NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Siska Delvi

Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Lemburan dan Fitnah diruang Timbangan

Jam enam pagi, pabrik sudah berisik seperti pasar.

Nadia datang paling pagi ke ruang administrasi. Ia sengaja. Sejak foto dirinya minum teh berdua sama Arif di mess jam sembilan malam bocor ke grup WA pabrik, semua mata memandangnya aneh.

Di grup WA "Keluarga Besar PKS Dharmasraya", foto itu dikirim oleh akun anonim dengan caption: "Admin baru betah lembur di mess putri ditemani Asisten Manager. Pantas lemburannya cair cepat."

Nadia lihat foto itu dari ponsel Mbak Sari tadi pagi. Di foto, ia dan Arif memang duduk berhadapan minum teh, pintu terbuka, tapi angle fotonya dibuat seolah mereka mesra.

"Nadia, jangan dipikirkan kali lah foto itu," kata Mbak Sari, operator timbangan yang umurnya sebaya Nadia, tapi gaya bicaranya ceplas-ceplos. Mbak Sari pakai seragam sama, tapi rambutnya dipotong pendek seperti laki-laki. "Di pabrik ini memang begitu. Mulut ibu-ibu lebih cepat dari truk CPO."

Nadia senyum kecut. "Aku gak apa-apa, Mbak."

Jam tujuh tepat, ruang administrasi mulai rame.

Bu Lastri datang. Admin senior umur 45 tahun, kerudungnya rapi, mukanya judes permanen. Bu Lastri sudah kerja 20 tahun di pabrik ini. Ia lihat Nadia, lalu banting map ke meja Nadia dengan keras.

"Nadia! Laporan loss and gain kemarin mana? Manager Hendra sudah tanya dari jam enam!" bentak Bu Lastri.

Nadia kaget. "Sudah saya kirim ke email Ibu jam sebelas malam tadi, Bu."

"Email? Saya tidak buka email jam sebelas malam! Saya sudah tidur! Kamu pikir saya seperti kamu, masih muda masih kuat melek sampai malam ditemani Pak Arif?" sindir Bu Lastri keras, sengaja biar satu ruangan dengar.

Satu ruangan diam. Dua admin laki-laki yang lain pura-pura sibuk.

Nadia tahan napas. Matanya panas, tapi ia tahan.

"Maaf, Bu. Saya print sekarang ya," kata Nadia pelan.

Bu Lastri mendengus. "Print cepat! Manager mau rapat jam delapan!"

Nadia ngeprint laporan dengan tangan gemetar. Di kertas laporan itu ada coretan tangan Arif: "Bagus, lanjutkan."

Jam delapan, rapat pagi di ruang Manager.

Pak Hendra, Manager Pabrik, sudah duduk di kursi besar. Orangnya besar, suara Bataknya keras, tapi matanya baik. Di sebelahnya ada Arif, Pak Bambang, dan Bu Lastri.

Nadia duduk paling ujung, bawa laptop.

"Nadia, coba jelaskan kenapa rendemen minggu ini turun 0,5 persen?" tanya Pak Hendra langsung to the point, tanpa basa-basi.

Nadia berdiri, agak gugup. Ini pertama kalinya ia presentasi di depan Manager.

"Baik, Pak Hendra. Jadi setelah saya cek data timbangan dan data produksi dari Mbak Sari dan Pak Bambang, ada selisih 2 ton TBS yang tidak tercatat di jembatan timbang shift malam. Buah masuk, tapi tidak ditimbang, langsung masuk ke loading ramp. Jadi hitungan rendemen kita jadi kecil, Pak."

Pak Bambang kaget. "Loh, shift malam siapa yang jaga, Sari?"

Mbak Sari yang ikut rapat karena bagian timbangan, langsung buka buku catatannya yang lusuh.

"Shift malam kemarin yang jaga si Joni, Pak. Joni izin pulang cepat karena anaknya sakit, jadi timbangannya dijaga anak magang. Mungkin anak magang itu lupa catat, Pak," jawab Mbak Sari jujur.

Pak Hendra gebrak meja pelan. "Joni lagi! Sudah berapa kali saya bilang, jangan kasih anak magang jaga timbangan sendirian!"

Bu Lastri yang dari tadi diam, tiba-tiba ikut bicara. "Itu kan tugas Mbak Sari sebagai senior timbangan untuk awasi, Pak. Bukan salah admin baru."

Mbak Sari menunduk.

Nadia melihat Mbak Sari disalahkan, padahal Mbak Sari yang bantu dia tadi pagi. Nadia tidak tahan.

"Maaf, Pak Hendra, Bu Lastri. Ini bukan salah Mbak Sari. Saya yang cek data, saya lihat memang sistem timbangan kita belum otomatis. Masih manual tulis tangan. Jadi wajar kalau ada yang kelewat. Saya ada usulan, Pak. Boleh saya buatkan sistem Excel otomatis, jadi setiap truk masuk langsung ke-scan dan masuk ke laporan keuangan saya. Jadi tidak ada lagi yang kelewat," kata Nadia, suaranya gemetar tapi jelas.

Ruangan hening.

Pak Hendra menatap Nadia lama. Lalu ia tersenyum lebar, gigi emasnya kelihatan.

"Bagus! Ini baru admin! Tidak cuma bisa ketik, tapi bisa kasih solusi! Bu Lastri, contoh ini! Anak baru tapi otaknya jalan!" puji Pak Hendra keras.

Bu Lastri wajahnya merah menahan malu. Ia melirik Nadia dengan tatapan beda. Tidak lagi benci, tapi mulai segan.

Arif yang dari tadi diam, menatap Nadia dengan bangga. Tipis saja senyumnya, tapi Nadia lihat.

"Usulan Nadia saya setujui. Mulai besok, Nadia dan Sari kerja sama bikin sistem timbangan otomatis. Bambang, awasi anak magang jangan sampai jaga sendirian lagi!" perintah Pak Hendra.

Rapat selesai jam sembilan. Semua keluar.

Mbak Sari langsung rangkul Nadia di koridor.

"Gila, Nadia! Berani banget kamu ngomong begitu di depan Bu Lastri! Bu Lastri itu singa betina di sini, tidak ada yang berani lawan!" kata Mbak Sari heboh.

Nadia tertawa kecil, lega. "Aku cuma kasian kamu disalahkan, Mbak."

Tiba-tiba Bu Lastri keluar dari ruangan, lewat di depan mereka. Langkahnya berhenti.

"Nadia," panggil Bu Lastri.

Nadia dan Mbak Sari langsung tegak.

"Siang ini makan siang di kantin sama saya. Saya mau ajari kamu cara bikin laporan bulanan yang benar. Laporan kamu kemarin formatnya masih berantakan," kata Bu Lastri judes, tapi nadanya tidak lagi marah.

Nadia mengangguk cepat. "Siap, Bu Lastri. Terima kasih, Bu."

Bu Lastri pergi.

Mbak Sari bisik ke Nadia, "Selamat, Nadia. Kamu sudah lulus ujian Bu Lastri. Kalau sudah diajak makan siang, artinya kamu sudah diterima jadi keluarga pabrik."

Siang itu di kantin yang panas dan berisik, Nadia makan bersama Bu Lastri dan Mbak Sari. Pertama kalinya Nadia makan tidak sendirian.

Bu Lastri cerita kalau dulu ia juga difitnah pacaran sama Manager waktu masih muda. Mbak Sari cerita kalau ia janda anak satu, kerja di pabrik untuk sekolahin anaknya.

Nadia mendengarkan, merasa hangat.

Di meja seberang, Arif makan sendirian sambil baca koran. Sesekali ia melirik ke meja Nadia, dan mengangguk kecil.

Nadia balas angguk.

Tidak ada kata-kata. Tidak perlu.

Hari itu Nadia belajar satu hal: di pabrik ini, kalau kamu kerja jujur dan berani, lumpur dan fitnah tidak akan bisa tenggelamkan kamu.

Fitnah foto tadi pagi masih ada di grup WA, tapi sekarang ada tiga perempuan di kantin yang tertawa bersama. Dan itu cukup untuk membuat Nadia kuat sampai sore.

Bersambung

---

1
𝐀⃝🥀Weny
semoga kalian berjodoh🤲 tambah up lagi dong thor 😊
𝐀⃝🥀Weny: 😊😊😊😊😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!