"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Seorang pria berdiri tak jauh darinya. Posturnya tinggi tegap, mengenakan kemeja kasual yang tergulung rapi hingga siku. Wajahnya memiliki struktur rahang yang tegas khas pria Timur Tengah, dengan hidung mancung dan cambang tipis terawat. Namun, ada kehangatan yang sangat familier dari binar matanya yang berwarna cokelat gelap.
Melihat respons kaget Naya, pria itu menyunggingkan senyum sopan dan merapatkan kedua tangannya di dada.
"Maaf kalau sapaan saya mengejutkan," ucapnya dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih, meski ada sedikit artikulasi unik pada nada bicaranya. "Saya tidak bermaksud membuat Anda merasa tidak nyaman. Tadi saya tidak sengaja melihat Anda memegang beberapa literatur Indonesia, jadi saya menebak kita berasal dari tanah air yang sama."
Naya dengan cepat menguasai diri dan tersenyum santun. "Tidak apa-apa, Mas. Saya hanya agak kaget karena jarang mendengar bahasa Indonesia di lorong perpustakaan ini."
"Panggil saya Zeyad," ujar pria itu memperkenalkan diri seraya memberikan sedikit jarak agar Naya tidak merasa terintimidasi. "Zeyad Emirhan Al-Fatih."
"Naya. Adskhania Nayara Malik," sahut Naya menyebut nama lengkapnya tanpa nada ragu.
Zeyad mengangguk pelan, matanya melirik singkat ke arah jajaran buku di samping Naya. "Melihat rak yang Anda lewati dan buku yang ada di tangan Anda, sepertinya Anda sangat menyukai dunia psikologi?"
"Iya, betul," jawab Naya tenang. "Saya memang berlatar belakang psikologi dan minggu depan baru mau mulai kelas magister di sini. Jadi sekadar cari bahan bacaan awal."
"Menarik," puji Zeyad hangat. Pria itu bergerak pelan menuju salah satu sudut rak, lalu mengambil dua buah buku bersampul tebal dan menunjukkan bagian punggungnya pada Naya.
"Kalau untuk pendamping studi clinical psikologi atau sekadar bacaan harian yang tidak terlalu memeras otak di malam hari, dua terbitan ini sangat bagus. Pembahasannya runtut dan pendekatan analisanya cukup humanis."
Naya menerima rekomendasi tersebut, meneliti judul serta nama penulisnya. Ia cukup terkesan karena saran yang diberikan pria ini sangat relevan dengan apa yang sedang ia cari.
"Terima kasih rekomendasinya, Mas Zeyad. Ini sangat membantu," tutur Naya tulus.
"Sama-sama, Naya," sahut Zeyad santai. Pria itu melirik jam tangan peraknya, lalu kembali menatap Naya dengan senyum ramah. "Saya tidak ingin mengganggu waktu membaca Anda lebih lama. Kebetulan saya ada janji bertemu kolega di lantai bawah. Semoga buku-bukunya bermanfaat, dan... kalau takdir mengizinkan, semoga kita bisa bertemu lagi di tempat ini."
"Iya, Mas Zeyad. Terima kasih banyak," balas Naya.
Zeyad mengangguk sopan lalu berbalik melangkah pergi, meninggalkan kesan sosok yang berpendidikan, tenang, dan sangat tahu tata krama. Naya menatap punggung pria itu sejenak sebelum akhirnya kembali fokus pada deretan buku di depannya. Ada kepuasan tersendiri bisa bertemu dengan sesama orang Indonesia di negeri orang, meski perjumpaan mereka hanya sebatas pertukaran nama dan sapaan singkat tanpa menyentuh ranah pribadi.
Naya menghabiskan sisa sore hingga menjelang malam di perpustakaan itu. Duduk di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke kilau saluran air Dubai, membaca lembar demi lembar buku dalam ketenangan yang utuh.
**
Matahari pagi baru saja menyapu kabut tipis yang menggantung di atas pekarangan Pesantren Al-Anwar, Mojokerto. Udara dingin khas pegunungan Pacet menusuk hingga ke selimut, tetapi suasana di dalam kompleks pesantren justru terasa jauh lebih membeku. Kepergian Naya—yang melepaskan statusnya sebagai Ning dan istri Gus Reyhan secara terhormat namun telah—meninggalkan riak tenang yang menghanyutkan.
Di koridor asrama putri, bisik-bisik lirih mengalir di antara deretan santriwati yang sedang menyapu lantai dan merapikan mukena. Tak ada lagi tawa lepas. Setiap kali Rani melintas dengan kepala tertunduk dan langkah terburu-buru, pandangan mata para santriwati berubah menjadi dingin, syarat akan penilaian yang tak diucapkan.
Bagi para santriwati senior, Naya bukan sekadar istri dari putra pengasuh mereka. Naya adalah Ustadzah yang lembut, sosok cerdas yang telaten mendengar keluh kesah mereka, dan teladan bersikap. Kehadiran Rani di ndalem barat—menggantikan posisi yang ditinggalkan Naya—tidak lantas membuat santriwati menyambutnya sebagai Ning baru. Sebaliknya, label "perebut suami orang" melekat erat tanpa bisa dihapus oleh senyum manis atau raut wajah rapuh yang biasa Rani tampilkan.
"Dulu waktu Ning Naya di sini, ndalem utama selalu terbuka untuk siapa saja yang mau diskusi atau minta bimbingan," bisik seorang santriwati berkerudung biru di sudut selasar. "Sekarang? Mau lewat depan ndalem saja rasanya berat."
"Sudah, jangan terlalu keras bicara," timpal temannya pelan. "Bagaimanapun dia sudah dinikahi Gus Reyhan. Cuma ya... tetap saja beda rasanya."
Rani meremas jemarinya di balik lipatan gamis cokelat mudanya. Kalimat-kalimat tajam itu sayup-sayup sampai ke telinganya. Ada rasa panas yang membakar dadanya. Ekspektasi indah yang dulu ia bayangkan—di mana ia akan dihormati sebagai pendamping Gus Reyhan, dicium tangannya oleh para santri, dan duduk sejajar dengan keluarga besar ndalem—runtuh berkeping-keping.
Ia memang berhasil masuk ke ndalem, tetapi ia masuk sebagai sosok yang diasingkan oleh lingkungan. Bu Nyai Khadijah bahkan hampir tidak pernah mengajaknya bicara kecuali untuk urusan yang sangat mendasar. Kedudukannya tak ubahnya seperti benalu yang terpaksa ditoleransi demi menjaga martabat nama besar pesantren dari skandal yang lebih luas.
Sementara itu, di aula utama gedung serbaguna pesantren, suasana hening mencekam melingkupi ratusan santri putra dan pengajar yang duduk bersila di atas karpet hijau. Pagi ini adalah jadwal perdana pengajian kitab Fathul Qarib yang diampu kembali oleh Gus Reyhan setelah hampir 3 bulan vakum pasca-prahara rumah tangganya.
Reyhan duduk di atas dampar kayu di depan mimbar. Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu mengenakan baju koko putih bersih dan peci hitam. Wajahnya yang biasanya memancarkan wibawa dan karisma kini tampak lebih tirus. Lingkar hitam samar menghiasi bawah matanya, menandakan tidur yang tak nyenyak berturut-turut.
Di samping damparnya, Kyai Ahmad duduk mendampingi. Kehadiran sang pengasuh tertinggi di samping putranya bukan untuk memberikan legitimasi, melainkan sebagai bentuk pengawasan ketat sekaligus penegakan kedisiplinan moral.
Reyhan memegang mikrofon. Tangannya yang memegang gagang besi itu bergetar tipis. Tatapannya menyapu barisan jemaah—wajah-wajah muda yang dulu menatapnya dengan penuh ketakjuban dan rasa hormat, kini memandangnya dengan keraguan yang samar.
Reyhan menghela napas panjang, mencoba menguasai gejolak emosi di tenggorokannya. Diksi dan retorika indah yang biasa ia susun dengan mudah saat mengajar seolah menguap begitu saja.
"Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..." suara Reyhan bergema pelan di dalam ruangan.
Setelah mengumandangkan tahmid dan shalawat, Reyhan menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan ratusan santri dan pengurus pondok.
"Sebelum kita memulai kajian kitab pagi ini," tutur Reyhan dengan intonasi rendah yang terasa sangat berat, "ada hal penting yang harus saya sampaikan atas nama pribadi. Sebagai seorang yang ditugaskan mengajar dan menjadi teladan di tempat ini, saya mengakui bahwa telah terjadi kekhilafan dan kelalaian besar dalam sikap serta keputusan pribadi saya beberapa waktu lalu."
Suasana aula makin hening. Tak ada satupun helai napas yang terdengar keras.
"Keputusan yang saya ambil telah menimbulkan kegaduhan, melukai perasaan keluarga, dan mencederai ketenangan di lingkungan Pesantren Al-Anwar yang kita cintai ini," lanjut Reyhan. Suaranya agak serak. "Secara khusus, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh santri, ustadz, dan pengurus atas ketidaknyamanan serta presepsi buruk yang telah saya ciptakan. Saya memohon doa agar Allah mengampuni keteledoran saya dan membimbing kita semua untuk tetap istiqamah dalam menuntut ilmu."
Kyai Ahmad di sampingnya hanya memejamkan mata, mengelus tasbih kayu di tangannya dengan gerakan konstan. Pengakuan terbuka itu adalah bagian dari syarat yang ditetapkan Kyai Ahmad jika Reyhan masih ingin diizinkan memegang majelis ilmu di Al-Anwar.
Di barisan belakang, para santri saling pandang. Permohonan maaf itu disampaikan dengan jujur, tetapi porsi rasa hormat yang dulu diberikan utuh kepada Gus muda itu telah bergeser. Ada celah tak kasat mata yang kini memisahkan Reyhan dari para pengikutnya.
**
Sore harinya, giliran majelis keputrian yang mengumpulkan para santriwati di mushola utama putri. Atas perintah tegas Bu Nyai Khadijah, Rani diminta berdiri di hadapan perwakilan santriwati senior dan ustadzah untuk menyampaikan permohonan maaf serupa atas dinamika yang melibatkan dirinya.
Rani berdiri di dekat tiang kayu mushola, didampingi oleh Bu Nyai Khadijah yang duduk anggun namun dingin di kursi kayu. Wajah Rani pucat, matanya berkaca-kaca.
"Saya... Zahrani Shofa Humaira," panggil Rani lirih, suaranya gemetar menahan malu yang membakar seluruh persendiannya. "Memohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala prasangka, kesalahan, dan kekhilafan yang telah saya perbuat hingga mengganggu keharmonisan pesantren. Saya menyadari status dan kedudukan saya, dan saya berjanji akan menjaga batas serta tata krama di tempat ini."
Beberapa ustadzah senior menundukkan kepala tanpa memberi respons hangat. Mereka mengenal Naya sejak gadis itu menjadi santriwati berprestasi hingga lulus sarjana psikologi dan mengabdi sebagai pengajar. Penjelasan seformal apapun dari Rani tak mampu menghapus kenyataan bahwa kehadiran wanita muda itu telah mengusir sosok yang sangat mereka cintai.
Usai acara singkat yang terasa menyiksa itu, Rani berjalan cepat menuju ndalem barat. Air matanya menetes satu per satu di sepanjang koridor sepi. Rasa hina dan penyesalan yang bengis mulai menggerogoti pikirannya. Ini bukan kehidupan Ning yang ia impikan. Tidak ada keagungan, tidak ada penghormatan—hanya ada keheningan yang dingin dan pandangan miring dari setiap sudut mata yang ia temui.
***
Naya cerdas berpendidikan dr latar belakang keluarga yg beradab pula, lah kamu sudah orang biasa dgn merebut suami orang berharap dihormati, mimpi, sanksi sosial cap pelakor itu selamanya meski sudah bertaubat tp cap pelakor itu tdk akan hilang,
maksudnya bersedekap tangan kali ya thor, masa bersedekah 🤭🤭
klo gk cinta knp gk dilepas aja sekalian rani
malah dijemput sruh kembali..kesenengan kan tuh sih rani jadinya..
emang bener ya pelakor itu tdk harus cantik semok yg penting menggatal
jd inget artis penyanyi religi yg itu jd istri siri selama dua tahun baru terungkap, giliran terungkap jawaban klise khilaf pret lah khilaf apa doyan masa khilaf smpe dua tahun😄😄😄