Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Arthur Bond, Rexana Nycekerh hidup bagai pajangan mahal di dalam sangkar emas. Demi menyelamatkan perusahan ayahnya yang terancam runtuh, Rex terpaksa menelan bulat-bulat dinginnya penghinaan dan tuduhan atas rahasia masa lalu yang enggan ia bocorkan. Namun, ketika kembali ke New York, takdir memainkan lelucon paling kejam.
Lexana, kakaknya sendiri, secara terang-terangan memamerkan kekasih barunya—Diedrick Glodereus Ashford.
Pria itu adalah pemilik masa lalu Rex, cinta pertamanya yang kini hadir kembali membawa dendam dan kepahitan.
Di tengah kepungan tuntutan keluarga yang tak berhati dan intrik kekuasaan, Rex harus berdiri sendirian di antara dua pria yang membencinya.
Akankah rahasia di balik perpisahan masa lalu mereka terkuak, atau justru Rex akan benar-benar hancur dalam permainan pembalasan dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Pagi hari di pesisir Danau Zurich melukiskan pemandangan yang begitu tenang. Kabut putih tipis berangsur-angsur menipis, membiarkan bias cahaya matahari musim gugur menyapu permukaan air dan memantulkan pendar keemasan ke seluruh penjuru kompleks vila privat keluarga Whitmore.
Udara pagi terasa sejuk, membawa aroma pinus dan basahnya embun yang menyegarkan.
Di meja panjang berlapis taplak linen putih di teras terbuka yang menghadap langsung ke arah danau, keluarga besar Whitmore dan Ashford telah berkumpul.
Tuan Jasper Whitmore duduk di ujung meja dengan wibawa aristokratnya, menikmati cangkir kopi hitam hangat.
Di sisi kanannya, Beau Whitmore—yang tampak segar dalam balutan kardigan kasmir lembut—tersenyum simpul, menikmati suasana kekeluargaan yang telah lama hilang dari hidup mereka.
Tak jauh dari sana, Tuan Kaetos dan Nyonya Parrie Ashford berbincang ringan dengan Jasper mengenai rencana ekspansi bisnis gabungan di Eropa.
Suasana terasa hangat, harmonis, dan penuh sukacita pasca perayaan pernikahan kemarin.
Namun, di balik kehangatan itu, ada ketegangan tak kasat mata yang menggantung di antara dua kursi kosong di sisi kiri meja.
Langkah kaki ringan berbalut sepatu pantofel terdengar mendekat. Rexana dan Diedrick berjalan berdampingan menuju meja makan.
Diedrick mengenakan kemeja linen putih dengan lengan digulung hingga siku, menampilkan aura dominasi yang tenang. Tangannya tidak pernah lepas dari pinggang Rexana, memandu istrinya dengan gestur protektif yang menunjukkan kepemilikan mutlak.
Sementara Rexana mengenakan dress midi berwarna biru muda berpita pinggang, wajah porselennya nampak anggun, namun sepasang mata bulatnya menyiratkan kelelahan batin yang mendalam.
"Selamat pagi, Daddy, Mommy..." sapa Diedrick dan Rexana hampir bersamaan.
"Pagi, Pengantin Baru!" seru Parrie sembari tersenyum lebar, menyambut putra dan menantunya dengan antusias. "Duduklah. Koki sudah menyiapkan sarapan terbaik hari ini."
Mereka berdua pun duduk di kursi yang telah disediakan. Kursi Rexana berada tepat di sebelah kiri Diedrick, berhadapan langsung dengan kursi kosong di seberang meja—kursi yang sejak tadi memang sengaja disiapkan untuk anggota keluarga yang belum bergabung.
Beberapa saat kemudian, suara ketukan sepatu hak tinggi bergesekan pelan di atas lantai marmer teras.
Shopia Danica Whitmore melangkah mendekat. Gadis itu mengenakan mantel wol panjang berwarna krem dengan syal sutra melingkar rapi di lehernya, memberikan kesan anggun sekaligus rapuh. Namun, bagi mata yang jeli—terutama bagi Rexana dan Diedrick—perubahan drastis pada diri Shopia begitu mencolok.
Mata bulat Shopia terlihat agak sembab dan sedikit bengkak di bagian kelopak bawah, sisa dari tangisan panjang yang pecah sepanjang malam di kamar hotelnya di pusat kota Zurich.
Meskipun ia telah mengoleskan riasan tipis dan concealer untuk menyamarkannya, aura kesedihan dan kehancuran batin yang dipendamnya gagal disembunyikan sepenuhnya.
Shopia menghentikan langkahnya sejenak saat manik matanya beradu pandang dengan Diedrick.
Tatapan mata elang Diedrick langsung menajam, dingin, dan penuh peringatan mutlak—mengingatkan kembali pada ancaman keras yang ia muntahkan melalui sambungan telepon beberapa jam lalu.
Shopia langsung menundukkan kepalanya, menggigit bibir bawahnya pelan, lalu mengalihkan pandangannya dengan tubuh bergetar halus.
"Pagi, semuanya..." cicit Shopia lirih, berusaha mengatur nada suaranya agar terdengar senatural mungkin.
"Pagi, Sayang," sapa Jasper hangat tanpa menyadari badai di antara putri-putrinya. "Kemarilah, duduk di sebelah Rexa."
Shopia mengangguk kaku. Ia menarik kursi di sebelah kanan Rexana, duduk dengan postur tegap namun kaku bagai patung porselen yang siap retak kapan saja.
Di atas meja, jarak tangan Shopia hanya terbentang beberapa sentimeter dari tangan Rexana yang bertumpu di atas paha.
Suasana sarapan pun dimulai.
Dentingan sendok dan garpu beradu dengan piring porselen, diselingi candaan ringan dari Parrie dan Kaetos yang mencairkan suasana.
Namun, Rexana sama sekali tidak menyentuh makanannya.
Sejak Shopia duduk di sampingnya, seluruh indra Rexana terkunci sepenuhnya pada keberadaan saudari kembarnya itu. Aroma parfum lavender lembut yang melekat di mantel Shopia beradu dengan bau kopi panas di hadapannya.
Rexana menoleh pelan, melirik profil wajah Shopia dari samping.
Ia melihat bayangan mata sembab itu. Ia melihat jemari Shopia yang memegang cangkir teh dengan gemetar halus.
Dan di atas segalanya, ingatan tentang pesan rahasia bertanda nama 'Z' serta gema pertengkaran telepon Diedrick malam tadi menghujam tajam di dalam kepala Rexana.
Wanita yang mencintai suamiku setengah mati... adalah saudari kandungku sendiri.
Kenyataan itu terasa begitu kejam, melilit leher Rexana hingga sesak napas.
Rexana tahu betul betapa hancurnya hidup Shopia di masa lalu. Ia tahu bagaimana rasanya tumbuh di distrik kumuh, diinjak-injak dunia, dan nyaris melompat bunuh diri dari atas jembatan.
Shopia tidak pernah meminta untuk jatuh cinta pada pria yang sama. Cinta itu tumbuh secara alami dari sebuah penyelamatan hidup di saat-saat paling gelap dalam sejarah remaja Shopia.
"Shopia..." panggil Rexana pelan, suaranya begitu halus hingga hanya bisa didengar oleh orang di sebelah kirinya.
Shopia yang sedang memegang cangkir teh mendadak tersentak kaget.
Cangkir di tangannya nyaris berderit membentur piring saucer.
Gadis itu menoleh perlahan, mendapati manik mata bulat Rexana menatapnya lekat-lekat—bukan dengan kemarahan, melainkan dengan tatapan penuh kepedihan, kebingungan, dan genangan air mata yang siap tumpah kapan saja.
Manik mata kembar identik itu saling bertaut dalam keheningan yang memekakkan telinga, terisolasi dari bisingnya obrolan keluarga di sekeliling mereka.
"Ya... Rexana?" balas Shopia sangat lirih, suaranya bergetar parah, tenggorokannya tercekat oleh rasa bersalah yang teramat sangat.
Di sebelah kiri Rexana, Diedrick menyadari interaksi tegang antar kembaran itu. Pria itu langsung menghentikan potongan makanannya, meletakkan garpu di atas piring, dan melirik tajam ke arah Shopia dengan rahang mengeras.
Sinyal bahaya berkedip terang di kepala Diedrick; ia tidak akan membiarkan Shopia mengatakan sepatah kata pun yang bisa melukai atau mengguncang jiwa istrinya lagi.
"Ada apa, Bellerina?" tanya Diedrick dingin, suaranya berat dan menginterupsi, tangan besarnya langsung merangkul pinggang Rexana semakin erat, menarik wanita itu sedikit menjauh dari Shopia sebagai bentuk proteksi mutlak.
"Kau tidak menyentuh sarapanmu dari tadi. Apa makanannya tidak enak?"
Rexana menggeleng pelan, tidak melepaskan tatapannya dari mata Shopia yang mulai berkaca-kaca.
"Tidak, Diedrick..." bisik Rexana pelan, lalu ia menarik napas dalam-dalam, menguatkan hatinya untuk mengucapkan kalimat yang sejak semalam bergelayut di benaknya. "Hanya saja... aku merasa ada hal yang belum selesai dibicarakan secara jujur."
Suasana di meja makan yang tadinya hangat dan riuh mendadak meredup seketika.
Tuan Jasper menghentikan cangkir kofinya, mengerutkan kening menatap kedua putrinya dengan tatapan heran. "Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba bicara soal kejujuran di meja makan?"
Nyonya Parrie dan Kaetos ikut terdiam, bertukar pandang dalam kebingungan.
Shopia memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata hangat yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah menetes di atas pipi porselennya.
Gadis itu tahu saatnya telah tiba—saat di mana kebohongan, rahasia masa lalu, dan dosa kecil yang dirajutnya Semalam.
Shopia meletakkan cangkir tehnya perlahan di atas meja, lalu mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah Jasper, Diedrick, dan terakhir kepada Rexana.
"Dad... Mommy..." suara Shopia bergetar parah, memecah kesunyian teras vila. "Maafkan aku... maafkan aku karena telah merusak pagi yang indah ini. Tapi ada satu rahasia besar yang selama ini kusimpan sendirian... rahasia yang menyangkut masa lalu, kebohongan, dan hatiku sendiri."
Jantung Rexana berdegup kencang di dalam dadanya. Ia menggenggam erat serbet meja di pangkuannya.
Diedrick di sampingnya mengetatkan rahangnya, menatap Shopia dengan sorot mata penuh peringatan dingin, namun tidak lagi berusaha memotong kalimat kakak iparnya itu.
Pria itu menyadari bahwa pelarian dari masa lalu telah berakhir; kebenaran harus diletakkan di atas meja, seberapa pun sakitnya.
"Katakan, Shopia," ujar Jasper tenang namun tegas, menatap putri keduanya dengan sorot penuh wibawa.
"Rahasia apa yang kau simpan?"
Shopia menarik napas gemetar, meremas jemarinya di atas meja. Udara dingin Danau Zurich seolah membeku, menjadi saksi bisu atas runtuhnya dinding-dinding rahasia yang selama ini memenjarakan jiwa mudanya.
dan diedrick pria ashford paling bar" gak bisa tahan🤣