Su Yun pernah menjalani hidup penuh kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Ketika takdir memberinya kesempatan kembali ke masa lalu, ia bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Berbekal pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan warisan misterius Seni Pedang Tanpa Batas, Su Yun menapaki kembali jalan kultivasi. Demi melindungi orang-orang yang berharga baginya, ia harus menghadapi para genius, sekte besar, Binatang Roh, hingga musuh yang jauh melampaui kekuatannya.
Kali ini, Su Yun tidak akan tunduk pada takdir.
Dengan pedang di tangannya, ia akan merebut kembali semua yang pernah hilang—dan membuka jalan menuju puncak dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 — Mengalahkan Diri Sendiri
Begitu melewati gerbang emas, Su Yun tiba di sebuah dunia yang sama sekali berbeda.
Langitnya kelabu gelap.
Kabut memenuhi pandangan.
Tidak ada bulan, tidak ada bintang, bahkan suara serangga pun tidak terdengar.
Hanya tanah tandus yang membentang tanpa ujung.
“Ini lantai pertama?”
Su Yun berjalan perlahan sambil mengamati sekeliling.
“Benar.”
Suara Master Pedang Tanpa Batas terdengar dalam benaknya.
“Tanah Tandus.”
Su Yun mengangguk, lalu bertanya sesuatu yang sejak tadi mengganggunya.
“Senior, kenapa aku belum pernah mendengar nama Sekte Dewa Pedang?”
“Hm?”
Master Pedang Tanpa Batas terdengar tersinggung.
“Sekte Dewa Pedang pernah mengguncang dunia!”
“Kalau begitu, aneh.”
Su Yun tersenyum tipis.
“Aku pernah mengembara cukup jauh, tapi nama itu benar-benar asing.”
Lelaki tua itu terdiam.
“Kapan kau hidup?”
Su Yun bertanya.
“Kalender Dewa Bela Diri, tahun ketujuh puluh delapan.”
Langkah Su Yun langsung berhenti.
“Apa?”
“Kenapa?”
“Sekarang sudah zaman Langit Bela Diri.”
Nada suara Su Yun berubah.
“Zamanmu sudah berlalu sekitar seribu tahun.”
Hening.
Untuk pertama kalinya, Master Pedang Tanpa Batas tidak segera menjawab.
Kemudian terdengar helaan napas panjang.
“Seribu tahun...”
Nada itu tiba-tiba terasa jauh lebih tua.
“Mungkin benar.”
Ia tertawa pahit.
“Sekte Dewa Pedang selalu hanya memiliki satu guru dan satu murid. Setelah aku terbunuh, pewarisan mungkin terputus.”
Su Yun hendak bertanya lagi ketika—
BOOM!
Tanah bergetar.
Sebuah bayangan besar turun dari langit.
Su Yun mendongak.
Sebilah pedang raksasa jatuh tepat di depannya.
Panjangnya lebih dari seratus meter.
Bilahnya hitam kusam, tanpa hiasan apa pun.
Namun begitu pedang itu tertancap—
DUM!
Tekanan mengerikan turun.
Tubuh Su Yun hampir langsung berlutut.
Tanah di bawah kakinya retak.
“Ini ujian pertama!”
Suara Master Pedang Tanpa Batas terdengar.
“Kalau tidak sanggup, katakan sekarang!”
Su Yun mengertakkan gigi.
Tekanan semakin besar.
Batu-batu pecah.
Retakan menjalar ke segala arah.
Namun beberapa detik kemudian, Su Yun menyadari sesuatu.
Tanah hancur.
Batu pecah.
Tetapi tubuhnya sendiri tidak benar-benar terluka.
“Begitu rupanya...”
Ia memejamkan mata.
“Ini bukan tekanan fisik.”
“Hmm?”
“Serangan spiritual.”
Su Yun segera menjalankan salah satu teknik meditasi yang pernah dipelajarinya dalam kehidupan sebelumnya.
Napasnya melambat.
Pikirannya dikosongkan.
Perlahan...
tekanan menghilang.
Retak!
Pedang raksasa di hadapannya mulai pecah.
Beberapa saat kemudian, seluruh bilah hancur menjadi cahaya.
Master Pedang Tanpa Batas terdiam.
“Kau sudah melewatinya?”
“Sepertinya begitu.”
“Kau menggunakan teknik meditasi?”
“Ya.”
Lelaki tua itu tertawa.
“Menarik. Kau memang membawa banyak hal yang tidak seharusnya dimiliki pemuda seusiamu.”
Su Yun tidak menjawab.
Sebuah gerbang muncul di hadapannya.
Ia langsung masuk.
Lantai kedua jauh berbeda.
Salju.
Sejauh mata memandang, semuanya putih.
Angin membawa serpihan es tajam yang menyapu tubuh.
Su Yun baru berjalan beberapa langkah ketika bibirnya mulai membiru.
“Lantai kedua tidak menguji jiwa.”
Master Pedang Tanpa Batas memperingatkan.
“Aku tahu.”
Su Yun menggertakkan gigi.
Kali ini rasa dinginnya nyata.
Angin semakin kencang.
Kulit tangannya membeku.
Serpihan es mulai menggores tubuhnya.
Namun Su Yun tetap berjalan.
Satu langkah.
Lalu satu lagi.
Badai berubah menjadi semakin ganas.
Seolah ribuan cakar mencabik pakaiannya.
Darah mulai muncul.
“Nak!”
Suara lelaki tua terdengar serius.
“Tidak perlu memaksakan diri sampai mati!”
Su Yun tidak menjawab.
Ia hanya memiliki satu pikiran.
Maju.
Dalam kehidupan sebelumnya, ia pernah hidup tanpa tujuan.
Pernah membiarkan dirinya tenggelam dalam arak.
Pernah menyerah sebelum mencoba.
Semua itu sudah cukup.
Kali ini ia telah memilih.
Dan selama masih bisa berdiri...
ia tidak akan mundur.
“AAARGH!”
Su Yun meraung.
Kakinya hampir mati rasa.
Tubuhnya berlumuran luka.
Namun ketika badai mencapai puncaknya—
semuanya berhenti.
Hening.
Su Yun berdiri di tengah salju.
Tubuhnya bergoyang.
Tetapi tidak mundur setengah langkah pun.
“Lulus.”
Master Pedang Tanpa Batas terdengar sangat puas.
Su Yun menarik napas berat.
“Aku sudah bilang.”
“Apa?”
“Aku akan berhasil.”
Gerbang berikutnya terbuka.
Panas langsung menyambutnya.
Lantai ketiga merupakan dunia lava.
Magma mengalir di mana-mana.
Udara panas membuat napas terasa berat.
Di tengah lautan magma, sebuah pedang merah tertancap tegak.
Api membelit bilahnya seperti naga.
Sekitar sepuluh meter di belakang pedang terdapat gerbang menuju lantai keempat.
Dan di depan gerbang...
berdiri seorang pemuda berambut putih.
“Apa itu?”
Su Yun bertanya.
“Pedang Matahari Merah.”
Master Pedang Tanpa Batas menjawab.
“Kau harus mengambilnya sebelum menuju lantai empat.”
Pemuda berambut putih membuka mata.
“Jika ingin memperoleh warisan, ambillah pedang itu.”
Setelah mengatakan itu, tubuhnya menghilang.
Su Yun menatap magma.
Tidak ada jembatan.
Tidak ada batu pijakan.
Hanya gagang pedang di tengah lautan lava.
“Lantai ini menguji pemahamanmu terhadap pedang dan kemampuan mengambil keputusan.”
Master Pedang Tanpa Batas berkata.
“Kalau jatuh, ujian selesai.”
Su Yun tidak menjawab.
Tatapannya terus mengukur jarak.
Sepuluh meter menuju pedang.
Sepuluh meter lagi menuju gerbang.
Kemudian—
ia berlari.
“Apa?!”
Su Yun melompat.
Magma tiba-tiba meledak.
Gelombang api naik.
Namun lompatan Su Yun cukup tinggi.
Tubuhnya melewati gelombang tersebut.
Dan—
Tap!
Kedua kakinya mendarat tepat di atas gagang Pedang Matahari Merah.
Master Pedang Tanpa Batas tercengang.
“Bagus!”
“Tapi sekarang bagaimana kau akan mencabutnya? Begitu pedang terangkat, pijakanmu hilang!”
Su Yun menatap gerbang.
Kemudian ia menyalurkan energi spiritual ke kedua kaki.
“Siapa bilang aku harus berdiri setelah mencabutnya?”
“Hah?”
Su Yun melompat.
Pada saat bersamaan, tubuhnya berputar.
Tangannya meraih gagang pedang.
Tarik!
Pedang Matahari Merah tercabut.
Tubuhnya terlempar menuju sisi seberang.
Bam!
Su Yun jatuh berguling di depan gerbang.
Pakainya berdebu dan wajahnya terlihat kacau.
Namun ia berhasil.
Master Pedang Tanpa Batas terdiam beberapa saat.
Kemudian tertawa.
“Hahaha! Cara yang buruk sekali untuk mendarat!”
“Tapi berhasil.”
“Itu benar.”
Su Yun bangkit sambil membawa Pedang Matahari Merah.
Gerbang keempat terbuka.
Kuburan Pedang.
Itulah dunia terakhir.
Ribuan pedang patah tertancap di tanah.
Sebagian miring.
Sebagian sudah berkarat.
Aura kematian memenuhi udara.
Di tengah semuanya berdiri pemuda berambut putih yang tadi muncul.
Kali ini tubuhnya jauh lebih jelas.
Sebilah pedang hitam-putih berada di tangannya.
Tekanan pedang menyelimuti seluruh area.
“Siapa dia?”
Su Yun bertanya.
“Bayangan salah satu Leluhur Pedang.”
Master Pedang Tanpa Batas menjawab.
“Dan ujian terakhirmu.”
Su Yun memegang Pedang Matahari Merah semakin erat.
“Harus mengalahkannya?”
“Tidak sepenuhnya.”
“Lalu?”
“Buat dia mengakuimu.”
Su Yun melangkah maju.
Bayangan leluhur juga bergerak.
Tidak ada peringatan.
Su Yun langsung menyerang.
Wus!
Pedang Matahari Merah menebas lurus.
Namun—
bayangan itu menghilang.
Su Yun membelalak.
Ia segera berbalik.
Terlambat.
Sret!
Pedang menebas bahu kirinya.
Darah mengalir.
Su Yun mundur.
Yang membuatnya terkejut bukan luka itu.
Melainkan serangan tadi.
Sama.
Sudut.
Kecepatan.
Gerakan.
Semuanya sama persis dengan serangan Su Yun sebelumnya.
“Dia akan meniru teknikmu.”
Master Pedang Tanpa Batas menjelaskan.
“Setiap serangan yang kau lakukan akan dikembalikan kepadamu.”
Su Yun menyipitkan mata.
“Kalau terkena tiga kali?”
“Gagal.”
Su Yun berhenti menyerang.
Kalau begitu, jangan menyerang.
Namun detik berikutnya, bayangan leluhur mengangkat pedang.
Seluruh Kuburan Pedang bergetar.
Ribuan bilah berguncang.
“Nak!”
Master Pedang Tanpa Batas berteriak.
“Kalau kau pasif terlalu lama, dia akan menggunakan Seni Pedang Tanpa Batas!”
Su Yun mengumpat dalam hati.
Jadi tidak ada jalan mudah.
Ia harus menyerang.
Tetapi setiap serangan akan ditiru.
Lalu bagaimana mengalahkan seseorang yang selalu mengetahui gerakannya?
Su Yun memperhatikan posisi lawan.
Sebuah ide muncul.
Ia kembali menyerbu.
Pedang ditebaskan dari kanan.
Bayangan leluhur menghilang.
Sesuai dugaan.
Kemudian muncul di sisi kiri Su Yun.
Dengan serangan yang sama.
Namun kali ini—
Su Yun sudah menunggu.
Ia memutar tubuh.
Pedang Matahari Merah berubah arah.
Sret!
Bilah merah menembus tubuh bayangan.
Gerakannya berhenti.
Master Pedang Tanpa Batas tercengang.
“Apa...”
Su Yun menarik pedangnya.
“Dia meniru seranganku.”
“Jadi?”
“Kalau begitu aku tinggal membuat serangan yang sengaja memiliki kelemahan.”
Su Yun menatap bayangan tersebut.
“Ketika dia menirunya, aku sudah tahu di mana kelemahannya.”
Hening.
Kemudian—
“Hahahahaha!”
Tawa Master Pedang Tanpa Batas menggema.
“Bagus!”
“Sangat bagus!”
Bayangan leluhur tidak lagi menyerang.
Ia hanya menatap Su Yun.
Beberapa saat kemudian, suara tenang terdengar.
“Kau mungkin belum memahami pedang.”
“Tapi kau memahami pertarungan.”
“Kau mampu tetap tenang ketika menghadapi dirimu sendiri.”
Bayangan itu mulai memudar.
“Kau layak menerima warisan.”
Tubuhnya berubah menjadi cahaya.
Sebuah gagang pedang abu-abu jatuh ke tanah.
Su Yun berjalan mendekat.
Begitu menyentuh gagang tersebut, seluruh Kuburan Pedang bergetar.
Master Pedang Tanpa Batas tertawa sangat keras.
“Berhasil!”
“Nak, mulai hari ini kau adalah pewaris Seni Pedang Tanpa Batas!”
Su Yun mengamati gagang pedang itu.
“Pewaris tekniknya, iya.”
Ia menyimpannya.
“Tapi jangan langsung menjadikanku kepala Sekte Dewa Pedang.”
Tawa lelaki tua berhenti.
“Apa?”
“Aku tidak pernah mengatakan akan membangkitkan sektemu.”
“Dasar bocah!”
Su Yun tersenyum.
“Aku punya terlalu banyak urusan sendiri.”
Master Pedang Tanpa Batas menggerutu beberapa saat.
Namun akhirnya ia tertawa lagi.
“Tidak masalah.”
“Urusan itu bisa kita bicarakan nanti.”
Dunia di sekitar Su Yun mulai berputar.
Kuburan Pedang menghilang.
Ketika membuka mata kembali, ia sudah berada di Dataran Harimau.
Perkamen tergeletak di hadapannya.
Gagang pedang masih berada di tangannya.
Semuanya nyata.
“Mulai sekarang, kau bisa mempelajari Seni Pedang Tanpa Batas dari gulungan itu.”
Suara Master Pedang Tanpa Batas terdengar semakin lemah.
“Tapi aku harus tidur.”
Su Yun mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Aku hanyalah sisa jiwa.”
“Berbicara dan membuka ruang warisan menghabiskan energiku.”
Nada lelaki tua itu mulai memudar.
“Kalau dipaksakan terus, jiwaku bisa benar-benar lenyap.”
Su Yun terdiam.
Dalam perjalanan hidupnya, ia jarang benar-benar berhutang budi kepada seseorang.
Namun lelaki tua ini baru saja memberinya kesempatan yang mungkin mengubah seluruh masa depannya.
Su Yun meletakkan gagang pedang di tanah.
Kemudian berlutut.
Tiga kali ia membungkukkan tubuh.
“Terima kasih atas bimbingannya, Senior.”
Tidak ada jawaban selama beberapa saat.
Kemudian terdengar tawa lemah.
“Bagus... bagus...”
Suara itu perlahan memudar.
“Aku menunggu seribu tahun...”
“Setidaknya kali ini, penantianku tidak sia-sia.”
Perkamen kembali sunyi.
Su Yun bangkit.
Ia menggenggam gagang pedang dan memandang tujuh pola pedang yang kembali muncul.
Matanya menjadi tajam.
Empat tahun sebelum Qing Er menghadapi kematiannya.
Empat tahun untuk mengubah semuanya.
Dan sekarang—
ia akhirnya memiliki jalan yang cukup kuat untuk dicoba.
......................
Bersambung...