Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Sore harinya, Langit Jakarta mulai meredup diselimuti awan mendung yang tebal. Bella melangkah masuk ke dalam rumah megah Allegra dengan sisa kekesalan yang masih membakar dadanya. Suasana lantai bawah terasa begitu hening, berbeda dari biasanya. Langkah kakinya yang beralaskan sepatu sekolah mengetuk lantai marmer dingin, bergema ke seluruh ruangan.
Saat melewati ruang keluarga, Bella mendadak menghentikan langkahnya.
Di atas sofa kulit hitam yang luas, tampak seorang pria berpostur tegap sedang duduk bersandar. Pria itu mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan lengan tergulung rapi hingga ke siku, memamerkan lengan bawahnya yang kokoh dan berurat halus. Jam tangan bertali kulit hitam melingkar elegan di pergelangan tangannya.
Di usianya yang menginjak 31 tahun, Christian Gerald memancarkan aura ketampanan yang sangat matang, berwibawa, sekaligus dingin tak tersentuh. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya yang mancung, menambah kesan terpelajar dan kaku saat matanya fokus membaca sebuah dokumen medis di dalam map tebal.
Derap langkah Bella rupanya terdengar olehnya. Christian melepas kacamatanya perlahan, menyangkutkannya di saku kemeja depan, lalu memutar kepalanya.
Sorot mata cokelat gelap itu terkunci lurus pada Bella. Tidak ada senyuman, tidak ada ekspresi hangat, apalagi bentakan garang seperti yang dibayangkan Bella dari cerita Nathan semalam. Pria itu hanya menatapnya datar, seolah Bella hanyalah salah satu objek biasa di ruangan itu.
"Kamu sudah pulang, Arabella," suara bariton Christian mengudara. Begitu berat, tenang, namun sangat hemat kata.
Bella menelan ludah, mencoba menetralkan degupan dadanya yang mendadak kencang oleh aura intimidasi pria di hadapannya. Ia menegakkan tubuhnya, memasang wajah sekaku mungkin.
"Iya, Om," jawab Bella pendek.
Christian mengangguk tipis. Ia kembali mengenakan kacamatanya, menatap dokumen di pangkuannya tanpa berniat mengalihkan perhatian lagi pada keponakannya.
"Mandi dan ganti bajumu. Jangan terlambat makan malam," ujar Christian singkat, suaranya sedingin es di dalam gelas.
Bella berdiri membeku selama beberapa detik. Hanya begitu? Mana ancaman yang dibilang Nathan? Mana sikap tegas yang katanya bakal mengawasi setiap gerak-geriknya secara ketat? Pria berusia 31 tahun ini bahkan hampir tak sudi menatap wajahnya lama-lama. Rasa cemas yang sempat menghantui Bella sepanjang hari seketika berganti menjadi kepuasan terselubung. Ternyata pamannya ini sama saja dengan anggota keluarga Allegra lainnya—dingin, acuh tak acuh, dan terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.
"Oke," sahut Bella acuh tak acuh sebelum membalikkan badan dan melangkah menuju kamarnya di lantai bawah.
*
Bella mengunci pintu kamarnya dari dalam. Di depan cermin rias yang besar, ia memoleskan riasan tebal di wajahnya. Gaun malam berwarna hitam tanpa lengan dengan potongan dada rendah melilit tubuh moleknya dengan sempurna. Ia memoles lipstik merah menyala pada bibirnya, memberikan kesan berani dan penuh pemberontakan. Malam ini, ia berniat melampiaskan seluruh kekesalannya pada Nathan dan seluruh isi rumah ini.
Ponselnya bergetar di atas meja rias. Nama Clarisa tertera di layar.
"Halo, Clarr?" bisik Bella pelan.
"Bell, aku udah di luar pagar nih. Mobilku tak parkir agak jauh biar nggak keliatan dari dalam. Kamu bisa keluar nggak?" suara Clarisa terdengar antusias di ujung telepon.
"Bentar, aku cek situasi dulu," balas Bella.
Dengan berjingkat-jingkat dan menenteng sepatu hak tingginya di tangan, Bella membuka pintu kamar perlahan. Ia menyusuri koridor remang menuju ruang tengah. Suasana rumah benar-benar sepi. Lampu ruang keluarga dimatikan, hanya menyisakan pendar lampu taman yang menembus jendela kaca besar.
Bella mengintip ke arah kamar tamu tempat Christian menginap. Pintunya terbuka sedikit, dan ruangan di dalamnya gelap gulita. Tidak ada suara helai napas, tidak ada ketukan langkah kaki, apalagi pendar layar laptop.
Bella memberanikan diri mendekati garasi internal. Mobil sedan perak milik Christian yang tadi sore terparkir rapi di sana kini sudah tidak ada. Tempat itu kosong melompong.
Sebuah senyuman licik dan puas terbit di bibir Bella.
"Pasti ada pasien kritis atau operasi darurat di rumah sakit," gumam Bella senang dalam hati. Sebagai seorang dokter spesialis di usia muda, Christian tentu punya jadwal panggilan darurat yang tak menentu.
Bella tertawa kecil tanpa suara. Dokter dingin itu boleh saja berniat mengawasinya, tapi tugas rumah sakit jelas jauh lebih penting daripada mengurusi keponakan pembangkang sepertinya. Ini adalah kesempatan emas yang tak boleh dilewatkan.
Tanpa membuang waktu lagi, Bella memakai sepatu hak tingginya, membuka pintu samping rumah dengan sangat hati-hati, lalu berlari kecil membelah kegelapan malam menuju pagar depan.
Di luar pagar, mobil sedan merah milik Clarisa sudah menunggu dengan mesin yang menyala halus. Bella segera membuka pintu penumpang dan meluncur masuk.
"Gimana, Bell? Aman?" tanya Clarisa heboh begitu melihat penampilan cantik dan seksi sahabatnya.
"Aman banget!" seru Bella sambil tertawa lepas, meluapkan rasa bebas yang membuncah di dadanya. "Om dokterku lagi ada panggilan darurat di rumah sakit. Jalan sekarang sebelum dia pulang!"
Clarisa tertawa lalu menginjak pedal gas dalam-dalam, membawa mobil itu melaju kencang meninggalkan kediaman Allegra menuju pusat kehidupan malam Jakarta.
*
Dentuman musik electronic dance mengguncang seluruh ruangan bertata cahaya warna-warni yang temaram. Bau alkohol dan asap rokok bercampur menjadi satu di udara. Bella dan Clarisa langsung meluncur ke lantai dansa, tertawa lepas dan bergoyang mengikuti irama bas yang menggelegar. Untuk sejenak, Bella merasa benar-benar bebas dari himpitan masalah keluarga dan tuntutan orang-orang di rumahnya.
"Bell! Aku mau pesan minum dulu di bar ya!" teriak Clarisa di antara kebisingan musik.
"Oke, aku ikut!" balas Bella sambil menyapu pandangan ke sekeliling ruangan.
Namun, saat langkahnya mendekati area sofa VIP, langkah Bella mendadak terhenti. Senyum riang di wajahnya seketika luntur. Matanya membelalak lebar menatap satu meja di sudut ruangan.
Di sana, Vero sedang duduk bersandar santai. Tangan prianya tampak merangkul mesra bahu seorang wanita berambut pirang yang mengenakan gaun merah ketat. Wanita itu tertawa manja, sesekali membisikkan sesuatu di telinga Vero.
Darah Bella mendidih seketika. Kepalanya terasa panas luar biasa. Rasa cemburu dan kekecewaan meluap menghancurkan suasana hatinya yang tadinya bahagia. Ponsel Vero yang mati, pesan yang tak dibalas, dan sekarang pria itu malah asyik bersama wanita lain?
Tanpa berpikir panjang, Bella melangkah lebar menghampiri meja tersebut.
Brak!
Bella menggebrak meja kaca di hadapan Vero, membuat gelas-gelas di atasnya berdenting keras.
"Vero!" bentak Bella, matanya memerah menahan amarah dan air mata yang mulai menggenang. "Ini maksud kamu nggak bales pesan aku dari semalam?! Kamu malah asyik bermesraan sama cewek lain di sini?!"
Vero tersentak kaget. Pria itu menengadah, dan raut wajahnya yang sempat panik dengan cepat berubah menjadi senyuman lega saat menyadari siapa yang berdiri di depannya.
"Bella?" gumam Vero, lalu buru-buru berdiri.
"Nggak usah pegang-pegang!" tepik Bella kasar saat Vero berusaha meraih tangannya. "Kamu jahat banget, Vero! Aku bela-belain kabur dari rumah, aku rela ngelakuin apa aja buat kamu, tapi kamu malah sama cewek murahan ini?!"
"Hei, jaga mulut kamu ya!" sergah wanita berambut pirang itu berdiri, matanya melotot tak terima disebut murahan.
*
*
*
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang