NovelToon NovelToon
MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rahmat Agung

Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 — JEJAK PERTAMA EXT-01

Pagi-pagi sekali, Arga Pratama sudah berada di bengkel Agung Joyo Motor.

Di hadapannya terbuka sebuah buku catatan. Pada halaman paling atas, ia menulis tiga kode yang kini menjadi pusat perhatiannya.

AUTH-03.

EXT-01.

EXT-02.

Ia belum tahu apakah ketiga kode itu benar-benar saling berhubungan. Namun, jika pesan anonim yang diterimanya memiliki dasar yang kuat, EXT-01 mungkin menyimpan jawaban tentang bagaimana kewenangan eksternal dalam proyek ARX-9 diperpanjang atau diubah.

Arga tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalu dengan mempercayai satu dokumen tanpa memeriksa asal-usulnya.

Ia mengambil ponsel dan menghubungi Nadia Prameswari.

“Nadia, aku ingin mengajukan pemeriksaan resmi terhadap catatan EXT-01 dan EXT-02.”

“Aku sudah menduga kau akan menghubungiku pagi-pagi,” jawab Nadia.

“Apakah tim audit sudah menemukan sesuatu?”

“Belum ada dokumen asli. Namun, aku menemukan satu referensi dalam indeks korespondensi lama. EXT-01 tercatat sebagai perubahan administratif pertama terhadap lampiran kewenangan AUTH-03.”

“Apakah ada tanggalnya?”

“Ada. Tetapi tanggal itu hanya tercatat pada salinan indeks. Kita belum tahu apakah tanggal tersebut merupakan tanggal pengajuan, pemrosesan, atau pengesahan.”

Arga mengambil pena.

“Siapa yang tercatat sebagai pemroses?”

“Nama lengkapnya belum muncul. Hanya kode unit administrasi dan nomor petugas. Tim audit sedang mencocokkannya dengan daftar personel pada masa itu.”

“Bagus. Jangan meminta nama seseorang hanya berdasarkan kode. Kita perlu tahu tugasnya, kewenangannya, dan apakah dia benar-benar melakukan perubahan.”

Nadia tertawa kecil.

“Kau tahu, terkadang aku merasa sedang berbicara dengan auditor senior.”

“Aku hanya tidak ingin kita salah menuduh orang.”

“Dan itu alasan kita masih bekerja bersama.”

Setelah percakapan berakhir, Arga menyimpan catatan tersebut di dalam tas.

Ia harus pergi ke pusat dokumentasi untuk mengikuti pemeriksaan lanjutan yang telah dijadwalkan oleh tim audit.

Namun, sebelum berangkat, ia melihat Pak Darto sedang memperbaiki sebuah sepeda motor pelanggan.

“Pak, saya akan pergi ke pusat dokumentasi. Ada perkembangan mengenai catatan kewenangan ARX-9.”

Pak Darto menghentikan pekerjaannya sejenak.

“Jangan lupa makan siang.”

Arga tersenyum.

“Kalau saya lupa, nanti Bapak marah.”

“Bukan marah. Aku hanya tidak ingin kau menyelesaikan penyelidikan besar dengan perut kosong.”

Arga tertawa, kemudian berpamitan.

Di balik percakapan sederhana itu, ia menyadari satu hal. Pak Darto selalu mendukungnya, tetapi tidak pernah memaksanya mengambil kesimpulan tertentu. Sikap itulah yang membuat Arga semakin yakin bahwa setiap orang harus dinilai berdasarkan bukti, bukan sekadar kedekatan atau kecurigaan.

Pusat dokumentasi proyek ARX-9 kini berada di bawah pengawasan tim audit independen.

Ruangan pemeriksaan dipenuhi kotak arsip, daftar inventaris, dan beberapa komputer yang digunakan untuk memeriksa salinan digital.

Nadia telah menunggu di sana bersama seorang auditor bernama Prasetyo.

“Arga, ini Pak Prasetyo. Beliau menangani pemeriksaan riwayat dokumen dan pencatatan perubahan arsip,” kata Nadia.

Arga menjabat tangannya.

“Terima kasih sudah meluangkan waktu.”

Prasetyo mempersilakan mereka duduk.

“Saya sudah membaca permintaan pemeriksaan kalian. Kita akan memeriksa catatan EXT-01 berdasarkan indeks yang tersedia. Namun, saya perlu menegaskan bahwa hasil awal ini belum tentu cukup untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab.”

“Justru itu yang kami inginkan,” jawab Arga. “Kami ingin mengetahui apa yang bisa dibuktikan dan apa yang masih belum diketahui.”

Prasetyo membuka sebuah berkas digital.

“Dalam indeks AUTH-03, ada catatan perubahan dengan kode EXT-01. Perubahan ini berkaitan dengan pengaturan masa berlaku kewenangan sementara. Catatan berikutnya, EXT-02, juga merujuk pada bagian yang sama.”

Nadia menunjuk layar.

“Apakah EXT-01 dibuat sebelum atau sesudah malam pengujian?”

“Menurut indeks, pengajuan perubahan dilakukan sebelum malam pengujian. Namun, waktu pengesahannya tidak tercatat secara lengkap pada salinan ini.”

Arga memperhatikan kolom yang kosong.

“Apakah perubahan itu sudah berlaku ketika pengujian berlangsung?”

“Kami belum bisa memastikan. Untuk menjawabnya, kami harus menemukan dokumen pengesahan atau catatan sistem yang menunjukkan kapan perubahan mulai berlaku.”

“Bagaimana dengan EXT-02?”

“Catatannya muncul kemudian. Ada indikasi bahwa EXT-02 memperpanjang periode yang tercantum dalam EXT-01. Namun, tanpa dokumen sumber, kami belum dapat memastikan apakah itu perpanjangan yang sah, koreksi tanggal, atau sekadar pembaruan indeks.”

Arga menyandarkan tubuhnya.

“Jadi, kita belum tahu apakah EXT-02 benar-benar mengubah kewenangan atau hanya memperbaiki pencatatannya.”

“Tepat sekali,” jawab Prasetyo.

Nadia membuka catatan yang dibawanya.

“Dalam dokumen REV-17, instruksi penundaan pemeriksaan lampiran keselamatan merujuk pada AUTH-03. Jika masa berlaku kewenangannya belum jelas, apakah instruksi tersebut bisa dianggap sah?”

Prasetyo menggeleng pelan.

“Kita tidak bisa menyimpulkan sah atau tidak sah hanya dari satu bagian. Kita harus memeriksa dasar kewenangan, waktu penerbitan instruksi, identitas pihak yang berwenang, serta prosedur yang berlaku. Selain itu, kita perlu mengetahui apakah instruksi tersebut memang berkaitan dengan penundaan pemeriksaan lampiran keselamatan.”

Arga mengangguk.

“Kalau begitu, kita mulai dari catatan perubahan paling awal.”

Prasetyo mengubah tampilan layar dan membuka indeks pemrosesan EXT-01.

Pada bagian bawah dokumen, terlihat sebuah kode unit administrasi.

ADM-GW04.

Arga langsung mengenali kode itu.

Kode tersebut pernah muncul dalam catatan perubahan status inventaris RCV-17. Unit yang sama juga tercatat dalam permintaan perubahan akses akun AR-01, akun yang seharusnya dinonaktifkan setelah proyek berakhir.

Nadia ikut terdiam.

“ADM-GW04 lagi.”

Prasetyo memperhatikan reaksi mereka.

“Kalian pernah menemukan kode ini sebelumnya?”

“Ya,” jawab Arga. “Dalam beberapa catatan administrasi yang berkaitan dengan pemindahan dokumen dan perubahan akses. Tetapi kami belum mengetahui siapa yang menggunakan kode itu pada setiap kejadian.”

Prasetyo mengangguk.

“Perlu diingat, kode unit tidak sama dengan identitas pengguna. Satu unit dapat memiliki beberapa petugas, dan sebuah akun unit terkadang digunakan oleh lebih dari satu orang sesuai prosedur.”

“Jadi, kemunculan kode yang sama belum membuktikan bahwa orang yang sama melakukan semua perubahan,” kata Nadia.

“Benar.”

Arga mencatat penjelasan tersebut.

Satu demi satu, mereka mulai melihat bahwa persoalan ARX-9 tidak hanya berkaitan dengan laporan teknis yang berubah. Ada rangkaian administrasi yang membuat dokumen tertentu dipindahkan, pemeriksaan ditunda, dan status inventaris dinyatakan selesai meskipun beberapa kolom penting belum terisi.

Namun, mereka masih belum memiliki bukti yang menghubungkan semua tindakan itu dengan satu orang tertentu.

Pemeriksaan berlangsung selama beberapa jam.

Tim audit menemukan bahwa indeks EXT-01 pernah disalin ke dua tempat penyimpanan berbeda. Salinan pertama berada dalam arsip administrasi proyek, sedangkan salinan kedua tercatat sebagai bagian dari paket dokumen pengawasan.

Akan tetapi, isi keduanya tidak sepenuhnya sama.

Pada salinan pertama, kolom tanggal pengesahan kosong.

Pada salinan kedua, kolom itu berisi catatan singkat: “Berlaku setelah konfirmasi otoritas.”

Tidak ada tanda tangan pada kolom tersebut.

Arga membaca kedua salinan dengan saksama.

“Apakah catatan ini ditambahkan setelah dokumen pertama dibuat?” tanyanya.

Prasetyo menjawab, “Kemungkinan itu ada, tetapi kami belum dapat memastikannya. Kami perlu membandingkan metadata digital, nomor halaman, serta catatan penerimaan masing-masing salinan.”

“Apakah ada informasi mengenai siapa yang menambahkan kalimat tersebut?”

“Tidak pada indeks yang kita miliki.”

Nadia menghela napas.

“Lagi-lagi, kita menemukan perubahan tanpa nama.”

Arga tidak langsung menjawab. Ia memeriksa nomor referensi di sudut bawah kedua dokumen.

Ada perbedaan kecil pada akhiran nomor penyimpanan.

Salinan pertama berakhir dengan huruf A.

Salinan kedua berakhir dengan huruf C.

“Pak Prasetyo, apakah nomor penyimpanan seperti ini memiliki arti tertentu?”

Prasetyo memperbesar gambar.

“Dalam sistem lama, akhiran huruf kadang digunakan untuk membedakan salinan berdasarkan tujuan distribusi. Tetapi kita harus memeriksa pedoman administrasi yang berlaku saat itu.”

“Kalau benar salinan C ditujukan untuk pengawasan, apakah mungkin catatan tambahan hanya terdapat pada salinan itu?”

“Mungkin. Namun, itu belum membuktikan siapa yang menambahkan catatan tersebut atau kapan perubahan dilakukan.”

Arga mengangguk.

Ia mulai memahami mengapa penyelidikan ini berjalan lambat. Setiap jawaban membuka pertanyaan baru, dan setiap petunjuk harus diperiksa melalui jalur yang benar.

Tetapi setidaknya, mereka tidak lagi berjalan tanpa arah.

Sebelum pemeriksaan berakhir, Prasetyo menyampaikan bahwa tim audit akan mengajukan permintaan akses terhadap buku penerimaan dokumen pengawasan yang berkaitan dengan EXT-01.

“Buku itu mungkin mencatat siapa yang menyerahkan dan menerima salinan C,” katanya. “Jika masih tersedia, kita bisa membandingkan catatan tersebut dengan riwayat penyimpanan.”

Arga berdiri.

“Berapa lama prosesnya?”

“Saya belum bisa memberikan waktu pasti. Sebagian arsip lama berada di penyimpanan sekunder, dan aksesnya membutuhkan persetujuan tambahan.”

“Baik. Kami akan menunggu hasil resmi.”

Prasetyo menutup berkas.

“Saya menghargai sikap kalian. Dalam pemeriksaan seperti ini, kesimpulan yang terlalu cepat sering kali justru menghambat pencarian fakta.”

Arga menjabat tangannya sekali lagi.

“Terima kasih, Pak.”

Saat mereka keluar dari ruangan, Nadia berjalan di samping Arga sambil memegang catatannya.

“Menurutmu, apakah kode ADM-GW04 memang sengaja digunakan untuk menyamarkan identitas?”

Arga menggeleng.

“Kita belum tahu. Kode unit bisa digunakan untuk keperluan administrasi yang sah. Masalahnya bukan semata-mata kode itu, tetapi bagaimana perubahan dilakukan dan mengapa identitas pengesahannya tidak tercatat.”

“Kalau semua perubahan itu memang sah, seharusnya ada dokumen pendukung.”

“Benar. Dan kalau dokumen pendukungnya tidak ada, kita perlu mengetahui apakah dokumennya hilang, dipindahkan, atau sejak awal tidak pernah dibuat.”

Nadia memandangnya.

“Kau selalu punya tiga kemungkinan untuk satu masalah.”

“Karena satu kemungkinan tidak cukup untuk menjelaskan sesuatu yang belum kita pahami.”

Sore hari, Arga kembali ke arena kompetisi.

Rendy dan Dimas sedang mempersiapkan peralatan untuk simulasi final. Di papan tulis, mereka menuliskan daftar pemeriksaan sistem pemantauan, termasuk respons terhadap perubahan suhu, kestabilan komunikasi, dan pencatatan data keselamatan.

“Bagaimana penyelidikannya?” tanya Rendy.

“Masih berjalan. Kami menemukan dua salinan indeks EXT-01 dengan isi berbeda.”

“Apakah kalian sudah menemukan orang yang mengubahnya?”

“Belum. Kami baru menemukan kode unit administrasi yang muncul dalam beberapa catatan.”

Rendy mengangguk.

“Kalau kau butuh bantuan memeriksa data teknis, beri tahu aku. Untuk dokumen administrasi, aku mungkin tidak banyak membantu.”

Arga tersenyum.

“Bantuanmu dalam kompetisi saja sudah cukup.”

“Jangan salah. Aku juga ingin tahu siapa yang sebenarnya bertanggung jawab. Tetapi kita harus menyelesaikan final lebih dulu.”

Dimas mengangkat tangannya.

“Aku setuju. Kita tidak boleh membiarkan masalah lama merusak persiapan yang sudah kita lakukan.”

Arga memandang kedua temannya.

“Baik. Kita fokus pada pengujian.”

Mereka kembali bekerja.

Dalam simulasi kali ini, sistem harus menghadapi perubahan suhu mendadak dan lonjakan data secara bersamaan. Arga meminta Dimas mengawasi respons sistem, sementara Rendy memeriksa kestabilan jalur komunikasi.

Pada percobaan pertama, sistem memberikan peringatan tepat waktu, tetapi catatan pengukuran pada satu kanal mengalami keterlambatan.

Rendy segera menghentikan simulasi.

“Kalau kondisi ini terjadi pada final, kita bisa kehilangan sebagian informasi.”

“Jangan hapus hasilnya,” kata Arga. “Simpan sebagai catatan kegagalan, lalu kita periksa penyebabnya.”

Dimas menyimpan log pengujian.

Mereka menelusuri urutan data dan menemukan bahwa modul komunikasi memprioritaskan peringatan, tetapi tidak mengatur antrean data sekunder dengan benar.

Setelah beberapa penyesuaian dan pengujian ulang, masalah tersebut berhasil diatasi.

Rendy menatap hasil akhirnya.

“Sekarang sistem kita lebih stabil.”

“Karena kita tidak mengabaikan kegagalan pertama,” jawab Arga.

Dimas tersenyum.

“Sepertinya itu juga berlaku untuk penyelidikanmu.”

Arga menatap layar yang menampilkan seluruh hasil pengujian.

“Mungkin. Kesalahan tidak akan hilang hanya karena seseorang menghapus catatannya. Kita harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”

Malamnya, ketika Arga baru saja selesai membersihkan meja kerjanya, ponselnya kembali bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Sebuah pesan singkat muncul.

“Salinan C bukan salinan terakhir. Ada salinan D yang pernah dikirim ke sekretariat evaluasi.”

Arga membaca pesan tersebut dengan hati-hati.

Beberapa detik kemudian, pengirim yang sama mengirimkan foto lain.

Gambar itu memperlihatkan sebuah daftar distribusi dokumen. Sebagian besar tulisannya kabur, tetapi satu baris masih dapat dibaca:

“EXT-01 — SALINAN D — SEKRETARIAT EVALUASI.”

Pada kolom status, terdapat tulisan yang membuat Arga terdiam.

“PENERIMAAN DITUNDA — MENUNGGU KONFIRMASI.”

Tidak ada nama penerima.

Tidak ada tanggal penerimaan akhir.

Di sudut bawah gambar, tercantum kode referensi yang belum pernah dilihat Arga sebelumnya.

ACK-17-D.

Arga segera mengirimkan gambar tersebut kepada Nadia dan meminta agar gambar itu disimpan sebagai petunjuk yang belum terverifikasi, bukan sebagai bukti final.

Kemudian ia membuka buku catatannya.

Di bawah kode EXT-01 dan EXT-02, ia menulis kode baru itu.

ACK-17-D.

Jika salinan D benar-benar pernah dikirim ke sekretariat evaluasi, mungkin ada pihak lain yang seharusnya menerima informasi tentang batas kewenangan eksternal.

Dan jika penerimaannya ditunda, mereka harus mengetahui siapa yang meminta penundaan tersebut.

Arga menutup buku catatannya.

Penyelidikan itu belum menemukan orang yang bertanggung jawab atas perubahan dokumen. Namun, sebuah jalur baru mulai terbuka, mengarah langsung ke tempat keputusan akhir mengenai ARX-9 pernah dibahas.

Kali ini, pertanyaan mereka bukan hanya siapa yang mengubah dokumen.

Melainkan siapa yang seharusnya menerima dokumen itu, tetapi tidak pernah mendapatkannya tepat waktu.

Bersambung.

1
Rahmat Agung
🙏
Supendi Supendi
lanjut dan semangat terus thor💪
Supendi Supendi
semoga jalan ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan🤣
Supendi Supendi
menarik thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!