Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Beli Bibit
Namun, di saat hari yang dinantikan Arven datang, ia telah siap dengam stelan berkebun. Namun ternyata, hari ini gagal berkebun.
.
.
Pagi itu, Mireya berdiri di teras rumah sambil memegang selembar kertas kecil. Di atas kertas tersebut terdapat beberapa nama tanaman yang ingin dibelinya.
Bibit bayam, cabai, tomat, terong, mentimun, beberapa bibit buah. Dan pupuk yang menurutnya cocok untuk kondisi tanah di depan rumah ini.
Mireya memeriksa daftar itu sekali lagi. “Sepertinya cukup.”
Elden yang berdiri di sampingnya langsung mengangkat tangan. “Aku mau beli stroberi.”
Mireya menoleh. “Stroberi?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena aku suka.”
Mireya tersenyum. “Baiklah. Nanti kita cari juga bibit stroberi.”
Namun Mireya justru menoleh ke arah Arven yang baru saja turun dari teras. Pria itu mengenakan baju kaus, celana panjang, dan sepatu boots dan tapi jerami.
Tatapannya langsung tertuju kepada Mireya. “Loh? Katanya mau berkebun? Kenapa tak bersiap-siap?"
Mireya tersenyum kikuk. Bahkan, ia lupa telah mengajak Arven berkebun hari ini.
“Mas Arven, maaf ya? Sepertinya kita belum bisa ke kebun hari ini."
Kening Arven mengerut. "Loh? Kenapa tak jadi?"
Mireya memejamkan mata, menyadari kesalahannya. "Maaf ya, Mas. Tadi tiba-tiba saja saya mau beli bibit dulu kota."
Arven melepas topi bertaninya. "Beli bibit?"
"Boleh ngga, saya pinjam motor?”
Kening Arven mengernyit. “Motor?”
“Iya.”
“Untuk apa?”
“Saya ingin membeli bibit naik motor aja. Jadi, rencananya saya membawa Elden."
Arven mengerutkan kening. “Kenapa harus motor?”
Mireya menunjuk ke arah jalan. “Biar lebij mudah.”
“Kota cukup jauh.”
“Saya tahu.”
“Gunakan mobil.”
Mireya menggeleng. “Masalahnya saya tidak bisa mengendarai mobil, Mas.”
Arven menatapnya. “Lalu?”
“Pakai motor saja juga tidak apa-apa.”
Arven menghela napas. “Kau membawa Elden.”
“Iya.”
“Dengan motor?”
Mireya mengangguk.
Arven langsung menggeleng. “Tidak.”
Mireya terdiam. “Kenapa?”
“Tidak aman.”
“Saya bisa berhati-hati.”
“Bukan itu masalahnya.” Arven berjalan mendekat. “Kalau kau ingin ke kota, gunakan mobil.”
Mireya menunduk sebentar. “Kalau begitu, saya naik kendaraan umum saja.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Arven menatapnya seolah jawaban itu seharusnya sudah jelas. “Karena kau membawa Elden.”
Mireya kembali diam.
Lalu Arven berkata, “Aku bisa mengantarmu.”
Mireya langsung mengangkat wajah.
“Hm?”
“Kan ada aku. Kita juga batal berkebun hari ini.”
Mireya berkedip. Arven memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Kenapa kau tidak meminta bantuanku?”
Mireya menggigit bibir. Ia ragu beberapa saat sebelum menjawab.
“Karena…”
“Karena apa?”
“Soalnya itu sudah ada dalam kontrak, kan?”
Alis Arven langsung berkerut. “Kontrak?”
Mireya mengangguk. “Saya tidak boleh mengganggu pekerjaan Tuan. Tuan juga tidak perlu ikut campur dalam urusan pribadi saya.”
Arven menatapnya. “Memangnya pergi ke kota membeli bibit adalah urusan pribadi?”
“Iya.”
“Dan aku menawarkan diri untuk mengantarmu.”
“Saya tahu.”
“Lalu?”
Mireya tersenyum canggung. “Saya merasa tidak enak. Kan kita dilarang saling mengganggu.”
Sudut bibir Arven berkedut. Bukan karena ingin tersenyum. Melainkan karena menahan sesuatu.
'Kontrak lagi.'
Entah sudah berapa kali perempuan itu menggunakan kontrak sebagai alasan.
“Aku tidak pernah mengatakan kau tidak boleh meminta bantuanku.”
Mireya menatapnya. “Benarkah?”
“Benar.”
Arven menghela napas. “Kalau kau membutuhkan bantuanku, kau boleh meminta.”
Mireya mengangguk pelan. “Baik.”
Arven menunggu.
Mireya justru berbalik. “Pak Can.”
“Ya, Nyonya?”
“Kalau boleh, Pak Can saja yang menemaniku?”
Hening. Arven membeku. Pak Can juga membeku. Elden menatap mereka bergantian.
Mireya tersenyum polos. “Aku sudah terbiasa bersama Pak Can. Tolong temani kami ke kota untuk membeli bibit ya."
Pak Can membuka mulut. Menutupnya lagi. Kemudian melirik Arven.
Wajah Tuan-nya sudah berubah. Dingin. Sangat dingin.
“Tentu, Nyonya,” jawab Pak Can hati-hati.
“Kalau begitu, kami berangkat sekarang.” Mireya menggandeng Elden.
Elden melambaikan tangan kepada Arven. “Ayah, kami pergi!”
Arven hanya memasang wajah datar. “Pergilah.”
Mireya dan Elden berjalan menuju halaman.
Pak Can mengikuti. Namun sebelum masuk ke kendaraan, Pak Can sempat menoleh ke belakang.
Arven masih berdiri di tempat. Tatapannya mengikuti mereka.
Pak Can segera mengalihkan wajah. Ia tidak ingin terlibat. Beberapa menit kemudian, suara kendaraan meninggalkan halaman.
Arven masih berdiri di teras. Sunyi. Benar-benar sunyi.
Ia mengeluarkan ponsel. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan menyuruh menyusul. Tidak ada yang bertanya apakah ia ingin ikut.
Arven masuk ke ruang kerja. Langkahnya tenang. Namun begitu sampai di meja, tangannya langsung mengambil map berisi kontrak pernikahan.
Ia membukanya. Membaca beberapa halaman. Kemudian berhenti.
“Tidak mengganggu kehidupan pribadi masing-masing.”
Arven membaca kalimat itu sekali lagi. Pelipisnya berdenyut.
“Ini jelas masalah.”
Ia membalik halaman berikutnya.
“Tidak mencampuri pekerjaan masing-masing.”
Arven menarik napas. Kemarin isi ini sudah digantinya. Hanya saja, Mireya belum tahu sama sekali.
Kemudian kontrak itu ia robek. Satu lembar. Robek lagi. Dua lembar.
Dalam beberapa detik, kontrak yang sebelumnya tersusun rapi sudah menjadi potongan-potongan kertas.
Arven melemparkannya ke tempat sampah.
“Bahkan mereka lebih memilih Pak Can daripada aku.” Ia duduk.
Wajahnya tetap dingin. Namun jarinya mengetuk meja berkali-kali.
“Tanpa menanyakan aku bisa ikut atau tidak, mereka sudah memutuskan aku tidak bisa menemani mereka.”
Ketukan jarinya berhenti.
Arven membuka laptop. “Harus segera membuat kontrak baru.”
.
.
Setelah selesai berbelanja, mereka berjalan menuju toko buah di seberang jalan.
Mireya menggandeng Elden.
Pak Can membawa beberapa kantong belanja.
Tanpa mereka sadari, dari sisi lain jalan, seseorang baru saja keluar dari sebuah restoran.
Syahzan.
Langkahnya terhenti.
Matanya menangkap sosok perempuan yang terasa sangat dikenalnya.
Rambut panjang. Wajah yang persis sama dengan lima tahun yang lalu.
Dan kini, tubuh perempuan itu tidak lagi seperti terakhir kali ia melihatnya, tetapi persis saat mereka masih menjadi sepasang kekasih yang saling mencinta.
Syahzan menyipitkan mata. “Mireya…?”
*bersambung*
Arven jangan diam saja 😡😡😡😡
Beri mereka pelajaran biar gak ngomong seenaknya.
Arven....kamu tahu apa yang harus kamu lakukan utk Mireya dan Elden
ayooo belajar galak
perlu aku kesana ga?
bantuin jambak🫣🤣🤣🤣
kepercayaan itu ga tumbuh dalam semalem..
dia udah pernah mencoba mempercayai seseorang dengan segenap jiwa dan raganya ,dan endingnya menyakitkan.
jadi cobalah kau bangun kepercayaan nya dulu
ambil simpatinya, dan sembuh kan lukanya
baru dia akan bisa membuka hatinya🥹
lucu amet si mereka🤣🤣
kontrak oh kontrak🤔
mending jujur daripada mantan mertua yang mengacaukan semua greget sama Mire
trauma diselingkuhi itu kyk kangker dufalam tubuh,ga keliatan tapi sakitnya nyata. merasuk Ampe kedalam aliran darah dan otak kita tanpa kita sadari
selalu mempertanyakan apakah kita cukup baik
apakah ini semua karena salah kita?
apakah ada g kurang dr kita?
sampai mati pasti kebawa🥹🥹
Mau nya lupa
maunya ga dipikirin
tapi...🫣🥹🥹
Dia takut nasib pernikahannya akan sama dgn sebelumnya
bahkan sekelas artis sebelah aj yg lagi rame
ketemu yg baru,setengah mampus nyerein istrinya 🤣🤣.
katanya yg baru dipilih karena lemah lembut.
hei...kami juga awalnya kembang desa
pas lama nikah jadi kembang api🤣🤣🤣
apalagi pengalaman mireya yg paket komplit...🥹
hatinya aja ga ada gerbang nya di KK
ga ada yg jagain🤣🤣🤣
Iddah itu berlaku pas suami ngucapin talak kan?
nah...si b4ngs4t itukan nalak nya udah lama...lebih dr 3 bulan kali
di pengadilan mah tinggal ketik pali doank
wahhhh....begini orang yg ga ngerti agama sok sok an mau pake dalili agama