Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.
Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.
Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 — Di Luar Sembilan Papan
Gu Chen tidak menyukai tempat itu.
Bukan karena hamparan putih yang tidak memiliki ujung, bukan pula karena langit kosong yang tidak memperlihatkan matahari. Ia tidak menyukainya karena tempat itu membuatnya merasa seperti seseorang yang baru saja dilahirkan, tanpa masa lalu, tanpa tujuan, dan tanpa kepastian bahwa dirinya benar-benar ada.
Di hadapannya, Gu Yuan berjalan melewati sebuah pintu hitam yang muncul begitu saja di tengah kehampaan.
“Tempat apa ini?” tanya Gu Chen.
“Jalur menuju tempat yang tidak tercatat dalam sejarah.”
“Nama yang sangat membantu.”
“Namanya memang tidak ada.”
“Kalau begitu, bagaimana kau tahu tempat ini ada?”
Gu Yuan berhenti sejenak.
“Karena aku pernah kehilangan sesuatu di sini.”
Gu Chen menyipitkan mata. “Sesuatu atau seseorang?”
Gu Yuan kembali berjalan.
Gu Chen menghela napas dan mengikutinya. Sejak awal, ia seharusnya tahu bahwa perjalanan bersama lelaki itu tidak akan menghasilkan jawaban yang mudah.
Di belakang mereka, Lin Yue dan Bai menyusul melewati pintu. Keduanya masih berada dalam keadaan waspada. Lin Yue menggenggam busurnya, sedangkan Bai terus memperhatikan dinding lorong yang dipenuhi tulisan-tulisan kecil.
“Aku pernah membaca tentang tempat ini,” kata Bai.
Gu Yuan menoleh.
“Di mana?”
“Dalam ingatanku yang sudah terhapus.”
Gu Chen meliriknya. “Kau membaca buku di dalam ingatanmu sendiri?”
“Jangan mengejek sesuatu yang tidak kau pahami.”
“Kalau begitu, jelaskan.”
Bai terdiam.
Gu Chen mengangguk. “Tepat seperti dugaanku.”
Lin Yue mendengus kecil. “Kalian berdua benar-benar menyebalkan. Satu terus bertanya, satu lagi terus menghindar. Kalau memang tidak tahu, katakan saja tidak tahu.”
Bai menatapnya.
“Aku tahu bahwa tempat ini disebut Gerbang Tanpa Nama. Namun, aku tidak tahu siapa yang membangunnya atau apa yang berada di baliknya.”
“Lihat?” kata Gu Chen. “Itu bukan hal yang sulit.”
Mereka terus berjalan hingga lorong tersebut berakhir di hadapan sebuah aula raksasa.
Di tengah aula terdapat sembilan pintu batu. Setiap pintu memiliki simbol berbeda, sesuai dengan sembilan papan yang mengatur dunia. Pintu pertama dipenuhi ukiran bayi yang baru lahir. Pintu kedua menampilkan tengkorak, pintu ketiga memiliki ribuan wajah, sedangkan pintu lainnya menggambarkan sebab akibat, kemungkinan, ruang, waktu, kehendak, dan batas antar dunia.
Namun, di antara kesembilan pintu itu terdapat sebuah dinding kosong.
Tidak ada pintu kesepuluh.
Hanya sebuah lubang kecil berbentuk lonceng.
Gu Chen langsung merasakan lonceng hitam di dalam pakaiannya bergetar.
Gu Yuan berhenti di hadapan dinding kosong tersebut.
“Kita sudah sampai.”
Gu Chen mengamati lubang itu.
“Jadi, tempat di luar sembilan papan ternyata hanya sebuah aula dengan sembilan pintu dan satu lubang?”
“Tempat ini bukan tujuan kita,” jawab Gu Yuan. “Ini adalah batas terakhir yang bisa dilewati oleh orang-orang yang masih memiliki identitas dalam sejarah.”
“Lalu setelah batas ini?”
“Tidak ada sejarah.”
Gu Chen mengangkat alis. “Kedengarannya menyenangkan.”
“Tidak ada pula jaminan bahwa kau bisa kembali.”
Gu Chen mengangguk pelan.
“Nah, itu baru terdengar seperti masalah.”
Gu Yuan mengulurkan tangan ke arah dinding kosong.
Sembilan pintu batu langsung bergetar. Tulisan-tulisan di permukaannya bergerak seperti serangga, berkumpul membentuk sebuah kalimat.
\[IDENTITAS TIDAK DIKENALI.\]
\[OTORITAS TIDAK DIKENALI.\]
\[PENGUNJUNG TIDAK MEMILIKI HAK UNTUK MELANJUTKAN.\]
Gu Chen memandang ayahnya.
“Sepertinya kau tidak diterima.”
“Bukan aku yang ingin mereka periksa.”
Gu Yuan berbalik ke arahnya.
“Letakkan lonceng itu pada lubangnya.”
Gu Chen tidak langsung bergerak.
“Terakhir kali benda ini bereaksi, sebuah kota hampir membangkitkan semua hal yang seharusnya sudah dihapus. Sebelum aku melakukannya, bisakah kau menjelaskan apa yang akan terjadi?”
“Lonceng itu tidak akan berbunyi.”
“Itu bukan penjelasan.”
“Lonceng tersebut diciptakan untuk mengingatkan dunia pada sesuatu yang berusaha dilupakan. Di sini, ia tidak perlu berbunyi. Tempat ini sudah mengingat apa yang ingin dihapus.”
Gu Chen menatapnya curiga.
“Dan apa yang ingin dihapus tempat ini?”
Gu Yuan menjawab pelan, “Orang yang menciptakan sembilan papan.”
Keheningan menyelimuti aula.
Bai segera mengangkat kepala. Bahkan Lin Yue tampak kehilangan kata-kata.
Gu Chen mengeluarkan lonceng hitam dari pakaiannya. Retakan pada permukaannya terlihat semakin jelas. Ia mendekatkannya ke lubang berbentuk lonceng, tetapi belum melepaskannya.
“Bukankah kau tadi mengatakan bahwa para pemain bukan pencipta pertama?”
“Benar.”
“Kalau begitu, siapa orang itu?”
Gu Yuan menatap dinding kosong.
“Orang yang pertama kali memisahkan ingatan dari identitas. Orang yang menemukan cara untuk menyimpan kehidupan seseorang tanpa harus mempertahankan tubuhnya. Orang yang kemudian menciptakan sistem yang memungkinkan dunia mengingat sesuatu yang bahkan tidak pernah terjadi.”
Gu Chen menurunkan loncengnya.
“Tunggu. Kau mengatakan seseorang menciptakan sembilan papan, lalu para pemain mengambil alih hak untuk mengamatinya. Tetapi mengapa mereka takut kepadaku?”
“Karena kau adalah hasil dari eksperimen yang seharusnya tidak pernah dilakukan.”
“Eksperimen para pemain?”
“Tidak.”
Gu Yuan menatap putranya.
“Eksperimen pencipta mereka.”
Gu Chen merasakan pikirannya berputar.
“Jadi, aku diciptakan oleh seseorang yang menciptakan orang-orang yang kemudian mencoba mengendalikanku?”
“Tidak sesederhana itu.”
Gu Chen memejamkan mata.
“Kalau kau mengatakan kalimat itu sekali lagi, aku akan melempar lonceng ini ke kepalamu.”
Lin Yue menutup mulutnya, menahan tawa.
Bahkan Bai memalingkan wajah.
Gu Yuan tidak terlihat tersinggung. Ia hanya berkata, “Kau memang masih sama.”
Kalimat itu membuat Gu Chen membuka mata.
“Masih sama dengan siapa?”
Gu Yuan tidak menjawab.
Gu Chen menghela napas panjang, lalu menempatkan lonceng hitam ke dalam lubang.
Tidak ada suara.
Tidak ada cahaya.
Selama beberapa detik, tidak terjadi apa-apa.
Kemudian dinding kosong itu mengeluarkan suara seperti seseorang yang menarik napas setelah tertidur selama ribuan tahun.
Sembilan pintu batu terbuka serentak.
Dari balik setiap pintu terdengar suara berbeda: tangisan bayi, napas terakhir orang sekarat, bisikan ribuan orang, dentuman petir, gemuruh ruang yang terlipat, detak jam, teriakan manusia yang kehilangan kehendak, dan suara kaca yang pecah.
Pintu kesembilan tidak mengeluarkan suara sama sekali.
Sebaliknya, bayangan hitam merembes dari celahnya.
Tulisan baru muncul di dinding.
\[LONCENG PENGINGAT TERDETEKSI.\]
\[PEMILIK: GU YUAN.\]
\[OTORITAS PENCIPTA: TIDAK DIKENALI.\]
Gu Chen menoleh kepada Gu Yuan.
“Bukankah kau yang menciptakannya?”
Gu Yuan memandang tulisan tersebut dengan wajah pucat.
“Aku membuat tubuhnya.”
“Lalu siapa yang memberinya kekuatan?”
Gu Yuan tidak menjawab.
Dinding itu bergetar lagi.
Tulisan berikutnya muncul perlahan.
\[IDENTITAS PENCIPTA TIDAK DAPAT DITAMPILKAN.\]
\[ALASAN: PENCIPTA MASIH BERADA DI DALAM SISTEM.\]
Gu Chen menatap kalimat tersebut.
Kemudian ia perlahan menoleh ke arah Bai.
Bai juga sedang memandang tulisan itu.
“Jangan melihatku seperti itu,” katanya.
“Aku belum mengatakan apa-apa.”
“Wajahmu sudah mengatakannya.”
“Bagus. Berarti wajahku lebih jujur daripada kebanyakan orang yang kutemui.”
Namun, sebelum mereka sempat melanjutkan percakapan, suara lain terdengar dari balik pintu kesembilan.
Suara itu sangat pelan, tetapi membuat Gu Chen merasa seolah-olah seseorang sedang membisikkan sesuatu tepat di belakang telinganya.
“Gu Chen.”
Ia langsung berbalik.
Tidak ada siapa pun di sana.
Suara itu terdengar lagi.
“Jangan percaya kepada orang yang membawamu kemari.”
Gu Chen memandang Gu Yuan.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu apakah harus mengikuti peringatan tersebut atau justru mencurigainya sebagai jebakan.
Lalu pintu kesembilan terbuka sepenuhnya.
Di balik pintu itu tidak terdapat ruangan.
Hanya sebuah tangga yang menurun ke kegelapan.
Gu Chen mengambil kembali lonceng hitamnya. Retakan pada permukaannya tidak bertambah, tetapi lonceng itu kini terasa lebih berat.
“Siapa yang berbicara tadi?” tanyanya.
Gu Yuan menjawab, “Tempat ini menyimpan suara dari orang-orang yang pernah dihapus.”
“Berarti salah satu orang yang dihapus memperingatkanku agar tidak memercayaimu.”
“Bisa jadi.”
“Dan kau tidak merasa perlu membantah?”
“Kepercayaan bukan sesuatu yang bisa kuminta darimu.”
Gu Chen terdiam sejenak.
Jawaban itu justru membuatnya semakin sulit menentukan sikap.
Lin Yue berdiri di sampingnya. “Kau tidak harus mengikuti siapa pun. Kita bisa kembali dan mencari jalan lain.”
Bai menggeleng.
“Jika kita kembali sekarang, jalur ini mungkin tidak akan terbuka lagi. Dan bila tulisan itu benar, identitas Gu Chen telah menarik perhatian sesuatu yang berada di luar sistem.”
“Bukankah kita memang sedang mencari sesuatu di luar sistem?” tanya Lin Yue.
“Benar. Masalahnya, kita belum tahu apakah sesuatu itu ingin membantu kita.”
Gu Chen memandang tangga gelap tersebut.
Ia bisa kembali. Ia bisa memilih jalan yang lebih aman, mencari petunjuk lain, dan menunda semua pertanyaan yang belum terjawab.
Namun, selama ini, setiap kali ia mundur, orang lain membayar harganya.
Shen Mo menghilang. Ayahnya menjadi pusat kebohongan yang tidak berujung. Lin Yue terus terseret ke dalam masalah yang bahkan tidak sepenuhnya ia pahami.
Gu Chen memasukkan lonceng hitam ke dalam pakaiannya.
“Kita turun.”
Lin Yue menghela napas.
“Tentu saja. Kenapa aku berharap kau akan memilih keputusan yang masuk akal?”
“Karena kau masih memiliki harapan yang terlalu tinggi terhadapku.”
Mereka menuruni tangga.
Semakin jauh mereka berjalan, semakin sulit mereka mengingat berapa banyak anak tangga yang telah dilewati. Bukan karena tangganya berubah, melainkan karena ingatan tentang langkah-langkah mereka perlahan menghilang.
Lin Yue berhenti mendadak.
“Berapa lama kita sudah berjalan?”
Gu Chen menoleh.
“Aku tidak tahu.”
Bai mengangkat tangan, tetapi ekspresinya segera berubah.
“Aku juga tidak ingat.”
Gu Yuan terus berjalan seolah-olah tidak terpengaruh.
Gu Chen memperhatikan hal itu.
“Kau masih mengingat semuanya?”
“Tidak.”
Gu Yuan berhenti.
“Aku hanya tahu bahwa kita belum mencapai dasar.”
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Karena aku pernah berada di sini.”
“Dan apa yang terjadi waktu itu?”
Gu Yuan memandang tangga di bawah mereka.
“Aku kehilangan namaku.”
Gu Chen tidak lagi mengajukan pertanyaan.
Beberapa langkah kemudian, mereka tiba di sebuah pintu kayu tua. Tidak ada simbol pada pintu tersebut, hanya tulisan tangan yang hampir terhapus.
Gu Chen mendekat.
Tulisan itu berbunyi:
TEMPAT PENYIMPANAN NAMA-NAMA YANG DITOLAK PEMILIKNYA.
Di bawahnya terdapat empat nama.
GU YUAN.
BAI.
LIN YUE.
GU CHEN.
Lin Yue langsung mundur satu langkah.
“Kenapa namaku ada di sini?”
Bai mengamati pintu itu dengan wajah tegang.
“Karena tempat ini tidak hanya menyimpan nama orang yang dihapus. Tempat ini juga menyimpan nama yang pernah ditolak oleh pemiliknya.”
Gu Chen menatap namanya sendiri.
“Ditolak oleh pemiliknya?”
Gu Yuan memejamkan mata.
“Nama bukan hanya sebutan. Dalam sistem ini, nama adalah penghubung antara seseorang dan sejarah yang mengakuinya.”
“Jadi, seseorang bisa menolak namanya sendiri?”
“Bisa.”
“Dan apa akibatnya?”
Gu Yuan memandang Gu Chen.
“Dunia akan kesulitan menentukan siapa dirinya.”
Gu Chen mengingat tulisan pada cermin, sosok berambut putih, serta semua pesan yang terus menyebutnya sebagai bidak yang dihapus.
Ia mulai memahami sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak.
Mungkin ia bukan sekadar seseorang yang kehilangan ingatan.
Mungkin ada bagian dari dirinya yang secara sadar pernah menolak untuk menjadi orang yang seharusnya.
Namun, siapa yang menolak nama itu?
Dirinya yang sekarang?
Dirinya yang terdahulu?
Atau seseorang yang bahkan tidak pernah ia kenal?
Gu Chen menyentuh tulisan namanya.
Pintu kayu itu langsung terbuka.
Di baliknya terdapat ruangan panjang yang dipenuhi rak. Ribuan botol kaca tersusun rapi, dan di dalam setiap botol melayang sebuah potongan kertas bertuliskan nama.
Beberapa botol kosong.
Beberapa lainnya retak.
Di ujung ruangan terdapat sebuah meja dengan buku besar berwarna putih.
Gu Chen berjalan mendekatinya.
Pada sampul buku itu tertulis:
CATATAN PENCIPTA — EDISI TERAKHIR.
Ia membuka halaman pertama.
Di sana terdapat sebuah kalimat.
Jika kau membaca catatan ini, berarti eksperimen terakhir telah berhasil melampaui penciptanya.
Gu Chen membalik halaman.
Subjek pertama: tidak memiliki nama.
Subjek kedua: diberi nama oleh Penjaga Papan Ketiga.
Subjek ketiga: tidak pernah dilahirkan.
Ia membaca halaman berikutnya.
Terdapat gambar tiga sosok.
Sosok pertama adalah seorang anak laki-laki berambut putih.
Sosok kedua adalah Gu Yuan.
Sosok ketiga digambarkan sebagai siluet hitam tanpa wajah.
Di bawah gambar itu tertulis:
TIGA IDENTITAS. SATU KEHIDUPAN.
Gu Chen membeku.
Ia membalik halaman lagi, tetapi halaman berikutnya telah robek.
Hanya satu potongan kalimat yang tersisa di bagian bawah.
...dan ketika ketiganya kembali bertemu, salah satu dari mereka harus berhenti menjadi manusia.
Ruangan itu mendadak terasa jauh lebih dingin.
“Gu Yuan,” panggil Gu Chen pelan.
Lelaki itu berdiri di dekat pintu, tidak bergerak.
“Siapa subjek kedua?”
Gu Yuan menatap buku tersebut.
“Aku.”
“Lalu subjek pertama?”
Gu Yuan tidak menjawab.
Gu Chen menoleh ke arah Bai.
“Dan subjek ketiga?”
Bai memandang siluet hitam di dalam gambar.
Wajahnya kehilangan warna.
“Aku tidak tahu.”
Namun, jari-jarinya gemetar.
Gu Chen melihatnya.
“Kau berbohong.”
Bai menutup mata.
“Aku tidak tahu siapa dia sekarang,” katanya akhirnya. “Tetapi aku pernah mengenal orang itu.”
“Siapa?”
Bai membuka mata dan menatap Gu Chen.
“Orang yang memberiku nama Bai.”
Sebelum Gu Chen sempat bertanya lebih lanjut, sebuah botol kaca di rak paling ujung pecah.
Potongan kertas di dalamnya jatuh ke lantai.
Nama yang tertulis di atasnya tidak terlihat.
Sebab seluruh hurufnya telah dicoret dengan tinta hitam.
Namun, di bagian bawah kertas terdapat satu kalimat yang muncul perlahan.
PEMILIK NAMA INI SEDANG MEMBACA CATATAN TERAKHIRNYA.
Gu Chen menatap buku di tangannya.
Halaman-halaman buku itu mulai bergerak sendiri hingga berhenti pada halaman terakhir.
Di sana tertulis sebuah nama yang sebelumnya tidak ada.
PENCIPTA: GU CHEN.
Untuk beberapa detik, Gu Chen tidak bergerak.
Lalu ia tertawa pelan, seperti seseorang yang baru saja mendengar lelucon paling buruk sepanjang hidupnya.
“Bagus,” gumamnya. “Jadi, pada akhirnya aku menciptakan diriku sendiri.”
Gu Yuan segera melangkah mendekat.
“Jangan percaya pada tulisan itu.”
Gu Chen mengangkat wajah.
“Kenapa?”
“Karena nama itu bukan bukti bahwa kau penciptanya.”
Gu Chen menunjuk gambar tiga sosok pada halaman sebelumnya.
“Lalu apa maksud tiga identitas ini?”
Gu Yuan memandang buku tersebut dengan wajah yang semakin pucat.
“Aku tidak tahu.”
Kali ini, Gu Chen mempercayainya.
Sebab sebelum Gu Yuan sempat melanjutkan, tulisan pada halaman terakhir berubah.
\[IDENTITAS KETIGA TELAH MENEMUKAN PEMILIKNYA.\]
\[SUBJEK: BAI.\]
\[STATUS: INGATAN DIKEMBALIKAN.\]
Bai terhuyung.
Ia mencengkeram kepalanya, lalu berlutut di lantai. Napasnya tersengal. Dari mulutnya keluar suara yang bukan miliknya—suara seseorang yang terdengar jauh lebih tua, lebih tenang, dan sangat akrab dengan tempat itu.
“Jadi, kau akhirnya membawanya kembali, Gu Yuan.”
Gu Chen langsung menghunus pisaunya.
Bai perlahan mengangkat kepala.
Mata kanannya berubah menjadi hitam sepenuhnya.
“Aku sudah menunggu lama,” katanya dengan suara asing.
Ia menatap Gu Chen.
“Selamat datang, penciptaku.”
Bersambung ke Bab 22 — Nama yang Dimiliki Bai.