang kaki meja.
"Yee... pelit amat. Ntar gue bayar pake duit token listrik!" Devan menyeringai polos, merogoh sakunya lalu melempar lembaran kertas token listrik ke atas meja. "Noh! Listrik lo udah bisa diisi. Kagak bakal ada acara candlelight dinner gelap-gelapan lagi nanti malam."
Bellona menatap kertas token listrik itu, lalu beralih menatap Devan yang makan dengan lahap sampai pipinya kembung.
Rasa kesal akibat labrakan ibu-ibu warung tadi pagi mendadak meluruh perlahan. Di dapur rumah yang tua dan kusam ini, hanya ada suara denting sendok dan kunyahan Devan yang tidak beraturan—sebuah riuh sederhana yang anehnya berhasil mengusir rasa sunyi yang selama ini menghimpit dada Bellona.
•••
Selesai menghabiskan piring pertamanya dalam hitungan menit, Devan menyandarkan punggungnya ke kursi kayu dengan wajah penuh kepuasan. Ia menepuk-nepuk perutnya yang kini kenyang, lalu menatap Bellona yang masih mengunyah makanannya secara perlahan dan sopan.
"Buset, gue kagak bohong, masakan lo beneran enak," ujar Devan sambil merogoh lembaran kertas token di meja. "Yaudah, gue isiin listrik dulu. Biar lo bisa ngecas HP dan kagak ngamuk-ngamuk lagi."
Devan berdiri, melangkah ke ruang tamu menuju meteran listrik di dekat pintu. Jemari tangannya dengan lincah memencet deretan angka kode token.
Bip... Bip... Bip... Bip... ENTER.
Bunyi nyaring meteran listrik seketika berganti menjadi nada tit panjang yang tenang. Detik berikutnya, suara dengung halus dari kulkas tua di dapur terdengar kembali menyala. Lampu-lampu rumah yang tadi pagi mati total kini bisa dinyalakan.
Bellona yang baru saja meletakkan piring kosongnya di bak cuci piring menoleh ke arah ruang tamu. Cahaya lampu neon yang terang—meski agak kekuningan—kini menerangi seluruh sudut rumah tua itu. Suasana remang, pengap, dan suram yang sejak semalam menghimpitnya mendadak menguap.
Devan kembali ke dapur sambil membawa pemantik api dan kotak permen karetnya. Pria itu menyandarkan pinggulnya di kosen pintu dapur, menatap Bellona yang sedang mencuci piring melamin mereka di bawah kucuran air keran.
"Btw, Bocah," panggil Devan, suaranya kini terdengar agak pelan dan lebih santai. "Soal sekolah lo... gimana?"
Gerakan tangan Bellona yang sedang membilas piring seketika terhenti. Air keran terus mengucur membasahi jemarinya.
Selama dua hari terakhir, fokusnya sepenuhnya terserap oleh konflik dengan Sarah, kematian Oma, dan kepindahannya yang dipaksa ke rumah ini. Ia bahkan sampai lupa bahwa dirinya masih seorang siswi SMA yang punya kewajiban bersekolah.
"Gue... kagak tahu," sahut Bellona serak tanpa menoleh. "Seragam sama tas sekolah gue masih ada di rumah lama. Nyokap juga kagak ada ngomong apa-apa soal sekolah gue."
Devan menghembuskan napas pendek. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, mengamati punggung mungil Bellona.
"Lo kelas berapa sekarang?" tanya Devan lagi.
"Kelas dua SMA."
"Tuh kan, dikit lagi lulus. Masa lo mau bolos terus gara-gara urusan orang tua lo yang kagak beres itu?" Devan merogoh sakunya, melempar sebutir permen karet ke dalam mulutnya sendiri. "Besok gue anter ke rumah lama lo. Ambil seragam sama buku-buku lo."
Bellona mematikan keran air, lalu berbalik memandang Devan dengan dahi berkerut curiga. "Lo berani ketemu nyokap gue?"
Devan menyeringai tipis, sebuah cengiran tengil khasnya yang biasa kembali terpasang di wajahnya.
"Kenapa kagak berani? Dia yang ngelempar lo ke rumah gue, kan?" Devan menepuk dadanya sendiri. "Lagian, kalau si Sarah atau calon lakinya yang kaya itu macem-macem sama lo pas kita ambil barang, biar gue yang hadapin. Gini-gini gue kan... papa lo yang bakal nemenin."
Bellona menatap Devan lekat-lekat. Pria itu selalu menggunakan lelucon konyol atau kata-kata asal untuk menutupi niat baiknya.
"Gak usah sok pahlawan," bisik Bellona ketus, memalingkan wajahnya agar Devan tidak melihat sudut bibirnya yang melengkung tipis. "Muka lo tetep aja kagak ada meyakinkan-meyakinkannya."
"Dih! Ditolongin malah ngelunjak!" Devan mendengkus gemas, memutar tubuhnya menuju ruang tamu. "Yaudah, bersihin tuh dapur! Gue mau tiduran di sofa, kekenyangan!"
Bellona mengeringkan tangannya dengan serbet bersih. Ia menatap ruang dapur yang kini lebih terang dan berbau wangi masakan. Di luar, matahari siang mulai terik, membiaskan cahaya hangat lewat celah jendela. Rumah tua ini mungkin masih berantakan dan dipenuhi masalah, tetapi untuk hari ini, Bellona tahu ia punya tempat untuk bertahan.