Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.
Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.
"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."
Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.
Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Siang harinya, Erlyn menggandeng tangan Rara berjalan masuk ke supermarket yang tidak terlalu jauh dari rumah.
Keranjang troli sudah digenggam di tangannya, berisi barang-barang yang sudah disusun di daftar belanja, kebutuhan dapur, susu kesukaan Rara, dan sedikit camilan untuk dinikmati bersama nanti sore. Langkahnya terasa ringan, wajahnya masih menyimpan sisa senyum saat teringat ucapan Iqbal pagi tadi.
Rara berjalan di sampingnya, sesekali menunjuk ke arah rak yang penuh warna, bertanya ini dan itu dengan suara ceria.
Erlyn mendengarkan, menjawab sambil tersenyum, sesekali mengelus punggung tangan anaknya.
Kehadiran Rara selalu membuatnya merasa tenang, seolah kebahagiaan kecil ini cukup untuk melindunginya dari apa pun yang buruk di luar sana.
Namun saat mereka berjalan menuju lorong makanan, langkah Erlyn melambat. Sesuatu di kejauhan menarik perhatiannya.
Di antara kerumunan orang yang sedang memilih sayuran, ada sosok pria yang berdiri membelakangi arahnya.
Postur tubuhnya, cara berdiri, bahkan cara tangannya bergerak mengambil barang di rak... semuanya terlihat begitu dikenal.
Jantung Erlyn tiba-tiba berdegup kencang, seakan hendak melompat keluar dari dadanya. Napasnya mendadak sesak. Ia mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa itu hanya perasaan saja, bahwa ada banyak orang yang terlihat mirip di dunia ini. Namun kakinya terasa berat, matanya tak bisa berpaling.
Pria itu perlahan berbalik sedikit, cukup untuk memperlihatkan sebagian wajahnya.
Dunia Erlyn serasa berhenti berputar.
Wajah itu sama persis. Garis rahang yang tegas, tatapan mata yang tajam, senyum tipis yang terukir di bibir saat berbicara dengan seseorang di sampingnya, itu Om Hendi.
Dua belas tahun berlalu, namun sosoknya masih membekas begitu jelas di ingatan Erlyn, seolah baru kemarin ia melihatnya.
Erlyn menarik napas dalam-dalam, namun udara terasa tak sampai ke paru-parunya. Tangan yang menggenggam tangan Rara sedikit gemetar. Ia mundur perlahan, bersembunyi di balik rak tinggi berisi kemasan makanan, berharap sosok itu tidak melihatnya.
"Ibu? Kok berhenti?" suara Rara terdengar memecah keheningan yang tercipta di kepala Erlyn. Anak itu menatapnya bingung. "Ibu sakit?"
Erlyn menunduk, berusaha menenangkan wajahnya agar tidak terlihat pucat. Ia meremas tangan kecil putrinya pelan, berusaha tersenyum, meski rasanya bibirnya terasa kaku.
"Nggak apa-apa, Sayang. Ibu hanya merasa ada yang terlupakan."
Ia menarik tangan Rara sedikit lebih erat, berjalan memutar ke lorong lain, menjauh dari tempat pria itu berdiri.
Namun setiap langkah yang diambilnya terasa semakin berat. Ia menoleh ke belakang berkali-kali, memastikan tidak ada yang mengikuti.
Di kepalanya, bayangan-bayangan masa lalu mulai bermunculan satu per satu, kata-kata yang dulu pernah diucapkan, ancaman yang pernah didengar, perasaan terkurung yang ia kira sudah hilang dua belas tahun lalu.
Bagaimana bisa Om Hendi ada di sini? Apakah ia memang melihatnya, atau hanya kebetulan belaka? Sudah berapa lama ia berada di kota yang sama? Apakah ia sedang mencariku?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti di pikirannya, membuat kepalanya terasa pening. Ia berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa mungkin saja ia salah lihat.
Tapi di lubuk hatinya, Erlyn tahu, ia tidak mungkin salah. Wajah itu telah menghantuinya dalam mimpi buruk berkali-kali selama bertahun-tahun. Ia mengenalinya bahkan hanya dari sekilas pandang.
Rara masih terus berbicara, namun kata-katanya seakan terdengar samar. Erlyn berusaha menjawab sesekali, mengangguk, tersenyum tipis, namun pikirannya tetap tertinggal di lorong tadi.
Ia mempercepat langkah, menyelesaikan belanjaan dengan terburu-buru, tidak lagi memeriksa barang dengan teliti seperti biasanya. Yang ia inginkan hanyalah segera keluar dari tempat itu, segera pulang ke rumah, menutup pintu, dan menguncinya rapat-rapat.
Saat berdiri di antrean kasir, Erlyn menoleh sekali lagi ke belakang dan sekitarnya. Orang tadi sudah tidak ada. Namun rasa takut itu tidak hilang. Ia tetap ada, menempel di dadanya, membuatnya merasa diawasi dari mana saja.
Setelah membayar, ia berjalan cepat keluar dari supermarket, menggandeng Rara erat-erat seolah takut putrinya akan diambil seseorang.
Udara di luar terasa lebih segar, namun jantungnya masih berdegup kencang. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan saat berjalan menuju halte, memastikan tidak ada yang mengikuti.
"Ibu... kok jalannya cepat sekali?" tanya Rara sambil berusaha mengimbangi langkah ibunya. "Emang kita mau ke mana, bu?"
Erlyn menunduk, melihat wajah putrinya yang menatapnya bingung dan sedikit cemas. Ia menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri.
"Kita pulang saja dulu ya, Sayang. Ibu mendadak ingin istirahat."
***
Sesampainya di rumah, Erlyn mengunci pintu dengan cepat, lalu menutup semua jendela. Ia bersandar di balik pintu, menutup matanya sebentar, berusaha menenangkan napas yang masih terasa terburu. Rara duduk di sofa, menatapnya tanpa mengerti.
Erlyn mendekat, duduk di samping putrinya, lalu memeluknya erat. Kehadiran Rara sedikit menenangkan hatinya.
Tidak ada yang boleh menyakiti putrinya. Tidak ada yang boleh merusak rumah tangga yang telah dibangunnya.
Erlyn melepaskan pelukan, mengusap rambut Rara lembut.
"Kamu main sendiri dulu sebentar ya? Ibu mau ke dapur minum dulu."
"Iya, Bu."
Saat berjalan menuju dapur, Erlyn tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik ke luar jendela yang menghadap ke jalan. Tidak ada Hendi di sana.
Jalanan tampak biasa saja, tenang, seperti biasanya. Namun perasaan itu tidak berbohong. Sesuatu telah berubah sejak tadi. Bayangan yang dulu diusirnya kini kembali berdiri di dekatnya.
Ia duduk di kursi dapur, memegang gelas air dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Pikirannya melayang enam belas tahun ke belakang, ke masa di mana Om Hendi menguasai setiap gerak-geriknya, di mana ia tidak berani berkata tidak, di mana kebebasan adalah hal yang mustahil dimilikinya. Ingatan itu terasa begitu nyata, seolah semua itu baru terjadi kemarin.
Erlyn menarik napas panjang, mencoba mengusir bayangan itu. Ia sudah pergi. Ia sudah lari sejauh mungkin, membangun kehidupan baru, menikah dengan pria yang sangat baik, memiliki anak yang manis. Ia tidak boleh membiarkan masa lalu itu kembali menguasainya. Ia harus kuat. Demi Iqbal, demi Rara.
Namun pertanyaan yang tak bisa dihindari tetap muncul, jika benar Hendi sudah menemukannya, apa yang harus ia lakukan?
Apakah ia harus bercerita kepada Iqbal? Bagaimana reaksi suaminya nanti? Apakah Iqbal akan tetap mempercayainya, atau justru mulai mempertanyakan segala hal tentang masa lalunya yang selama ini disembunyikan?
Ketakutan itu kembali muncul, lebih kuat dari sebelumnya. Erlyn menunduk, menangkupkan wajah ke kedua telapak tangannya.
Ia ingin sekali berteriak, meluapkan semua ketakutan yang dipendamnya. Namun ia tidak tahu kepada siapa ia bisa bercerita. Selama ini ia selalu menyelesaikan semuanya sendirian.
Belum lama berselang, suara motor terdengar mendekat ke arah rumah. Jantung Erlyn berdebar lagi karena merasa lega mendengar suara motor Iqbal.
Ia segera menegakkan tubuh, merapikan pakaiannya, berusaha menyembunyikan jejak kegelisahan di wajahnya. Saat pintu terbuka dan Iqbal masuk dengan tersenyum, Erlyn merasakan rasa aman yang begitu mendalam. Suaminya pulang. Semuanya akan baik-baik saja.
"Aku pulang," sapa Iqbal, menutup pintu di belakangnya. Ia mendekat, mencium kening istrinya seperti biasa. "Kamu kelihatan pucat. Ada yang membuatmu lelah?"
Erlyn menelan ludah, menatap mata suaminya yang tulus. Ada keinginan kuat untuk bercerita saat itu juga, tentang apa yang dilihatnya di supermarket, tentang ketakutan yang menyeruak kembali. Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Ia belum siap. Ia takut melihat pandangan Iqbal berubah.
"Nggak ada apa-apa, Mas. Mungkin hanya sedikit capek saja belanja tadi," jawabnya pelan, tersenyum tipis.
Iqbal mengusap pipinya lembut. "Istirahatlah kalau lelah. Jangan dipaksakan."
"Iya, mas."
Sore itu mereka makan kue bersama, tertawa, bercerita, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun di dalam hati Erlyn, ada sesuatu yang retak perlahan. Ia tahu pertemuan di supermarket itu bukan sekadar kebetulan.
Pintu yang selama ini dikuncinya rapat-rapat kini mulai terketuk pelan. Dan ia tidak tahu berapa lama lagi ia bisa menahannya agar tetap tertutup.
gpp2 terus kalo ditanyaa /Sob/