NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Sang Mayor

Istri Pilihan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:34.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.

Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.

Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.

Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.

Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.

Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Suci

Pagi itu, Pondok Pesantren Darussalam tampak begitu indah. Hiasan putih dan rangkaian bunga mawar putih menghiasi mushola tempat akad nikah akan dilangsungkan. Udara pagi terasa sejuk, sementara para santri dan keluarga mulai berdatangan untuk menyaksikan hari bahagia Latifah Azalea.

Di ruang tamu kediaman Ustaz Umar, Mayor Abimanyu Wicaksono telah bersiap sebagai pengantin pria.

Bima mengenakan kemeja putih bersih, jas hitam yang elegan, celana bahan hitam, serta peci hitam. Penampilannya terlihat gagah dan rapi, meski ada sedikit ketegangan di wajahnya.

Kapten Rian yang berdiri di sampingnya tersenyum jahil.

“Wah, Mayor. Hari ini penampilannya berbeda sekali. Kalau biasanya membuat anak buah tegang, sekarang sepertinya Anda sendiri yang sedang tegang.”

Bima meliriknya datar.

“Kapten Rian, apakah Anda datang untuk menghadiri pernikahan atau mencari masalah?”

Rian terkekeh. “Siap, Mayor. Saya hanya memastikan calon pengantin kita tidak kabur sebelum akad.”

Bima menghela napas, lalu tersenyum tipis.

“Tidak ada rencana untuk kabur.”

Rian menepuk bahunya pelan.

“Bagus. Semoga semuanya lancar. Saya turut bahagia untuk Anda.”

“Terima kasih, Rian.”

Di sudut ruangan, Bu Almira memperhatikan putranya dengan mata berkaca-kaca. Ia menghampiri Bima, lalu merapikan sedikit bagian kerah jasnya.

“Masyaallah, anak Ibu sudah besar. Rasanya baru kemarin Ibu mengantarmu ke sekolah.”

Bima tersenyum lembut.

“Bu, jangan menangis. Nanti saya ikut terharu.”

“Bagaimana Ibu tidak terharu? Hari ini kamu akan memulai kehidupan baru.”

Bima menggenggam tangan ibunya.

“Mohon doanya, Bu. Semoga saya bisa menjadi suami yang baik dan tetap menjadi ayah yang baik untuk Kaning.”

Bu Almira mengangguk.

“Insyaallah, Nak. Jangan pernah lupa bahwa rumah tangga dibangun dengan kesabaran dan kasih sayang.”

"Iya, Bu...Bima akan selalu ingat semua nasihat Ibu!"

"Syukurlah...!"

Di kamar lain, Latifah sedang dirias oleh perias pengantin. Ia mengenakan busana pengantin muslimah berwarna putih dengan hijab yang tertata anggun. Riasannya dibuat lembut, membuat wajahnya tampak semakin teduh.

Umi Aisyah berdiri di sampingnya, memandangi putrinya melalui cermin.

“Cantik sekali putri Umi.”

Latifah tersenyum malu.

“Umi, jangan membuat Latifah menangis. Nanti riasannya berantakan.”

Umi Aisyah tertawa kecil, meski matanya berkaca-kaca.

“Maaf, Nak. Umi hanya terharu.”

Tak lama kemudian, Azzam memasuki kamar setelah mengetuk pintu.

“Assalamu'alaikum. Boleh Kakak melihat calon pengantin?”

“Wa'alaikumussalam. Masuk saja, Kak,” jawab Latifah.

Azzam berhenti sejenak ketika melihat adiknya.

“Masyaallah. Adik Kakak sekarang sudah menjadi calon istri orang.”

Latifah tertawa kecil.

“Kakak dari tadi menggoda terus.”

Azzam mendekat, lalu berbicara dengan suara lebih lembut.

“Latifah, Kakak tahu pernikahan ini adalah langkah besar. Kalau nanti ada kesulitan, jangan memendam semuanya sendirian. Belajarlah berbicara dengan suamimu. Rumah tangga bukan tentang siapa yang selalu benar, tetapi bagaimana kalian saling memahami.”

Latifah mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca.

“Terima kasih, Kak. Latifah akan berusaha.”

Azzam mengusap kepalanya.

“Dan satu lagi, jangan takut menjalani masa depan hanya karena pernah memiliki harapan di masa lalu.”

Latifah terdiam. Ia tahu kakaknya memahami bahwa hatinya pernah menyimpan perasaan kepada seseorang.

“Iya, Kak.”

Umi Aisyah lalu menggenggam tangan putrinya.

“Sudah, Nak. Sebentar lagi akad akan dimulai.”

Latifah menghela napas panjang. Dalam hati, ia kembali memohon kepada Allah agar diberi ketenangan.

Mushola Darussalam kini dipenuhi keluarga dan kerabat. Ustaz Umar duduk di hadapan penghulu, sementara Bima duduk tegap di sampingnya.

Kaning yang mengenakan gaun putih muslimah duduk bersama Bu Almira. Wajahnya berseri-seri, sesekali ia menjulurkan leher untuk mencari sosok Latifah.

“ Nenek, Bunda sudah datang belum?” bisiknya.

Bu Almira tersenyum.

“Sebentar lagi, Sayang.”

Tak lama kemudian, Latifah memasuki mushola didampingi Azzam. Beberapa pasang mata menoleh kepadanya. Kaning langsung tersenyum lebar.

“Bunda cantik sekali!” bisiknya penuh kekaguman.

Latifah membalas senyum Kaning sebelum duduk di tempat yang telah disediakan.

Bima sempat memandang Latifah. Untuk sesaat, ia terdiam.

"Inikah perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istriku?" batinnya kagum

Ia mengatur napas, kemudian kembali menundukkan pandangannya.

Penghulu mulai membuka prosesi dengan nasihat pernikahan dan doa. Suasana mushola menjadi hening.

“Saudara Abimanyu Wicaksono, apakah Saudara sudah siap?”

Bima mengangguk mantap.

“Insyaallah, siap.”

Ustaz Umar kemudian menjabat tangan Bima. Dengan suara yang bergetar oleh haru, ia mulai mengucapkan ijab.

“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Abimanyu Wicaksono, dengan anak kandung saya, Latifah Azalea, dengan mas kawin yang telah disepakati, dibayar tunai.”

Bima menarik napas.

Dalam satu tarikan suara yang tegas dan jelas, ia menjawab,

“Saya terima nikah dan kawinnya Latifah Azalea binti Umar Solihin dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”

Ruangan hening sesaat.

Para saksi saling menoleh, kemudian salah seorang saksi mengucapkan dengan lantang,

“Sah!”

“Sah!” sahut saksi lainnya.

“Alhamdulillah!” terdengar suara haru dari para keluarga.

Bu Almira menyeka air matanya. Umi Aisyah menangis dalam senyum, sementara Azzam menundukkan kepala, bersyukur adik kesayangannya telah resmi menjadi seorang istri.

Kaning berdiri kecil dari tempat duduknya.

“Papah! Bunda!” serunya bahagia.

Bima menoleh kepada putrinya dengan senyum yang tak mampu disembunyikan.

Latifah sendiri menunduk, air matanya mengalir di pipinya. Bukan hanya karena bahagia, tetapi juga karena ia menyadari bahwa sebuah babak baru benar-benar telah dimulai.

Setelah doa dan ucapan selamat selesai, Bima menghampiri Latifah.

Kini, untuk pertama kalinya, ia berdiri di hadapan perempuan itu bukan lagi sebagai calon suami.

Melainkan sebagai suaminya.

“Assalamu'alaikum, Istriku,” ucap Bima pelan.

Latifah menatapnya dengan wajah tersipu.

“Wa'alaikumussalam, Suamiku.”

Bima tersenyum kecil. Ia mengulurkan tangan, lalu Latifah menyambutnya dengan lembut.

“Terima kasih sudah mempercayai saya dan bersedia berjalan bersama saya,” ujar Bima.

Latifah menjawab lirih, “Terima kasih juga karena sudah menerima saya dengan segala kekurangan saya, Pak Bima.”

“Sekarang, panggil saya Bima saja kalau kita sedang berdua.”

Latifah tersenyum malu.

“Baik, pak Bima....maaf pak maksud saya Mas B...Bima” Latifah tampak gugup, Bima pun tersenyum.

Tiba-tiba Kaning berlari menghampiri mereka dan memeluk keduanya sekaligus.

“Sekarang kita benar-benar keluarga!”

Bima tertawa kecil sambil mengangkat Kaning ke dalam pelukannya.

“Iya, Sayang. Kita keluarga.”

Latifah mengusap pipinya Kaning dengan penuh kasih sayang.

“Semoga kita selalu saling menyayangi, ya.”

Kaning mengangguk penuh semangat.

Di tengah suasana bahagia itu, Bima sempat menatap Latifah. Ia belum tahu seperti apa perjalanan rumah tangga mereka kelak. Ia juga tahu bahwa cinta tidak serta-merta hadir hanya karena sebuah akad telah terucap.

Namun, pagi itu ia telah memilih untuk menjaga janji yang baru saja diikrarkannya.

Dan Latifah, dengan hati yang perlahan belajar menerima takdir, mulai melangkah menuju kehidupan barunya sebagai istri Mayor Abimanyu Wicaksono.

Hari itu, bukan hanya dua insan yang dipersatukan dalam pernikahan, tetapi juga sebuah keluarga kecil yang akhirnya menemukan kesempatan untuk tumbuh bersama.

Bersambung...

1
Dua Putri
biasa 4 bab kk ini 2
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sabar ya kak, insyaallah setelah Bab 40 aku kebut lagi 🤗
total 1 replies
Atik Kiswati
nyesek bgt.....
Oma Gavin
lebih baik melangkah dgn pasti dgn orang yg mau belajar hidup bersama dari pada nunggu seseorang yg belum pasti datang untuk mengajak hidup bersama
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Setuju Oma 🤗
total 1 replies
Sastri Dalila
👍👍
Nar Sih
maaf ustad firman kamu terlambatt🙏
Nar Sih
pelan ,,tpi pasti bima sdh mulai jatuh cinta dgn latifah dan semoga istri mu sgra mbls perasaan mu ya bima☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul kak🤭
total 1 replies
Sastri Dalila
🤭🤭🤭
Teh Euis Tea
huhhh baru senyam senyum doang nih mereka ber2 blm ehem ehem msh malu2 jd blm bisa ngintip 🤣🤭
Teh Euis Tea
cieeee udah mulai saling goda mas mayor sm Bu Ifah, ngintip achhh 🤭🤭🤭🤭🤭
Nar Sih
oalah ya ngk apa ,,klau ciuman kan udh sah dan halal
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betoooll
total 1 replies
Nar Sih
jatuh cinta berjuta rasa nya ☺️☺️dan bnr tebakan mu kapten ryan👍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Atik Kiswati
sampe kpn mrk ber2 canggung + kaku kyk gt.....panggilannya aja msh pak / bu.....
Ani: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Oke lah tak tunggu
total 4 replies
vania larasati
lanjut kak
Sastri Dalila
🤗🤗
susi ana
kok masih panggil pak sama Bu.....
Perempuan
Anda? Formal aaaamat🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: masih kaku kak, belum terbiasa, harap di maklum
total 1 replies
Perempuan
koq masih gitu panggilannya🤣🤣
Sastri Dalila
👍👍👍
vania larasati
lanjut kak
Dua Putri
baguss. kapan mereka🤭🤭🤭😄😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kapan apa kak? 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!