Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.
Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.
Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH DELAPAN
Pintu kamar mandi terbuka, menyebarkan uap hangat yang menguar tipis ke seluruh penjuru ruangan. Zain melangkah keluar dengan hanya terbalut jubah mandi katun tebal berwarna abu-abu gelap. Tali jubah itu terikat agak longgar di pinggangnya, membiarkan dada bidangnya yang tegap dan kokoh terbuka sebagian. Tetesan air sisa mandi masih mengalir lambat menyusuri lekuk leher hingga menghilang di antara bulu-bulu halus dadanya. Tangannya yang berurat tebal sibuk mengeringkan rambut hitamnya yang basah dengan selembar handuk kecil.
Langkah tegap Zain mendadak terhenti saat manik matanya menangkap sosok Amara berdiri membeku di sudut lemari pakaian.
"Amara? Kamu di sini?" tanya Zain, nada suaranya yang bass bergema rendah di dalam ruangan yang hening.
"Ka-Kak Za-Zain... Anu... Apa... Itu..." Amara bersuara gagap seketika.
Tenggorokannya mendadak terasa sangat kering, dan air liurnya bagaikan batu yang teramat sulit untuk ditelan. Penglihatannya terkunci sepenuhnya pada pemandangan di hadapannya. Dada tegap suaminya yang basah dan begitu menggoda membuat seluruh konsentrasi dan jalan pikiran Amara buyar tanpa sisa.
Namun, genggaman kain di tangannya menyadarkan Amara dari pesona liar itu. Amara teringat kembali pada niat awalnya menembus kamar ini. Ia mengangkat sepotong pakaian katun berwarna merah muda lembut yang dipegangnya, menunjukkannya tepat ke arah wajah Zain.
"Kak, ini kan baju tidurku yang katanya hilang di laundry dua tahun yang lalu?" celetuk Amara, menatap Zain penuh selidik. "Kok bisa ada di dalam lemarimu?"
Raut kaku yang biasanya menghiasi wajah Zain runtuh seketika. Panik yang teramat sangat berkilat kacamata yang baru saja ia kenakan. Pria itu melempar handuk kecilnya ke atas meja, lalu melangkah cepat mendekati Amara untuk merebut baju tidur tersebut.
"Itu... tidak seperti yang kamu pikirkan!" sahut Zain gusar, tangannya terulur hendak menyambar kain merah muda itu.
"Kak Zain, jelaskan dulu!" Amara refleks menarik tangannya ke belakang, memutar tubuhnya menghindar agar Zain tidak bisa mengambil baju tidur miliknya. "Kenapa baju tidurku disimpan di lemarimu?"
"Amara, berikan padaku sekarang!" tegur Zain dengan nada memerintah yang tertahan.
Pria itu melangkah maju berusaha menjangkau tangan Amara. Namun, Amara yang terus melangkah mundur tak menyadari bahwa tumit kakinya sudah menyentuh pinggiran ranjang besar milik Zain. Keseimbangannya hilang seketika. Amara terjerembap ke belakang, dan Zain yang sedang bergerak cepat tak sempat menahan tumpuan tubuhnya sendiri.
Brughh!
Tubuh tegap Zain jatuh meluncur, menimpa tubuh kecil Amara tepat di atas kasur empuk.
Suasana kamar mendadak hening seketika. Wajah mereka berdua berjarak kurang dari dua sentimeter. Manik mata mereka saling bertatapan, terkunci rapat dalam kecanggungan yang membekukan darah. Deru napas hangat Zain menyapu permukaan kulit wajah Amara yang merona merah. Detak jantung Zain di balik dada bidangnya yang terbuka meriam begitu kencang, saling berpacu tanpa lagi bisa ia kendalikan.
Emmpphhh!
Akal sehat Zain runtuh sepenuhnya. Ia tak lagi mampu menahan dahaga gairah yang telah membakar dadanya sejak Amara memeluknya di ruang kerja siang tadi. Zain menundukkan kepalanya secara impulsif, melumat bibir tipis Amara yang menggoda secara brutal dan penuh keharusan.
Amara terperanjat, matanya membelalak kaget. Namun, bukannya menolak atau melayangkan dorongan amarah, Amara justru memejamkan matanya perlahan. Ia menyerahkan dirinya, menikmati setiap kehangatan dan lumatan manis yang disalurkan oleh suaminya.
Dan di detik sentuhan bibir itu menyatu, gema suara batin Kaellan Zain Alfatih mendadak meledak dahsyat di dalam kepala Amara.
’Aku sungguh tidak tahan lagi... Bibir ini sangat manis! Terlalu manis sampai membuatku gila! Aku benar-benar kehilangan kendali atas diriku sendiri... Tuhan, apa Amara akan membenciku setelah ini? Bagaimana aku mengakhiri ini tanpa menyakiti hatinya? Tapi ciuman ini... ciuman ini membuatku semakin hanyut dan ingin memakannya bulat-bulat!’
Amara mendengarkan setiap rintihan batin suaminya yang begitu liar dan pasrah. Ciuman panas itu berlangsung teramat lama, merenggut seluruh pasokan udara di dalam dada Amara.
’Kalau aku melepaskan ciuman ini sekarang, pasti Amara akan menagih penjelasan soal baju tidur itu... Apakah Amara akan menganggapku sebagai pria mesum gila karena sengaja menyembunyikan bajunya dan memeluk baju itu setiap malam agar aku bisa tidur nyenyak? Baju Amara ini sangat wangi, Zain sangat menyukai aromanya... Bagaimana ini? Sialan, aku harus bagaimana?!
Amara yang mendengarkan ocehan batin gila itu tak sanggup lagi menahan rasa sesak di paru-parunya. Dengan sisa tenaga yang ada, kedua tangan Amara terangkat, mendorong pelan dada tegap Zain ke atas.
Zain akhirnya menarik bibirnya mundur, melepaskan pagutan panas itu. Napas pria itu memburu kasar. Dari jarak dekat ini, Zain bisa melihat jelas bibir tipis Amara yang membengkak merona akibat lumatannya yang ugal-ugalan. Amara masih terbaring pasrah di bawah kungkungan tubuh tegap suaminya. Sorot mata kedua insan itu saling mengunci di dalam temaram lampu tidur, seolah sedang bertukar ribuan kalimat yang tak sanggup diucapkan oleh bibir.
Zain berniat menegakkan tubuhnya dan bangun, tetapi ada dorongan gairah yang teramat kuat di dalam darahnya yang memerintahkan tubuhnya untuk tetap diam di sana, menikmati setiap deru napas Amara yang hangat serta aroma semerbak tubuh istrinya yang memabukkan.
’Aarrgghh! Sial, kenapa dia harus cepat bangun di saat seperti ini? Junior selalu saja tidak pernah paham situasi!’