Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23
****
Langkah kaki Lyn terasa teramat berat saat melintasi lorong dingin menuju pintu unit apartemennya. Perasaan hancur, bersalah, dan kecemasan yang menggulung di dadanya pasca-melihat kehangatan Siska dan Clara di mansion seolah menyedot habis seluruh daya tahannya.
KLIK.
Begitu gagang pintu terdorong dan daun pintu kayu tebal itu terbuka, aroma sandalwood yang pekat dan teramat familier langsung menyambut indra penciumannya.
Lyn tersentak pelan. Di ruang tengah yang dinaungi pendar temaram lampu pijar, Wiliam sudah berdiri tegak di balik meja kaca. Jas mewahnya telah ditanggalkan, kini hanya mengenakan kemeja hitam berpotongan tegas dengan dua kancing atas yang terbuka. Pria paruh baya itu menatap Lyn dengan mata sehitam jelaga yang tenang namun menyimpan pendar kekuasaan yang mutlak.
Wiliam telah menerima laporan lengkap dari pengawal pribadinya di gerbang mansion mengenai terobos nekat Siska—maupun kepulangan Lyn yang terburu-buru.
"W-Wiliam...?" bisik Lyn dengan suara serak, tangannya yang memegang tali tas gemetar hebat. "Anda... sudah di sini...?"
Wiliam tidak menjawab dengan kata-kata. Pria matang itu melangkah mendekat dengan gestur anggun yang mendominasi, menutup seluruh jarak di antara mereka. Tangannya yang besar dan hangat terangkat, menangkup kedua belah pipi Lyn yang pucat dan terasa dingin.
"Kamu pucat sekali, Little Lady," suara berat Wiliam menggelegar tenang di udara apartemen yang sunyi. Ibu jarinya mengusap lembut bibir bawah Lyn. "Aku sudah mendengar apa yang terjadi di depan gerbang tadi pagi."
Mata jernih Lyn seketika berkaca-kaca. Gumpalan air mata yang ditahannya sejak meninggalkan mansion akhirnya menetes deras membasahi jemari tangan Wiliam.
"Wiliam... ini salah..." rintih Lyn pasrah, badannya gemetar hebat seraya memegangi pergelangan tangan Wiliam. "Tante Siska sudah kembali... Beliau sangat mencintai Clara, dan Clara... Clara sangat mendambakan Maminya pulang. Mereka terlihat sangat bahagia saat berpelukan di depan gerbang tadi..."
Wiliam menyunggingkan senyum tipis yang dingin, menatap lurus ke dalam mata Lyn yang penuh derita. "Siska tidak akan pernah kembali ke rumah itu, Lyn. Kehadirannya tidak akan mengubah apa pun dari posisimu di sisiku."
"Tapi saya tidak bisa, Wiliam!" jerit Lyn pelan, suaranya tercekik oleh isak tangis yang pecah. Gadis itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba menarik tubuhnya mundur meskipun cengkeraman halus Wiliam di rahangnya menahannya rapat. "Saya punya tahu diri! Saya tidak mau dicap sebagai perusak rumah tangga orang! Saya tidak mau menjadi penghalang bersatunya keluarga Clara... Clara itu sahabat terbaik saya, Wiliam! Bagaimana bisa saya merebut ayahnya dan merusak impian sahabat saya sendiri?!"
Rasa bersalah yang menggerogoti jiwanya selama berbulan-bulan kini mencapai puncaknya. Lyn merasa bagaikan parasit jahat yang menyelinap di antara keutuhan keluarga orang lain.
"Lepaskan saya, Wiliam... tolong..." bisik Lyn serak, matanya menatap memohon dengan keputusasaan yang mendalam. "Kembalilah pada Tante Siska... demi Clara. Biarkan saya pergi..."
Mendengar permohonan Lyn yang ingin melepaskan diri dari sangkar mewahnya, pendar dingin di mata Wiliam seketika membeku. Aura dominasi yang mematikan merebak kuat di sekeliling pria itu. Namun, melihat betapa hancur dan terguncangnya mental gadis 21 tahun di hadapannya ini, ketegasan dingin Wiliam perlahan melunak berganti kebingungan dan dorongan emosional yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Pria tua yang biasanya selalu memegang kendali penuh atas segala situasi itu mendadak terdiam. Rahangnya mengeras kaku, jemari tangannya meremas pelan bahu mulus Lyn. Ia menyadari, jika ia tidak menghentikan gejolak rasa bersalah yang membakar jiwa Lyn detik ini, wanitanya benar-benar akan hancur dan melarikan diri dari genggamannya.
Sebuah kebenaran kelam yang telah ia simpan rapat-rapat selama puluhan tahun mendadak menuntut untuk dilepaskan.
"Cukup, Evelyn!" tegur Wiliam dengan nada suara yang teramat berat, tegas, dan bergetar oleh rahasia besar yang tertahan.
Lyn tersentak, napasnya memburu menatap Wiliam dengan pandangan sayu bercampur takut.
Wiliam menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan seraya menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Lyn. Tangannya berpindah membelai lembut kepala Lyn, menarik tubuh lembut gadis itu ke dalam pelukan dada bidangnya yang hangat.
"Dengarkan aku baik-baik, Little Lady," bisik Wiliam tepat di telinga Lyn, suaranya terdengar begitu dalam dan serius hingga menghentikan detak waktu di ruang tengah itu. "Kamu tidak pernah merusak keluarga siapa pun. Dan kamu tidak sedang merebut apa pun dari Clara."
"T-tapi... Tante Siska dan Anda..." cicit Lyn di balik dada Wiliam.
"Clara bukan anak kandungku, Lyn."
DEG.
Kalimat singkat yang meluncur dari bibir Wiliam bergama bagaikan petir menyambar di tengah malam yang sunyi. Atmosfer di dalam apartemen seketika membeku total.
Lyn membelalak sempurna. Tubuhnya menegang kaku di dalam pelukan Wiliam. Ia perlahan mendorong dada Wiliam pelan, mendongak menatap wajah tampan pria paruh baya itu dengan raut keraguan dan kejutan yang teramat luar biasa.
"W-Wiliam... Anda... Anda bicara apa...?" bisik Lyn terbata-bata, suaranya hampir tak terdengar. "I-ini tidak lucu... Clara itu putri Anda..."
Wiliam menatap Lyn tanpa ada sedikit pun kebohongan atau riak ragu di wajah mewahnya. Senyum dingin yang pahit terukir sangat tipis di sudut bibirnya.
"Aku tidak pernah bercanda tentang hal ini, Lyn," ujar Wiliam tenang, suaranya kembali datar namun sarat akan kenyataan pahit dari masa lalu. "Dua puluh satu tahun yang lalu, Siska mengandung anak dari pria lain saat masih berstatus sebagai kekasihku. Demi menyelamatkan nama besar keluargaku dan menyembunyikan skandal dari publik, aku menikahinya dan mengakui anak yang dikandungnya sebagai darah dagingku sendiri."
Lyn menahan napasnya, darah di dalam tubuhnya terasa berhenti mengalir. Logikanya berputar hebat mencoba mencerna kebenaran yang baru saja menghantam pendengarannya.
"C-Clara... bukan darah daging Anda...?" cicit Lyn lagi, matanya berkedip tak percaya.
"Bukan," jawab Wiliam mutlak tanpa penyesalan. Tangannya mengusap rahang mulus Lyn dengan kelembutan yang mengintimidasi. "Pernikahanku dengan Siska hanyalah transaksi bisnis dan hukum di atas kertas. Tidak pernah ada cinta, dan tidak pernah ada keluarga sejati di rumah itu. Siska meninggalkanku dan Clara tiga tahun lalu karena pria selingkuhannya yang lain. Jadi jangan pernah berpikir bahwa wanita itu berhak atas rumahku, atau bahwa kamu sedang merusak sebuah keluarga."
Pernyataan spontan yang keluar dari mulut pria berkuasa itu meruntuhkan seluruh beban moral yang selama ini menghimpit dada Lyn hingga sesak. Rasa bersalah yang membendung perlahan meluruh, berganti rasa terpukul oleh kenyataan betapa kelamnya rahasia yang disimpan oleh pria di hadapannya ini.
"L-lalu... Clara... apakah Clara tahu soal ini...?" tanya Lyn dengan suara gemetar.
"Tidak. Dan dia tidak akan pernah tahu," potong Wiliam tegas, mengunci pandangan Lyn dengan tatapan posesif yang tak tertolak. "Clara tetap akan menjadi putriku di mata publik dan hukum. Tapi kamu... kamu adalah satu-satunya wanita yang memegang seluruh kebenaranku, Lyn."
Wiliam menundukkan kepalanya, memajukan wajahnya hingga napas hangat beraroma whisky dan sandalwood menyapu leher jenjang Lyn.
"Sekarang katakan padaku, Little Lady..." bisik Wiliam serak tepat di depan bibir manis Lyn yang terbuka pasrah. "...apakah kamu masih berpikir untuk meninggalkanku dan menyuruhku kembali pada wanita dari masa lalu itu?"
Lyn membisu di bawah pendar mata sehitam jelaga sang tuan. Dengan gumpalan emosi yang melebur antara kejutan, rasa aman, dan kepasrahan total, Lyn menggelengkan kepalanya pelan, menyerahkan raga dan jiwanya makin dalam ke dalam sangkar emas kekuasaan Wiliam selamanya.
Bersambung....
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻