Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.
Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.
Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25. Kemenangan Yang Tak Sepenuhnya Manis
Seorang pejabat mendekat.
“Menurut ketentuan, pakaian kebesaran juga harus diserahkan.”
Wang Laoyin menatapnya. Penuh amarah yang tertahan, terlihat begitu bernafsunya orang-orang ini ingin mempermalukan dirinya.
“Pakaian ini?” Wang Laoyin mencengkeram kerah jubah kebesaran permaisuri itu, dia merasa teramat di rendahkan di depan orang banyak.
Pejabat itu ragu. Mencuri pandang dengan takut pada raja yang tak bergeming di tahtanya, bahkan tak mengomentari apapun saat orang akan melucuti jubah tanda kebesaran sang istri di depan hidungnya.
“Pakaian ini merupakan pakaian resmi kedudukan Permaisuri.” Desis Wang Laoyin dengan suara geram.
“Dan kedudukan itu telah dicabut.” Suara Raja Han Quan memecah suasana yang menegang. Wang Laoyin menelan ludahnya yang terasa seret di tenggorokan, seolah sedang menelan sebongkah batu.
“Benar, Yang Mulia. Tentu saja..."
Wang Laoyin mengangguk, begitu menyedihkan ketika tidak ada seorangpun yang membelanya di saat dia berada pada situasi seperti ini.
“Kalau begitu, dengan segala hormat, mohon kemurahan hati Yang Mulia dengan semua orang di sini karena, aku akan menggantinya setelah kembali ke kediaman.” Sekarang Wang Laoyin merasa tak lagi harus berusaha mengiba diri di depan semua orang. Ia tidak memohon agar jubah itu dibiarkan melekat di tubuhnya. Ia tidak memperebutkan sehelai kain, sebab ia tahu bahwa yang sedang mereka rebut bukanlah sutra atau emas.
Mereka ingin melihatnya kehilangan harga diri.
Mereka ingin melihatnya berlutut, menangis, dan memohon agar diizinkan mempertahankan sedikit saja dari kehidupan yang dahulu menjadi miliknya.
Namun, Wang Laoyin tidak akan memberi mereka pemandangan itu.
Ia berdiri tegak, dengan rambut hitam yang kini tanpa mahkota, tetapi dengan kepala yang tetap terangkat.
“Apakah masih ada titah lain?” tanyanya, setengah menantang pada Kasim itu. Dan tentu saja kalimat itu di tujukan kepada Raja Han Quan yang berada di singgasana kebesarannya.
Kepala kasim menggeleng.
“Tidak, Yang Mulia.”
Wang Laoyin menatapnya.
“Jangan panggil aku dengan gelar yang sudah dicabut oleh istana.” Ucapnya dengan nada yang sinis, di tatapnya dengan nanar sejenak singgasana permaisuri yang berada di sebelah raja. Tempat yang biasa menjadi tempatnya duduk dalam delapan tahun terakhir itu terlihat kosong dan dingin.
Kepala kasim tersentak.
“Permaisuri…”
“Panggil aku Wang Laoyin.”
Suaranya begitu tenang hingga terasa lebih menyakitkan daripada teriakan.
Kepala kasim menunduk dalam-dalam.
“Ba...baik nyonya Wang.” Sahut Kasim itu dengan takut-takut.
Wang Laoyin berdiri sesaat menatap ke arah raja dan kemudian kepada selir Lan zifei serta semua pejabat penting di hadapannya lalu dengan dagu yang terangkat lurus dia membalikkan badan.
Langkahnya menuju pintu aula terdengar pelan di atas lantai marmer. Ia berjalan melewati para pejabat yang menundukkan kepala, melewati pilar-pilar merah, melewati tempat di mana ia dahulu berdiri sebagai perempuan kedua setelah Raja dalam tata urutan istana.
Tidak seorang pun menghentikannya.
Tidak seorang pun berani menatapnya terlalu lama.
Namun, ketika ia hampir mencapai pintu, ia mendengar suara Lan Zifey dari belakang.
“Saudari Wang.”
Wang Laoyin berhenti.
Ia tidak berbalik segera.
Sapaan itu terdengar lembut, penuh belas kasih, bahkan menyerupai suara seorang perempuan yang ingin menawarkan penghiburan kepada seseorang yang baru saja kehilangan segalanya.
Namun, Wang Laoyin telah hidup cukup lama di istana untuk mengetahui bahwa kelembutan terkadang hanyalah selubung bagi kekejaman.
“Aku turut bersedih atas apa yang terjadi,” ujar Lan Zifey.
“Semoga waktu akan membuktikan kebenaran dan membawa ketenangan bagi hatimu kakak Laoyin.” Lanjutnya, terdengar penuh sindiran karena selama ini dia akan memanggil Wang Laoyin dengan gelar Yang Mulia permaisuri tetapi kini begitu fasihnya dia memanggil embel-embel kakak saja pada namanya.
Wang Laoyin akhirnya menoleh, matanya tajam mengarah ke wajah perempuan yang bersikap begitu anggun dan mulia tak jauh dari singgasana raja.
Mereka saling menatap dari kejauhan.
Lan Zifey berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan tubuh, wajahnya cantik dan tenang. Ia bahkan tampak seperti hendak menangis, seolah-olah pencopotan Wang Laoyin merupakan peristiwa yang menyayat hatinya.
Wang Laoyin memandangnya tanpa berkedip.
“Jangan bersedih untukku, Lan Zifey.”
Senyum Lan Zifey sedikit membeku.
“Kakak…”
“Jika kau benar-benar menginginkan kebenaran, berdoalah agar semua yang tersembunyi segera terungkap.”
Wang Laoyin melangkah mendekat satu langkah.
“Namun, jika kau sedang menikmati apa yang terjadi hari ini, setidaknya jangan menghina kecerdasanku dengan berpura-pura berduka.”
Wajah Lan Zifey memucat sesaat.
Hanya sesaat.
Kemudian ia kembali tersenyum.
“Aku tidak memahami maksud perkataanmu.”
Wang Laoyin membalas dengan senyum dingin.
“Kelak kau akan memahaminya.”
Ia berbalik dan meninggalkan aula.
Di belakangnya, Lan Zifey tidak lagi mengatakan apa-apa.
Tetapi jemarinya yang tersembunyi di balik lengan jubah mulai mengepal.
Untuk pertama kalinya, kemenangan yang telah lama ia impikan terasa tidak sepenuhnya manis.
Sebab perempuan yang baru saja kehilangan mahkotanya itu tidak tampak seperti seseorang yang telah dikalahkan.
Ia tampak seperti seseorang yang sedang mengingat setiap wajah di ruangan tersebut.
Dan orang-orang yang merencanakan kehancurannya belum memahami betapa berbahayanya ingatan seorang perempuan yang telah kehilangan segala sesuatu untuk dilindungi.
Setelah Wang Laoyin meninggalkan Aula Naga Emas, Raja Han Quan tetap duduk di singgasana. Ia tidak segera memerintahkan upacara dilanjutkan. Pandangannya terpaku pada pintu besar yang telah tertutup, seolah-olah sebagian dari dirinya masih mengikuti langkah perempuan yang baru saja pergi.
Di atas nampan, mahkota phoenix terbaring tanpa pemilik.
Cahaya lentera memantul pada batu rubi di bagian depan mahkota, menghasilkan kilau merah yang menyerupai tetesan darah.
Raja Han Quan menatapnya lama.
Ia mengingat wajah Wang Laoyin ketika perempuan itu melepaskannya. Tidak ada tangisan yang meledak, tidak ada permohonan, tidak ada perlawanan yang dapat ia gunakan sebagai alasan untuk menganggapnya bersalah.
Yang ia lihat justru keteguhan.
Dan keteguhan itu membuat hatinya gelisah.
“Yang Mulia,” panggil Qian Bei dengan suara penuh hormat, “titah telah dilaksanakan. Demi kestabilan istana, langkah berikutnya perlu segera ditetapkan.”
Raja mengalihkan pandangan.
“Apa yang kau usulkan?”
Qian Bei membungkuk.
“Kerajaan membutuhkan kepastian mengenai urusan kediaman istana dalam. Setelah kedudukan Permaisuri dicabut, tidak boleh ada kekosongan terlalu lama. Para pejabat dan keluarga bangsawan akan mulai mempertanyakan siapa yang bertanggung jawab menjaga ketertiban istana.”
“Selain itu, Yang Mulia kini memiliki seorang putra. Kehadiran seorang pangeran telah memberi kerajaan harapan baru mengenai kelanjutan garis keturunan.”
Beberapa pejabat mengangguk setuju.
Qian Bei melanjutkan, “Jika Selir Lan Zifey diangkat menjadi Ratu, kedudukan putranya akan memperoleh kepastian politik. Keluarga bangsawan akan memiliki sosok yang dapat mereka jadikan pusat kesetiaan, sedangkan urusan dalam istana dapat kembali berjalan dengan satu kepemimpinan yang jelas.”
Kalimat-kalimat itu disusun begitu rapi sehingga terdengar seperti nasihat demi kepentingan negara.
Tidak ada yang menyebut ambisi Lan Zifey.
Tidak ada yang menyebut surat palsu.
Tidak ada yang menyebut kematian Shen Rui ataupun kesaksian yang bertentangan.
Yang mereka bicarakan hanyalah kestabilan.
Sebuah kata yang sering kali digunakan untuk menutupi ketakutan para penguasa terhadap perubahan.
Raja Han Quan mengusap dagunya, terlihat bimbang.
“Apakah para pejabat akan mendukung usulan itu?”
“Sebagian besar akan memahami alasan politiknya, Yang Mulia,” jawab Qian Bei. “Seorang putra kerajaan dapat menjadi lambang kesinambungan takhta. Mengangkat ibunya menjadi Ratu akan menunjukkan bahwa keluarga kerajaan memiliki arah yang jelas.”
Raja tidak segera menjawab.
Ia memandang bayi yang berada dalam gendongan kasim di dekat Lan Zifey. Bayi itu bergerak kecil, kemudian menguap, sama sekali tidak memahami bahwa keberadaannya sedang digunakan sebagai dasar bagi perubahan besar di dalam istana.
Tidak ada yang dapat menyalahkan seorang bayi atas ambisi orang-orang dewasa.
Ia belum mengenal nama, belum memahami gelar, belum mengetahui arti singgasana.
Namun, darah keturunannya telah menjadi alasan yang cukup untuk memindahkan mahkota dari satu kepala ke kepala yang lain. Dan Masalah Wang Laoyin yang sedari malam tadi jadi perdebatan panjang dalam otaknya sendiri itu seakan mulai menguap selayak embun di pagi hari.
( Bersambung, ya...🥰 yuuuuuk, di like dan komen ya readers kesayangan semua)