NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Gendut, Dipilih Menjadi Ibu

Dibuang Karena Gendut, Dipilih Menjadi Ibu

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Romansa pedesaan / Cewek Gendut / Cerai / Tamat
Popularitas:170.8k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.

Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.

Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.

Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.

Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.

Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.

"Kita menikah!"

Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.

Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Beli Bibit

Namun, di saat hari yang dinantikan Arven datang, ia telah siap dengam stelan berkebun. Namun ternyata, hari ini gagal berkebun.

.

.

Pagi itu, Mireya berdiri di teras rumah sambil memegang selembar kertas kecil. Di atas kertas tersebut terdapat beberapa nama tanaman yang ingin dibelinya.

Bibit bayam, cabai, tomat, terong, mentimun, beberapa bibit buah. Dan pupuk yang menurutnya cocok untuk kondisi tanah di depan rumah ini.

Mireya memeriksa daftar itu sekali lagi. “Sepertinya cukup.”

Elden yang berdiri di sampingnya langsung mengangkat tangan. “Aku mau beli stroberi.”

Mireya menoleh. “Stroberi?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena aku suka.”

Mireya tersenyum. “Baiklah. Nanti kita cari juga bibit stroberi.”

Namun Mireya justru menoleh ke arah Arven yang baru saja turun dari teras. Pria itu mengenakan baju kaus, celana panjang, dan sepatu boots dan tapi jerami.

Tatapannya langsung tertuju kepada Mireya. “Loh? Katanya mau berkebun? Kenapa tak bersiap-siap?"

Mireya tersenyum kikuk. Bahkan, ia lupa telah mengajak Arven berkebun hari ini.

“Mas Arven, maaf ya? Sepertinya kita belum bisa ke kebun hari ini."

Kening Arven mengerut. "Loh? Kenapa tak jadi?"

Mireya memejamkan mata, menyadari kesalahannya. "Maaf ya, Mas. Tadi tiba-tiba saja saya mau beli bibit dulu kota."

Arven melepas topi bertaninya. "Beli bibit?"

"Boleh ngga, saya pinjam motor?”

Kening Arven mengernyit. “Motor?”

“Iya.”

“Untuk apa?”

“Saya ingin membeli bibit naik motor aja. Jadi, rencananya saya membawa Elden."

Arven mengerutkan kening. “Kenapa harus motor?”

Mireya menunjuk ke arah jalan. “Biar lebij mudah.”

“Kota cukup jauh.”

“Saya tahu.”

“Gunakan mobil.”

Mireya menggeleng. “Masalahnya saya tidak bisa mengendarai mobil, Mas.”

Arven menatapnya. “Lalu?”

“Pakai motor saja juga tidak apa-apa.”

Arven menghela napas. “Kau membawa Elden.”

“Iya.”

“Dengan motor?”

Mireya mengangguk.

Arven langsung menggeleng. “Tidak.”

Mireya terdiam. “Kenapa?”

“Tidak aman.”

“Saya bisa berhati-hati.”

“Bukan itu masalahnya.” Arven berjalan mendekat. “Kalau kau ingin ke kota, gunakan mobil.”

Mireya menunduk sebentar. “Kalau begitu, saya naik kendaraan umum saja.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Arven menatapnya seolah jawaban itu seharusnya sudah jelas. “Karena kau membawa Elden.”

Mireya kembali diam.

Lalu Arven berkata, “Aku bisa mengantarmu.”

Mireya langsung mengangkat wajah.

“Hm?”

“Kan ada aku. Kita juga batal berkebun hari ini.”

Mireya berkedip. Arven memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

“Kenapa kau tidak meminta bantuanku?”

Mireya menggigit bibir. Ia ragu beberapa saat sebelum menjawab.

“Karena…”

“Karena apa?”

“Soalnya itu sudah ada dalam kontrak, kan?”

Alis Arven langsung berkerut. “Kontrak?”

Mireya mengangguk. “Saya tidak boleh mengganggu pekerjaan Tuan. Tuan juga tidak perlu ikut campur dalam urusan pribadi saya.”

Arven menatapnya. “Memangnya pergi ke kota membeli bibit adalah urusan pribadi?”

“Iya.”

“Dan aku menawarkan diri untuk mengantarmu.”

“Saya tahu.”

“Lalu?”

Mireya tersenyum canggung. “Saya merasa tidak enak. Kan kita dilarang saling mengganggu.”

Sudut bibir Arven berkedut. Bukan karena ingin tersenyum. Melainkan karena menahan sesuatu.

'Kontrak lagi.'

Entah sudah berapa kali perempuan itu menggunakan kontrak sebagai alasan.

“Aku tidak pernah mengatakan kau tidak boleh meminta bantuanku.”

Mireya menatapnya. “Benarkah?”

“Benar.”

Arven menghela napas. “Kalau kau membutuhkan bantuanku, kau boleh meminta.”

Mireya mengangguk pelan. “Baik.”

Arven menunggu.

Mireya justru berbalik. “Pak Can.”

“Ya, Nyonya?”

“Kalau boleh, Pak Can saja yang menemaniku?”

Hening. Arven membeku. Pak Can juga membeku. Elden menatap mereka bergantian.

Mireya tersenyum polos. “Aku sudah terbiasa bersama Pak Can. Tolong temani kami ke kota untuk membeli bibit ya."

Pak Can membuka mulut. Menutupnya lagi. Kemudian melirik Arven.

Wajah Tuan-nya sudah berubah. Dingin. Sangat dingin.

“Tentu, Nyonya,” jawab Pak Can hati-hati.

“Kalau begitu, kami berangkat sekarang.” Mireya menggandeng Elden.

Elden melambaikan tangan kepada Arven. “Ayah, kami pergi!”

Arven hanya memasang wajah datar. “Pergilah.”

Mireya dan Elden berjalan menuju halaman.

Pak Can mengikuti. Namun sebelum masuk ke kendaraan, Pak Can sempat menoleh ke belakang.

Arven masih berdiri di tempat. Tatapannya mengikuti mereka.

Pak Can segera mengalihkan wajah. Ia tidak ingin terlibat. Beberapa menit kemudian, suara kendaraan meninggalkan halaman.

Arven masih berdiri di teras. Sunyi. Benar-benar sunyi.

Ia mengeluarkan ponsel. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan menyuruh menyusul. Tidak ada yang bertanya apakah ia ingin ikut.

Arven masuk ke ruang kerja. Langkahnya tenang. Namun begitu sampai di meja, tangannya langsung mengambil map berisi kontrak pernikahan.

Ia membukanya. Membaca beberapa halaman. Kemudian berhenti.

“Tidak mengganggu kehidupan pribadi masing-masing.”

Arven membaca kalimat itu sekali lagi. Pelipisnya berdenyut.

“Ini jelas masalah.”

Ia membalik halaman berikutnya.

“Tidak mencampuri pekerjaan masing-masing.”

Arven menarik napas. Kemarin isi ini sudah digantinya. Hanya saja, Mireya belum tahu sama sekali.

Kemudian kontrak itu ia robek. Satu lembar. Robek lagi. Dua lembar.

Dalam beberapa detik, kontrak yang sebelumnya tersusun rapi sudah menjadi potongan-potongan kertas.

Arven melemparkannya ke tempat sampah.

“Bahkan mereka lebih memilih Pak Can daripada aku.” Ia duduk.

Wajahnya tetap dingin. Namun jarinya mengetuk meja berkali-kali.

“Tanpa menanyakan aku bisa ikut atau tidak, mereka sudah memutuskan aku tidak bisa menemani mereka.”

Ketukan jarinya berhenti.

Arven membuka laptop. “Harus segera membuat kontrak baru.”

.

.

Setelah selesai berbelanja, mereka berjalan menuju toko buah di seberang jalan.

Mireya menggandeng Elden.

Pak Can membawa beberapa kantong belanja.

Tanpa mereka sadari, dari sisi lain jalan, seseorang baru saja keluar dari sebuah restoran.

Syahzan.

Langkahnya terhenti.

Matanya menangkap sosok perempuan yang terasa sangat dikenalnya.

Rambut panjang. Wajah yang persis sama dengan lima tahun yang lalu.

Dan kini, tubuh perempuan itu tidak lagi seperti terakhir kali ia melihatnya, tetapi persis saat mereka masih menjadi sepasang kekasih yang saling mencinta.

Syahzan menyipitkan mata. “Mireya…?”

*bersambung*

1
Erna Masliana
tamat... bagus ceritanya
Erna Masliana
ya tujuanmu apa .. awalnya kan anak.. kenapa tiba-tiba serakah.. balik lagi cuman anak aja jangan ganggu rumah tangga orang gak baik
Erna Masliana
Pendem terus sampe bisulan
Erna Masliana
kamu pernah menikah juga bedanya kamu beneran putus hubungan dg mantan.. yang ini mantan serakah ingin merebut posisimu.. jadi kamu harus lebih pintar
Erna Masliana
baguslah Mireya mulai pinter
Erna Masliana
s serakahnya
Erna Masliana
Nindy pengangguran apa lagi cuti
Erna Masliana
kamu jebak Arven biar sampe hamil punya anak berharap jadi nyonya tapi hasilnya tak sesuai ekspektasi mu gitu... kenapa tidak move on..
Erna Masliana
dari sekian banyak murid..aneh banget bisa semuanya terpengaruh.. padahal anak anak tuh biasanya ngeyel loh
Erna Masliana
mamvus... kalo mau bertemu anak ..ya baik baik bertamu dg benar.. ini mah niatnya udah bukan anak lagi tapi keserakahan
Erna Masliana
maksa.. inti na mah..teu bogoh..teu hayang..bogohna ka Mireya
Erna Masliana
ganggu bae s Mireya
Erna Masliana
heh..jauh y
Erna Masliana
Pak Can bijak 👍
Erna Masliana
salahkan dirimu sendiri tidak mau jujur
Erna Masliana
tinggal bilang apa susahnya.. palingan jadi majikan lagi.. jangan buat orang yang menampung dan membela mu kelihatan bego di mata mantan keluarga bejatmu
Erna Masliana
jujur aku gak ngerti..masa Iddah itu di hitung setelah ketok palu atau kata talak?? terus yang namanya sidang perceraian setauku tidak ada yang sehari beres..sepupuku aja perlu 6bulan 3 kali sidang sampe ketok palu..kalo dalam Islam ya dihitung dari kata talaknya suami bukan dari ketok palu deh kayaknya
SoVay: boleh dbaca sampai selesai y kak, ceritanya udah tamat 🙏🍅
total 1 replies
Erna Masliana
ih hayang nga geplak s Mireya.. bertele tele..aku orangnya gak sabaran 😛
Erna Masliana
ya banyak.. karena kamu gak cari tau..gak nanya dg benar..kamu juga punya rahasia... jangan marah
Erna Masliana
greget ih...Mireya terlalu lemah.. sampe harus di bela anak kecil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!