NovelToon NovelToon
Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:432.9k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.

Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.

Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Pukul dua dini hari. Jalanan di kompleks perumahan sudah sangat sepi. Hanya bunyi jangkrik dan angin malam yang sesekali menggoyang daun. 

Naya memarkir mobilnya di luar pagar, mematikan mesin, lalu duduk diam beberapa saat di balik setir. Matanya menatap rumah yang gelap di bagian depan, hanya lampu kecil di teras yang masih menyala redup. 

Sejujurnya, malam ini ia tidak ingin pulang. Setelah meninggalkan firma hukum Adrian, ia sempat duduk berjam-jam di kafe 24 jam, meminum kopi yang sudah dingin, menatap layar laptop yang menampilkan email dari pihak kampus. Ada dokumen tambahan yang harus segera dilengkapi sebelum tenggat waktu besok siang. Itu satu-satunya alasan ia memutuskan kembali, bukan karena rindu suaminya, bukan karena rasa bersalah, melainkan karena ada flashdisk dan berkas fisik yang tertinggal.

Naya membuka pintu mobil pelan, lalu berjalan menuju pintu utama. Kunci diputar hati-hati.

Klek…

Bunyi itu terdengar sangat pelan di tengah keheningan malam. Ia masuk, menutup pintu kembali dengan gerakan yang sama hati-hatinya, lalu berdiri sejenak di ruang tamu yang sudah gelap. 

Bau rumah itu terasa asing. Bau parfum Liza yang manis menyengat masih tertinggal di udara, bercampur dengan aroma pengharum ruangan yang biasa ia beli sendiri dulu.

Ia melepas sepatu high heels-nya, meletakkannya rapi di dekat rak, lalu menaiki tangga dengan langkah tanpa suara. Setiap anak tangga dilalui pelan-pelan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, bukan karena takut ketahuan, melainkan karena firasat yang tidak enak yang dia rasakan.

Ketika tiba di ujung tangga, suara samar-samar mulai terdengar dari arah kamar utama, kamar yang dulu menjadi miliknya dan Aslan.

Naya berhenti. Napasnya tertahan. Suara itu semakin jelas ketika ia melangkah lebih dekat. Ia menempelkan telinga ke permukaan pintu itu. Detik itu, dunia seolah menyempit hanya pada suara-suara di balik pintu.

“Ahh… sayang, ini nikmat sekali…”

Suara Liza, manja, terengah, penuh kepuasan.

Lalu suara Aslan menyusul, serak, rendah, dan sangat jelas. "Milikmu lebih enak dari punya Naya…”

Naya menjauhkan wajahnya dari pintu seolah tersengat. Ia memejamkan mata erat-erat. Jari-jarinya mengepal di sisi tubuh hingga kuku menancap di telapak tangan. Kalimat itu berputar di kepalanya, menusuk, mengoyak sesuatu yang selama ini masih ia tahan.

Air mata yang sedari tadi berhasil ia bendung akhirnya menetes, mengalir pelan di pipi tanpa suara. Ia tidak menangis dengan isak. Tidak ada teriakan. Hanya air mata yang jatuh diam-diam di lorong yang gelap, sementara di balik pintu, suaminya terus bergerak bersama wanita lain di atas ranjang yang dulu mereka bagi.

Naya menyandarkan punggungnya ke dinding di seberang pintu. Napasnya gemetar. Di dalam dadanya, rasa sakit yang sudah ia kubur sejak melihat pernikahan siri di Bandung kini muncul kembali dengan kekuatan yang lebih besar. Bukan hanya pengkhianatan. Bukan hanya kehamilan. Tapi penghinaan yang diucapkan dengan begitu mudah, begitu natural, seolah namanya hanyalah pembanding yang layak dilecehkan di atas ranjang.

Ia menutup mulut dengan punggung tangan, menahan isak yang ingin keluar. Bahunya bergetar pelan. Di balik pintu, suara desahan dan erangan masih terus terdengar, bercampur dengan bunyi ranjang yang berderit samar. Setiap detik terasa seperti hukuman bagi Naya.

Selang beberapa menit, akhirnya suara di dalam mulai mereda, ia mendorong tubuhnya menjauh dari dinding. Kaki terasa lemah, tapi ia memaksa diri tetap berdiri tegak. Ia mengusap air mata dengan punggung tangan, menarik napas dalam-dalam beberapa kali, lalu berjalan menuju kamar tamu dengan langkah yang di paksakan.

Di dalam kamar tamu, ia mengunci pintu. Tidak menyalakan lampu. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui celah gorden. Naya duduk di tepi ranjang, menunduk, membiarkan air mata terus mengalir dalam diam. Ponsel di genggamannya bergetar, notifikasi pesan dari Dara tapi ia tidak langsung membukanya.

Yang ada di pikirannya hanyalah kalimat Aslan yang baru saja ia dengar.

"Kamu memang brengs*k Aslan"

Ia tertawa getir sendiri, suara tawa itu pelan dan pahit di tengah keheningan. Tawa yang segera berubah menjadi isakan yang tertahan. Ia memeluk lutut, menundukkan kepala, dan membiarkan dirinya menangis untuk terakhir kalinya di rumah itu.

Keputusannya semakin bulat. Besok pagi, ia akan mengambil sisa barangnya. Besok pagi, ia akan meninggalkan semuanya.

Malam itu, di kamar tamu yang gelap, Naya menangis sampai air matanya habis. Sampai akhirnya dia lelah, dan berbaring dengan mata yang membengkak, satu keputusan sudah mengeras total di dadanya. Tidak ada lagi yang tersisa untuk diperjuangkan.

******

Keesokan paginya, Naya sudah duduk di salah satu kursi meja makan sejak pagi tadi. Di depannya terhidang sepiring nasi goreng sederhana yang ia buat sendiri, telur ceplok, dan segelas air putih. Ia makan dengan tenang, seolah rumah itu masih sepenuhnya miliknya dan tidak ada orang lain yang tinggal di dalamnya.

Tidak lama kemudian, bunyi langkah kaki terdengar dari arah tangga. Aslan muncul lebih dulu, diikuti Liza Ranti di belakangnya. Ketiga orang itu berhenti di ambang pintu ruang makan ketika melihat Naya yang sudah duduk di sana.

Seketika keheningan mengisi ruangan itu.

Aslan yang sejak semalam menahan marah kini merasakan darahnya naik ke kepala. Ia mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam ke arah istrinya yang masih asyik mengunyah.

“DARI MANA SAJA KAMU SEMALAM TIDAK PULANG, HAH?!” bentaknya, suara menggelegar memenuhi ruang makan.

Naya menoleh pelan, lalu mengusap bibirnya dengan tisu. Dia menatap sinis suaminya. “Siapa yang tidak pulang?” tanyanya balik, nada suaranya rendah tapi menusuk. “Aku semalam pulang. Hanya saja kamu terlalu sibuk dengan pelac*rmu itu"

Wajah Aslan langsung memerah. Rahangnya mengeras. “Jangan bicara seenaknya, Naya! Kamu pergi sejak pagi, tidak angkat telepon, tidak kasih kabar, baru muncul sekarang dengan sikap seenaknya!”

Liza yang berdiri di belakang Aslan memasang wajah marah, sementara Ranti menyilangkan tangan di dada dengan ekspresi tidak suka. 

Naya hanya menatap ketiga orang itu satu per satu, lalu kembali ke piringnya. Ia mengambil sepotong telur, memasukkannya ke mulut, dan mengunyah pelan.

“Aku tidak perlu izin untuk pergi,” jawabnya setelah menelan. “Sama seperti kamu yang tidak pernah minta izin ketika menghilang tiga bulan, menikah diam-diam, lalu membawa selingkuhanmu tidur di ranjang kita.”

Aslan melangkah maju dengan cepat. Jarak di antara mereka kini hanya beberapa langkah. “Mulutmu semakin tidak tahu aturan!” hardiknya. “Kamu pikir kamu bisa bicara semaumu di rumah ini?!”

Naya meletakkan sendok dan garpu dengan tenang. Ia mengangkat wajah, menatap langsung ke mata suaminya tanpa berkedip. “Aku hanya bilang kebenaran. Kalau kebenaran membuatmu marah, itu bukan urusanku.”

Plak!

Bunyi tamparan itu tajam, memecah keheningan ruang makan. Kepala Naya terhempas sedikit ke samping akibat tamparan yang di berikan Aslan. Pipinya langsung memerah, terasa panas dan perih. Telinganya berdengung.

Liza membelalak, menutup mulut dengan tangan. Ranti hanya berdiri diam, tidak ikut campur. Aslan sendiri berdiri dengan napas memburu, tangan masih terangkat di udara seolah baru sadar apa yang baru ia lakukan. Matanya masih penuh amarah, tapi ada setitik panik yang mulai muncul.

Naya diam beberapa detik. Ia menegakkan kepala kembali dengan lambat. Rambutnya sedikit berantakan, pipi kirinya memerah jelas bekas jari Aslan. Air matanya tidak keluar. Ia hanya menatap suaminya dengan tatapan yang sangat dingin, lebih dingin dari semua tatapan yang pernah ia berikan selama ini.

Pelan-pelan, Naya tersenyum. Senyum yang tipis, pahit, dan penuh ironi. "Terima kasih,” bisiknya pelan, suara serak tapi jelas. “Sekarang aku punya bukti tambahan.”

Aslan membeku. “Apa…?”

Naya berdiri dari kursi. “Mari bercerai, Aslan"

1
Rini Maryani
lanjut thoor semangat
Cicih Sophiana
semoga bahagia Naya lupakan masa lalu mu bersama si Aslan... sosong masa depan mu bersama Erlan..
Cicih Sophiana
masih kurang tuh penderitaan Aslan dan si Liza seharus nya anak nya tdk selamat... kan kasian sama anak nya krn dia jd anak haram...
Cicih Sophiana
hak kamu apa Liza? nikah pun nikah siri yg gak punya hak... anak nya pun gak ada hak krn tdk terdaftar di negara... kamu mau nuntut siapa ? gak akan bisa biar kepengadilan pun
Cicih Sophiana
semoga yg jahat mendapat balasan yg setimpal... yg baik kedepan nya bahagia
Cicih Sophiana
yah awasin aja terus....
Cicih Sophiana
nih Aslan Liza..🤛🤛
Sholawat Nariyah
AUTHOR GUOBLOK membiarkan tokohu utamanya tdk tegas, dan tenggelam dlm kebodohan yg berlarut 👎
Cicih Sophiana
knp selamat... dulu Naya di larang punya anak... seharus nya keguguran dong si pelakor nya jgn di kasih bahagia mereka
Cicih Sophiana
terus lah begitu semakin hancur, rumah tdk terbayar, si Liza keguguran 😂 si Aslan bangkrut
Cicih Sophiana
sukur lah akhir nya rumah itu terjual... wah si Liza klo tau langsung stres dan langsung keguguran
Cicih Sophiana
untuk si Aslan cobalah sadar diri... itu emang sdh hak nya Naya... dia bukan merehut tp menganmbi hak nya Aslan..
Cicih Sophiana
hancur kan mereka... mereka yg serakah dan mereka yg zolim sama istri sah tapi mereka sll menyalah kan Naya...
Cicih Sophiana
perempuan yg aneh dia yg merebut kok di tuduhkan Naya yg merebut 😂😂😂😂😂
pake so kuasa pula... Naya bertahun tahun pernikahan nya yg hanya di jadikan pembantu gratisan... dia yg tinggal enak nya doang menikmati... nikah pun hanya nikah siri sekarang so kuasa
Cicih Sophiana
eh pelakor kamu tuh cuma nikah sirih jd gak ada tuh undang undang nya mendapat kan harta gono gini... anak kamu pun gak akan bisa mendapat kan apa apa... sekarang gigit jari aja yah sampe putus 😂😂😂
Cicih Sophiana
wah ternyata aset nya si Aslan banyak... pantesan dia ngamuk gak rela Naya ngambil...
Cicih Sophiana
ayo bahagialah kalian... karena kalian pantas untuk mendapat kan nya...
Cicih Sophiana
susah Nay cari mertua yg langsung baik seperti mama Erlan... mulai sekarang jgn menyia nyiakan nya...
Cicih Sophiana
wah ini sih langsung di terima jadi menantu kesayangan mama...😊😍😍
Cicih Sophiana
aneh banget si pelakor... ya wajar lah Naya dapat 50 % wong yg mendampingi si Arlan selama ini kan Naya... klo kamu siapa? kamu cuma pelakor yg di pungut setelah si Arlan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!