Di dunia fantasi yang kejam, di mana hierarki ditentukan oleh kekuatan dan kemurnian garis keturunan, terlahir sebagai seekor Goblin adalah sebuah kutukan. Mereka adalah ras terendah-lemah, kotor, diburu sebagai ajang latihan para petualang amatir, dan dibantai tanpa ampun oleh umat manusia.
Namun, dari kedalaman keputusasaan ras yang nyaris punah di Hutan Misti, lahirlah sebuah anomali.
Bukan dengan kulit hijau menjijikkan atau tubuh bungkuk yang menyedihkan, melainkan dengan paras rupawan bagai seorang High Elf yang agung. Berambut pirang keemasan, bertelinga runcing yang elegan, dan dianugerahi ingatan serta kecerdasan dari dunia modern, ia adalah Altair-Sang Goblin Emperor pertama.
menyadari ras nya di ambang kepunahan altair pun bertekad membangkitkan kembali ras goblin yang hina, menjadi penguasa dunia dengan bantuan sistem manipulasi genetik dan kekuatan reproduksi nya sebagai sang kaisar goblin. bisakah dia menghadapi segala rintangan di depan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Menantang Sang Penguasa Langit
Markas baru Kekaisaran Goblin di balik tirai air terjun itu beroperasi dengan sangat efisien. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, para Hobgoblin pekerja telah memahat lorong-lorong batu, menciptakan sistem ventilasi, dan membangun bilik-bilik penjagaan. Di dasar Pegunungan Berkanopi ini, mereka tersembunyi dengan sempurna dari ancaman darat maupun udara.
Namun, bagi Altair, bersembunyi adalah taktik sementara, bukan cara hidup.
Sang Kaisar Emas berdiri di salah satu dahan pohon purba yang menjulur keluar dari tebing, jauh di atas tanah namun masih tertutup oleh lapis terakhir kanopi raksasa. Angin lembap meniup jubah hitamnya. Mata merah rubinya menatap tajam ke arah celah dedaunan di mana kilatan petir biru terus menyambar.
Di belakangnya, Zyrus mendarat pelan dengan sihir angin. Pangeran Ungu yang kini bertubuh setinggi remaja belasan tahun itu melipat tangannya di dada.
"Ayahanda, jaringan gua di bawah sudah sepenuhnya diamankan. Para ibu sedang beristirahat," lapor Zyrus. Ia kemudian mengikuti arah pandangan ayahnya ke atas. "Partikel mana di udara semakin liar. Monster badai itu sedang berpatroli di wilayah udaranya."
Altair mengangguk pelan. "Sebuah kekaisaran tidak akan bisa meluas jika kita terjebak di dasar hutan ini selamanya. Griffin itu mengunci langit kita. Untuk membunuhnya, aku harus tahu seberapa tajam cakarnya dan seberapa panas petirnya."
Mata Zyrus sedikit melebar. Kecerdasannya segera menangkap maksud Altair. "Anda bermaksud memancingnya turun, Ayahanda? Itu sangat berisiko. Di usia kita sekarang, Kekaisaran tidak bisa bertahan tanpa sosok Kaisar."
"Aku tidak memancingnya turun. Aku yang akan menemuinya di atas," jawab Altair dingin. "Perintahkan seluruh pasukan untuk tetap berada di bawah kanopi. Jangan ada satu pun yang menampakkan diri. Kau dan Valdor perhatikan baik-baik pertarunganku dari batas dedaunan. Pelajari bagaimana monster purba menggunakan mana murni."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Altair melesat ke atas. Tubuhnya melompat dari satu dahan raksasa ke dahan lainnya dengan kecepatan kilat, menembus lapisan terakhir dedaunan purba yang tebalnya mencapai beberapa meter.
WUSSS!
Begitu Altair menembus batas kanopi, dunia berubah drastis. Hutan yang lembap dan gelap seketika digantikan oleh hamparan lautan daun yang bergoyang layaknya ombak di bawah langit abu-abu pekat. Angin badai melolong ganas, membawa hawa beku yang mematikan.
Altair mendarat di atas cabang tertinggi dari pohon raksasa yang menonjol seperti menara di atas kanopi hutan. Aura emas gelap memancar dari tubuhnya, menantang hegemoni partikel petir di udara.
Ia tidak perlu menunggu lama.
Kehadiran mana tingkat tinggi milik Altair di atas kanopi dianggap sebagai deklarasi perang absolut oleh penguasa wilayah ini.
Dari balik awan badai yang hitam kelam, terdengar raungan melengking yang memekakkan telinga. Suaranya perpaduan antara pekikan elang raksasa dan auman singa, cukup kuat untuk menciptakan gelombang kejut yang menyibak awan.
Seekor Griffin turun menukik dengan kecepatan meteor.
Ukurannya jauh lebih masif dari yang Altair perkirakan saat melihatnya dari bawah. Panjang tubuhnya dari paruh elang peraknya hingga ke ekor singanya mencapai belasan meter. Bulu-bulunya memancarkan kilau emas dan perak, sementara setiap kepakan sayap raksasanya menghasilkan percikan petir biru yang menyambar-nyambar liar.
Antarmuka sistem Altair berkedip merah dengan sangat cepat, memaksa sebuah panel data berukuran besar terbuka di depan retinanya. Deretan angka yang muncul seketika menjelaskan mengapa makhluk ini memegang takhta Selatan:
[ [ Peringatan: Entitas Kasta Purba Terdeteksi! ] ]
[ Nama : Griffin (Penguasa Hutan Selatan)
Umur : ??? (Ratusan Tahun)
Peringkat Kekuatan : Bencana / Disaster Class (Setara Rank SS+)
Serangan: 850 (+300 Penetrasi Petir)
Vitality: 1.200
Mana: 2.500
Kecerdasan: 85 (Kecerdasan tempur tinggi, didominasi insting predator)
Ketahanan benturan: 950
Ketahanan magic: 1.500
Attribute: Manipulasi Cuaca Mutlak, Petir Murni, Ketahanan Baja
Genetic Talent: [Raja Langit], [Aura Intimidasi Purba] ] ]
Serangan menembus seribu poin jika ditambah atribut petirnya, dan Mana yang gila, batin Altair. Seringai buas perlahan terbentuk di wajah sang Kaisar. Angka-angka ini adalah wujud dari kekuatan murni yang jauh melampaui segala anomali yang pernah ia perhitungkan sejak bereinkarnasi. Pantas saja tidak ada yang berani menatap langit Qirwood Selatan.
Griffin itu tidak mendarat. Dari ketinggian seratus meter, monster itu mengepakkan sayapnya ke arah Altair, melepaskan selusin tombak petir biru murni yang melesat dengan kecepatan cahaya.
Altair memusatkan aura di kakinya dan melompat dari dahan raksasa itu tepat satu milidetik sebelum petir-petir itu menghantam.
JDAAARRR!
Cabang pohon purba yang lebarnya seukuran jalan raya itu hancur berkeping-keping, terbakar menjadi abu dalam sekejap. Gelombang panasnya bahkan membuat Zyrus dan Valdor, yang mengintip dari balik kanopi puluhan meter di bawah, harus memalingkan wajah.
Melayang di udara bebas, Altair merentangkan tangannya. Energi gelap bercampur emas meledak dari tubuhnya, membentuk pedang aura raksasa. Dengan dorongan mana tolakan di bawah kakinya, Altair melesat ke atas, membalas sang Griffin dengan tebasan tebal yang merobek udara.
Sang Penguasa Badai mengaum marah melihat makhluk darat berani menyerangnya di langit. Ia menggunakan cakar singanya yang berlapis listrik untuk menahan tebasan pedang aura Altair.
CLANGGG!
Bentrokan antara pedang aura Kaisar Goblin dan cakar petir Griffin menciptakan ledakan sonik di langit Hutan Selatan. Awan-awan di sekitar mereka tersapu bersih.
Tangan Altair mati rasa seketika. Sistem sama sekali tidak berbohong soal stat Ketahanan Benturan 950 milik makhluk itu. Bahkan dengan stat serangannya sendiri yang sangat tinggi sebagai Rank A+, Altair merasa seperti menghantamkan pedangnya pada sebuah gunung besi yang dialiri listrik tegangan tinggi. Petir biru merambat melalui aura Altair, menyengat kulitnya hingga meninggalkan bekas hangus.
Menyadari benturan fisik di udara melawan monster dengan stat ribuan adalah bunuh diri, Altair menembakkan bola sihir kompresi ke arah wajah Griffin untuk menciptakan jarak, lalu membiarkan gravitasi menariknya kembali ke atas hamparan kanopi daun raksasa.
Altair mendarat dengan lutut menekuk, napasnya memburu pelan. Lengan jubah hitamnya robek, dan darah kehitaman menetes dari tangannya yang hangus.
Griffin itu mengepakkan sayapnya di udara, tampak sama sekali tidak terluka oleh serangan balik Altair. Monster itu memutar tubuhnya, menatap Altair dengan sepasang mata emas yang memancarkan arogansi absolut seorang penguasa sejati. Griffin itu kemudian mengangkat kepalanya ke langit, membuka paruhnya lebar-lebar.
Awan badai di atas mereka mulai berputar dengan sangat cepat, membentuk sebuah pusaran raksasa yang berpusat tepat di atas posisi Altair. Partikel mana di udara menjadi sangat padat hingga membuat Altair kesulitan bernapas.
Sistem di kepalanya berkedip gila-gilaan.
[Peringatan Kritis! Kepadatan Energi Petir 4000%. Hindari area!]
Altair menatap pusaran badai itu dengan mata merah menyala. Kecerdasannya yang 100 dengan cepat menghitung probabilitas bertahan hidup dari serangan dengan skala Mana 2.500 yang akan datang. Hasilnya: Nol koma sekian persen.
Ini bukanlah pertarungan yang bisa dimenangkannya hari ini. Sang Penguasa Badai sedang menunjukkan mengapa tidak ada satupun monster darat yang berani mengklaim wilayah Selatan Hutan Misti.
"Jadi ini... kekuatan seorang raja sejati," gumam Altair, menyeka darah dari sudut bibirnya, sementara pusaran petir mematikan di atasnya bersiap untuk meledak dan menghapus keberadaannya dari muka bumi.