Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Langkah Karin terhuyung ke depan saat melihat putrinya nekat melangkah pergi dengan penampilan sekacau itu. "Bella... tunggu..." rintih Karin dengan suara parau yang sarat akan kepedihan.
Namun, belum sempat kakinya menapak menyusul, pandangan wanita itu mendadak menggelap. Tubuh Karin ambruk tak berdaya ke lantai marmer sebelum ia sempat menggapai pintu keluar.
"Mama!" jerit Nathan histeris, langsung berlari dan berlutut merengkuh tubuh ibunya yang sudah terkulai lemas tak sadarkan diri.
Alan yang berdiri kaku seketika panik setengah mati. Pria paruh baya itu ikut berlutut, menepuk-nepuk pipi istrinya dengan tangan gemetar. "Karin! Karin, sadar, sayang! Buka matamu!"
Di ambang pintu, Bella sama sekali tidak menhentikan langkahnya. Isak tangisnya tertelan oleh deru angin malam yang dingin menusuk kulit. Ia terus berjalan menuruni undakan tangga utama mansion, membiarkan kaki ayamnya menapaki aspal pekarangan yang kasar dan dingin, meninggalkan keluarganya yang kini tengah diterpa kepanikan luar biasa.
Christian, yang tadinya hendak melangkah cepat mengejar Bella untuk menghentikan kenekatan gadis itu, terpaksa menghentikan langkahnya. Jeritan panik Nathan dan kondisi Karin yang pingsan membuat prioritasnya bergeser dalam hitungan detik. Dengan rahang mengeras, pria itu berbalik, melangkah lebar kembali ke dalam rumah, lalu berlutut untuk memeriksa kondisi Karin layaknya seorang dokter profesional.
"Cepat bawa dia ke kamar utama!" perintah Christian tegas, meraba denyut nadi di pergelangan tangan Karin dengan presisi penuh.
*
Sementara seisi mansion sibuk mengurus Karin yang pingsan, sosok Bella sudah keluar dari gerbang tinggi mansion Allegra.
Gadis itu berjalan seorang diri di trotoar jalanan ibu kota yang mulai lengang. Udara malam yang membeku langsung menghantam kulitnya yang hanya dibalut tanktop ketat dan celana pendek. Sepanjang perjalanan, air matanya terus mengalir tanpa henti, membasahi pipinya yang pucat.
Penampilannya yang mencolok di tengah malam membuat setiap mata yang berpapasan langsung menatapnya dengan pandangan menilai, bahkan beberapa pria hidung belang dan pengemudi mobil yang lewat mulai memperlambat kendaraan mereka, melontarkan godaan-godaan kotor dan siulan merendahkan ke arah Bella.
Bella merapatkan kedua tangannya di depan dada, mencoba melindungi diri dari tatapan-tatapan lapar orang asing di jalanan. Ia mempercepat langkahnya dengan rasa takut yang mulai merayap naik, merasa seolah seluruh dunia telah berkonspirasi untuk menghancurkannya.
Belum jauh ia berjalan, sebuah mobil sedan hitam tiba-tiba berhenti mendadak tepat di samping trotoar, menghalangi jalurnya. Pintu mobil terbuka lebar, dan sebelum Bella sempat menghindar, seseorang dari dalam mobil langsung menyambar tangannya dengan cepat.
"Lepasin! Tolong! Jangan sentuh aku!" jerit Bella histeris, meronta-ronta sekuat tenaga sambil memukul apa pun yang bisa ia jangkau karena panik luar biasa.
"Bella! Hei, ini aku! Tenang, Bella!"
*
Sementara itu, di dalam kamar utama mansion Allegra, Karin perlahan membuka kelopak matanya di bawah pengawasan ketat Christian. Aroma minyak angin dan obat-obatan melayang di udara kamar.
Begitu kesadarannya pulih, hal pertama yang diingat Karin bukanlah keadaannya sendiri, melainkan putrinya. Dengan napas tersengal, Karin mencengkeram lengan suaminya erat-erat. "Mas Alan... kejar Bella... Cari dia, Mas... Jangan biarkan dia pergi sendirian di luar sana dengan pakaian seperti itu..."
Alan menatap istrinya dengan cemas, mengelus lembut rambut Karin untuk menenangkannya. "Iya, sayang... tenanglah dulu. Aku sudah minta orang suruhan untuk mencarinya..."
Nathan berdiri di sudut ruangan dengan wajah mengeras, rahangnya mengetat, dan tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ia terdiam seribu bahasa, dilanda rasa bersalah yang hebat namun terlalu genggam untuk diakuinya di hadapan kedua orang tuanya.
Christian berdiri dari sisi ranjang setelah memastikan kondisi Karin mulai stabil. Pria berjas rapi itu merapikan manset kemejanya, sementara sorot mata cokelat gelapnya memancarkan aura dingin yang mengintimidasi ruangan.
"Istirahatlah, Mbak. Biar aku yang turun tangan," ucap Christian datar dengan wibawa mutlak yang langsung membuat Alan dan Nathan terdiam patuh.
Christian segera berbalik, menyambar kunci mobil di atas meja, dan melangkah lebar keluar dari kamar. Ia langsung masuk ke dalam mobil SUV miliknya, menancap gas meninggalkan pelataran mansion dengan kecepatan tinggi untuk melacak keberadaan keponakannya.
Sepanjang jalan raya ibu kota yang sepi, mata tajam Christian menyisisk setiap sudut trotoar. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan Bella. Rasa curiga dan cemas yang gelap mulai bergemuruh di dadanya, memperingatkannya akan bahaya besar di luar sana.
Christian memutuskan memutar kendaraannya ke arah area pinggiran kota yang lebih sepi. Setibanya di dekat sebuah warung kelontong kecil yang masih buka menjelang tengah malam, ia menghentikan mobilnya mendadak dan turun untuk bertanya kepada beberapa orang pria yang sedang duduk-duduk di sana.
"Permisi," sapa Christian dengan suara baritonnya yang berat dan berwibawa, menunjukkan foto Bella di layar ponselnya kepada pemilik warung. "Apakah kalian melihat gadis dengan pakaian tipis lewat di sekitar sini?"
Pemilik warung itu menyipitkan mata sejenak, lalu mengangguk ragu. "Ah... saya tahu, Tuan. Gadis itu tadi jalan kaki sambil menangis. Penampilannya sangat mencolok karena hanya memakai tanktop."
Jantung Christian seolah berhenti berdetak sesaat, meski wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi. "Ke mana dia pergi?" kejar Christian cepat, nada suaranya mendadak menajam dan menuntut.
"Belum lama setelah lewat sini..." jawab si pemilik warung menunjuk ke arah jalan gelap di ujung jalan, "dia dicegat dan ditarik paksa masuk ke dalam sebuah mobil sedan hitam yang lewat. Gadis itu sempat menjerit ketakutan sebelum akhirnya dibawa kabur, Tuan."
Mendengar informasi itu, rahang Christian mengeras sempurna hingga bergemeretak. Buku-buku jarinya memutih mencengkeram ponselnya sendiri. Pandangan mata cokelat gelapnya berubah menjadi sangat mematikan, memancarkan amarah dingin yang siap membakar siapa saja yang berani menyentuh milik keluarga Allegra.
*
*
*
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang